PERSAHABATAN

By uharsputra

Bila dua orang teman bertemu dalam keremangan, keremangan itu tidaklah menjemukan, demikian Ivan Illich menulis dalam bukunya yang terkenal Deschooling Society. Mungkin memang demikian seharusnya, kemampuan seorang untuk berteman mengindikasikan dimilikinya dua hal penting dalam emosi seseorang, memahami emosi orang lain dan membina hubungan menurut Goleman. Berteman telah banyak dielaborasi dalam konteks kehidupan, Erich From berbicara mendalam tentang cinta yang dapat dipandang sebagai pendalaman dari pertemanan, dalam The Art of Loving, From mendefinisikan cinta sebagai the active concern of the life and the growth of that which we love,  aku mencintaimu sebab dalam dirimu terdapat jutaan orang lain, mencintaimu membuat keinginan untuk berteman dengan semua orang, penyatuan kesadaran merupakan bagian darinya, dan menghormati semuanya merupakan wujud penghormatan ku pada manusia dan kemanusiaan universal.

Namun dewasa ini nampaknya yang berkembang adalah pertemanan individualistic yang diperluas, bila dikembangkan dalam keterbatasan ruang dan waktu, teman adalah yang dekat dengan kita yang membantu kita secara konkrit, akan menjadikan pertemanan menyebar secara terbatas (limited spread effect), hanya yang terjangkaulah, berada dalam radius yang terbatas, yang dianggap teman dan layak menjadi objek cinta.  Menjangkau radius yang luas memang memerlukan pelatihan dan pembelajaran terus menerus, teknologi komunikasi memang telah membantu memperluas radius pertemenan, namun boundary yang telah dibuat terbatas cenderung menjadikan hal tersebut kurang memperkuat keakraban dan penghormatan. In group saya adalah yang dekat, diluar saya adalah out group yang tidak perlu diperlakukan sama dengan yang in group, jika demikian maka bencana sosial menjadi ancaman karena kohesivitas sosial menjadi longggar dan sulit menyatu, bahkan mudah sekali pecah, dan dari situlah mungkin kita bisa memehami tawuran antar mahasiswa sebagai menifestasi ekstrim dari pertemanan yang terbatas dalam radius dan waktu.

Lantas apa yang diperlukan, mungkin “pengepungan” dari berbagai sudut diperlukan untuk mendorong terjadinya perluasan pertemanan universal, dan ini memerlukan upaya serius dan waktu yang cukup, namun yang penting adalah memulainya, bukankan kalau kita tidur diatas kasur, sebenarnya telah banyak melibatkan teman-teman kita semua, dari mulai pencangkul, petani kapuk, kain, pembuat kasur, pedagang dan kuli untuk bisa terwujudnya sebuah kasur yang kita nikmati, nah kesadarn sekali lagi kesadaran, dan itu perlu pembelajaran, sekali lagi pembelajaran sehingga keremangan ataupun kegelapan tidak akan menjemukan bila ketemu manusia apapun dan siapapun apalagi kalau …………

Tag: , ,

5 Tanggapan ke “PERSAHABATAN”

  1. mahasiswa pe Berkata:

    berarti seorang guru harus mampu menjadi sahabat bagi siswanya…? tapi ada juga seorang guru yang menjadikan seorang siswa sebagai objek pelampiasan amarahnya… bahkan guru tersebut menggunakan kekerasan, seorang guru adalah tenaga pendidik yg harusnya memberikan contoh yg baik bagi siswa nya… apakah kekerasan diajarkan atau diwajibkan dalam dunia pendidikan..? atau itu sebagai wijud rasa sayang seorang guru kepada siswanya…?

  2. hendi suhendi Berkata:

    i agree with this opinion, friendships could be one of the educational sourches. Because education not only in the classes, books, teachers but in friendship too. well sir, thank you for teaching us everykind of lessons.. since i was in s1 pe-ap. you are my role model teacher. salam dari temen2 pasca angk. 5 kelas B… we are miss you. (hendi)

  3. uhar Berkata:

    makasih, belajar terus belajar. baca buku ilmu baca buku ilmu baca buku ilmu baca buku ilmu baca buku ilmu, selamat belajar terus.

  4. Komunitas BKsmanci Berkata:

    Karena “dekatnya” kadang teman lebih dari saudara,….

  5. fendi Berkata:

    pak,tolong di jawab soal-soal uas.

Tinggalkan Balasan