Pendidikan Kita : Kembali ke jalan yang benar…..?
Pe
ndidikan selalu diberi bobot nilai-nilai normatif, demikian juga dalam Undang-undang Sisdiknas dimana Pendidikan diberi makna yang syarat dengan nilai-nilai luhur yang harus terjadi. Namun apakah itu tercermin dalam praktek pendidikan ?, inilah masalahnya, selalu terdapat kesenjangan yang makin lama makin lebar antara apa yang diharapkan bangsa Indonesia dari Pendidikan dengan apa yang dilakukan dalam tataran praktis pendidikan/pembelajaran.
Pendidikan harus mendorong terwujudnya manusia yang dewasa secara personal, sosial dan moral, namun ketika aspek pragmatis kecerdasan intelektual kognitif menjadi konsern utama, maka banyak hal yang dikorbankan, dan pengorbanan itu justru lebih tinggi nilainya dari sekedar kecerdasan (seperti kejujuran, keadilan, kemandirian, percaya diri). Ketika praktek pendidikan di Sekolah bersibuk diri dengan upaya peningkatan kemampuan siswa untuk lulus Ujian Nasional, sebenarnya tidak ada yang salah dengan upaya tersebut selama sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan dan pembelajaran, namun ketika ada upaya lain yang memaksakan pencapaian target tertentu diluar kaidah pendidikan, seperti pengkondisian dan distribusi info, maka sebenarnya pendidikan kita telah memasuki jalan yang sesat dan menyesatkan.
Sesat karena berada diluar kaidah pendidikan, menyesatkan karena output atau lulusannya nanti akan menggantikan posisi-posisi pendidikan yang jelas sudah tertular dan terkontaminasi dengan apa yang dialaminya pada saat Ujian di Sekolah, sehingga mereka juga cenderung akan menyesatkan pendidikan dan pembelajaran seterusnya. Jadilah generasi pendidikan yang sesat dan menyesatkan. Dan bangsa ini akan dipenuhi dengan warga sesat dan menyesatkan. Dan kita perlu khawatir dengan PENDIDIKAN SESAT DAN MENYESATKAN. Semoga masih ada nilai dan akal sehat. Nah dalam konteks ini pengembangan pendidikan karakter merupakan upaya koreksi agar pendidikan KEMBALI KE JALAN YANG BENAR…masalahnya tinggal bagaimana implementasinya serta eliminasi faktor pengganggu yang sistemik……
Posted on 11/12/2011, in Refleksi and tagged kaidah pendidikan, karakter, pendidikan. Bookmark the permalink. 6 Komentar.
ketika hati HATI NURANIi
terbeli oleh si BUDI
dan KEMULIAAN
ditukar dengan KEMALUAN
“maka REVOLUSI hanyalah MIMPI”
hal seperti itu juga terjadi pada dunia pendidikan………..
dimana kita harus membelinya……yang terganti itu…..nah…..!!!!!
bagaimana parameter untuk menilai keberhasilan dalam pendidikan karakter ?? mungkin karena sulit, maka sekolah pada sibuk dengan ujian nasional yang dimana penilaianya ditentukan oleh angka.
memdidik budi yang ada di hati keakan sudah mati
kejujuran telah tegadai oleh raja-raja kecil di NKRI
Raja-raja dinobatkan dengan menghabiskan materi
inilah potret negeri
Ketidak jujuran telah membutakan anak negeri ini
Yang pasti NKRI tetap harga mati
Assalammuallaikum..
Ah… abdi mah bade komentar mung ngomentaran Seminar tadi enjing Sabtu, 4 Feb 2012 Tentang Pendidikan Guru Berkarakter anu tempatna di UNIKU. Wah….. eta mah singkat, jelas tur padat. Hatur nuhun Pak aya pencerahan kanggo abdi. Biasana bubar seminar eta elmu teh luntur di jalan, mung anu tadi enjing masih nempel dina emutan teh.
Hartur Nuhun Pa….
Pingback: Award untuk Blog Pendidikan | AKHMAD SUDRAJAT: TENTANG PENDIDIKAN