Manusia, Berfikir dan Pengetahuan


Tanpa saudara kandungnya Pengetahuan, Akal (Instrumen berfikir Manusia) bagaikan si miskin yang tak berumah, sedangkan Pengetahuan tanpa akal seperti rumah yang tak terjaga. Bahkan, Cinta, Keadilan, dan Kebaikan akan terbatas kegunaannya jika akal tak hadir (Kahlil Gibran)

Pengetahuan merupakan suatu kekayaan dan kesempurnaan. ..Seseorang yang tahu lebih banyak adalah lebih baik kalau dibanding dengan yang tidak tahu apa-apa (Louis Leahy)

Mengetahui merupakan kegiatan yang menjadikan subjek berkomunikasi Secara dinamik dengan eksistensi dan kodrat dari “ada” benda-benda (Sartre)


A.     MAKNA MENJADI MANUSIA

Kemampuan manusia untuk menggunakan akal dalam memahami lingkungannya merupakan potensi dasar yang memungkinkan manusia Berfikir, dengan Berfikir manusia menjadi mampu melakukan perubahan dalam dirinya, dan memang sebagian besar perubahan dalam diri manusia merupakan akibat dari aktivitas Berfikir, oleh karena itu sangat wajar apabila Berfikir merupakan konsep kunci dalam setiap diskursus mengenai kedudukan manusia di muka bumi, ini berarti bahwa tanpa Berfikir, kemanusiaan manusia  pun tidak punya makna bahkan mungkin tak akan pernah ada.

Berfikir juga memberi kemungkinan manusia untuk memperoleh pengetahuan, dalam tahapan selanjutnya pengetahuan itu dapat menjadi fondasi penting bagi kegiatan berfikir yang lebih mendalam. Ketika Adam diciptakan dan kemudian ALLAH mengajarkan nama-nama, pada dasarnya mengindikasikan bahwa Adam (Manusia) merupakan Makhluk yang bisa Berfikir dan berpengetahuan, dan dengan pengetahuan itu Adam dapat melanjutkan kehidupannya di Dunia. Dalam konteks yang lebih luas, perintah Iqra (bacalah) yang tertuang dalam Al Qur’an dapat dipahami dalam kaitan dengan dorongan Tuhan pada Manusia untuk berpengetahuan disamping kata Yatafakkarun (berfikirlah/gunakan akal) yang banyak tersebar dalam Al Qur’an. Semua ini dimaksudkan agar manusia dapat berubah  dari tidak tahu menjadi tahu, dengan tahu dia berbuat, dengan berbuat dia beramal bagi kehidupan. semua ini pendasarannya adalah penggunaan akal melalui kegiatan berfikir. Dengan berfikir manusia mampu mengolah pengetahuan, dengan pengolahan tersebut, pemikiran manusia menjadi makin mendalam dan makin bermakna, dengan pengetahuan manusia mengajarkan, dengan berpikir manusia mengembangkan, dan dengan mengamalkan serta mengaplikasikannya manusia mampu melakukan perubahan dan peningkatan ke arah kehidupan yang lebih baik, semua itu telah membawa kemajuan yang besar dalam berbagai bidang kehidupan manusia (sudut pandang positif/normatif).

Kemampuan untuk berubah dan perubahan yang terjadi pada manusia merupakan makna pokok yang terkandung dalam kegiatan Berfikir dan berpengetahuan. Disebabkan kemampuan Berfikirlah, maka manusia dapat berkembang lebih jauh dibanding makhluk lainnya, sehingga dapat terbebas dari kemandegan fungsi kekhalifahan di muka bumi, bahkan dengan Berfikir manusia mampu mengeksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya. Semua itu, pada dasarnya menggambarkan keagungan manusia berkaitan dengan karakteristik eksistensial manusia sebagai upaya memaknai kehidupannya dan sebagai bagian dari Alam ini.

Dalam konteks perbandingan dengan bagian-bagian alam lainnya, para akhli telah banyak mengkaji perbedaan antara manusia dengan makhluk-makhluk lainnya terutama dengan makhluk yang agak dekat dengan manusia yaitu hewan. Secara umum komparasi manusia dengan hewan dapat dilihat dari sudut pandang Naturalis/biologis dan sudut pandang sosiopsikologis. Secara biologis pada dasarnya manusia tidak banyak berbeda dengan hewan, bahkan Ernst Haeckel (1834 – 1919) mengemukakan bahwa manusia dalam segala hal sungguh-sungguh adalah binatang beruas tulang belakang, yakni binatang menyusui, demimikian juga Lamettrie (1709 – 1751) menyatakan bahwa tidaklah terdapat perbedaan antara binatang dan manusia dan karenanya manusia itu adalah suatu mesin.

Kalau manusia itu sama dengan hewan, tapi kenapa manusia bisa bermasyarakat dan berperadaban yang tidak bisa dilakukan oleh hewan ?, pertanyaan ini telah melahirkan berbagai pemaknaan tentang manusia, seperti manusia adalah makhluk yang bermasyarakat (Sosiologis), manusia adalah makhluk yang berbudaya (Antropologis), manusia adalah hewan yang ketawa, sadar diri, dan merasa malu (Psikologis), semua itu kalau dicermati tidak lain karena manusia adalah hewan yang berfikir/bernalar (the animal that reason) atau Homo Sapien.

Dengan memahami uraian di atas, nampak bahwa ada sudut pandang yang cenderung merendahkan manusia, dan ada yang mengagungkannya, semua sudut pandang tersebut memang diperlukan untuk menjaga keseimbangan memaknai manusia. Blaise Pascal (1623 – 1662) menyatakan bahwa adalah berbahaya bila kita menunjukan manusia sebagai makhluk yang mempunyai sifat-sifat binatang dengan tidak menunjukan kebesaran manusia sebagai manusia. Sebaliknya adalah bahaya untuk menunjukan manusia sebagai makhluk yang besar dengan tidak menunjukan kerendahan, dan lebih berbahaya lagi bila kita tidak menunjukan sudut kebesaran dan kelemahannya sama sekali (Rasjidi. 1970 : 8). Guna memahami lebih jauh siapa itu manusia, berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi

  • Plato (427 – 348). Dalam pandangan Plato manusia dilihat secara dualistik yaitu unsur jasad dan unsur jiwa, jasad akan musnah sedangkan jiwa tidak, jiwa mempunyai tiga fungsi (kekuatan) yaitu  logystikon (berfikir/rasional, thymoeides (Keberanian), dan epithymetikon (Keinginan)
  • Aristoteles (384 – 322 SM). Manusia  itu adalah hewan yang berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal fikirannya. Manusia itu adalah hewan yang berpolitik (Zoon Politicon/Political Animal), hewan yang membangun masyarakat di atas famili-famili menjadi pengelompokan impersonal dari pada kampung dan negara.
  • Ibnu Sina (980 -1037 M). manusia adalah makhluk yang mempunyai kesanggupan : 1) makan, 2) tumbuh, 3) ber-kembang biak, 4) pengamatan hal-hal yang istimewa, 5) pergerakan di bawah kekuasaan, 6) ketahuan (pengetahuan tentang) hal-hal yang umum, dan 7) kehendak bebas. Menurut dia, tumbuhan hanya mempunyai kesanggupan 1, 2, dan 3, serta hewan mempunyai kesanggupan 1, 2, 3, 4, dan 5.
  • Ibnu Khaldun (1332 – 1406). Manusia adalah hewan dengan kesanggupan berpikir, kesanggupan ini merupakan sumber dari kesempurnaan dan puncak dari segala kemulyaan dan ketinggian di atas makhluk-makhluk lain.
  • Ibnu Miskawaih. Menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai kekuatan-kekuatan yaitu : 1) Al Quwwatul Aqliyah (kekuatan berfikir/akal), 2) Al Quwwatul Godhbiyyah (Marah, 3) Al Quwwatu Syahwiyah (sahwat).
  • Harold H. Titus  menyatakan : Man is an animal organism, it is true but he is able to study himself as organism and to compare and interpret living forms and to inquire about the meaning of human existence. Selanjutnya Dia menyebutkan beberapa faktor yang berkaitan (menjadi karakteristik – pen) dengan manusia sebagai pribadi yaitu :

                         i.      Self conscioueness

                        ii.      Reflective thinking, abstract thought, or the  power of generalization

                        iii.      Ethical discrimination and the power of choice

                         iv.      Aesthetic appreciation

                         v.      Worship and faith in a higher power

                         vi.      Creativity of a new order

  • William E. Hocking menyatakan : Man can be defined as the animal who thinks in term of totalities.
  • C.E.M. Joad. Menyatakan : every thing and every creature in the world except man acts as it must, or act as it pleased, man alone  act on occasion as he ought
  • R.F. Beerling. Menyatakan bahwa manusia itu tukang bertanya.

Dari uraian dan berbagai definisi tersebut di atas, dapatlah ditarik beberapa kesimpulan tentang siapa itu manusia yaitu :

1.      Secara fisikal, manusia sejenis hewan juga

2.      Manusia punya kemampuan untuk bertanya

3.      Manusia punya kemampuan untuk berpengetahuan

4.      Manusia punya kemauan bebas

5.      Manusia bisa berprilaku sesuai norma  (bermoral)

6.      Manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan berbudaya

7.      Manusia punya kemampuan berfikir reflektif dalam totalitas dengan kesadara diri

8.      Manusia adalah makhluk yang punya kemampuan untuk percaya pada Tuhan

apabila dibagankan dengan mengacu pada pendapat di atas akan nampak sebagai berikut

Tabel 1.1. Dimensi-dimensi manusia

MANUSIA
HEWANI/BASARI

 

INSANI/MANUSIAWI
JASAD/FISIK/BIOLOGIS JIWA/AKAL/RUHANI
MAKAN BERFIKIR
MINUM BERPENGETAHUAN
TUMBUH BERMASYARAKAT
BERKEMBANGBIAK BERBUDAYA/BERETIKA/BERTUHAN

 

Dengan demikian nampaknya terdapat perbedaan sekaligus persamaan antara  manusia dengan makhluk lain khususnya hewan, secara fisikal/biologis perbedaan manusia dengan hewan lebih bersifat gradual dan tidak prinsipil, sedangkan dalam aspek kemampuan berfikir, bermasyarakat dan berbudaya, serta bertuhan perbedaannya sangat asasi/prinsipil, ini berarti jika manusia dalam kehidupannya hanya bekutat dalam urusan-urusan fisik biologis seperti makan, minum, beristirahat, maka kedudukannya tidaklah jauh berbeda dengan hewan, satu-satunya yang bisa mengangkat manusia lebih tinggi adalah penggunaan akal untuk berfikir dan berpengetahuan serta mengaplikasikan pengetahuannya bagi kepentingan kehidupan sehingga berkembanglah masyarakat beradab dan berbudaya, disamping itu kemampuan tersebut telah mendorong manusia untuk berfikir tentang sesuatu yang melebihi pengalamannya seperti keyakinan pada Tuhan yang merupakan inti dari seluruh ajaran Agama. Oleh karena itu carilah ilmu dan berfikirlah terus agar posisi kita sebagai manusia menjadi semakin jauh dari posisi hewan dalam konstelasi kehidupan di alam ini. Meskipun demikian penggambaran di atas harus dipandang sebagai suatu pendekatan saja dalam memberi makna manusia, sebab manusia itu sendiri merupakan makhluk yang sangat multi dimensi, sehingga gambaran yang seutuhnya akan terus menjadi perhatian dan kajian yang menarik, untuk itu tidak berlebihan apabila Louis Leahy berpendapat bahwa manusia itu sebagai makhluk paradoksal dan  sebuah misteri, hal ini menunjukan betapa kompleks nya memaknai manusia dengan seluruh dimensinya.

B.     MAKNA BERFIKIR

Semua karakteristik manusia yang menggambargakan ketinggian dan keagungan pada dasarnya merupakan akibat dari  anugrah akal yang dimilikinya, serta pemanfaatannya untuk kegiatan berfikir, bahkan Tuhan pun memberikan tugas kekhalifahan (yang terbingkai dalam perintah dan larangan) di muka bumi pada manusia tidak terlepas dari kapasitas akal untuk berfikir, berpengetahuan, serta membuat keputusan untuk melakukan dan atau tidak melakukan yang tanggungjawabnya inheren pada manusia, sehingga perlu dimintai pertanggungjawaban.

Sutan Takdir Alisjahbana. Menyatakan bahwa pikiran memberi manusia pengetahuan yang dapat dipakainya sebagai pedoman dalam perbuatannya, sedangkan kemauanlah yang menjadi pendorong perbuatan mereka. Oleh karena itu berfikir merupakan atribut penting yang menjadikan manusia sebagai manusia, berfikir adalah fondasi dan kemauan adalah pendorongnya.

Kalau berfikir (penggunaan kekuatan akal) merupakan salah satu ciri penting yang membedakan manusia dengan hewan, sekarang apa yang dimaksud berfikir, apakah setiap penggunaan akal dapat dikategorikan berfikir, ataukah penggunaan akal dengan cara tertentu saja yang disebut berfikir. Para akhli telah mencoba mendefinisikan makna berfikir dengan rumusannya sendiri-sendiri, namun yang jelas tanpa akal nampaknya kegiatan berfikir tidak mungkin dapat dilakukan, demikian juga pemilikan akal secara fisikal tidak serta merta mengindikasikan kegiata berfikir.

Menurut J.M. Bochenski berfikir adalah perkembangan ide dan konsep, definisi ini nampak sangat sederhana namun substansinya cukup mendalam, berfikir bukanlah kegiatan fisik namun merupakan kegiatan mental, bila seseorang secara mental  sedang mengikatkan diri dengan sesuatu dan sesuatu itu terus berjalan dalam ingatannya, maka orang tersebut bisa dikatakan sedang berfikir. Jika demikian berarti bahwa berfikir merupakan upaya untuk mencapai pengetahuan. Upaya mengikatkan diri dengan sesuatu merupakan upaya untuk menjadikan sesuatu itu ada dalam diri (gambaran mental) seseorang, dan jika itu terjadi tahulah dia, ini berarti bahwa dengan berfikir manusia akan mampu memperoleh pengetahuan, dan dengan pengetahuan itu manusia menjadi lebih mampu untuk melanjutkan tugas kekhalifahannya di muka bumi serta mampu memposisikan diri lebih tinggi dibanding makhluk lainnya.

Sementara itu Partap Sing Mehra memberikan definisi berfikir (pemikiran) yaitu mencari sesuatu yang belum diketahui berdasarkan sesuatu yang sudah diketahui. Definisi ini mengindikasikan bahwa suatu kegiatan berfikir baru mungkin terjadi jika akal/pikiran seseorang telah mengetahui sesuatu, kemudian sesuatu itu dipergunakan untuk mengetahui sesuatu yang lain, sesuatu yang diketahui itu bisa merupakan data, konsep atau sebuah idea, dan hal ini kemudian berkembang atau dikembangkan sehingga diperoleh suatu yang kemudian diketahui atau bisa juga disebut kesimpulan. Dengan demikian kedua definisi yang dikemukakan akhli tersebut pada dasarnya bersifat saling melengkapi. Berfikir merupakan upaya untuk memperoleh pengetahuan dan dengan pengetahuan tersebut proses berfikir dapat terus berlanjut guna memperoleh pengetahuan yang baru, dan proses itu tidak berhenti selama upaya pencarian pengetahuan terus dilakukan.

Menurut Jujus S Suriasumantri Berfikir merupakan suatu proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Dengan demikian berfikir mempunyai gradasi yang berbeda dari berfikir sederhana sampai berfikir yang sulit, dari berfikir hanya untuk mengikatkan subjek dan objek sampai dengan berfikir yang menuntut kesimpulan berdasarkan ikatan tersebut. Sementara itu Partap Sing Mehra menyatakan bahwa proses berfikir mencakup hal-hal sebagai berikut yaitu  :

  • Conception (pembentukan gagasan)
  • Judgement (menentukan sesuatu)
  • Reasoning (Pertimbangan pemikiran/penalaran)

bila seseorang mengatakan bahwa dia sedang berfikir tentang sesuatu, ini mungkin berarti bahwa dia sedang membentuk gagasan umum tentang sesuatu, atau sedang menentukan sesuatu, atau sedang mempertimbangkan (mencari argumentasi) berkaitan dengan sesuatu tersebut.

Cakupan proses berfikir sebagaimana disebutkan di atas menggambarkan bentuk substansi pencapaian kesimpulan, dalam setiap cakupan terbentang suatu proses (urutan) berfikir tertentu sesuai dengan substansinya. Menurut John Dewey proses berfikir mempuyai urutan-urutan (proses) sebagai berikut :

  • Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terhadap alat, sulit mengenai sifat, ataupun dalam menerangkan hal-hal yang muncul secara tiba-tiba.
  • Kemudian rasa sulit tersebut diberi definisi dalam bentuk permasalahan.
  • Timbul suatu kemungkinan pemecahan yang berupa reka-reka, hipotesa, inferensi atau teori.
  • Ide-ide pemecahan diuraikan secara rasional melalui pembentukan implikasi dengan jalan mengumpulkan bukti-bukti (data).
  • Menguatkan pembuktian tentang ide-ide di atas dan menyimpulkannya baik melalui keterangan-keterangan ataupun percobaan-percobaan.

Sementara itu Kelly mengemukakan bahwa proses berfikir mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

  • Timbul rasa sulit
  • Rasa sulit tersebut didefinisikan
  • Mencari suatu pemecahan sementara
  • Menambah keterangan terhadap pemecahan tadi yang menuju kepada kepercayaan bahwa pemecahan tersebut adalah benar.
  • Melakukan pemecahan lebih lanjut dengan verifikasi eksperimental
  • Mengadakan penelitian terhadap penemuan-penemuan eksperimental menuju pemecahan secara mental untuk diterima atau ditolak sehingga kembali menimbulkan rasa sulit.
  • Memberikan suatu pandangan ke depan atau gambaran mental  tentang situasi yang akan datang untuk dapat menggunakan pemecahan tersebut secara tepat.

Urutan langkah (proses) berfikir seperti tersebut di atas lebih menggambarkan suatu cara berfikir ilmiah, yang pada dasarnya merupakan gradasi tertentu disamping berfikir biasa yang sederhana serta berfikir radikal filosofis, namun urutan tersebut dapat membantu bagaimana seseorang berfikir dengan cara yang benar, baik untuk hal-hal yang sederhana dan konkrit maupun hal-hal yang rumit dan abstrak, dan semua ini dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki oleh orang yang berfikir tersebut.

C.     MAKNA PENGETAHUAN

            Berfikir mensyaratkan adanya pengetahuan (Knowledge) atau sesuatu yang diketahui agar pencapaian pengetahuan baru lainnya dapat berproses dengan benar, sekarang apa yang dimaksud dengan pengetahuan ?, menurut Langeveld pengetahuan ialah kesatuan subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui, di tempat lain dia mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan kesatuan subjek yang mengetahui dengan objek yang diketahui, suatu kesatuan dalam mana objek itu dipandang oleh subjek sebagai dikenalinya. Dengan demikian pengetahuan selalu berkaitan dengan objek yang diketahui, sedangkan Feibleman menyebutnya hubungan subjek dan objek (Knowledge : relation between object and subject). Subjek adalah individu yang punya kemampuan mengetahui (berakal) dan objek adalah benda-benda atau hal-hal yang ingin diketahui. Individu (manusia) merupakan suatu realitas dan benda-benda merupakan realitas yang lain, hubungan keduanya merupakan proses untuk mengetahui dan bila bersatu jadilah pengetahuan bagi manusia. Di sini terlihat bahwa subjek mesti berpartisipasi aktif dalam proses penyatuan sedang objek pun harus berpartisipasi dalam keadaannya, subjek merupakan suatu realitas demikian juga objek, ke dua realitas ini berproses dalam suatu interaksi partisipatif, tanpa semua ini mustahil pengetahuan terjadi, hal ini sejalan dengan pendapat Max Scheler yang menyatakan bahwa pengetahuan sebagai partisipasi oleh suatu realita dalam suatu realita yang lain, tetapi tanpa modifikasi-modifikasi dalam kualitas yang lain itu.  Sebaliknya subjek yang mengetahui itu dipengaruhi oleh objek yang diketahuinya.

Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang diketahui tentang objek tertentu, termasuk ke dalamnya ilmu (Jujun S Suriasumantri,), Pengetahuan tentang objek selalu melibatkan dua unsur yakni unsur representasi tetap dan tak terlukiskan serta unsur penapsiran konsep yang menunjukan respon pemikiran. Unsur konsep disebut unsur formal sedang unsur tetap adalah unsur material atau isi (Maurice Mandelbaum). Interaksi antara objek dengan subjek yang menafsirkan, menjadikan pemahaman subjek (manusia) atas objek menjadi jelas, terarah dan sistimatis sehingga dapat membantu memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. Pengetahuan tumbuh sejalan  dengan bertambahnya pengalaman, untuk itu diperlukan informasi yang bermakna guna menggali pemikiran untuk menghadapi realitas dunia dimana seorang itu hidup (Harold H Titus).

D.     BERFIKIR DAN PENGETAHUAN

            Berfikir dan pengetahuan merupakan dua hal yang menjadi ciri keutamaan manusia, tanpa pengetahuan manusia akan sulit berfikir dan tanpa berfikir pengetahuan lebih lanjut tidak mungkin dapat dicapai, oleh karena itu nampaknya berfikir dan pengetahuan mempunyai hubungan yang sifatnya siklikal.

Gerak sirkuler antara berfikir dan pengetahuan akan terus membesar mengingat pengetahuan pada dasarnya bersifat akumulatit, semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang semakin rumit aktivitas berfikir, demikian juga semakin rumit aktivitas berfikir semakin kaya akumulasi pengetahuan. Semakin akumulatif pengetahuan manusia semakin rumit, namun semakin memungkinkan untuk melihat pola umum serta mensistimatisirnya dalam suatu kerangka tertentu, sehingga lahirlah pengetahuan ilmiah (ilmu), disamping itu terdapat pula orang-orang yang tidak hanya puas dengan mengetahui, mereka ini mencoba memikirkan hakekat dan kebenaran yang diketahuinya secara radikal dan mendalam, maka lahirlah pengetahuan filsafat, oleh karena itu berfikir dan pengetahuan dilihat dari ciri prosesnya dapat dibagi ke dalam :

  • Berfikir biasa dan sederhana menghasilkan pengetahuan biasa (pengetahuan eksistensial)
  • Berfikir sistematis faktual tentang objek tertentu menghasilkan pengetahuan ilmiah (ilmu)
  • Berfikir radikal tentang hakekat sesuatu menghasilkan pengetahuan filosofis (filsafat)

Semua jenis berfikir dan pengetahuan tersebut di atas mempunyai poisisi dan manfaatnya masing-masing, perbedaan hanyalah bersifat gradual, sebab semuanya tetap merupakan sifat yang inheren dengan manusia. Sifat inheren berfikir dan berpengetahuan pada manusia telah menjadi pendorong bagi upaya-upaya untuk lebih memahami kaidah-kaidah berfikir benar (logika), dan semua ini makin memerlukan keakhlian, sehingga makin rumit tingkatan berfikir dan pengetahuan makin sedikit yang mempunyai kemampuan tersebut, namun serendah apapun gradasi berpikir dan berpengetahuan yang  dimiliki seseorang tetap saja mereka bisa menggunakan akalnya untuk berfikir untuk memperoleh pengetahuan, terutama dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan, sehingga manusia dapat mempertahankan hidupnya (pengetahuan macam ini disebut pengetahuan eksistensial).

Berpengetahuan merupakan syarat mutlak bagi manusia untuk mempertahankan hidupnya, dan untuk itu dalam diri manusia telah terdapat akal yang dapat dipergunakan berfikir untuk lebih mendalami dan memperluas pengetahuan. Paling tidak terdapat dua alasan mengapa manusia memerlukan pengetahuan/ilmu yaitu:

1.      manusia tidak bisa hidup dalam alam yang belum terolah, sementara binatang siap hidup di alam asli dengan berbagai kemampuan bawaannya.

2.      manusia merupakan makhluk yang selalu bertanya baik implisit maupun eksplisit dan kemampuan berfikir serta pengetahuan merupakan sarana untuk menjawabnya.

Dengan demikian berfikir dan pengetahuan bagi manusia merupakan instrumen penting untuk mengatasi berbagai persoalah yang dihadapi dalam hidupnya di dunia, tanpa itu mungkin yang akan terlihat hanya kemusnahan manusia (meski kenyataan menunjukan bahwa dengan berfikir dan pengetahuan manusia lebih mampu membuat kerusakan dan memusnahkan diri sendiri lebih cepat)

PERTANYAAN UNTUK BAHAN DISKUSI

1.      jelaskan makna Manusia?

2.      jelaskan perbedaan manuaia dengan hewan?

3.      apa yang dimaksud dengan berfikir?

4.      apa yang dimaksud dengan pengetahuan?

5.      jelaskan hubungan antara berfikir dan pengetahuan?

6.      mengapa manusia perlu berfikir dan berpengetahuan?

7.      sebutkan danjelaskan jenis-jenis berfikir dan pengetahuan?

8.      mengapa manusia merupakan satu-satunya makhluk di dunia yang bisa beragama?

25 Balasan ke Manusia, Berfikir dan Pengetahuan

  1. ERWIN MANURUNG berkata:

    ty om :)

  2. someone berkata:

    alam semesta memang luas, tapi kita para manusia belum pernah melihat langsung proses penciptaannya, jadi menurutku yang betul untuk dikatakan adalah “sesuatu menciptakan alam semesta”, tidak langsung mengatakan “allah pencipta alam semesta”, atau “yesus pencipta alam semesta”, perkataan-perkataan tentang yesus dan allah dalam kitab masing-masing agama masih ada detail yang kurang untuk menyebut “kata di alquran semua benar”, atau “kata di alkitab semua benar”. Tapi karena juga belum jelas ketidakberadaan tuhan, maka agama masih dapat digunakan untuk mengontrol perilaku. Tapi perlu dikritisi agar mencegah terorisme, dan menemukan kebenaran. Juga perlu dicari kepercayaan mana yang benar akan menyelamatkan sampai akhirat.
    the universe is indeed vast, but we humans have never seen a direct process of creation, so I think it is correct to say is “something created the universe”, not directly say “allah creator of the universe”, or “jesus creator of the universe”, the words-words of jesus and god in the book of each religion there is not enough detail to mention “words in the Quran is all true”, or “word in the Bible is all true”. But because it is also not clear absence of God, then religion can still be used to control behavior. But to be scrutinized in order to prevent terrorism, and achieve for the right. If your argument is correct, your courage for that line of argument with me and show my this comment in your blog to be easily legible. Also need to look for the trust which is it going to save until the hereafter.

  3. Nur Yandi berkata:

    dengan berpikir maka aku ada,.,. ini adalah sebuah kata-kata yang memiliki makna yang mendalam serta motivasi yang luar biasa.,..,,.,. tetapi berpikirnya manusia berbeda-beda oleh sebab itu kita tidak usah memungkiri lagi jika ada salah satu manusia yang cara berpikirnya menyimpang ,.,.,. karena itu adalah sebagai pelajaran bagi mereka.,.,

    nuryandi-cakrawalailmupengetahuan.blogspot.com

  4. masluqman berkata:

    very interesting to understand God through thinking

  5. Berfikir Pembelajaran Kehidupan Kini & Nanti.

    Manusia a/ mahluk tuhan yg berakal atau berfikir. Berakal serta berfikir menurut saya dibagi akan 3 arah; 1. Berfikir Negatif (negatif thingking) a/ negatife mate atau under eastymate. Mengarah kpd sgala suatu atau substantif arah berfikir cenderung mengarah pd suatu yg tidak suai dgn estetis akal manusia sbg mahluk berakal semestinya menurut fungsi (fungtional wr0ng). Tidak wajibnya manusia berfikir sesuai haknya, sebab arah berfikir ini menyalahi k0dratian mahluk sehingga menyalahi Hak Asasi Manusia itu sendiri serta manusia lain. Arah ini saya definisikan arah berfikir setan &/ iblis. Efeknya tidaklah baik sehingga tidak bagus bg manusia.
    2. Berfikir Normatif (normatif thingking) yakni berfikir yg didasari o/ kewajiban manusia yg berhak diutamakan dlm berakal u/ suai fungsinya dgn pendasar estetis. Al Quran pun menurut saya hendaknya diartikan sesuai arah berfikir ini, maknanya akan relefan dan mengena. Kelayakan suai estetika berakal kpd sesama manusia juga alam Fana. Kelebihan dr smua arah menurut saya a/ arah ini. Knp dmkn krn arah ini selayaknya arah fikir, dimana layak itu tanpa hal masalah. Yg pd akhirnya yg baik arah dr berfikir cr ini bermuara. Arah akal tidak mungkin melebihi / berlebihan, baik substantif, subyektif dan 0byektif. Efeknya pada hal baik sehingga bagus. 3. Berfikir Positif (positif thingking) a/ cr berfikir yg arahnya ingin bermuara pd hal terbaik, suai estetis namun arah ini membuat terbuai dan terlena pd pemilik akal. Krn cr ini menurut sy berlebihan, akan memiliki efek yg berbalik arah. Apa bila tercapaipun cenderung melenakan atau terlena. Dimana hal yg terlalu baik sangatlah tidak layak bg hasil fikir dr akal baik u/ manusianya bahkan manusia lainnya. ‘Lebay’ a/ contoh kata ibarat jaman kini dimana artinya hasil dr suatu positif yg berlebihan. Efek baik ke terlalu baik pun tidak bagus.

  6. N0RMATIFISME
    alamiah
    INDONESIA,.

  7. noname berkata:

    kenapa logika sejalan dengan filsafat

  8. janos akbar berkata:

    Agama dalam sebuah pembahasan linguistik.
    Dari judul diatas Jangan terburu anda berprasangka, pasti ini artikel yang menghujat agama, justru disini disodorkan sebuah pendekatan untuk memahami relevansi beragama untuk manusia di zaman modern.
    Bahwasanya pikiran manusia dibentuk dengan bahan dasar utama BAHASA. Hanya dengan bahasa isi pikiran manusia berkembang ( pembangunan perbendaharaan kata) , kalo tidak ada isi pikiran dalam kesadararan, itu manusia dalam status mati suri/ stadium koma, bahasa mendefinisikan sumua hal dalam pikiran, hanya dengan bahasa pikiran menciptakan realitas. Ada beberapa macam realitas dalam pikiran manusia :
    1. Ada realitas alam benda ( natural/ dunia alam benda dalam bahasa simbolik : adik, kakak, bapak, ibu, pak guru, sungai, gunung, langit dll) dan beserta logika hukum alam benda dan waktu ( kemarin, saat ini, besok). Semua disimbolkan dengan kata kata / bahasa.
    2. Dengan bahasa juga tercipta realitas super natural ( diluar alam fisik / metafisika, diluar ilmu fisika, diluar ilmu biologi), itulah realitas para dewa dewi, Tuhan, Allah, jin, setan, malaikat, dedemit, kuntilanak. Disinilah agama dan kepercayaan diciptakan. Disinilah terjadi realitas supernatural. Realitas super natural ini kehadirannya dalam pikiran manusia, menjadi tidak kalah penting dengan realitas alam benda.
    3. Dengan bahasa, manusia menciptakan dunia makna,( meaning world/ arti hidup), bahagia, damai, cinta, ideology, nasionalisme, patriotisme, keyakinan , isi perasaan, emosi, kebebasan, kepasrahan, putus asa dll.
    Yang menjadi persoalan rumit, yang menjadi sumber dari banyak perdebatan baik ilmiah, setengah ilmiah, setengah filsafat atau debat kusir adalah : banyak pemeluk agama telah menyusun dunia makna yang bersumber dari agama (dunia supernatural), baik karena alasan apapun – baik historis atau pilihan, tetapi mencari dasar logika pembenaran dari hukum dunia alam benda ( dunia ilmu fisika dan biologi), jadi pemahaman dunia supernatural dicari logika dari dunai alam benda, pasti tidak akan pernah ketemu.
    ITU yang seharusnya TIDAK PERLU TERJADI.
    Karena dunia makna ( dunia spiritual, religius, makna hidup) adalah dunia setiap manusia, milik setiap manusia, diciptakan oleh tiap tiap manusia, Apapun dunia makna yang diciptakan, sepenuhnya sah. Tanpa dunia makna, kita hanyalah makhluk hidup dengan atribut biologis, setingkat binatang hanya perlu makan minum sex dan tidur, terus mati. Binatang tidak akan pernah menciptakan sejarah ….. hanya tinggalkan fosil purbakala ….
    Harus diakui, bahwa agama adalah sumber inspirasi yg sangat amat luas dalam penyusunan dunia makna. Banyak keindahan, keagungan budi yg terkandung dalam ajaran agama, yang sangat penting untuk menginspirasi keteraturan hidup manusia (kosmos).
    Seorang bayi yg baru lahir, tidak semestinya harus menjadi manusia liar dan tidak berbudi. Itu akan akan merepotkan semua orang (chaos). Disinilah arti krusial dan essential dari agama untuk kehidupan modern. Banyak tuntunan moral dan etika yg perlu dipetik dari agama. Seorang anak tidak perlu harus belajar dulu tentang etika dan moral di sekolah filsafat, agama sudah menyediakan.
    Sains/ iptek memang telah mengugurkan statement agama dalam hal penciptaan Sains telah memberikan banyak sumbangan untuk kemudahan hidup manusia, , tapi apakah agama tetap punya relevansi dalam kehidupan orang modern?
    Sains harus lah tetap dikembangkan, Sains tidak pernah mempersoalkan agama itu betul atau salah ( konsep bebas nilai). Hanya manusia yg mempersoalkan, dan jadi sebuah ironi dan keprihatinan. Sebuah contoh KEPRIHATINAN : Galileo harus minum racun sebagai hukuman mati, karena menghentikan MATAHARI di Gabaon…. Tidak perlu lagi ada korban seperti Galileo. Tidak perlu ada AROGANSI dalam beragama dan mempersalahkan ilmuwan. Itu sangatlah tidak bermanfaat.
    Banyak hal ritual dalam beragama, memberikan keindahan hidup. Kalo tiap jumat kita ke masjid , minggu ke gereja, ke biara, dll. Saat bertemu kawan, saat jumpa orang orang yg kita kenal, maka tiba tiba muncul suatu moment kebersamaan, kegembiraan tersendiri dan menjadi sebuah kerinduan… sebuah sosialitas yg indah dalam kehidupan. Inilah dunia makna milik manusia . Manusia bukanlah robot, manusia perlu sosialitas dan keindahan, ada sebuah kerinduan didalam manusia.
    Seandainya tidak beragama, apa yg dirasakan? …… mungkin sebuah kekosongan hidup., ter alinasi/ keterasingan, kecuali anda hidup dalam lingkungan / komunitas non religius seperti Mao, Stalin. Sah saja saja kalo itu lingkungan sosialmu.

  9. janos akbar berkata:

    Kata kata dan Bahasa, materi dasar isi Pikiran Manusia. Sebuah missing link dalam pembahasan filsafat manusia.
    Apakah yg disebut dengan kata kata, kalimat dan bahasa ?
    Kata kata adalah suatu simbol yg diciptakan oleh manusia, dan kata kata itu dirangkai dalam kalimat untuk dikomunikasikan kepada manusia yg lain. Tata cara merangkai biasa disebut gramatika. Keseluruhan itu disebut bahasa.
    Kata kata ada yang dibuat dari simbol simbol dasar, yang biasa disebut alphabet dalam dunia tulis latin, honocoroko dalam bahasa jawa, hijaiyah dalam bahasa arab, ada juga alphabet dalam bahasa Sanskrit, romawi, ibrani, mesir kuno. Ada juga kata kata yg langsung dibuat dari simbol alam, bahasa cina, jepang, hiragana, katakana tanpa ada alphabet. Tiap simbol alam sudah merepresentasikan sebuah kata, selanjutnya kata kata dirangkai menjadi sebuah kalimat yg bisa dikomunikasikan. Terjadilah komunikasi dengan bahasa.

    Apabila simbol simbol itu ( bahasa) tidak tersedia dalam pikiran, sangguplah dia berkomunikasi ?. Seorang bayi yg baru lahir tidak memiliki satupun alphabet, bayi baru lahir tidak sanggup menyusun kata dan kalimat, tidak berbahasa, perbendaharaan kata masih O. Apapun yg akan dikomunikasikan hanyalah dalam bentuk sebuah aksi biologis yaitulah Tangis, dan tangis itupun hanya bisa dipahami oleh insting seorang ibu, apakah dia lapar, haus , dingin, sakit, kencing…. dst dst. Instruksi dan edukasi menjadikan seorang bayi menjadi balita yang bisa berkomunikasi.

    Binatang juga punya aksi biologis , anjing menggong gong jika ada mahkluk yg dirasa mengancam wilayah kekuasaannya , kucing meong meong jika lapar atau minta dibelai, dan mengerang jika birahi nya muncul dll dll.. Anak ayam baru menetas bisa menciap ciap mencari induknya dan bisa mematuk makanan yg ada disekitarnya, lari bergerombol jika ada bahaya predator.. Seakan sudah ada sebuah software yg sudah diinstal dalam otak sejak lahir untuk bisa berkomunikasi dan berjalan dan mencari makan. Biasa kita sebut hal itu sebagai insting binatang.

    Seorang bayi tanpa disusui, disuap dan dirawat tidak akan pernah punya kesempatan menjadi balita, selanjutnya INSTRUKSI DAN EDUKASI membuat dia menjadi seorang manusia seperti semua pembaca tulisan ini. Seorang bayi yang sehat bisa diajarkan kata kata dan mencontoh suatu perbuatan ( internalisasi). Dia selanjutnya bisa menirukan dan mengucap kata kata dan melakukan suatu perbuatan ( eksternalisasi).

    Instruksi dan edukasi pada tahap kanak kanak, harus dilakukan dengan bahasa + contoh perbuatan. Diharapkan terjadi suatu peniruan oleh sang anak didik. Sebuah kata : MAKAN harus diikuti perbuatan duduk tenang, ambil makanan harus pakai sendok garpu. Begitulah proses internalisasi terbentuk ke dalam pikiran seorang anak. Instruksi dan edukasi dilakukan secara terus menerus. Disamping contoh perbuatan, kata kata dan bahasa adalah sarana pembentuk isi PIKIRAN. Terbentuk lah suatu perbendaharan kata kata dan pengetahuan mengenai sekitar hidup bagi sang anak didik. Sebuah kata MAKAN dalam pikiran anak didik diikuti dengan suatu imajinasi tindakan : duduk pakai sendok garpu dst dst…. Minum diikutti tindakan pakai gelas dst dst ….
    Pada titik ini kalo mengikuti penganut existentialis … seorang anak sudah memasuki Dunia Manusia ( leben welt – karena binatang TIDAK punya DUNIA, binatang hidup dalam welt) …. Dengan bahasa umum yg sederhana kita sebut saja dia sudah hidup dalam suatu peradaban, hanya manusia punya peradaban, binatang tidak punya peradaban.

    Dibangku sekolah, instruksi dan edukasi berlanjut. Contoh perbuatan dari pak guru dan pak dosen, professor semakin berkurang, semua komunikasi dilakukan dengan bahasa, baik tulis dan verbal . DALAM PIKIRAN ANAK DIDIK terjadilah interaksi dahsyat diantara bahasa simbol dan imajinasi perbuatan dalam otak mengenai satu hal dengan lain ( misal ada : api dan bensin, ada pria telanjang dan wanita telajang). Kata kata dan bahasa memenuhi otak kita, secara fisiologis sering disebut membuat memori otak menjadi lebih besar, semakin otak berkembang semakin cemerlang. Jadi ISI pikiran kita diciptakan oleh Bahasa. Kembali kepada tesis dari tulisan ini, bahawa BAHASA menciptakan realitas dalam PIKIRAN MANUSIA.

    Sebuah pertanyaan sulit sering ditujukan kepada penganut Hegelian/Immanuel kant, apakah realitas dalam pikiran itu, benar benar ada diluar sana ????
    Ada 3 REALITAS dalam pikiran manusia.
    1. Realitas alam benda – natural, (ada bapak, ibu, adik , kakak, makan, mium, kerja, sekolah, gunung, sungai, pohon, batu, api, langit, buruh pabrik, negara, raja , penduduk dan segala logika yang dicerna oleh pikiran manusia : matematika, hukum sebab akibat, hukum negara, teori managemen, ilmu dll.) Sesuai teori materialis, fakta di luar manusia menciptakan realitas dalam pikiran. Tetapi dalam uraian tesis disini, itu terjadi karena proses internalisasi dari proses instruksi dan edukasi dengan bahasa. Bahasa adalah missing link dalam tesis materialism.
    2. Realitas yang tidak nampak oleh panca indra di alam natural, tetapi dirasa mengatasi semua isi dari dunia natural / dunia alam benda ( tidak bisa diukur, tidak bisa dipegang, dirasa, dicium , dilihat, dibau ). Dengan BAHASA terciptalah dunia SUPER NATURAL. Bagaimana simbol dunia supernatural terjadi dalam pikiran manusia. Sejarah manusia mengalami penderitaan oleh bencana alam dan juga oleh karena sesama manusia juga. Manusia tidak mau menyerah, berusaha mencari apa dan siapa penyebab bencana. Karena dalam realitas alam benda ada suatu hukum sebab akibat, maka harus ada penyebab, tapi tidak bisa ditangkap oleh indera. Dimunculkan sebuah simbol yang tidak ada di realitas alam benda. Sesuatu Yang Maha Berkuasa, diberi sesaji, disembah supaya tidak murka dan diampuni dan dipersonifikasikan layaknya seorang manusia yang hidup dst dst… Karena simbol itu DIBUAT dengan BAHASA maka terjadilah dalam pikiran realitas Dewa Dewi, Jin, malaikat, setan, kuntil anak, Allah, Tuhan, dan sebaginya dst…. Kesimpulan pemahaman sampai disini sesuai dengan penganut Hegelian, bahwa realitas itu adalah realitas yg ada dalam pikiran dan diciptakan oleh pikiran. Kehadiran Realitas super natural dalam pikiran manusia sangat dahsyat dan tidak kalah kehadirannya dalam realitas alam benda. Sekali lagi, bahasa sebagai bahan dari penciptaan dunia supernatural tidak pernah dijelaskan dalam uraian Hegel. Bahasa adalah missing link antara bahasan disini dan uraian hegelian.
    3. Realitas dunia makna, Bahasa menciptakan dan mendefinisikan perasaan manusia. damai, cinta, pengharapan, penghiburan, keindahan, keberhasilan. – iri, benci,putus asa, pemberontakan, kegagalan, sia sia. Tanpa makna keindahan, damai, cinta, pengharapan, manusia tidak bersemangat untuk tetap hidup. Makna hidup juga terus diciptakan. Generasi sekarang buat makna hidup baru : “GAUL” ….. ada anak gaul, ibu ibu gaul, … yang belum dengar kakek nenek gaul. Bahasa menciptakan realitas dunia makna dalam pikiran. Mungkin sebahagian pembaca susah memaknai, tapi generasi muda di kota besar bisa memaknai. …… Kalo kagak Gaul, gue bête ……. Ha ha ha. Binatang tidak memiliki dunia makna. Oow ..si ucok teriak, kagak gaul … binatang loe .. wkwkwk ….

  10. iyahsadiah763@ymail.com berkata:

    makasih……….atas penjelasan tentang berpikir sehingga saya dapat terbantu he,,,,,,he
    tingkatkan lagi kepda pola pikir yang membuat sang insan dpt bersyukur karena adanya akal

  11. iyahsadiah763@ymail.com berkata:

    hidup takkan berguna tanpa adanya hati dan akal yang jernih,,,,,,,,,,,,,iya khan??

  12. abdulah berkata:

    masa sih?

  13. duniateknik.web.id berkata:

    manusia diberikan ,disempurnakan memiliki akal pikiran atau otak,yang untuk digunakan berfikir logis,realita dsb,semua tindakan yang dilakukan oleh manusia adalah semua pengaruh karena otak,baik tindakan baik atau buruk.
    makasih

  14. junaid berkata:

    emm maksih banget …. membantu uln banget dalam menambah ilmu pengetahuan

  15. Mustika Utami berkata:

    Perkembangan perilaku manusia tidak selalu positif tetapi juga ada kecenderungan ke arah negatif. Menurut anda apa penyebabnya dan bagaimana solusi terbaiknya?

  16. Muhamad Samsudin berkata:

    Sungguh manusia merupakan makhluk yang sangat unik karena manusia bisa tersenyum dalam sedihnya, menangis dalam gembiranya, dan bisa meratap dalam segala kelebihannya. Berbagai tontonan kontradiktif bisa dimunculkan dalam dimensi kemanusiaan menjadi sebuah untaian yang sangat rumit dan susah untuk dimengerti. Jika manusia mencoba diamati eksistensinya yang konkrit atau caranya berbeda, maka nampaklah ia bukan ‘monade’ atau barang yang terpisah, tanpa berhubungan dengan apapun juga, seperti yang pernah diajarkan Filsuf G.W. Leibnitz. Manusia tidak bisa memiliki pengertian yang lebih jelas tentang dirinya kecuali dengan menunjukkan hubungannya dengan alam.

  17. RTT berkata:

    materi ini sangat baik, sayangnya kutipan-kutipan tidak diberikan footnote dari mana sumbernya, sebaiknya diedit dengan memberikan footnote sehingga lebih bisa dipertanggungjawabkan

  18. gghj berkata:

    Guru!!!!

  19. Meliya Putri berkata:

    iya, coba menggunaka footnote/referensi secara detail. agar terhindar dari plagiator. semoga kita menjadi orang yang jujur.

  20. Sandi Kaladia berkata:

    Bagi IBNU SINA , AL GHAZALI, IBNU RUSYID, MUHAMAD QUTUB, AL KINDI, AL FARABI dll yang termasuk ketagori Filsuf Islam termasyhur, jika mereka masih hidup mungkin akan berdiskusi secara kondusif dengan Filsuf Sunda Mandalajati Niskala.
    Terutama Al Farabi mungkin akan diberi tahu oleh Mandalajati Niskala tentang Wujud Tuhan, tapi pastinya harus berjanji untuk dirahasiakan.

    Atas segala pencapaian Produk Berpikir mereka, Mandalajati Niskala memberikan apresiasi dengan rasa hormat.

    MANDALAJATI NISKALA
    Seorang Filsuf Sunda Abad 21
    Menjelaskan Dalam Buku
    SANG PEMBAHARU DUNIA
    DI ABAD 21,
    Mengenai
    HAKEKAT DIRI

    Salah seorang peneliti Sunda yang sedang menulis buku
    “SANG PEMBAHARU DUNIA DI ABAD 21,
    bertanya kepada Mandalajati Niskala:
    “Apa yang anda ketahui satu saja RAHASIA PENTING mengenai apa DIRI itu? Darimana dan mau kemana?
    Jawaban Mandalajati Niskala:
    “Saya katakan dengan sesungguhnya bahwa pertanyaan ini satu-satunya pertanyaan yang sangat penting dibanding dari ratusan pertanyaan yang anda lontarkan kepada saya selama anda menyusun buku ini.
    Memang pertanyaan ini sepertinya bukan pertanyaan yang istimewa karena kata “DIRI” bukan kata asing dan sering diucapkan, terlebih kita beranggapan diri dimiliki oleh setiap manusia, sehingga mudah dijawab terutama oleh para akhli.
    Kesimpulan para Akhli yang berstandar akademis mengatakan BAHWA DIRI ADALAH UNSUR DALAM DARI TUBUH MANUSIA.
    Pernyataan semacam ini hingga abad 21 tidak berubah dan tak ada yang sanggup menyangkalnya. Para Akademis Dunia Barat maupun Dunia Timur banyak mengeluarkan teori dan argumentasi bahwa diri adalah unsure dalam dari tubuh manusia. Argumentasi dan teori mereka bertebaran dalam ribuan buku tebal. Kesimpulan akademis telah melahirkan argumentasi Rasional yaitu argumentasi yang muncul berdasarkan “Nilai Rasio” atau nilai rata-rata pemahaman Dunia Pendidikan.
    Saya yakin Andapun sama punya jawaban rasional seperti di atas.
    Tentu anda akan kaget jika mendengar jawaban saya yang kebalikan dari teori mereka.
    Sebelum saya menjawab pertanyaan anda, saya ingin mengajak siapapun untuk menjadi cerdas dan itu dapat dilakukan dengan mudah dan sederhana.
    Coba kita mulai belajar melacak dengan memunculkan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan kata DIRI, JIWA dan BADAN, agar kita dapat memahami apa DIRI itu sebenarnya. Beberapa contoh pertanyaan saya susun seperti hal dibawah ini:
    1)Apa bedanya antara MEMBERSIHKAN BADAN, MEMBERSIHKAN JIWA dan MEMBERSIHKAN DIRI?
    2)Apa bedanya KEKUATAN BADAN, KEKUATAN JIWA dan KEKUATAN DIRI?
    3)Kenapa ada istilah KESADARAN JIWA dan KESADARAN DIRI sedangkan istilah KESADARAN BADAN tidak ada?
    4)Kenapa ada istilah SEORANG DIRI tetapi tidak ada istilah SEORANG BADAN dan SEORANG JIWA?
    5)Kenapa ada istilah DIRI PRIBADI sedangkan istilah BADAN PRIBADI tidak ada, demikian pula istilah JIWA PRIBADI menjadi rancu?
    6)Kenapa ada istilah KETETAPAN DIRI dan KETETAPAN JIWA tetapi tidak ada istilah KETETAPAN BADAN?
    7)Kenapa ada istilah BERAT BADAN tetapi tidak ada istilah BERAT JIWA dan BERAT DIRI?
    8)Kenapa ada istilah BELA DIRI sedangkan istilah BELA JIWA dan BELA BADAN tidak ada?
    9)Kenapa ada istilah TAHU DIRI tetapi tidak ada istilah TAHU BADAN dan TAHU JIWA?
    10)Kenapa ada istilah JATI DIRI sedangkan istilah JATI BADAN dan JATI JIWA tidak ada?
    11)Apa bedanya antara kata BER~BADAN, BER~JIWA dan BER~DIRI?
    12)Kenapa ada istilah BER~DIRI DENGAN SEN~DIRI~NYA tetapi tidak ada istilah BER~BADAN DENGAN SE~BADAN~NYA dan BER~JIWA DENGAN SE~JIWA~NYA?
    13)Kenapa ada istilah ANGGOTA BADAN tetapi tidak ada istilah ANGGOTA JIWA dan ANGGOTA DIRI?
    Beribu pertanyaan seperti diatas bisa anda munculkan kemudian anda renungkan. Saya jamin anda akan menjadi faham dan cerdas dengan sendirinya, apalagi jika anda hubungkan dengan kata yang lainnya seperti; SUKMA, RAGA, HATI, PERASAAN, dsb.
    Kembali kepada pemahaman Akhli Filsafat, Ahli Budaya, Akhli Spiritual, Akhli Agama, Para Ulama, Para Kyai dan masyarakat umum BAHWA DIRI ADALAH UNSUR DALAM DARI TUBUH MANUSIA. Mulculnya pemahaman para akhli seperti ini dapat saya maklumi karena mereka semuah adalah kaum akademis yang menggunakan standar kebenaran akademis.
    Saya berani mengetasnamakan Sunda, bahwa pemikiran di atas adalah SALAH.
    Dalam Filsafat Sunda yang saya gali, saya temukan kesimpulan yang berbeda dengan pemahaman umum dalam dunia ilmu pengetahuan.
    Setelah saya konfirmasi dengan cara tenggelam dalam “ALAM DIRI”, menemukan kesimpulan BAHWA DIRI ADALAH UNSUR LUAR DARI TUBUH MANUSIA. Pendapat saya yang bertentangan 180 Derajat ini, tentu menjadi sebuah resiko yang sangat berat karena harus bertubrukan dengan Pendapat Para Akhli di tataran akademik.
    Saya katakan dengan sadar ‘Demi Alloh. Demi Alloh. Demi Alloh’ saya bersaksi bahwa diri adalah UNSUR LUAR dari tubuh manusia yang masuk menyeruak, kemudian bersemayam di alam bawah sadar. ‘DIRI ADALAH ENERGI GAIB YANG TIDAK BISA TERPISAHKAN DENGAN SANG MAHA TUNGGAL’. ‘DIRI MENYERUAK KE TIAP TUBUH MANUSIA UNTUK DIKENALI SIAPA DIA SEBENARNYA’. ‘KETAHUILAH JIKA DIRI TELAH DIKENALI MAKA DIRI ITU DISERAHTERIKAN KEPADA KITA DAN HILANGLAH APA YANG DINAMAKAN ALAM BAWAH SADAR PADA SETIAP DIRI MANUSIA’.
    Perbedaan pandangan antara saya dengan seluruh para akhli di permukaan Bumi tentu akan dipandang SANGAT EKSTRIM. Ini sangat beresiko, karena akan menghancurkan teori ilmu pengetahuan mengenai KEBERADAAN DIRI.
    Aneh sekali bahwa yang lebih memahami mengenai diri adalah Dazal, namun sengaja diselewengkan oleh Dazal agar manusia sesat, kemudian Dazal menebarkan kesesatan tersebut pada dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan ‘DI UFUK BARAT’ maupun ‘DI UFUK TIMUR’.
    Sebenarnya sampai saat ini DAZAL SANGAT MEMAHAMI bahwa DIRI adalah unsur luar yang masuk menyeruak pada seluruh tubuh manusia. DIRI merupakan ENERGI KEMANUNGGALAN DARI TUHAN SANG MAHA TUNGGAL. Oleh karena pemahaman tersebut DAZAL MENJADI SANGAT MUDAH MENGAKSES ILMU PENGETAHUAN. Salah satu ilmu yang Dia pahami secara fasih adalah Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu. Ilmu ini dibongkar dan dipraktekan hingga dia menjadi SAKTI. Dengan kesaktiannya itu Dia menjadi manusia “Abadi” dan mampu melakukan apapun yang dia kehendaki dari dulu hingga kini. Dia merancang tafsir-tafsir ilmu dan menyusupkannya pada dunia pendidikan agar manusia tersesat. Dia tidak menginginkan manusia mamahami rahasia ini. Dazal dengan sangat hebatnya menyusun berbagai cerita kebohongan yang disusupkan pada Dunia Ilmu Pengetahuan, bahwa cerita Dazal yang paling hebat agar dapat bersembunyi dengan tenang, yaitu MENGHEMBUSKAN ISU bahwa Dazal akan muncul di akhir jaman, PADAHAL DIA TELAH EKSIS MENCENGKRAM DAN MERUSAK MANUSIA BERATUS-RATUS TAHUN LAMANYA HINGGA KINI.
    Ketahuilah bahwa Dazal bukan akan datang tapi Dazal akan berakhir, karena manusia saat ini ke depan akan banyak yang memahami bahwa DIRI merupakan unsur luar dari tubuh manusia YANG DATANG MERUPAKAN SIBGHOTALLOH DARI TUHAN SANG MAHA TUNGGAL. Sang Maha Tunggal keberadaannya lebih dekat dari pada urat leher siapapun, karena Sang Maha Tunggal MELIPUT SELURUH JAGAT RAYA dan kita semua berada TENGGELAM “Berenang-renang” DALAM LIPUTANNYA.
    Inilah Filsafat Sunda yang sangat menakjubkan.
    Perlu saya sampaikan agar kita memahami bahwa Sunda tidak bertubrukan dengan Islam, saya temukan beberapa Firman Allohurabbul’alamin dalam Al Qur’an yang bisa dijadikan pijakan untuk bertafakur, mudah-mudahan semua menjadi faham bahwa DIRI adalah “UNSUR KETUHANAN” yang masuk ke dalam tubuh manusia untuk dikenali dan diserah~terimakan dari Sang Maha Tunggal sebagai JATI DIRI, sbb:
    1)Bila hamba-hambaku bertanya tentang aku katakan aku lebih dekat (Al Baqarah 2:186)
    2)Lebih dekat aku daripada urat leher (Al Qaf 50:16)
    3)Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kami disegenap penjuru dan pada nafasmu sendiri (Fushshilat 41:53)
    4)Dzat Allah meliputi segala sesuatu (Fushshilat 41:54)
    5)Dia (Allah) Bersamamu dimanapun kamu berada (Al Hadid 57:4)
    6)Kami telah mengutus seorang utusan dalam nafasmu (AT-TAUBAH 9:128)
    7)Di dalam nafasmu apakah engkau tidak memperhatikan (Adzdzaariyaat 51:21)
    8)Tuhan menempatkan DIRI antara manusia dengan qolbunya (Al Anfaal 8:24)
    9)Aku menciptakan manusia dengan cara yang sempurna (At Tin 95:4)
    Jawaban mengenai APA DIRI ITU. DARIMANA & MAU KEMANA (Sangkan Paraning Dumadi), akan saya jelaskan secara rinci dan tuntas pada sebuah buku.

    JAMAN BARU DATANG UNTUK MEMBUKA TABIR
    SANGKAN PARANING DUMADI
    SANGKAN PARANING DUMADI
    SANGKAN PARANING DUMADI

    Dalam Penggalian MANDALAJATI NISKALA
    Memasuki Ruang Insun, Telah Melahirkan
    Konsepsi SANGKAN PARANING DUMADI
    Yang Fitrah, Original & Sangat Anyar.
    KONSEPSI TERSEBUT BETUL BETUL BEGITU
    SEDERHANA, NAMUN SANGAT MENYERUAK
    DI KEDALAMAN YANG TANPA BATAS, sbb:

    1♥Barang siapa yang memahami NAFAS~nya,
    akan memahami rahasia HU~DA~RA~nya.
    (HU~DA~RA adalah Whitehole berupa potensi
    JAWAHAR AWAL, yang menjadi sistem
    TRI TANGTU DI BUWANA, dan jadilah ketentuan
    Tuhan SEGALA MACAM KEJADIAN
    SECARA SISTEMIK TERMASUK MANUSIA)

    2♥Barang siapa yang memahami HU~DA~RA~nya,
    akan memahami potensi HI~DI~RI~nya.
    (Potensi HI~DI~RI meliputi:
    HI adalah alam Subconcious
    DI adalam alam Concious
    RI adalah alam HIperconcious)

    3♥Barang siapa yang memahami HI~DI~RI~nya,
    akan memahami satuan terkecil DI~RI~nya.
    (Tribaka, Panca Azasi Wujud &
    Panca Maha Buta)

    4♥Barang siapa yang memahami DIRI~nya,
    akan memahami HI~DIR~nya.
    (Kesadaran Semesta = Kesadaran Manunggal)

    5♥Barang siapa yang memahami HI~DIR~nya,
    akan memahami satuan terkecil ATMA~nya.
    (Kehidupan JAWAHAR AKHIR yang mengendap
    pada Tribaka)

    6♥Barang siapa yang memahami ATMA~nya,
    akan memahami TAMAT~nya.
    (Reaktor Nuklir dari akumulasi satu
    Oktiliun Tribaka pada tubuh manusia,
    yang segera memasuki Blackhole
    untuk keluar dari Jagat Raya
    dan meledak menjadi Bigbang,
    di ruang hampa, gelap gulita,
    bertekanan minus)

    7♥Barang siapa yang memahami TAMAT~nya,
    akan memahami WIWIT~nya.
    (Ledakan Bigbang membentuk Whitehole
    yaitu berupa potensi Jawahar Awal
    di Jagat Raya Baru)

    Peringatan dari Mandalajati Niskala:
    “JIKA ANDA SULIT UNTUK MEMAHAMI,
    LEBIH BAIK ABAIKAN SAJA. TERIMA KASIH)
    ════════════════════════════
    Syair Sunda:
    JAWAHAR AKHIR NGARAGA~DIA
    ditulis ku Mandalajati NIskala

    Atma na sakujur raga.
    Hanargi museur na tazi.
    Bobot Bentang JAGAT RAYA panimbangan.
    Paeunteung eujeung.

    Ziro sazironing titik Nu Maha Leutik.
    Madet dina JAGAT LEUTIK.
    Gumulung sakuliahing cahya.
    Ngahideung Nu Maha Meles.
    Ngan beuratna Maha Beurat.

    Insun gumulung nu Tilu NGAMANUNGGAL;
    PARA~TRI~NA, NI~TRI~NA jeung
    HOLIK~TRI~NA dina Jawahar Akhir.

    Tandaning Insun lulus nurubus.
    Lolos norobos, Robbah lalakon.
    Kaluar tina Sapanunggalan Gusti Nu Maha Suci.
    Bitu ngajelegur.
    Manggulung-gulung kabutna.
    Huwung nungtung ngahujung.

    Jadi jumadi ngajadi.
    INSUN ROBBAH NGARAGADIA.
    Gelar Ngajawahar Awal.
    Gusti papanggih jeung Gusti.
    Dina babak carita SAWA~RAGA~ANYAR.

    Ahuuung Ahuuung Ahuuung Aheeeng.
    ════════════════════════════
    Artikulasi Sunda:
    PANTO JAWAHAR AWAL
    KA PANTO JAWAHAR AKHIR
    ditulis ku Mandalajati NIskala

    Manusa sategesna bagian ti Gustina.
    Kum eusi samesta KOKOJAYAN
    di jero HAWA~K GUSTI NU MAHA AGUNG
    (Zibghotulloh).

    Sagala rupa kaasup Manusa MANUNGGAL
    DINA JERO HAWA~K GUSTI NU MAHA AGUNG
    (Sapanunggalan).

    Gusti NU MAHA AGUNG mibanda TILU
    ENERGI PRIMER (Tri Tangtu Di Buwana),
    nu gumulung jadi tunggal tampa wates
    disebut;
    JAWAHARA HAWAL WAL HAKHIR (JHWH)

    SANG MAHA AGUNG
    nyaeta “JHWH” dina CAKUPAN ALAM MAKRO,
    mibanda:
    Energi “HU” Acining Cahi,
    Energi “DA” Acining Taneuh,
    Energi “RA” Acining Seuneu.
    Tiluanana Gumulung dina SAJATINING HUDARA,
    salaku PANTO HAWAL Zat Abadi Makro,
    nu disebut JAWAHAR HAWAL WHITEHOLE,
    nyaeta proses DIA NGAJADIKEUN INSUN.

    SANG MAHA LEMBUT
    nyaeta “JHWH” dina CAKUPAN ALAM MIKRO,
    mibanda:
    Energi “HU” Proton,
    Energi “DA” Netron,
    Energi “RA” Elektron.
    Tiluanana Gumulung dina SAJATINING HATOM,
    salaku PANTO HAKHIR Zat Abadi Mikro,
    nu disebut JAWAHAR HAKHIR BLACKHOLE,
    nyaeta proses INSUN JADI DIA.
    ════════════════════════════
    Filsuf Sunda MANDALAJATI NISKALA, sbg:
    Zaro Bandung Zaro Agung
    Majelis Agung Parahyangan Anyar.

    Klik di google Mandalajati Niskala
    BACALAH SELURUH SULUR BUAH PIKIRANNYA.

    Pengirim Komentar:
    @Sandi Kaladia

  21. donito rego berkata:

    bener banget manusia itu hewan…adakah yang bisa menjelaskan prilaku manusia mengapa seorang bapak menghamili anak kandung, guru mencabuli muridnya, mengapa ada penjahat, mengapa ada orang tua membunuh anaknya…yah karena naluri hewannya muncul. kita tau anjing adalah jenis hewan buas tapi dipelihara dan sewaktu waktu bisa menggigit. maka dari itu diciptakan aturan/agama agar manusia mempunyai pedoman dalam menjalankan kehidupannya. jangan setan atau iblis di jadikan kambing hitam…ya itu tadi karena manusia itu sebenarnya hewan.

  22. perubahan perilaku manusia di bidang ekonomi dulu kini dan nanti itu apa ya? tolong dijawab secepat mungkin sebelum besok.

  23. herlina berkata:

    apa perbedaan manusia dengan hewan?

    please infonya dongk

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s