Filsafat Ilmu
SOAL UTS FILSAFAT 1LMU
1. JELASKAN MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT DAN FILSAFAT ILMU ?
2. APAKAH ADA PERBEDAAN BERFIKIR BIASA, BERFIKIR ILMIAH, DAN BERFIKIR FILSAFAT, JELASKAN?
3. KENAPA ILMU HARUS DIDASARI OLEH ASUMSI FILSAFAT, JELASKAN ?
4. BERFILSAFAT BERARTI BERFIKIR, TAPI BERFIKIR TIDAK BERARTI BERFILSAFAT, KENAPA, JELASKAN?
5. APA YANG SEDANG SAUDARA FIKIRKAN PADA SAAT MEMBACA SOAL DIATAS, URAIKAN DENGAN PANJANG LEBAR?
Mei 22, 2007 pukul 6:22 am |
JAWABAN SOAL UTS
SOAL 1:
Manfaat dari mempelajari filsafat adalah kita akan tahu tujuan dari setiap kegiatan, tujua/maksud sesuatu diciptakan/dibuat dan manfaat mempelajari filsafat ilmu adalah kita akan tahu tujuan/maksud ilmu itu diciptakan/dibuat.
SOAL 2:
Perbedaan dari berfikir biasa, berfikir ilmiah dan berfikir filsafat adalah : HASIL DARI BERFIKIR ITU.
- Berfikir biasa akan menghasilkan sesuatu yang biasa, yang mungkin hanya akan dirasakan oleh diri sendiri.
- Berfikir ilmiah akan menghasilkan sesuatu yang dapat dipertangung jawabkan secara ilmiah.
- Berfikir filsafat akan menghasilkan manfaat, arah yang jelas dari hasil berfikir itu.
SOAL 3:
Karena kalau ilmu tidak didasari oleh asumsi filsafat maka tidak akan diketahui tujuan dari ilmu tersebut itu diciptakan/dibuat.
SOAL 4:
BERFILSAFAT BERARTI BERFIKIR artinya berfikir dengan bermakna dalam arti berfikir itu ada manfaatnya, maknanya dan tujuannya, sehingga mudah untuk direalisasikan dari berfikir itu karena sudah ada acuan dan tujuan yang pasti/sudah ada planing dan controlnya. dan yang paling utama hasil dari berfikir itu bermanfaat bagi orang banyak.
tapi BERFIKIR TIDAK BERARTI BERFILSAFAT, karena isi dari berfikir itu belum tentu bermakna atau mempunyai tujuan yang jelas atau mungkin hanya khayalan saja. contoh: berfikir utang yang belum bisa dibayar, berfikir pengen jadi kaya dan lain sebagainya.
SOAL 5:
Secara tidak langsung soal-soal di atas menyuruh memanfaatkan akal pikiran ke arah yang positif karena itulah ciri kemulyaan manusia di banding mahkluk lain. Yang saya pikirkan bagaimana kita bisa berkarya dengan berfikir sehingga bermanfaat bagi orang banyak, jangan sampai kita hanya menjadi konsumen tapi jadilah produsen dalam kehidupan ini.
Mei 24, 2007 pukul 4:55 am |
1. - Manfaat mempelajari Filsafat :
a. Kita dapat mencari solusi/jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu dan solusi/jawaban tersebut besifat spekulatif.Sehingga kita mempunyai sandaran/pijakan untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan bermasyarakat.
b. Manfaat mempelajari Filsafat Ilmu :
Kita menjadi mengerti dan memahami ilmu dengan pengkajian yang berkaitan dengan objek ilmu itu sendiri, sehingga kita dapat mengetahui bagaimana kita memperoleh ilmu dan bagaimana dampak etisnya bagi kehidupan masyarakat pada umumnya.
2. Perbedaan berfikir biasa, berfikir Ilmiah dan berfikir Filsafat :
a. Berfikir Biasa adalah berfikir dengan menggunakan akalnya secara sederhana untuk memperoleh pengetahuan terutama dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan, sehingga manusia dapat mempertahankan hidupnya.
b. Berfikir Ilmiah adalah berfikir untuk memahami kaidah-kaidah berfikir benar ( logika ) yang memerlukan keahlian dengan menggunakan metode-metode tertentu untuk mencapai kebenaran.
c. Berfikir Filsafat adalah berfikir dengan mengacu pada kaidah-kaidah tertentu secara disiplin dan mendalam sehingga setiap masalah/subtansi mendapat pencermatan yang mendalam untuk mencapai kebenaran jawaban dengan cara yang benar sebagai manifestasi kencintaan pada kebenaran.
3. Ilmu harus didasari oleh asumsi filsafat :
Ilmu kalau tidak didasari asumsi filsafat tidak ada hikmahnya, karena ilmu hanya mengkaji hal-hal yang bersifat empiris dan dapat dibuktikan sedangkan filsafat itu sendiri mencari jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh ilmu sehingga ilmu memberikan pengetahuan dan filsafat memberikan hikmahnya.
4. Berfilsafat berarti berfikir, tapi berfikir tidak berarti berfilsafat :
v Bila seseorang mengatakan sedang berfikir tentang sesuatu, ini mungkin dia sedang membentuk gagasan/ide umum tentang sesuatu/sedang menentukan sesuatu/sedang mempertimbangkan ( mencari argumentasi ) berkaitan dengan sesuatu tersebut.
v Sedangkan kalau orang berfilsafat berarti berfikir karena berfilsafat itu bukan berfikir sembarangan berfikir, karena memerlukan latihan dan pembiasaan yang terus menerus dalam kegiatan berfikir, yang mungkin difikirkan bisa menjadi objek filsafat apabila selalu dipertanyakan, difikirkan secara radikal guna mencapai kebenaran.
5. Yang saya fikirkan dalam membaca soal tersebut yaitu :
ü Saya berfikir, bagaimana saya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan benar.
ü Saya berfikir, bagaimana saya mendapatkan buku-buku sumber untuk mencari jawaban pertanyaan tersebut.
ü Saya berfikir, bagaimana caranya untuk menjawab pertanyaan tersebut sesuai dengan yang diharapkan oleh pembuat soal.
Mei 24, 2007 pukul 8:13 am |
1.Manfaat nya adalah untuk mencari kebenaran, namun kebenaran filsafat dan dan kebenaran ilmu masih tetap saja bersifat relatif sebagi proses yang tidak pernah selesai, maksudnya bahwa kebenaran yang didapatkan oleh filsafat dan ilmu tidak selesai dan terus berproses dan menjadi , yang dalam hukum dialektika dan seterusnya sebagai tanda bahwa manusia, pemikiranya dan ciptaanya bersifat relatif sedangkan kebenaran itu sendiri identik dengan pencipta kebenaran yang maha benar hanyalah Allah SWT.
2.Perbedaan berpikir biasa, ilmiah dan filsapat
a.Berpikir biasa adalah bagaimana manusia berfikir untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya artinya berfikir untuk kepentingan pribadinya.
b.Berpikir Ilmiah adalah berfikir secara logis yaitu secara nyata dan apa yang kita pikirkan bias dipertanggung jawabkan
c.Berfikir Filsafat adalahberfikir untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah pada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan kebenaran.
3.Kenapa ilmu harus di landasi oleh filsafat :
Ilmu adalah kebenaran dan filsafat adalah pemikiran jadi ilmu kadang sudah merasa cukup puas dengan suatu kebenaran dan bila ilmu disuntik dengan filsafat atau pemikiran maka ia akan bergerak maju untuk mencari kebenaran.
4.Berfilsafat berarti berfikir tapi berfikir tidak berarti berfilsafat maksudnya adalah
Berfilsafat berarti berfikir artinya berfikir dalam berfilsafat bermakna adalah ada manfaatnya, makna dan tujuannya, sehingga mudah untuk Mengaplikasikanya karena sudah ada tujuan yang pasti
berfikir tidak berarti berfilsafat, artinya memikirkan sesuatu yang belum tentu ada maknanya artinya berpikir dengan tidak memikirkan dampak dan akibat dari pemiriran tersebut..
5.Menurut sejarah kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankan Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan kebenaran
filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiridan yang pada intinya dari ilmu dan filsafat adalah mencari kebenaran.
Mei 28, 2007 pukul 5:44 am |
1. A. Manfaat mempelajari filsafat, kita dapat mengerti dan memahami kita laapa yang akan dilakukan dari mulai sikap, metode berpikir, subtabsi masalah serta sisitem berpikir, juga dapat menjelaskan apa tentant apa, bagaimana dan untuk apa yang akan kukan.
B. Manfaat dari filsafat ilmu adalah :
- untuk melatih berpikir radikal tentang hakekat ilmu
- melatih berpikir relatif di dalam lingkup ilu
- menghindarkan diri dari kemunafikan
- menghindarkan diri dari egoisme ilmiah
2. Perbedaan berpikir biasa, berpikir ilmiah dan berpikir filsafat adalah :
berpikir merupakan upaya memperoleh pengetahuan dan dengan pengetahuan tersebut proses berpikir dapat teus berlanjut guna memeperoleh pengetahuan baru, dan prosesnya tidak berhenti selama upaya pencairan pengetahuan terus dilakukan.
a. Berpikir biasa adalah:
Berpikir yang sipatnya sderhana dan menghasilkan pengetahuan biasa ( pengetahuan Eksistensial)
b. Berpikir Ilmiah adalah :
Berpikir yang sistematis dan faktual tentang objek tetentu yang menghasilkan pengetahuan ailiah pula (Ilmu).
c. Berpikir radikal adalah :
Berpikir tentang hakekat sesuatu yang menghasilkan pengetahuan filosofis (filsafat)
3. Ilmu harus didasari oleh asumsi filsafat karena,
Ilmu memang harus dilandasi dengan filsafat sebab bila ilmu tidak dilandasi oleh berbagai asumsi filsafat dihawatirkan ilmu itu tidak bermanfaat, bijaksana dan tidak benar sehingga bertentangan dengan akidah-akidah dalam ajaran agama.
4.Berfisafat berarti berpikir itu memang benar karena, berfilsafat selalu berusaha untuk berpikir guna mencapai kebaikan dan mencari kebenaran dari berbagai teori atau ilmu-ilmu, dn berfilsafat itu berrarti penyelidikan tentang apanya, bagaimananya dan untuk apa. berpikir dengan mengacu pada kaidah-kaidah tertentu secara disiplin dan mendalam.
sedangkan berpikir itu sendiri tidak berarti berfilsafat karena semua orang bisa berpikil tapi belum tentu dia sedang berfilsafat, karena berpikir kadang tidak dilandasi oleh folsafat sekalipun masih bisa dilakukan.
5. Pada saat membaca soal-soal diatas yang terbayang dalam benak saya adalah :
- apakah yang sedang saya pikirkan ini termasuk sedang berfilsat, dan
- apakah yang sudah saya lakukan selama ini baik dalam memuntut ilmu pengetahuan maupun dalam bekerja di Isntansi Pemerintah sudah ada manfaatnya bagi orang banyak khususnya untuk diri sendiri dan keluarga dan semoga saya bisa berkarya dan tidak hanya selalu menerima apa yang saya dapat dari negeri ini.
Mei 30, 2007 pukul 1:24 pm |
Nama : Dadan Ahmad Gandara
NIM : 04202520589
Jurusan : Manajamen
Kelas : Karyawan
Jawab :
1. A. Manfaat yang diambil dari mempelajari filsafat, adalah kita sebagai manusia dapat mengerti dan memahami apa yang kita akan dilakukan dari mulai sikap, metode berpikir, subtabsi masalah serta sisitem berpikir, juga dapat menjelaskan apa tentang apa, bagaimana dan untuk apa yang akan dilakukan oleh kita sendiri. Sedangkan manfaat yang dapat diambil dari mempelajari Filsafat Ilmu adalah :
- Digunakan untuk melatih berpikir radikal tentang hakekat ilmu
- Dapat melatih berpikir relatif di dalam lingkup ilmu
- Dapat menghindarkan diri dari kemunafikan
- Dapat menghindarkan diri dari egoisme ilmiah
2. Yang menjadi perbedaan dari berpikir biasa, berpikir ilmiah dan berpikir filsafat yaitu, dimana berpikir merupakan upaya memperoleh pengetahuan dan dengan pengetahuan tersebut proses berpikir dapat terus berlanjut guna memeperoleh pengetahuan baru, dan prosesnya tidak berhenti selama upaya pencairan pengetahuan terus dilakukan. Berpikir biasa yaitu
Berpikir yang sipatnya sederhana yang menghasilkan pengetahuan biasa atau pengetahuan Eksistensial. Sedangkan Berpikir Ilmiah yaitu dimana Berpikir yang sistematis dan faktual tentang objek tetentu yang menghasilkan pengetahuan ilmiah pula (Ilmu). YAng dimaksud Berpikir radikal yaitu Berpikir tentang hakekat sesuatu yang menghasilkan pengetahuan filosofis (filsafat)
3. Mengapa suatu Ilmu harus didasari oleh asumsi filsafat karena,
Ilmu memang harus dilandasi dengan filsafat sebab bila ilmu tidak dilandasi oleh berbagai asumsi filsafat dihawatirkan ilmu itu tidak bermanfaat, bijaksana dan tidak benar sehingga pada akhirnya akan bertentangan dengan akidah-akidah dalam ajaran agama.
4.Yang dimaksud dengan berfilsafat berarti berpikir itu memang benar adanya karena, berfilsafat akan selalu berusaha untuk berpikir guna mencapai kebaikan dan mencari kebenaran dari berbagai teori atau ilmu-ilmu, maka dengan berfilsafat itu berarti penyelidikan tentang apanya, bagaimananya dan untuk apa, berpikir dengan mengacu pada kaidah-kaidah tertentu secara disiplin dan mendalam.
Sedangkan yang dimaksud dengan berpikir itu sendiri tidak berarti berfilsafat karena semua orang bisa berpikir tapi belum tentu dia sedang berfilsafat, karena berpikir kadang tidak dilandasi oleh filsafat sekalipun masih bisa dilakukan.
5. Pada saat membaca soal-soal diatas yang terbayang dalam benak saya adalah :
a. Apakah yang sedang saya lakukan dan pikirkan ini termasuk pada atau sedang berfilsafat.
b. Apakah yang sedang dan sudah saya lakukan selama ini baik dalam memuntut ilmu pengetahuan maupun dalam bekerja di Intansi Pemerintah sudah dirasakan dan ada manfaatnya bagi orang banyak khususnya untuk saya sendiri dan keluarga dan semoga saya bisa berkarya dan tidak hanya selalu menerima apa yang saya dapat dari negeri ini.
Mei 31, 2007 pukul 3:58 am |
JAWABAN UTS
1. *Manfaat mempelajari filsafat ilmu yaitu dapat membuat orang tersebut dalam berbicara dan berprilaku mengandung makna serta cinta terhadap kebijaksanaan terhadap pengetahuan dan terhadap hikmah.
*Manfaat mempelajari filsafat ilmu?
– melatih berfikir radikal tentang hakikat ilmu
– melatih berfikir reflektif didalam lingkup ilmu
– menghindarkan diri dari memmutlakan kebenaran ilmiah dengan menganggap bahwa ilmu sbg satu-satunya cara memperoleh kebenaran
– menghindarkan diri dari egoisme ilmiah yakni tidak menghargai sudut pandang lain di luar bidang ilmunya.
2. * Ada perbedaan
* Berfikir biasa yaitu orang tersebut dalam menafsirkan sesuatu hal dengan memberikan hasil tanpa dibarengi dengan ilmu pengetahuan dan tidak mengandung makna serta tidak bijaksana dan tidak tuntas.
* Berfikir ilmiah yaitu seseorang dalam menafsirkan sesuatu hal dengan menggunakan konsep dan disiplin ilmu yang dibarengi dg ilmu pengetahuan.
* Berfikir filsafat yaitu seseorang berfikir menafsirkan sesuatu hal dg lengkap dan menyeluruh.
3. Karena ilmu tanpa didasari oleh filsafat akan mengalami kehancuran dan menyalahi aturan-aturan sebab filsafat di sini berfungsi sebagai penyelaras dan membuat manusia cinta terhadap kebijaksanaan dan dalam mengiplikasinya akan dibarengi dengan prilaku yang baik dan membuahkan hasil yang sangat bermakna.
4. Karena orang berfilsafat sama halnya dengan berfikir yakni menafsirkan sesuatu hal yang sedang dihadapi atau yang akan dihadapi tetapi perbedaanya kalau berfikir hanya menafsirkan sesuatu hal tersebut denga biasa dalam arti kurang mengandung makna dan belum tentu kebenaranya juga tanpa dibarengi pengetahuan kebijaksaaan dan hikmah.
sebaliknya orang yang berfilsafat akan menggunakan pemikiran yang bermakna seperti:
- berfikir radikal, yaitu berfikir sampai keakar-akarnya dan tidak tanggung2 tidak ada sesuatu yang terlarang untuk dipikirkan
- sistematik yaitu berfikir logis yang bergerak selangkah demi selangkah dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
- universal,yaitu berfikir secara menyeluruh tidak terbatas pada bagian2 tertentu tetapi mencakup keseluruhan aspek yang kongkrit dan abstrak.
5. Saya berfikir di dalam mengisi jawaban di atas dengan menghayal dan tanpa dibarengi dg referensi2 berarti saya cuma berfikir biasa, lain halnya lagi kalau didalam mengisi jawaban dengan dibarengi buku pegangan dan referensi2 dan diyakini kebenarannya berarti saya sedang berfikir ilmiah dan mengacu pada filsafat para ahli dan saya yakin jawaban saya benar makanya saya harap semoga bapak dapat meberikan nilai yang sangat baik.
Juni 5, 2007 pukul 6:08 am |
yanti heryanti
2005041284/karyawan
1. manfaat mempelajari filsafat adalah kita dalam berpikir atau dalam mengahadapi setiap masalah akan lebih cermat dan mendalam untuk mencapai kebenaran jawaban dengan cara yang benar sebagai manifestasi kecintaan pada kebenaran
Manfaat mempelajari filsafat ilmu adalah akan terbukanya wawasan kita tetntang bagaimana sebenarnya subtansi imu itu sehingga kita tidak akan keluar jalur dalam artian ilmu yang kita ambil akan bermanfaat dan tidak berbahaya, tidak cerai berai dan mengalami pertumbuhan yang tidak seimbang dari ilmu- ilmu yang ada, melalui pemahaman tentang asas – asas, latar belakang serta hubungan yang dimiliki atau dilaksanakan oleh suatu kegiatan ilmiah.
2. ada tapi hanya bersufat grandual sebab semuanya tetap merupakan sifat yang inhern dengan manusia , sifat inhern berpikir dan berpengetahuan pada manusia telah menjadi pendorong bagi upaya – upaya untuk lebih memahami kaidah – kaidah berpikir benar dan semakin tinggi tingkat berpikir semakin tinggi juga keakhlian dan pengetahuan yang harus dimiliki dan semakin sedikit juga orang yang mempunyai kemampuan tsb. dan serendah – rendahnya pikiran dan pengetahuan seseorang tetap saja mereka menggunakan akalnya untuk berpikir untuk memperoleh pengetahuan dalam menghadapi problem kehidupan sehingga mereka dapat mempertahankan hidupnya.
3. ilmu harus didasari oleh asumsi filsafat karena agar keberadaan ilmu itu tidak rancu, dan filsafat adalah induk dari segala ilmu dan prinsip – prinsip dasar ilmu itu diambil dari filsafat (ilmu lahir dari filsafat), dan untuk mengkaji ilmu diperlukan filsafat, karena asumsi filsafat lebih berpikir secara mendalam untuk mencapai kebenaran, kebaikan dan menjawab setiap persoalan yang ada, sehingga ilmu yang ada kini bisa kita rasakan manfaatnya karena telah melewati pengkajian yang mendalamdan dapat dibuktikan kebenarannya.
4. Karena berfilsafat berarti selalu berusaha untuk berpikir guna mencapai kebaikan dan kebenaran, karena berpikir dalam filsafat bukan sembarang berfikir namun berpikir secara radikal sampai keakar – akarnya dan hal ini memerlukan latihan dan pembiasaan yang terus menerus.
sedangkan berpilir hanya sebatas berpikir tanpa memikirkan kebaikan dan kebenaran dan menyelesaikan persoalan secara mendalam sampai menemukan jawaban yang pasti dan benar.
5. yang saya pikirkan ketika melihat soal dari bapa adalah berpikir bagaimana menjawab soal – soal yang bapak berikan tanpa referensi atau buku, yang ada adalah perasaan takut dan timbul pertanyaan apakah saya bisa menjawab soal dari bapak atau tidak, dan saya tutup kembali web ini dan untuk kemudian saya berusaha meminjam buku dari teman dan kembali membuka dan menjawab soal – soal dari bapak, dan mulai berpikir dengan melihat buku dan memadunya dengan jawaban – jawaban yang ada di pikiran saya, dan alhamdulilah soal – soal terpecahkan walaupun mungkin jawaban saya ngaco atau tidak sesuai dengan harapan tapi saya telah berpikir dan berusaha semaxsimal saya, dan saya percaya jawaban saya sesuai dengan harapan tapi mungkin karena tata bahasa dan pengetahuan yang saya miliki terbatas jadi berliku – liku, lain arah tapi satu jalan yang dimaksud. terima kasih
Juni 6, 2007 pukul 9:27 am |
JAWABAN SOAL UTS
1.Manfaat mempelajari Filsafat adalah sistematis bahwa manusia dapat berfikir refleksi dalam upaya menghadapi atau memahami fakta – fakta dalam kehidupan berfikiran terbuka serta sangat konsen pada kebenaran. Bagaimana dalam mempertanyakan masalah hubungan antara fakta dengan skema masalah yang lebih luas dan mengkaji hubungan antara temuan – temuan ilmu dengan agama, moral, serta seni.
Manfaat mempelajari filsafat ilmu adalah upaya pengkajian dan pendalaman mengenai ilmu pengetahuan / sains, baik substansinya ataupun manfaat ilmu bagi kehidupan manusia untuk :
-Mencoba berlatih dalam berfikir radikal tentang suatu hal
-Menelusuri dan menguji keabsahan/kebenaran sesuatu hal, dimana nilai kebenarannya dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan.
2. Perbedaannya :
-Berfikir biasa adalah berfikir sederhana mengenai sesuatu yang hanya dapat dimengerti diri sendiri tanpa perlu melakukan pengujian.
- Berfikir ilmiah adalah menafsirkan sesuatu hal dengan didasarkan pada ilmu pengetahuan dengan bukti yang konkrit yang dapat dipertanggungjawabkan kebenaraannya.
- Berfikir Filsafat adalah berfikir tentang sesuatu secara terus menerus, mencari kepuasan berfikir dengan mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan kebenaran.
3.Karena ilmu tanpa didasari asumsi filsafat akan terjadi ketimpangan atau kesenjangan dalam mengaplikasikan sesuatu sehingga sesuatu hal yang diharapkan kemungkinan tidak tercapai.
4.Karena berfilsafat selalu berusaha untuk berfikir untuk mencapai kebenaran dari berbagai ilmu dan berfilsafat bersrti penyelidikan sesuatu tentang apa, kenapa, bagaimana dan untuk apa. Sedangkan berfikir tidak berarti berfilsafat karena semua dapat berfikir tetapi belum tentu sedang berfilsafat.
5.yang saya fikirkan pada saat membaca soal – soal di atas adalah :
-Yang pertama kali terbayang adalah wajah Bapak Uhar Saputra M.Pd.
- Memikirkan bagaimana menjawab soal – soal diatas.
- Memikirkan kemana mencari buku refensi sebagai bahan jawaban.
- Dalam menjawab pertanyaan di atas, saya membayangkan dalam realita kehidupan
- Akhirnya saya mendapatkan buku referensi yaitu buku filsafat ilmu hasil buah karya Bapak Uhar Saputra M.Pd. yang saya jadikan sebagai acuan dalam memperoleh jawaban.
Juni 16, 2007 pukul 10:12 am |
Nama : Irmawanti Hidayat
Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
N I M : 2006052426
Jurusan : Akuntansi
1. Berfisafat berarti mengoreksi, semacam keberanian untuk berterus terang seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau. Manfaat filsafat dan filsafat ilmu yaitu dapat menelaah segala masalah yang mungkin dapat difikirkan oleh kita/manusia yang pada akhirnya dapat menghasilkan pengetahuan (ilmu) dan keterampilan.
2. - Berfikir Biasa yaitu pemikiran secara biasa yang tidak menghasilkan ilmu pengetahuan
- Berfikir ilmiah merupakan pengetahuan secara sistematis dimana azas-azas yang digunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang positif. Yang mana masalah, hipotesis, kerangka pemikiran, kesimpulan semuanya terkait dan tersusun dalam pemikiran ilmiah
- Berfikir fisafat dapat diumpamakan seorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seseorang yang berada dipuncak tinggi. memandang ke ngarai dan lembah dibawahnya. Dia ingin menyimak kehadiran dirinya dengan kesemestaan yang ditatapnya.
3. Karena filsafat merupakan pengetahuan dan keterampilan tetapi bukan pengetahuan yang bersifat memerinci. Filsafat menyerahkan daerah yang sudah dimenangkan kepada ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Semua ilmu, baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu social bertolak dari pengembangannya bermula sebagai filsafat.
4. Sesuai dengan karakteristik filsafat yaitu spekulatif, maka fisafat bersifat menelaah segala masalah yang mnngkin difikirkan oleh manusia, baik itu pengetahuan maupun keterampilan. Sedangkan berfikir bukan berarti berfilsafat karena apabila seseorang berfikir belum tentu bisa menghasilkan pengetahuan dan pengetahuan dalam peikirannya.
5. Setelah membaca soal-soal diatas ternyata belajar ilmu filsafat tidak semudah dengan apa yang difikirkan. Namun kita dapat mengetahui bahwa Filsafat ilmu merupakan bagian dari efistemologi (fisafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Filsafat merupakan keterampilan namun tidak sama dengan keterampilan lain apapun sesungguhnya. Inilah alas an sebenarnya mengapa setiap didiplin akademik (ilmu) memiliki “Filsafat” yang melekat padanya.
Juli 6, 2007 pukul 12:37 pm |
Nama : Indra Lesmana
Tk/Jurusan : III/Akuntansi
Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
NIM : 04203510622
1. Jelaskan manfaat mempelajari filsafat dan filsafat ilmu?
Jawab : Manfaat yang dapat kita peroleh dari mempelajari filsafat dan filsafat ilmu adalah, kita bisa mendapatkan dan memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan ilmu filsafat mengajak dan mengajarkan kita untuk berfikir diatas berfikir. Yaitu bisa diartikan sebagai cara berfikir secara logis dan rasional dengan disertai pembuktian secara ilmiah sampai ke akarnya
2. Apakah ada perbedaan antara berpikir biasa, ilmiah dan berfikir filsafat. Jelaskan!
Jawab : Iya, tentu saja ada perbedaan antara berfikir biasa, ilmiah dan berfikir filsafat. Perbedaannya sbb :
a Berfikir biasa : bisa diartikan sebagai suatu proses pengembangan ide dan konsep yang sifat dan tingkatannya masih terbatas (sederhana). Dikatakan sederhana, karena prosesnya disini sangat simple, yaitu hampir kebanyakan orang bisa berfikir secara biasa.
b Berfikir ilmiah : bisa diartikan sebagai pengembangan dari cara berfikir secara biasa yang lebih maju satu tingkat. Dikatakan begitu karena, dalam caranya berfikir telah tersusun secara sistematis meyangkut objek tertentu yang menghasilkan pengetahuan ilmiah.
c Berfikir filsafat : bisa dikatakan sebagai tahap yang paling tinggi dari berbagai jenis berfikir. Berfikir disini, bisa meliputi dari befikir secara sederhana (yang tingkatannya paling rendah sampai pada berfikir ilmiah.,yang sudah tersusun secara sistematis). Berfikir filsafat juga bisa diartikan sebagai berfikir diatas berfikir, yaitu berfikir secara rasional dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya
3. Kenapa ilmu harus didasari oleh asumsi filsafat, jelaskan!
Jawab : Ilmu tentu saja harus didasari oleh asumsi filsafat, karena jika tidak diasumsikan pada ilmu filsafat, ilmu itu sendiri tidak akan mengalami perkembangan dan menghasilkan sesuatu yang baru. Juga ilmu itu tidak akan bisa diterima oleh umum karena tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.
4. Berfilsafat berarti berfikir, tapi berfikir tidak berarti berfilsafat, kenapa? Jelaskan!
Jawab : Berfikir tidak berarti berfilsafat karena, berfikir itu cakupan dan pemahamannya masih sangat sederhana dan juga secara umum kebanyakan orang bisa melakukannya. Sedangkan berfilsafat itu, mencakup kegiatan berfikir dan didalam pemahamannya meliputi kegiatan berfikir secara biasa dan ilmiah serta harus bisa dibuktikan dan dipertanngungjawabkan kebenarannya.
5. Apa yang sedang saudara pikirkan pada saat membaca soal diatas, uraikan dengan panjang lebar?
Jawab : Yang pertama saya pikirkan ketika membaca soal diatas adalah mencari jawabannya. Sesudah menemukan jawabannya, sebenarnya saya hanya mau menambahkan opini saya secara singkat. Menurut jawaban diatas berfikir itu bisa dilakukan oleh semua orang. Yang mau saya tambahkan adalah, memang berfikir itu bisa dilakukan oleh semua orang, tapi dalam pelaksanaannya cara befikir tiap orang itu berbeda. Ada yang berfikir secara positif dan negatif, tergantung hati nurani dan tujuan si pemikir. Karena dalam pelaksanaannya, berfikir tidak hanya menggunakan otak saja, tapi juga mengikuti naluri dan hati nurani si pemikir. Dan juga tiap orang mempunyai perbedaan dalam berfikir, ada yang cepat dan ada juga yang lambat. Karena tiap orang dibekali oleh Allah, otak, akal dan kemampuan serta kecepatan berfikir yang berbeda.
Juga tentang berfilsafat, saya mau menambahkan sedikit. Dalam jawaban diatas, diuraikan berfilsafat itu disertai adanya pembuktian dan pertanggungjawaban secara ilmiah. Yang saya mau tambahkan adalah, dalam pembuktiannya kita juga harus mempertimbangkan aspek-aspek lain selain aspek ilmiah. Yaitu aspek sosial dan agama. Karena kita sebagai bangsa yang beragama dan berfalsafah, dituntut harus bisa menghargai hak orang lain sebelum hak kita sendiri. Dan juga kita juga tidak bisa mengesampingkan aspek agama, yang didalamnya terdapat batasan-batasan bagi kita dalam menjalankan kehidupan kita sehari-hari. Jadi kesimpulannya, dalam berfikir dan berfilsafat itu ,kita harus menggunakan sebaik mungkin otak, akal dan fikiran kita untuk berfikir secara positif dan juga dalam menetapkan keputusannya itu sendiri, kita tidak boleh memikirkan diri kita sendiri, karena kita ini hidup berdampingan dengan orang lain yang juga memiliki haknya masing-masing dan harus kita hormati. Serta dalam pembuktiannya, harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan juga tidak menyimpang dari ajaran agama dan ketentuan serta aturan hukum yang berlaku di Negara kita sendiri.
Juli 6, 2007 pukul 12:53 pm |
Nama : Denas Nurfani Sudika
Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
Tk/Jrs : III/Manajemen
NIM : 04202510491
1. Jelaskan manfaat mempelajari filsafat dan filsafat ilmu!
Dengan mempelajari filsafat dan filsafat ilmu maka kita sebagai manusia yang berfikir akan memperoleh pengetahuan yang lebih, dikarenakan filsafat disini mengajak kita untuk berfikir diatas berfikir, yaitu yang logis dan rasional dengan pembuktian yang ilmiah sampai ke akarnya.
2. Apakah ada perbedaan berpikir biasa, ilmiah dan berfikir filsafat, jelaskan!
Berfikir biasa merupakan suatu proses pengembangan ide dan konsef yang
sifat atau tingkatannya masih terbatas. Karena disini prosesnya sangat simple,
yaitu hampir semua orang bisa berfikir biasa.
Berfikir ilmiah merupakan pengembangan dari berfikir biasa, yaitu lebih maju
satu tingkatan. Karena berfikir disini telah tersusun secara sistematis
mengenai sebuah objek tertentu yang menghasilkan pengetahuan ilmiah.
Berfikir filsafat merupakan tahap paling tinggi dari jenis berfikir, berfikir
disini meliputi dari berfikir sederhana sampai ke berfikir ilmiah yang tersusun
secara sistematis.
3. Kenapa ilmu harus didasari oleh asumsi filsafat, jelaskan!
Karena jika ilmu tidak diasumsikan pada filsafat, maka ilmu itu tidak akan
berkembang dan menghasilkan sesuatu yang baru dan tidak akan bisa diterima
oleh umum.
4. Berfilsafat berarti berpikir, tapi berpikir tidak berarti berfilsafat kenapa,
jelaskan!
Berfikir tidak mencakup berfilsafat karena berfikir pemahamannya masih
sederhana, dan hanya menghasilkan sesuatu yang biasa dan bisa dilakukan
semua orang. Tapi kalau berfilsafat, tidak semua orang bisa melakukannya.
Karena dalam kegiatannya memerlukan pemahaman yang sangat dalam dan
harus bisa dibuktikan serta dipertanggungjawabkan.
5 Apa yang sedang saudara pikirkan pada saat membaca soal diatas, uraikan
dengan panjang lebar!
Yang saya pikirkan pada saat membaca soal diatas adalah, kita sebagai
manusia harus bisa menggunakan akal untuk berfikir. Tapi jangan mau hanya
berfikir biasa, karena tiap orang juga bisa melakukannya. Dan juga bila kita
ingin maju kita harus berpikir sistematis, rasional dan logis. Disamping itu
juga, kita harus melihat ilmu agama sebagai patokan dari cara kita berfikir,
agar cara berfikir kita tidak menyimpang. Karena sebagai umat Islam, kita
harus meyakini adanya Tuhan dan ketentuan-ketentuanNya yang harus kita
jalankan dan kita patuhi, agar kita tidak berada dalam kubangan dosa.
Demikian pendapat yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat.
Juli 6, 2007 pukul 12:58 pm |
Nama : Apipudin
Tk/Jrs : III/Manajemen
Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
NIM : 04202510469
1. Jelaskan manfaat mempelajari filsafat dan filsafat ilmu!
Manfaatnya adalah kita akan memperoleh pengetahuan yang lebih dikarenakan filsafat disini mengajak kita untuk berpikir diatas berpikir. Yaitu berpikir yang logis dan rasional dengan pembuktian yang ilmiah sampai ke akar-akarnya.
2. Apakah ada perbedaan berpikir biasa, ilmiah dan berfikir filsafat. Jelaskan!
Ada, perbedaannya yaitu sebagai berikut:
Berpikir biasa : suatu proses pengembangan ide dan konsep yang sifat/tingkatannya masih terbatas dan sederhana. Karena prosesnya juga simple, yaitu hampir tiap orang bisa berpikir secara biasa.
Berpikir ilmiah : pengembangan dari berpikir biasa dan lebih maju tingkatannya, karena disini berpikir telah tersusun secara sistematis, mengenai objek tertentu dan dari itu menghasilkan pengetahuan ilmiah.
Berfikir filsafat : tahapan tertinggi jenis berpikir. Karena berpikir disini meliputi, dari berpikir sederhana yang tingkatannya paling rendah sampai kepada berpikir ilmiah yang tersusun secara sistematis. Jenis ini, terutama berpikir diatas berpikir adalah pemikiran yang rasional yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
3. Kenapa ilmu harus didasari oleh asumsi filsafat, jelaskan!
Karena apabila ilmu tidak diasumsikan pada filsafat, maka ilmu tidak akan berkembang dan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baru. Dan juga otomatis ilmu tersebut tidak akan diterima oleh kalangan umum, karena tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.
4. Berfilsafat berarti berfikir, tapi berpikir tidak berarti berfilsafat, kenapa jelaskan!
Berpikir tidak mencakup berfilsafat, karena berpikir pemahamannya masih sederhana yang hanya menghasilkan sesuatu yang sifatnya sederhana atau biasa dan juga semua orang bisa melakukan hal tersebut.Tetapi berfilsafat, mencakup kegiatan berpikir. Karena disini pemahamannya sangat dalam dan luas meliputi kegiatan berpikir biasa dan ilmiah. Berfilsafat biasanya didasarkan pada sesuatu yang bisa dibuktikan dan dapat dipertanggungjawabkan.
5. Apa yang sedang saudara pikirkan pada saat membaca soal diatas, uraikan dengan panjang lebar!
Saya berpikir kita sebagai manusia harus bersyukur karena telah diberikan akal dan pikiran sebagai bekal kita hidup. Sebagai manusia kita tentu ingin maju dan ingin segala keinginan kita bisa tercapai. Untuk mencapai itu semua kita harus mengarahkan pikiran kita secara sistematis dan juga tersusun secara rasional dan logis. Disini yang digarisbawahi adalah tentang berpikir secara filsafat. Dalam batasan masalah ini, kita dituntut untuk menggabungkan antara ilmu ilmiah dan ilmu agama serta hukum di Negara kita masing-masing. Kita diharuskan membuat keputusan, tapi keputusan itu sendiri harus benar menurut ilmu ilmiah, ilmu agama dan juga hukum. Jadi diantara ketiga hal tersebut harus ada keharmonisan, kesinambungan, harus adil dan tidak berat sebelah. Sehingga hasil atau keputusan dari pemikiran kita tersebut bisa dipertanggungjawabkan dan diterima secara baik oleh umum.
April 12, 2008 pukul 2:45 pm |
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat Kang atas telah selesainya menempuh studi S3 dan dapat Gelar Dokor, semoga barokah. amiin
Kang judl Desertasi saya : NILAI DASAR KEPEMIMPINAN RASULULLAH DAN PENERAPANNYA OLEH KEPALA SEKOLAH (Studi Tentang Penerapan Nilai Dasar Sidiq, Amanah, Tablig, dan Fatonah oleh Para Kepala SMA di Kabupaten serang Banten)
Mohon bantuannya, makasih
April 12, 2008 pukul 2:51 pm |
RANCANGAN PROPOSAL PENELITIAN
DESERTASI
A. Latar Belakang Masalah
Allah SWT memberi penjelasan dalam firman Nya Al Quranul karim, bahwa manusia yang menghendaki kesejahtraan hidupnya lahir batin dunia dan akhirat, maka dalam hidup dan kehidupannya di dunia ini hendaknya mencontoh pola hidup dan kehidupan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam Al Qur’an surat Al Ahzab ayat 21 :
“Laqod kaana lakum fii Rasulillahi uswatun hasanah, liman kaana yarjuulloha walyaumal aahiro wadzakarollaha kasyiiroo”
Artinya: Sesungguhnya telah ada untuk kamu pada (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik. Bagi orang-orang yang mengharapkan ( rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kemudian, dan dia banyak menyebut nama Allah.
Berbagai upaya dakwah yang dilaksanakan oleh para Dai, Kiyai, Ustadz dan ustadzah dengan berbagai media dan cara serta lembaga yang dimiliki dalam membina ummat, hal itu merupakan upaya membina agar ummat muslim mau dan mampu mencontoh pribadi Rasulullah SAW.
Goodwill, (2007 : 26 ) berpendapat bahwa “alasan yang melatar belakangi Shalahuddin Al-Ayyubi untuk mengajak umat dalam mencontoh tindak tanduk Nabi didasarkan atas lima hal. Yaitu Pertama penguasa, pemimpin, raja, dan umat Muslim hanya mementingkan simbol-simbol Islam daripada ajarannya.
Kedua, akidah umat mulai terkontaminasi pada ajaran non-Islam. Ketiga, jumlah umat Muslim bertambah, namun kualitas iman dan ibadah justru berkurang. Keempat, moral dan akhlak umat telah jauh dari ajaran Rasulullah. Kelima, umat Islam banyak yang keluar dari Alquran dan sunah. ”Untuk itu Shalahuddin Al-Ayyubi merasa terpanggil untuk mengembalikan misi Rasulullah agar menjadi tauladan bagi umat dan menyiarkan kembali syiar Islam sesuai yang ditentukan Alquran dan sunah.
Misi yang diemban Rasulullah, tambah Goodwill, diantaranya memantapkan tauhid, menyebarkan dinnullah melalui dakwah, mempelopori kandungan Islam terkait anti kebodohan, pemerkosaan, penindasan, memperbaiki akhlak umat, melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar, serta misi-misi yang sarat dengan nilai kemuliaan lainnya.
Teladan yang dapat diambil dari peribadi Rasulullah SAW, sambung Godwill, umat Islam dimanapun perlu mengambil pelajaran tentang perilaku Nabi Muhammad Saw dan harus dijadikan sebagai uswatun hasanah.
Menurut pimpinan Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo, KH Syukri Zarkasyi, ( 2007 : 27) urgensi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW harus dimaknai untuk meneladani sifat-sifat Nabi. “Seluruh sisi kepribadian yang ada pada Rasulullah adalah uswatun hasanah, baik itu kepribadian, kepemimpinan, keberanian, akhlakul karimah, dan segala sesuatu yang ada pada diri Beliau. Haruslah dijadikan panutan kita dalam menjalankan seluruh aspek kehidupan.
Meneladani nilai dan pesan profetik yang dibawa Nabi tidak harus diperingati setahun sekali. Karena untuk menyiarkan agama Islam, mengenang dan menjalankan akhlak Nabi dapat dilakukan kapan pun dan dimana pun. ”Jadi untuk meneladani sifat Nabi jangan hanya dilakukan setahun sekali, selama beberapa hari saja. Jangan melihat sesuatu hanya berdasarkan panca indera dan otak saja, namun harus menggunakan mata iman. ( Kiai Syukri : 2007 : 28 ).
Karena jika umat melihat dan menilai sesuatu hanya mengandalkan panca indera dan otak saja, kata dia, maka , akan berimplikasi pada keterbatasan dan terjebak pada nafsu. Apalagi, manusia adalah makhluk yang penuh dengan kekurangan. ”Kalau menilai dan memutuskan sesuatu tanpa mata iman, maka manusia akan mudah terbawa nafsu. Kalau sudah demikian, pasti hidupnya akan keblinger”.
Menurut salah seorang ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Prof Dr KH Said Agil Siraj , (Republika, 26/3). semua umat Islam mazhab apapun, harus menjadikan Rasulullah SAW sebagai panutannya. ”Terutama dalam sikap moralnya bahwa beliau seorang yang sangat jujur, ikhlas, sabar dan tegar,” .
Diantara kejujuran Rasulullah SAW yang paling menonjol, sambung Kiai Said Agil Siraj, kalau ada ayat Alquran mengkritik beliau, itu pasti dibacakan dan disampaikan, tanpa sedikit pun ingin menutip-nutupinya. Ia lalu mencontohkan cerita dari diri Rasulullah ketika ‘ditegur’ Allah SWT karena bermuka masam ketika datang kepadanya Ummi Maktum, seorang yang buta, padahal waktu itu Rasulullah SAW sedang menghadapi pembesar Quraisy.
Selain itu, Nabi Muhammad SAW tidak pernah memerintahkan umatnya untuk dakwah dengan cara mencaci maki. Ud ‘u ilaa sabili rabbika bil hikmati wal mauizatil hasanati. Menyampaikan dakwah dengan penuh hikmah dan kebijakan. “Bahkan Nabi Muhammad pernah berdiskusi dengan orang Kristen dari Nazran mengatakan, ‘Mari kita diskusi, berbincang-bincang siapa tahu ada kebenaran di kami atau di Anda’.
Pentingnya bercermin pada figur Rasulullah SAW juga disuarakan tokoh Muslim Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin MSc.(2006 : 215) Menurut beliau, tanpa memiliki tiga pilar akhlak yang sangat kokoh yakni kejujuran, tanggungjawab, dan kebersamaan, akan sulit membangun bangsa. ”Hilangnya kejujuran, hanya akan menimbulkan pengkhianatan. Hilangnya tanggungjawab dari seorang pemimpin atau pejabat, hanya akan meruntuhkan suatu bangsa”.
Kiai Didin menegaskan, figur dan keberhasilan Rasulullah SAW dalam membangun masyarakatnya terutama di kota Madinah, sangat pas dijadikan rujukan oleh seluruh pemimpin bangsa. ”Bagaimana Rasulullah SAW dengan indahnya mempersaudarakan antara kaum anshar dan muhajirin, memperkokoh dua kelompok umat manusia berbeda menjadi satu kekuatan yang dahsyat seperti digambarkan dalam surat Al Hasyr ayat 8-9. Dengan kebersamaan yang dibangun Rasulullah SAW, menjadikan umat Islam sebagai umat maju dan terdepan.
”Berbagai perilaku beliau harusnya kita contoh, kita teladani. Termasuk juga di masa-masa sulit seperti sekarang ini,” ujar Direktur Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatulah Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra kepada Damanhuri Zuhri dari Republika., akhir pekan lalu.(Republika : 27 :3: 2007)
Salah satu sifat yang ditekankan Azyumardi adalah kesabarannya. “Rasulullah SAW membuktikan, kesabaran di dalam menghadapi ujian dan tantangan membawanya pada kemenangan,” ujarnya. Berikut ini wawancara dengannya seputar figur dan peran Rasulullah SAW yang bisa dijadikan teladan bagi bangsa Indonesia:
Berbagai perilaku beliau harusnya kita contoh, kita teladani. Termasuk juga di masa-masa sulit seperti sekarang ini. Karena kita tahu Rasulullah SAW adalah sepanjang hidupnya terutama setelah beliau mendapat wahyu selalu mendapat kesulitan, tantangan, dan berbagai masalah dia hadapi. Tapi, kata kunci yang perlu dicontoh dari Rasulullah adalah kesabaran. Jadi, kesabaran di dalam menghadapi ujian, tantangan, sebab tidak ada masalah yang bisa diselesaikan dengan ketidaksabaran. Kuncinya kesabaran.
Kalau kita lihat di masyarakat kita sekarang, banyak orang yang kurang sabar. Mereka ingin mengadakan perubahan tapi harus secara instan. Perubahan instan itu tidak sesuai dengan sunnatullah. Rasulullah SAW itu mengikuti sunatullah. Oleh karena itu beliau selalu sabar dalam menghadapi berbagai cobaan. Tetapi pada saat yang sama beliau tetap berikhtiar semaksimal mungkin mengerahkan segenap tenaganya, hartanya, sambil memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Kedua, yang harus diteladani dari pribadi Rasululah adalah ikhtiar terus menerus. Ketiga, komitmen atau sikap istiqamah dalam memperjuangkan cita-cita. Dengan sikap istiqamah itulah maka kemudian tantangan, masalah, dan lain sebagainya bisa diatasi. Karena beliau yakin dengan sikap istiqamah, konsisten, semua itu bisa mengatasi masalah. Kalau tidak konsisten, tidak punya komitmen, baru mendapat tantangan sedikit kita langsung menyerah, langsung menyalahkan orang lain. Itulah sebabnya komitmen dan konsistensi itu juga penting.
Keempat, keikhlasan. Ikhlas berjuang di jalan kebenaran. Keikhlasan itulah yang akhirnya membuat beliau selalu usaha sebaik-baiknya meskipun beliau dicaci maki, ditentang bahkan dilempari dengan batu dan beliau tetap berjuang karena beliau ikhlas perjuangan itu untuk mencapai ridha Allah SWT.
Secara umum dalam masyarakat kita, gejala ketidakikhlasan itu sangat menonjol. Orang selalu bekerja dengan pamrih, baik secara terbuka maupun secara tersembunyi. Yang terbuka kalau kita lihat, berusaha mendapatkan insentif, fasilitas sebesar-besarnya dengan mengorbankan masyarakat. Tidak memiliki sifat sensitif terhadap kesulitan yang mendera masyarakat. Perjuangan dan pekerjaan lebih hanya untuk mendapatkan pamrih kebendaan entah dalam bentuk, insentif, gaji, maupun dalam bentuk laptop. Jadi, akibat dari tidak ikhlas akhirnya kalau orang itu berposisi dalam kepemimpinan baik di eksekutif maupun legislatif termasuk kepemimpinan kepala sekolah, akhirnya masyarakat menjadi tidak percaya, sinis, melihat tingkah laku para pemimpinnya yang tidak ikhlas. Pemimpinnya itu hanya mengejar pamrih material.
Bila penulis kaji kondisi bangsa kita sekarang, dalam kondisi bangsa yang sedang ditimpa berbagai musibah, momentum sekarang ini adalah sangat tepat untuk bercermin kepada Rasulullah SAW yang dalam hidupnya juga sering ditimpa ujian.
Rasululah SAW itu istikamah. Sikap istikamah itu juga sikap yang tegas, konsisten. Jadi, tidak ke kiri, ke kanan, tidak plinplan. Kalau pemimpin tidak istikamah, rakyatnya mau ke mana? Mereka bisa kehilangan arah. Oleh karena itu sikap istikamah dari pemimpin sangat penting. Pemimpin harus menunjukkan ketegasan, harus menunjukkan keberanian, konsistensi. Rasulullah itu tantangan apa yang tidak pernah beliau hadapi? Tetapi beliau tetap tegar menghadapi berbagai macam tantangan, tetap bisa mengambil keputusan dengan cepat. Meskipun tantang itu terasa berat bagi beliau. Misalnya, kapan harus menghadapi kaum Quraisy dengan senjata. Itu beliau cepat mengambil keputusan, sehingga muncullah perang Badar.
Rasulullah itu sangat mendengarkan. Kalau dalam istilah sekarang, Rasulullah SAW seorang yang demokratis. Contohnya dalam perang khandaq (parit) dia mendapat saran dari Salman Al-Farisi, seorang sahabat yang berasal dari Persia yang menganjurkan kepada Nabi SAW bahwa perlu mengadopsi taktik dan strategi yang dipakai oleh orang Persia, antara lain dengan menggali parit sehingga musuh tidak mudah untuk masuk ke wilayah lawan. Nah, ternyata usulan itu diterima oleh Rasulullah SAW. Dan taktik itu rupanya sangat baik dan sangat strategis. Beliau itu mendengarkan pendapat dari orang lain meskipun beliau mempunyai pandangan sendiri tapi beliau mendengarkan. Dan kalau pandangan itu baik beliau terima dengan lapang dada. Walapaun sesungguhnya Rasulullah SAW itu mendapat bimbingan langsung dari Allah tapi beliau mendengarkan pendapat sahabatnya.
Uraian di atas menunjukkan betapa banyak yang bisa dicontoh dari Rasulullah sebagai pemimpin umat yang kontekstual dalam masa sekarang ini. Nilai-nilai dalam konteks kehidupan sosial kemasyarakatan beliau sudah mencontohkan dengan jelas bagaimana menjadi seorang pemimpin yang harus mempunyai sikap jujur, ikhlas, amanah, istiqamah, konsisten, sikap yang tidak mudah menyerah, dan sikap tidak selalu memberikan harapan kepada umat, tidak cepat menyerah, tidak menyalahkan orang lain serta cerdas dan memiliki sikap mau mendengarkan pendapat orang lain. Hal itu semua sangat perlu kita contoh dari kepemimpinan beliau, dan sangat tepat manakala dicontoh dan diteladani oleh para pemimpin dewasa ini di Indonesia, termasuk oleh para Kepala SMA di Kabupaten Serang.
Para kepala SMA Negeri di Kabupaten Serang Propinsi Banten sebanyak 23 orang, hal itu sesuai dengan jumlah SMA Negeri di Kabupaten Serang berjumlah 23 dan 2 pilial. Jumlah guru Negeri laki-laki sebanyak 468 dan perempuan 388 jumlah seluruhnya 856. Sedangkan jumlah siswa SMA Negeri laki-laki 7.953 sedangkan perempuan 8.059 jumlah seluruhnya 15.902. untuk rinciannya lihat tabel 1.
Para Kepala SMA tersebut dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya di bidang manajerial dan kependidikan menurut pengamatan sementara penulis sebagai pengawas, nampaknya mereka dalam melaksanakan tugas dan fungsinya belum sepenuhnya optimal dan belum melaksanakan sesuai dengan apa yang diteladankan oleh Rasulullah SAW tercinta.
Dapat penulis kemukakan beberapa peran dan proses dalam operasional manajerial dan pendidikan di SMA Negeri yang ada di Kabupaten Serang, sesuai hasil studi lapangan sementara penulis sebagai pengawas dapat digambarkan kondisi objektifnya secara sekilas beriktut ini.
Para Kepala SMA Negeri di Kabupaten Serang telah mampu mengumpulkan dukungan dari diskusi dengan para guru dalam usaha pengembangan sekolah untuk menerima umpan balik dan mengusulkan alternatif pendekatan dan juga masalah-masalah pengembangan lainnya. Biasanya, kepala sekolah mengadakan rapat rutin untuk mendiskusikan masalah-masalah yang dihadapi oleh sekolah. Anggaran sekolah didiskusikan secara terbuka dan input bagaimana menyesuaikan anggaran agar tujuan sekolah dapat tercapai. Kepala sekolah menerima input dari semua guru, Stat tata Usaha, siswa dan masyarakat dan mempresentasikannya kepada guru. Masalah-masalah pengembangan yang berhubungan dengan program akademik telah diperhatikan hampir di setiap SMA Negeri yang ada di Kabupaten Serang. Hal lain telah mengacu pada rekomendasi komite Sekolah/BP3 masing-masing sekolah.
Masalah mendasar yang dirasa telah mampu diperhatikan oleh para kepala SMA Negeri adalah menetapkan peran guru, siswa dan orang tua siswa. Peran dan tanggung jawab telah ditetapkan sehingga setiap orang mempunyai pemahaman yang jelas. Hal ini menciptakan adanya arah dan tujuan bagi para guru dan staf Tata Usaha. Juga memberikan tema umum bagi pengembangan sekolah. Berdasarkan kondisi sekolah yang ada, kepala sekolah, guru dan orang tua siswa mengembangkan visi dan misi yang memperhatikan kebutuhan dan aspirasi bersama di sekolah tersebut.
Para Guru mampu mengkomunikasikan perhatian dan bertukar gagasan pada rapat rutin yang telah dijadwalkan dengan Kepala Sekolah. Hal ini bervariasi antara satu sekolah dengan sekolah yang lain dari satu kali dalam seminggu sampai satu kali dalam satu smester. Guru mempunyai kebebasan untuk bertukar pandangan, termasuk juga pandangan yang bertentangan dengan sudut pandang kepala sekolah. Kepala sekolah yang mengkaji ulang anggaran sekolah bersama-sama dengan para guru, menemukan dukungan lebih untuk pelaksanaan program, khususnya apabila pandangan guru diperhatikan dalam penyusunan program. Guru merasa bahwa mereka sebagai mitra dalam pengembangan mutu sekolah. Rasa turut memiliki menambah minat dan peran serta dalam program. Komunikasi yang terbuka memberikan kesempatan kepada para guru untuk diperlakukan sebagai profesional dan memperoleh penghormatan yang patut diterima oleh para guru.
Siswa diundang untuk terlibat dalam diskusi dengan kepala sekolah dan guru, namun ada rasa enggan dan rasa malu dari siswa. Dukungan dan kemauan kepala sekolah untuk mendengarkan para siswa dapat memberikan dorongan kepada mereka. Melalui rapat “OSIS”, siswa belajar mengutarakan pendapat-pendapat dalam suasana yang nyaman dan belajar mengatasi masalah-masalah yang melibatkan mereka dengan cara yang terorganisasi. Juga melalui organisasi siswa, para siswa dapat mengutarakan pandangan-pandangan dan mengusulkan berbagai saran. Walau hal ini baru terjadi pada SMA yang ada di kota seperti SMA 1 Serang, Cipocok dan Taktakan.
Perhatian Para Orang Tua Siswa hampir sebagian SMA Negeri ditujukan untuk peningkatan komunikasi. Komite Sekolah / BP3 berfungsi sebagai alat untuk melibatkan para orang tua siswa dalam berbagai prakarsa untuk pengembangan Sekolahnya masing-masing. Jadwal pertemuan-pertemuan Komite Sekolah / BP3 merupakan sarana komunikasi dengan berbagai anggota di sekolah. Program yang paling efektif adalah dengan rapat sebanyak empat kali dalam setahun dan menginformasikan kepada anggota mengenai kegiatan pengembangan pada setiap rapat. Orang tua siswa dapat menyampaikan perhatian mereka, bertanya dan mengkaji ulang pengeluaran untuk program-program yang disponsori oleh Komite Sekolah / BP3 Anggota memilih proyek yang akan dilaksanakan dengan mengambil suara terbanyak bagi pilihan yang ada. Begitu juga para Pengurus Komite Sekolah mempunyai kesempatan untuk berbicara kepada Kepala sekolah dan guru secara informal.
Sekilas kegiatan operasional manajerial dan pendidikan yang dilakukan oleh para Kepala SMA Negeri tersebut sepertinya telah menunjukkan pada kegiatan yang optimal, akan tetapi melihat dari hasil para siswa lulusannya, transparansi pelaporan keuangannya, termasuk hasil penilaian kinerja para kepala SMA masih belum menggembirakan.Lulusan para siswa SMA di Kabupaten Serang masih menempati peringkat ke 5 sepropinsi Banten yang hanya terdiri dari 2 kota dan 4 Kabupaten. Hasil penilaian kinerja kepala Sekolah dari 23 Kepala Sekolah hanya terdapat dua kepala sekolah yang mendapatkan pridiket istimewa, 10 baik 8 cukup dan tiga orang memperoleh nilai kurang. Hal ini bila diperhatikan secara analisis kegiatan operasional manajerila dan kependidikan yang dilakukan oleh para Kepala SMA di sekolah tersebut, hanya bersifat simbolis, tidak atau belum dilandasi oleh kebenaran, kejujuran, kecerdasan dan transparansi sebagaimana yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW.
Penerapan Nilai-nilai dasar Sidik, amanah, tablig, dan fatonah bila dilaksanakan oleh para kepala SMA sudah barang tentu akan memberikan dampak yang positif terhadap proses manajerial dan proses pendidikan di sekolah yang dipimpinnya. Keberhasilan suatu sekolah tentu sangat ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah itu sendiri. Keteladanan Kepemimpinan termasuk kepemimpinan kepala sekolah dapat mencontoh dari kepemimpinan Rasulullah SAW.
Uraian di atas merupakan hal yang melatar belakangi perlunya pengkajian mengenai” NILAI DASAR KEPEMIMPINAN RASULULLAH DAN PENERAPANNYA OLEH KEPALA SEKOLAH” (Studi Tentang Penerapan Nilai-Nilai Dasar: Sidik, Amanah, Tablig, dan fatonah Oleh Para Kepala SMA di Kabupaten Serang, Propinsi Banten).
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut, apabila penulis ungkapkan masalah-masalah tersebut dalam bentuk pertanyaan, akan muncul pertanyaan sebagai berikut :
1. Apakah makna Nilai Dasar sidik, amanah, tablig, dan fatonah itu dalam konteks kepemimpinan ?
2. Apakah Nilai dasar ini tepat dan diperlukan untuk dijadikan landasan kepemimpinan, di persekolahan ?
3. Sejauhmana Nilai dasar Sidiq, Amanah, Tablig, dan fatonah, diimplementasikan oleh para kepala SMA Negeri di Kabupaten Serang dalam melaksasnakan tugas pokoknya sebagai Kepala Sekolah ?
4. Bagaimanakah Pengaruh Kepemimpinan tersebut terhadap proses manajemen sekolah dan proses pendidikan di sekolah itu ?
C. Definisi Operasional
Untuk menghindari adanya perbedaan persepsi tentang pokok-pokok persoalan yang diteliti, serta untuk memberikan arah dan kejelasan dalam penelitian ini, terlebih dahulu perlu dijelaskan beberapa defenisi operasional yang digunakan dalam judul penelitian ini, hal itu anatara lain :
a. Nilai Dasar Sidik : adalah seorang kepala sekolah harus selalu bersikap dan berbuat benar dan jujur. Dalam perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan pengelolaan sekolah yang menjadi tanggung jawab dan tugasnya.
b. Nilai Dasar Amanah : adalah seorang Kepala sekolah harus dapat dipercaya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, baik itu tugas dari Dinas Pendidikan (Pusat) atau tugas dari masyarakat (bawah).
c. Nilai Dasar Tablig : artinya Seorang kepala sekolah harus menyampaikan apa-apa yang diperintahkan dan ditugaskan baik yang bersifat informasi, pembinaan, dan titipan (dana), disertai dengan pemberian motivasi, kreatifitas, serta keteladan untuk memberi contoh melaksanakan tugas dengan penuh keihklasan.
d. Nilai Dasar Fatonah : adalah kepala sekolah harus, cerdas, Kreatif, teliti dan pandai dan terampil dalam mengemban tugasnya.
e. Kepemimpinan Kepala Sekolah : Kepemimpinan Kepala sekolah merupakan tugas tambahan dari jabatan guru, yang memiliki tugas manajerial dan akademik/pendidikan dan pengajaran. Dalam tugas Manajerial kepala sekolah berkewajiban untuk mengelola persekolahan, dan sebagai tugas academik kepemimpinan kepala sekolah berfungsi sebagai pemimpin dalam hal pendidikan dan pengajaran di sekolahnya. Melalui kepemimpinan kepala sekolah dapat memberikan pelayanan yang efektif berupa bantuan langsung kepada guru-guru dengan cara mengunjungi kelas dan mengadakan pembicaraan perseonal/individual,memberikan saran-saran tentang cara meningkatkan kualitas peroses belajar mengajar, membantu merencanakan pengajaran, memilih pengalaman belajar,alat pelajaran dan alat evaluasi, sehingga situasi belajar mengajar dapat dikembangkan ke arah situasi belajar mengajar yang lebih baik, menuju terwujudnya sekolah yang efektif sesuai dengan yang diharapkan.
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui makna nilai-nilai dasar : Sidik, Amanah, Tablig, dan fatonah
2. Mengetahui kondisi kepemimpinan Kepala SMA di Kabupaten Serang Propinsi Banten.
3. Memperoleh informasi empirikal mengenai upaya penerapan Nilai Dasar Sidik, Amanah, Tablig, dan Fatonah oleh Para Kepala SMA Negeri di Kabupaten Serang.
4. Mengetahui seberapa jauh pengaruh kepemimpinan tersebut terhadap Proses manajemen sekolah dan Proses pendidikan di sekolah itu.
E. Paradigma Penelitian
Sebagai pedoman titik pangkal dalam penelitian ini, penulis ajukan paradigma penelitiannya adalah, bahwa Nilai-nilai dasar Sidik Amanah, Tablig, dan Fatonah merupakan landasan moral, sikap dan prilaku Rasulullah SAW yang telah membuktikan keberhasilannya dalam memimpin ummat pada masa kepemimpinan dulu dan akan berlaku sepanjang zaman, oleh karena itu siapapun pemimpin termasuk kepemimpinan Kepala Sekolah yang ingin sukses diwajibkan untuk menconoh nilai-nilai kepemipinan yang telah dicontohkan oleh baginda Rasululllah SAW tersebut. Hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT. bahwa telah ada buat kamu sekalian, pada diri rasulullah SAW sebagai suritauladan yang baik, yaitu bagi yang ingin mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah dan ingin sejahtra di akhirat. (QS : Al Ahzab 21).
Temuan yang diharapkan dari pengungkapan Nilai-Nilai Dasar Kepemimpinan Rasulullah yang diterapkan oleh para Kepala SMA tersebut, ialah sebuah model empirik mengenai Keunggulan Kepemimpinan Kepala Sekolah yang menerapkan Nilai Dasar Sidiq, Amanah, Tablig, dan fatonah, dan dampaknya terhadap mutu manajerial dan kependidikan di sekolah. Model empirikal tersebut selanjutnya dijadikan dasar pengajuan model konseptual untuk memaksimalkan keunggulan itu. Apabila diperluas dengan bingkai-bingkai teori dan masalah penelitian, kerangka konseptual penelitian ini dapat diringkaskan secara skematik gambar di bawah ini
F. Landasan Teori
1. Nilai Dasar Sidik
Sidik artinya benar. Agama Islam memerintahkan ummatnya untuk senantiasa hidup dan menjalani kehidupan ini dengan benar. Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi Muhammad Saw (Shahih Muslim : 222) dari Abdullah ra. Katanya :
Hendaklah kamu selalu berlaku benar. Karena berlaku benar/jujur membimbing kepada kebajikan, dan kebajikan membawa ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan berusaha mempertahankan kebenaran maka dicatat Alla sebagai Shadiq (orang yang jujur). Dan hindarilah olehmu dusta, karena sesungguhnya dusta itu membimbing kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan mempertahankan kedustaan, maka dia dicatat oleh Allah SWT sebagai kadzab (si pembohong).
Benar, jujur dalam ucapan dan tindakan, ucapan yang selaras tindakan, satunya kata dengan perbuatan, tidak bohong dan tidak ada dusta di antara sesama, merupakan Nilai dasar sidik yang diteladankan rasul bagi ummatnya. Kejujuran dan kebenaran itu senantiasa dimiliki dan dilaksanakan dalam berbagai aktifitas kehidpan, termasuk dalam memimpin keluarga, sahabat dan memimpin peperangan, dan itu merupakan kunci sukses dalam meraih kesejahtraan hidup lahir bathin dunia dan akhirat.
Muhammad Sigit Purnawan Jati (2001 : 37) berpendapat :
Sifat-sifat pribadi muslim yang telah memiliki aqliyah dan nafsiyah Islamiyah (Cara berfikir dan berjiwa Islami) Ia senantia meraih kekuasaan dunia dengan hak dan seantiasa bersusah payah menggapai akhirat. Ia memberikan perhtian kepada dunia dengan menegakkan kebenaran. Kebenaran akan mengalahkan kebatilan, dan kemenangan dicapai melalui kebenaran yang diperjuangkan itu. Dalam keyakinan seorang muslim, jika yang berkuasa di dunia adalah kebenaran, maka keadilan dan kesejahtraanlah yang bakal dirasakan masyarakat.
Uraian di atas sangat jelas bahwa di dunia manapun dan instansi manapun, termasuk pada lembaga pendidikan/ sekolah manakala kebenaran telah berlaku dan berkuasa pada lembaga itu maka kesejahtraan kepala sekolah, guru dan seluruh masyarakat sekolah itu akan memperoleh kesejahtraan.
Rasulullah Muhammad SAW memiliki Nilai dasar sidik, artinya beliau itu benar. Menurut UN. Ubaidy ( 2006 : 1-4) Kepemilikan Nilai Dasar sidik Rasul Muhammad SAW, karena :
Nabi punya niat yang benar-benar, punya spirit hidup yang sungguh-sungguh, punya kemauan keras dalam menjalankan ide atau gagasannya di lapangan.
Nabi punya ucapan yang selaras dengan tindakan (tidak berbohong, jujur dalam ucapan, menepati janji dan seterusnya).
Nabi punya tindakan yang sungguh-sungguh, tidak setengah-setengah, tidak malas-malasan, atau punya tingkat kesadaran yang bagus dalam bertanggung jawab.
Memperhatikan uraian di atas, bahwa untuk yang sedang berkarir dalam bidang apapun, terlebih dalam kepemimpinan kepala sekolah/dunia pendidikan maka sifat sidik tidak bisa ditinggalkan. Mau tidak mau pemimpin harus belajar menjalankan niat kepemimpinannya dengan sungguh-sungguh, serius atau menjiwai (kaffah). Seorang kepala sekolah harus belajar berbicara dan mengucapkan sesuatu berdasarkan kemampuan dan keyakinannya agar tidak berbohong sebagai akibat ketidak mampuan.
Jangan mengira kalau kita berbohong itu hanya akan merugikan orang lain saja. Berbohong tidak sidik atau tidak memegang komitmen akan mendatangkan berbagai problem. Problem itu kadang sulit dipecahkan karena seakan kita tak pernah berbuat salah, padahal hal itu karena perberbuatan tidak sidik.
Seseorang yang bekerja dengan sungguh-sungguh penuh dengan kejujuran, melakukan sesuatu dengan emosi, konsentrasi, bersedia untuk berkorban demi mencapai tujuan yang diharapkan tentu akan mendapat dukungan bukan hanya dari sesama manusia tetapi dsari Allah SWT. Hal ini dapat diperhatikan dari Firman Allah SAW QS. Al Ankabut : 69 :
”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.
Ayat di atas mengajarkan bahwa jika kita berjihad (bersungguh-sungguh) untuk mewujudkan tujuan yang positif, maka akan didatangkan kepada kita cara untuk mewujudkan tujuan itu.
Belajar untuk memiliki Nilai Dasar sidik akan menunjukkan berbagai jalan dalam mewujudkan keinginan kita, tujuan kita, impian kita dan seterusnya. Menurut AN Ubaedy (2006 :
2. Nilai Dasar Amanah
Amanah artinya punya kelayakan untuk dipercaya, kredibilitas. Lawannya adalah khianat artinya menyalahgunakan kepercayaan ( Muhammad Mahdi Bin Abi Dzar an Naraqi : 2003 : 119)
Ibnu Katsir ( 2003 :31) menjelaskan makna amanah ini kewajiban yang harus dilaksanakan. Sebagaimana pendapatnya :
Amanah adalah segala macam amal perbuatan yang diamanahkan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Maksudnya adalah kewajiban. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT dalam surat Al Anfal 27 dan 28: yang artinya :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui.
Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.
Jadi jangan menghianati amanah, artinya jangan menghianati kewajiban yang telah ditentukan oleh Allah SWT.
Ahmad Mushthafa Al Maraghi (1994 : 363) dalam kitabnya yang terkenal Tafsir al Maraghi berpendapat tentang Amanah ini adalah tiap-tiap hak materi ataupun maknawi yang wajib ditunaikan kepada yang berhak menerimanya.
Nabi dikatakan amanah karena beliau memiliki kualitas personal yang layak untuk dipercaya. Kualitas itu antara lain mencakup kualitas moral, kualitas keahlian-profesional, dan kualitas riil hasil persenyawaan antara kualitas moral dan keahlian profesional (AN Ubaedy : 2006 : 25).
Jadi, seorang pemimpin termasuk kepala sekolah untuk memiliki kualifikasi kridibelitas dan dapat dipercaya langkah awal harus membangun kualitas moral. Bentuk-bentuknya seperti kejujuran, ketaatan terhadap nilai-nilai kebenaran, integritas, pengabdian dan lainnya. Bahkan untuk memiliki integritas saja minimal ada 11 prinsip yang harus dilaksanakan (Salahuddin sanusi : 1967 : 318) yaitu :
Beriman dan bertaqwa
Persaudaraan
Persamaan
Musyawarah
Gotomng royong
Pertanggungjawaban bersama
Bekerja keras, berinisiatif dan kreatif
Berlomba dalam kebaikan
Toleransi, dan
Percaya diri berjalan terus pada jalan yang benar
3. Nilai Dasar Tablig
Nilai dasar kepemimpinan yang ketiga yang dimiliki oleh Rasulullah adalah Tablig. Nabi memiliki Nilai Dasar ini karena beliau :
Punya kemampuan yang bagus dalam menyampaikan informasi, berita, wahyu, perintah, larangan, isi hati, ide, gagasan, dan seterusnya.
Punya kemampuan menentukan strategi komunikasi yang sesuai dengan sasarannya sehingga terhindar dari fitnah akibat kesalahfahaman.
Punya kemampuan dalam memilih bahasa yang jelas dan bisa difahami oleh orang yang menerimanya. (khotibun naasi biqodri uqulihim).(UN Ubaedy :2006 : 32)
Nilai Dasar tablig merupakan kunci dan erat kaitannya dengan membangun relasi, hubungan yang harmonis dan jalinan komonikasi antara sesama, atasan dan bawahan, dan seterusnya.
Di dalam Al Qur’an menurut Jalaluddin Rahmat (1991 : 264) sedikitnya ada enam prinsip komunikasi yang di ajarkan Al Qur’an kepada kita. Keenam prinsip itu adalah : Qaulan Sadidan (QS 4 : 9 dan 33 : 70) Qaulan Balighan (QS : 4 :63), Qaulan Mayuran (QS : 17 :28), Qaulan layyinan (QS: 20 : 44) Qaulan Kariman (QS: 17 : 23) dan Qaulan Ma’rufan (QS : 4 : 5).
Mei 16, 2008 pukul 4:49 am |
Bapak punten nuju wengi Jawaban UTS anu abdi hilap heunteu dipasihan Nami.
Nama : Ghilang Mahardika
NIS : 2005051318
TK/Jurusan : III/Akuntansi Karyawan
Juli 8, 2008 pukul 7:37 am |
no problem
Januari 30, 2009 pukul 3:23 pm |
Salam kenal Mas, Mas saya minta tolong nie jawabkan soal UAS saya donk.* Solusi untuk mengefisienkan sistem kinerja BP3 & dana pengeluarannya, berpikir secara 1. Logika, 2. Estetika (nilai), 3. Etika (benar atau salah menurut filosofi), 4. Ideologi
Nah itu dia soal saya, Plisssss tolongin yach Thanxs…….. before
Mei 13, 2009 pukul 7:43 am |
ass,,,,,,,,,
pak maaf saya dari mahasiswa saya ada unek unek tentang filosop karena ini juga menyangkut tentang agama juga pertanyaannya
1.apa perbedaan ilmu fisafat dengan filsafat ilmu
2.filsapat yang kaya gimana sih yang bisa membuat orang terjerumus dalam kesesatan,,,,,,,,ko mengapa bisa kaya gitu.kan semua ilmu juga asasl ususulnya dari al-quran kalo tdak al-quran dunia ini akan ada ilmu gak.ko mengapa orang yang mempelajari ilmu filafat ada juga yang terjerumus.
trimakasih
wass,,,,,,,,,,,,
Oktober 22, 2009 pukul 4:27 am |
Assalamualaikum Wr. Wb.
Pak nepangken abdi mahasiswa bapak kelas manajemen B Tk. 3 Semester 5 boleh ga usul pak masuk kuliahnya jangan jam 6.30 kalau bisa jam 7.00 aja. Apa bener pa kalau telat tidak boleh masuk ??……
Oktober 31, 2009 pukul 9:07 am |
Ass.
Pak, punten tuk soal UTS mahasiswa pascasarjana program ekonomi UNIKU kelas 7 A jga sama dengan yang sudah-sudah? trus, boleh gak seandainya l saya jawab itu dianggap sudah mengikuti UTS. Terima kasih. (Hubullah, Mhs. Pasca Uniku )
Wass.
Oktober 31, 2009 pukul 9:20 am |
Ass….
Pak, sya sangat menmyukai perkuliahan dengan bapak. materi yang bapak sampaikan sangat menarik, jelas dan menyenangkan. semoga saya bisa mengikuti perkulihan-perkuliahan berikutnya. (marno, mhs pasca kls 7 A )
wass….
November 19, 2009 pukul 4:01 am |
1. filsafat dan filsafat ilmu yaitu dapat menelaah segala masalah yang mungkin dapat difikirkan oleh manusia yang pada akhirnya dapat menghasilkan pengetahuan (ilmu) dan keterampilan.
2. – Berfikir Biasa yaitu pemikiran secara biasa yang tidak menghasilkan ilmu pengetahuan
- Berfikir ilmiah merupakan pengetahuan secara sistematis. Yang mana masalah, hipotesis, kerangka pemikiran, kesimpulan semuanya terkait dan tersusun dalam pemikiran ilmiah
- Berfikir fisafat dapat diumpamakan seorang yang ingin mengetahui tentang jati dri,seseorang yang berada dipuncak tinggi. memandang ke ngarai dan lembah dibawahnya. Dia ingin menyimak kehadiran dirinya dengan kesemestaan yang ditatapnya.
3.filsafat merupakan pengetahuan dan keterampilan bukan pengetahuan yang bersifat memerinci. Filsafat menyerahkan daerah yang sudah dimenangkan kepada ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Semua ilmu, baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu social bertolak dari pengembangannya bermula sebagai filsafat.
4. Sesuai dengan karakteristik filsafat yaitu spekulatif, maka fisafat bersifat menelaah segala masalah yang mngkin difikirkan baik itu pengetahuan maupun keterampilan. Sedangkan berfikir bukan berarti berfilsafat karena apabila seseorang berfikir belum tentu bisa menghasilkan pengetahuan dan pengetahuan dalam peikirannya.
5. Setelah membaca soal-soal diatas ternyata belajar ilmu filsafat tidak semudah dengan apa yang difikirkan. Namun kita dapat mengetahui bahwa Filsafat ilmu merupakan bagian dari efistemologi,,yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Filsafat merupakan keterampilan namun tidak sama dengan keterampilan lain apapun sesungguhnya. Inilah alas an sebenarnya mengapa setiap didiplin akademik (ilmu) memiliki “Filsafat” yang melekat padanya.