ONTOLOGI PENDIDIKAN

Dinamika interaksi manusia, lingkungan, sejarah, budaya serta wahyu melahirkan berbagai pandangan tentang manusia dalam konteks kehidupan serta apa yang perlu dilakukan oleh pendidikan bagi berlangsungnya kehidupan masyarakat. Manusia seperti apakah yg perlu dibangun, dibentuk oleh pendidikan?.  Secara individual, manusia memiliki kekhasan masing2, tak kan ada yg sama, kondisi ini menjadikan setiap manusia harus mengoptimalkan dirinya dlm kapasitas alamiah yg telah dimilikinya secara kodrati, disini menjadi diri sendiri yg khas tiap orang sebagai bentuk perwujudan diri. Ini tentu perlu melihat esensi manusia dalam eksistensi kehidupannya. Secara ontologis, terdapat dua pandangan utama dalam hal ini yaitu:  1) pandangan monisme, dan 2) pandangan dualisme. Monisme memandang manusia sebagai substansi tunggal, disini ada yg memandang wujud fisiknya (material) dan ada yg memandang wujud jiwanya (mental) sedangkan pandangan dualistik memandang bahwa manusia gabungan dua wujud yakni fisik dan jiwa (material dan mental). Bagi Monisme materialistik perwujudan diri asalah diri material, dimana kebaikan hidup diukur oleh kesenangan jasadi, sehingga jika telah sampai ke sana berarti seseorang telah mekaktualisasikan dirinya. Bagi monisme spiritualistik/jiwa, perwujudan diri adalah menjadi mahluk ruhani, jiwa, dimana keluhuran budi dan jiwa sesuai ajaran2 Tuhan/ruhaniah menggambarkan tercapainya aktualisasi diri. Sementara pandangan dualistik memandang bahwa kebaikan ada dalam.keseimbangan keduanya. Ini berarti ketika pendidikan tuk menjadikan seseorang jadi dirinya sendir, diri yang mana yg dimaksudkan secara ontologis

 Pandangan2 dlm filsafat modern cenderung tak terlampau hirau dg masalah hakekat yg ada (ontologi), sebagai hal yg tak empiris dan tak bisa mutlak jadi dasar dalam pemikiran pendidikan. Disamping itu para penganut monistik juga sering mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada perubahan yg terjadi tanpa menilik aspek lainnya yg tak jadi perhatiannya. Yg berpandangan dualistik juga sering tetap berdebat tentang mana yg paling  menentukan kehidupan manusia, apakah esensi dan atau eksistensi manusia. Pemikir yg menolak metafisika (ontologi) berpandangan bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya, manusia lahir kosong dan wujudnya /eksistensinya dg pengalaman lah yg membangun esensinya sebagai manusia, tak perlu atau tak terkait dg nilai adikodrati yg dibawa dg kelahirannya ke dunia, jadi mau jadi apapun adalah lingkungan pengalaman yg membentuknya. Pemikiran seperti ini melihat nilai sebagai hal yang relatif, gak ada nilai yang perlu diwariskan karena semua dibentuk berdasarkan pengalaman eksistensial yg dijalaninya, hidup adalah keterlemparan dlm horizon waktu dan manusia memaknainya. Pendidikan dewasa ini kuat sekali dipengaruhi oleh pemikiran demikian, nilai global lah yg jadi acuan dengan sustem demokrasi, 6 literasi, 4 kompetensi, dan 6 karakter yg durumuskan dg jargon ketrampilan abad 21 yg juga jadi acuan pendidikan nasional dewasa ini. Tak satupun terkait langsung dg nilai agama araupun pancasila (kecuali kita mengkaitkannya), nah dg kondisi ini apakah tidak cukup alasan bagi bangsa untuk RISAU dg pembangunan pendidikan kita, tentu bukan tuk dihentikan tapi lebih pada bagaimana men-transformasikannya agar bermanfaat lebih signifikan bagi bangsa dan manusia Indonesia.

Pendidikan dlm efeknya yg sosial merupakan bangun bersama individu2 yg menjalani pendidikannya, namun kumpulan induvidu tak dapat serta merta jadi bangun sosial efek pendidikan, oleh karena itu pencermatan keduanya (individu dan sosial) perlu keseimbangan dalam suatu pertemuan nilai yg sejalan dlm substansinya bukan sekedar permukaan (bukan dise-suai2-kan). Perwujudan diri individu yg selalu bermuatan nilai dlm menyempurnakan potensi konstruktifnya, akan membentuk perwujudan sosial masyarakatnya jika terdapat kohesivitas sistem yg merangkumnya, disini prilaku dan kebijakan sosial masyarakat harus menjadi bagian utama dalam membangun kebaikan masyarakat. Para pemikir pendidikan, filosof moral umumnya melihat potensi manusia secara normatif positif, sementara lawannya dipandang sebagai ketiadaan perwujudan potensi. Kondisi ini tentu membingungkan manakala terdapat kejahatan, ketidak baikan yg terjadi, apakah itu potensi manusia atau ketiadaan potensi yg terwujud. Hal ini tentu akan terus membingungkan manakala nilai2 diserahkan pada pengalaman empiris tanpa mempertimbangkan nilai adikodrati yg dlm bentangan sejarah manusia telah menunjukan peran reformatif dan atau peran revolutif tatanan sosial yg dipicu oleh gerakan bangun individu yg meng-aktualisasi-kan dirinya dlm konteks perbaikan mutu hidup masyarakat.

Perwujudan diri, atau aktualusasi diri dlm jalan pendidikan seseorang merupakan sesuatu yg berdasarkan keyakinan dan nilai yg ada dalam kwasaan itu sendiri. Masalahnya makna apa yg berikan kepadanya sebagai sesuatu yg bernilai dutentukan oleh perspektif arau sudut pandang orang tsb. Paling tidak terdapat beberapa perspektif tentang perwujudan diri (atau menjadi diri sendiri) yg membantu memahami kondisi sesuatu yg dipandang bernilai, yaitu: 1) pandangangan/pendekatan psikologistik-individualistik; 2) pandangan/pendekatan sosiologis; 3) pandangan/pendekaran kooperatif; dan 4) pandangan/pendekatan Teistik. Basis pandangan pemikiran tsb merupakan pendekaran dalam melihat perwujudan diri yg dlm pilar pendidikan UNESCO dusebut “Learning to be” yg dimaknai sebagai belajar menjadi duri sendiri, atau belajar tuk mengaktualusasikan diri dalam hidup dan kehidupan masyarakat. Ketika seorang mengatakan “aktualusasikan diri sendiri,  jadilah diri sendiri”,  jelas ini tak memberi makna nilai apapun, diri sendiri yg gimana? “Yang individu; Yang sosial; Yang kooperatif, atau Yang Teistik/ketuhanan”, bila sydah jelas pilihannya, apakah sesuai dan relevan dengan nilai budaya masyarakat, komunitas?. Ternyata tidak sesederhana seperti yg sering kita katakan dan kita dengar…menyederganakannya bisa saja, tapi tak kan bisa buat itu sederhana karena implikasi praktisnya dalam berbagai aspek kehidupan termasuk pendidikan akan berdampak pd masyarakat yg ingin dibangun ke depan…BERSAMBUNG.

Iklan

Tentang Dr. Uhar Suharsaputra

PENELITI DAN PENULIS
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s