MGMP B INGGERIS


8 Balasan ke MGMP B INGGERIS

  1. lili herlina berkata:

    Perhatian dan Minat Siswa dalam Pembelajaran
    Adalah sesuatu yang sulit (kalaupun tidak disebut mustahil) kalau kita berharap bahwa siswa duduk rapi dengan penuh perhatian serta keseriusan mereka menyimak apa yang disampaikan oleh kita di depan kelas. Hal yang sulit pula kita menginginkan bahwa siswa memiliki selalu berada dalam kondisi tertarik terhadap mata pelajaran yang disampaikan guru.
    Setiap individu siswa memiliki pengaruh yang berbeda terhadap reaksi, respon dan minat mereka terhadap mata pelajaran. Pengaruh itu bisa datang dari diri siswa, misalnya karena ia berangka ke rumahnya dengan membawa serta masalah di rumah ke ruang kelas, bertengkar dengan teman, dimarahi orangtua, kekesalan akibat macet, dan luapan-luapan semosi lainnya yang tidak tersalurkan. Akibatnya ini secara langsung maupun tidak langsung akan berimbas kepada minat mereka dalam mengikuti pelajaran.
    Di sisi lain, minat mereka juga dipengaruhi oleh kondisi fisik siswa. Banyak diantara siswa harus membantu orangtuanya bangun jam 02.00 dini hari, kemudian membantu orangtuanya berjualan di pasar, dan baru selesai pada pukul setengah enam pagi. Ketika mereka sampai disekolah, kondisi fitnya sudah berkurang karena kelelahan dan sebagainya. Ada pula siswa yang begadang semalaman karena nonton sepakbola, film atau kegiatan lainnya, sehingga ketika bagun pagi mereka masih merasakan ngantuk yang sangat, hingga terus terasa ketika berada di ruang kelas.
    Semua itu adalah problem yang mau tidak mau harus dihadapi oleh guru. Pada akhirnya, kreatifitas guru dalam membangkitkan dan membangun minat siswa adalah hal yang sangat menentukan.
    Ronald R. Partin, menjelaskan langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam meningkatkan minat siswa, diantaranya adalah sebagai berikut:

  2. Heri Bambang berkata:

    PROPOSAL
    PENELITIAN TINDAKAN KELAS
    I. JUDUL

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA UNTUK MENGUNGKAPKAN MAKNA DALAM
    MONOLOG BERBENTUK PROCEDURE MELALUI METODE DEMONSTRASI DI KELAS IX A
    SMP NEGERI 1 CILEBAK KABUPATEN KUNINGAN

    II. BIDANG KAJIAN

    Model pembelajaran Bahasa Inggris

    III. PENDAHULUAN

    Latar Belakang
    Kemampuan berbahasa Inggris merupakan keharusan di era komunikasi dan globalisasi. Pelajaran bahasa Inggris di SMP berfungsi sebagai alat pengembangan diri siswa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.Setelah menamatkan studi, mereka diharapkan dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang cerdas, terampil dan berkepribadian serta siap berperan dalam pembangunan nasional.
    Pengajaran Bahasa Inggris di SMP meliputi keempat keterampilan berbahasa yaitu: menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Semua itu didukung oleh unsur-unsur bahasa lainnya, yaitu: Kosa Kata, Tata Bahasa dan Pronunciation sesuai dengan tema sebagai alat pencapai tujuan.
    Dari ke empat keterampilan berbahasa di atas, pembelajaran keterampilan Bebicara (Speaking) ternyata kurang dapat berjalan sebagaimana mestinya. Kemampuan mengungkapkan makna dalam monolog pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar, dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk procedure dan report adalah salah satu Kompetensi Dasar (KD) yang harus dikuasai oleh siswa Kelas IX Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pembelajaran mengungkapkan makna dalam monolog pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar, dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk procedure telah penulis lakukan secara klasikal. Dalam pembelajaran tersebut penulis menjelaskan materi pokok yang terdapat dalam indikator sebagai berikut :
    a. Mengidentifikasi makna gagasan dalam teks essei berbentuk procedure
    b. Melakukan monolog pendek dalam bentuk procedure
    Siswa dibacakan teks monolog berbentuk procedure dan diminta untuk menerjemahkannya. Selanjutnya siswa diminta untuk melakukan monolog menggunakan teks procedure tersebut.
    Hasil pembelajaran tersebut ternyata dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dari hasil refleksi penulis diperoleh data bahwa selama proses pembelajaran siswa sangat pasif dan mengeluh serta munculnya rasa tidak percaya diri. Mereka sangat kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Jelas, pembelajaran ini sangat tidak efektif atau dengan kata lain pembelajaran tersebut tidak berhasil (gagal).Uraian di atas merupakan gambaran kegagalan terhadap hasil dan proses belajar. Kegagalan tersebut merupakan masalah yang harus segera diatasi. Untuk mengatasi kegagalan pembelajaran di atas, penulis berusaha mencari solusi.
    Penulis sadar bahwa di era Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini, guru dituntut untuk kreatif dan inovatif. Guru harus mampu mencari satu teknik pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas. Prinsip PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) harus dilaksanakan.
    Guru bukan lagi merupakan sosok yang ditakuti dan bukan pula sosok otoriter, tetapi guru harus jadi seorang fasilitator dan motor yang mampu memfasilitasi dan menggerakkan siswanya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang mereka butuhkan.
    Berdasarkan pengalaman penulis saat mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan, penulis berhipotesis bahwa teknik belajar (teori belajar) Kontruktivisme sangatlah tepat jika digunakan dalam pembelajaran kompetensi dasar ini. Hanya saja penulis mencoba memadukan pendekatan Contextual Teaching And Learning dengan pendekatan Cooperative Learning . Penulis mencoba menggunakan
    model pembelajaran Demonstrasi.
    Oleh karena itu, penulis mencoba merencanakan melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul, “Meningkatkan Kemampuan Siswa Untuk Mengungkakan Makna dalam Monolog pendek Berbentuk Procedure Melalui Metode DEMONSTRASI Di Kelas IX A SMP Negeri 1 Cilebak Kabupaten Kuningan.”
    IV. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH
    Perumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana tersebut didepan, maka rumusan permasalahan yang diajukan dalam proposal ini adalah: ”Apakah melalui Penggunaan Model Pembelajaran DEMONSTRASI dapat meningkatkan Kemampuan Siswa Untuk Mengungkakan Makna dalam Monolog pendek Berbentuk Procedure Di Kelas IX A SMP Negeri 1 Cilebak?”
    V. TUJUAN PENELITIAN
    Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
    1. Meningkatkan kemampuan siswa untuk melakukan monolog berbentuk procedure.
    2. Mengembangkan strategi pembelajaran dan model pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan.
    3. Siswa dapat melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan komunikasi dengan mengemukakan gagasan, pendapat dan perasaannya secara sederhana baik lisan maupun tertulis.
    VI. MANFAAT HASIL PENELITIAN
    a. Bagi guru
    1. Mengembangkan model pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris untuk meningkatkan kompetensi komunikatif mereka
    2. Membantu memperbaiki / meningkatkan proses hasil belajar dan mengajar.
    3. Membantu meningkatakan kualitas profesionalisme guru sebagai pendidik.
    4. Membantu dalam penyusunan karya ilmiah yang merupakan salah satu syarat kenanikan pangkat dari golongan IVa ke jenjang berikutnya.
    5. Membantu dalam penyusunan karya ilmiah untuk dijadikan penilaian guna mendapatkan tunjangan sertifikasi guru/pendidik.
    b. Bagi Siswa
    1. Meningkatkan kemampuan siswa mengungkapkan makna dalam monolog pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar, dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk procedure
    2. Meningkatkan rasa senang dan motivasi belajar.
    3. Meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam berkomunikasi.
    4. Meningkatkan kompetensi komunikatif dan prestasi Belajar Bahasa Inggris.
    5. Meningkatkan keaktifan, kreativitas dan hasil belajar siswa yang lebih tinggi.
    c. Bagi Sekolah
    Melalui metode pembelajaran DEMONSTRASI membantu memperbaiki pembelajaran Bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Cilebak Kabupaten Kuningan.
    VII. HIPOTESIS TINDAKAN
    Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Jika dalam pembelajaran mengungkapkan makna dalam monolog pendek Berbentuk Procedure menggunakan Teknik DEMONSTRASI , maka kualitas proses dan hasil pembelajaran akan meningkat”.
    VIII. LANDASAN TEORETIS
    a. Teks Procedure
    Teks procedure bertujuan untuk memberikan petunjuk tentang langkah – langkah/metoda/cara-cara melakukan sesuatu (Otong Setiawan Djuharie, 2006 :38).Teks procedure umumnya berisi tips atau serangkaian tindakan atau langkah dalam membuat suatu barang atau melakukan suatu aktifitas. Teks procedur dikenal pula dengan istilah directory . Teks procedure umumnya memiliki struktur : 1) goal , tujuan kegiatan, 2) materials , bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat suatu barang/melakukan suatu aktifitas yang sifatnya opsional, 3) steps , serangkaian langkah.
    b. Contextual Teaching Learning (CTL)
    Setiap siswa mempunyai kemampuan berpikir yang berbeda-beda. Ketika siswa melihat sesuatu persoalan , maka cara dan intensitas dan berpikir setiap siswa pun berbeda pula. Perbedaan-perbedaan tersebut akibat dari perbedaan minat, kemampuan, kesenjangan, pengalaman, cara belajar dan sebagainya (Depdiknas, 2002:24). Perbedaan-perbedaan tersebut akan berdampak pada proses dan
    hasil sebuah pembelajaran.Berbagai pendekatan, strategi maupun model pembelajaran telah dikembangkan oleh para ahli untuk mengcover kemampuan berpikir siswa yang berbeda-beda tersebut. Pendekatan yang paling sering digunakan di era Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah Contextual Teaching and Learning (CTL) yang dikembangkan dalam model Cooperative Learning. Pendekatan CTL itu sendiri memiliki 7 elemen penting, yaitu: inkuiri (inquiry) , pertanyaan (questioning ), kontruktivistik (contruktivism ), pemodelan ( modeling), masyarakat belajar ( learning community ),
    penilaian otentik ( authentic assessment) dan refleksi ( reflection ). Para ahli berpendapat bahwa model pembelajaran ini sangat cocok untuk diterapkan di era pendidikan sekarang yang lebih mengarah pada kontekstual , bermakna dan menyenangkan.
    Blancard (2001) mengembangkan strategi pembelajaran kontekstual dengan:
    1) menekankan pemecahan masalah;
    2) menyadari kebutuhan pengajaran dan pembelajaran yang terjadi dalam berbagai konteks seperti rumah, masyarakat dan pekerjaan;
    3) mengajari siswa memonitor dan mengarahkan pembelajaran mereka sendiri sehingga menjadi siswa mandiri;
    4) mengaitkan pengajaran pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda;
    5) mendorong siswa untuk belajar dari sesama teman dan belajar bersama, dan
    6) menerapkan penilaian autentik Penulis menyetujui bahwa pendekatan CTL sangat cocok untuk digunakan dalam pembelajaran di era KTSP ini, hanya saja tujuh pilar CTL ini dianggap terlalu berat jika akan dilaksanakan semua dalam pembelajaran di SMPN 1 Cilebak khususnya di kelas IX A. Maka dari itu, penulis mendesain satu teknik pembelajaran yang lebih sederhana tanpa mengurangi esensi dari CTL itu sendiri. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode pembelajaran Demonstrasi.
    c. Metode Demonstrasi
    Metode Demonstrasi ialah metode mengajar dengan menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana berjalannya suatu proses pembentukan tertentu pada siswa. Untuk memperjelas pengertian tersebut dalam prakteknya dapat di lakukan oleh guru atau anak didik itu sendiri. Adapun aspek yang penting dalam menggunakan Metode Demonstrasi adalah:
    1. Demonstrasi akan menjadi metode yang tidak wajar apabila alat yang di demonstrasikan tidak bisa di amati dengan seksama oleh siswa. Misalnya alatnya terlalu kecil atau penjelasannya tidak jelas.
    2. Demonstrasi menjadi kurang efektif bila tidak di ikuti oleh aktivitas di mana siswa sendiri dapat ikut memperhatikan dan menjadi aktivitas mereka sebagai pengalaman yang berharga.
    3. Tidak semua hal dapat di Demonstrasikan di kelas karna sebab alat-alat yang terlalu besar atau yang berada di tempat lain yang tempatnya jauh dari kelas.
    4. Hendaknya dilakukan dalam hal-hal yang bersifat praktis
    V. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN
    A. Rencana Penelitian
    1. Subjek penelitian
    Subyek dalam peniltian ini adalah siswa kelas IX A SMP Negeri 1 Cilebak berjumlah 42 orang.
    2. Tempat Penelitian
    SMP Negeri 1 Cilebak Kabupaten Kuningan.
    3. Waktu Penelitian
    Waktu penelitian mulai perencanaan sampai penulisan laporan hasil
    penelitian tersebut mulai Januari s.d. Juli 2013 pada semester 1 Tahun
    pelajaran 2013/2014
    4. Lama Tindakan
    Waktu untuk melaksanakan tindakan mulai dari siklus I,Siklus II dan Siklus III selama 3 bulan.
    5. Prosedur Penelitian
    Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas ( Classroom Action Research ) yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis dan Taggart (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning) , tindakan (action) , observasi (observation) , refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus. Penelitian ini dilakukan dengan cara berkolaborasi dengan guru-guru SMP Negeri 1 Cilebak.
    Proses Pembelajaran ini diteliti melalui Penelitian Tindakan Kelas dengan dua siklus,dengan kegiatan sebagai berikut.

    SIKLUS ke-1
    Tahap Perencanaan (Planning), mencakup:
    1. Mengidentifikasi masalah
    2. Menganalisis dan merumuskan masalah.
    3. Merancang model pembelajaran klasikal.
    4. Mendiskusikan penerapan model pembelajaran interaktif.
    5. Menyiapkan instrumen (angket, pedoman observasi, tes akhir).
    6. Menyusun kelompok belajar peserta didik.
    7. Merencanakan tugas kelompok.
    Tahap Melakukan Tindakan (Action), mencakup:
    1. Melaksanakan langkah-langkah sesuai perencanaan.
    2. Menerapkan model pembelajaran klasikal.
    3. Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai
    rencana.
    4. Memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang
    dilaksanakan.
    5. Mengantisipasi dengan melakukan solusi apabila menemui kendala saat
    melakukan tahap tindakan.
    Tahap Mengamati (observation), mencakup:
    1. Melakukan diskusi dengan guru SMPN 1 Cilebak dan kepala sekolah untuk rencana observasi.
    2. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran klasikal yang dilakukan guru kelas IX.
    3. Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran klasikal.
    4. Melakukan diskusi dengan guru untuk membahas tentang kelemahan – kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.Tahap refleksi (Reflection), mencakup:
    1. Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi.
    2. Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran klasikal dan mempertimbangkan langkah selanjutnya.
    3. Melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran klasikal.
    4. Melakukan refleksi terhadap kreativitas peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
    5. Melakukan refleksi terhadap hasil belajar peserta didik.

    SIKLUS ke-2
    Tahap Perencanaan (Planning) , mencakup:
    1. Mengevaluasi hasil refleksi, mendiskusikan, dan mencari upaya perbaikan
    untuk diterapkan pada pembelajaran berikutnya.
    2. Mendata masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran.
    3. Merancang perbaikan berdasarkan refleksi siklus 1.
    Tahap Melakukan Tindakan (Action), mencakup:
    1. Melakukan analisis pemecahan masalah.
    2. Melaksanakan tindakan perbaikan dengan menggunakan penerapan
    model pembelajaran Demonstrasi .
    Tahap Mengamati (observation), mencakup:
    1. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran
    Demonstrasi .
    2. Mencatat perubahan yang terjadi.
    3. Melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran
    dan memberikan balikan.
    Tahap Refleksi (Reflection), mencakup:
    1. Merefleksikan proses pembelajaran Demonstrasi .
    2. Merefleksikan hasil belajar peserta didik dengan penerapan model pembelajaran Demonstrasi .
    3. Menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian.
    4. menyusun rekomendasi.

    Dari tahap kegiatan pada siklus 1 dan 2, hasil yang diharapkan adalah agar (1) peserta didik memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris; (2) guru memiliki kemampuan merancang dan menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok khusus pada mata pelajaran Bahasa Inggris, dan (3) terjadi peningkatan prestasi peserta didik pada mata pelajaran Bahasa Inggris.
    VI. Analisis Data
    Untuk lebih menjamin keakuratan data penelitian dilakukan perekaman data dalam video photo. Data yang diperoleh dianalisis dan dideskripsikan sesuai permasalahan yang ada dalam bentuk laporan hasil penelitian. Dari rancangan pembelajaran interaktif dan pemberian tugas kerja kelompok dilakukan validasi oleh teman sejawat dan kepala sekolah. Untuk kreativitas peserta didik dalam pembelajaran digunakan observasi dan angket dan untuk perolehan hasil belajar peserta didik digunakan deskripsi kuantitatif.
    VII. Jadwal Penelitian
    Penelitian ini dilaksanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2012/2013, antara bulan Juli sampai dengan bulan September 2013 dan rencana berlangsung selama 3 bulan secara berkesinambungan. Dengan agenda kegiatan sebagai berikut:
    No. Tanggal Pertemuan Tahap Kegiatan Ket.
    Siklus 1
    1 3 Juli 2013 Tahap Perencanaan (Planning)
    Data Video, Photo pada
    Siklus 1
    20 Juli 2013 Tahap Melakukan Tindakan (Action)
    Tiap tahap
    Siklus 1
    27 Juli 2013 Tahap Mengamati ( Observation )
    pengamatan
    Siklus 1
    7 Agustus 2013 Tahap Refleksi (Reflection)
    Siklus 2
    14 Agustus 2013 Tahap Perencanaan (Planning)
    Data Video, Photo pada
    Siklus 2
    21 Agustus 2013 Tahap Melakukan Tindakan (Action)
    Tiap tahap
    Siklus 2
    28 Agustus 2013 Tahap Mengamati ( Observation )
    pengamatan
    Siklus 2
    5 September 2013 Tahap Refleksi (Reflection)
    I. Jadwal Penelitian
    Adapun jadwal penelitian sebagai berikut:

    No Kegiatan Juli Ags Sep Ket
    2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
    1 Siklus 1
    Planning
    Action
    Observation
    Reflection
    2 Siklus 2
    Planning
    Action
    Observation
    Reflection

    DAFTAR PUSTAKA
    Kemmis, S. dan Taggart, R. 1988. The Action Research Planner . Deakin: Deakin
    University.
    Wibawa, Basuki. 2003. Penelitian Tindakan Kelas . Jakarta: Depdiknas Dirjen
    Pendasmen Dirtendik: 2003.
    Arikunto, Suharsimi. 2005 . Penelitian Tindakan Kelas . Jakarta: Dirjen PMPTK.
    Suhardjono et.al. 2005. Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Di Bidang Pendidikan
    Dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru .Jakarta: Dirjen Dikgu dan Tentis.
    Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Lampiran Permendiknas no 22
    Tahun 2006 Tentang Standar Isi . Jakarta: ———-.
    Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Lampiran Permendiknas no 23
    Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan . Jakarta: ———-.
    Mulyana, Slamet.2007. Penelitian Tindakan Kelas Dalam Pengembangan Profesi
    Guru . Bandung: LPMP.

  3. lili herlina berkata:

    MENINGKATKAN PERHATIAN BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL
    BY. LILI HERLINA. SP.d

    LATAR BELAKANG MASALAH
    Perhatian dan Minat Siswa dalam Pembelajaran
    Adalah sesuatu yang sulit (kalaupun tidak disebut mustahil) kalau kita berharap bahwa siswa duduk rapi dengan penuh perhatian serta keseriusan mereka menyimak apa yang disampaikan oleh kita di depan kelas. Hal yang sulit pula kita menginginkan bahwa siswa memiliki selalu berada dalam kondisi tertarik terhadap mata pelajaran yang disampaikan guru.
    Setiap individu siswa memiliki pengaruh yang berbeda terhadap reaksi, respon dan minat mereka terhadap mata pelajaran. Pengaruh itu bisa datang dari diri siswa, misalnya karena ia berangka ke rumahnya dengan membawa serta masalah di rumah ke ruang kelas, bertengkar dengan teman, dimarahi orangtua, kekesalan akibat macet, dan luapan-luapan semosi lainnya yang tidak tersalurkan. Akibatnya ini secara langsung maupun tidak langsung akan berimbas kepada minat mereka dalam mengikuti pelajaran.
    Di sisi lain, minat mereka juga dipengaruhi oleh kondisi fisik siswa. Banyak diantara siswa harus membantu orangtuanya bangun jam 02.00 dini hari, kemudian membantu orangtuanya berjualan di pasar, dan baru selesai pada pukul setengah enam pagi. Ketika mereka sampai disekolah, kondisi fitnya sudah berkurang karena kelelahan dan sebagainya. Ada pula siswa yang begadang semalaman karena nonton sepakbola, film atau kegiatan lainnya, sehingga ketika bagun pagi mereka masih merasakan ngantuk yang sangat, hingga terus terasa ketika berada di ruang kelas.
    Semua itu adalah problem yang mau tidak mau harus dihadapi oleh guru. Pada akhirnya, kreatifitas guru dalam membangkitkan dan membangun minat siswa adalah hal yang sangat menentukan.
    Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran / pelatihan.
    Sedangkan menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Kemudian menurut National Education Associaton(1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.

  4. Anah berkata:

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1. Latar Belakang Masalah
    Strategi Belajar Mengajar yang diterapkan oleh setiap guru sangat berpengaruh terhadap pencapaian keberhasilan proses pembelajaran, sehingga setiap guru harus mampu menerapkan strategi belajar mengajar yang terbaik dan seesuai dengan keadaan siswa. Apalagi didukung oleh motivasi belajar siswa yang tinggi, sudah barang tentu akan lebih mengoptimalkan pencapaian keberhasilannya. Begitu pula dengan peran media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran, akan sangat merangsang tumbuhnya motivasi siswa untuk belajar.
    Untuk menciptakan situasi tersebut perlu adanya konsep pembelajaran yang mengarah pada pembelajaran aktif (Active Learning) sebagaimana konsep menurut Melvin L. Silberman yang diterjemahkan oleh Komaruddin Hidayat (2009). Konsep pembelajaran aktif ini lebih menekankan pada pengembangan berbagai dimensi kecerdasan peserta didik dengan konsep pembelajaran yang menyenangkan.
    Proses pembelajaran aktif diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dan mengurangi setiap permasalahan-permasalahan yang selalu dirasakan oleh para siswa dan guru dalam proses belajar mengajar. Setiap permasalahan yang terjadi di setiap kelas dalam proses pembelajaran dapat mempengaruhi kemampuan dan motivasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari indikator masalah sebagai berikut :
    1. Kurangnya media pembelajaran Bahasa Inggris yang dimiliki sekolah sehingga guru sulit mengembangkan strategi pembelajaran melalui penggunaan media pembelajaran.
    2. Guru banyak menggunakan metode ceramah dalam proses belajar mengajar.
    3. Buku perpustakaan sekolah belum terkelola dengan baik, sehingga perpustakaan sekolah tidak dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.
    Dengan adanya masalah-masalah tersebut di atas, maka berdasarkan hasil pengamatan sementara, terlihat dalam proses belajar mengajar terdapat indikator masalah yang dialami oleh siswa adalah sebagai berikut:
    1. Kurangnya minat siswa terhadap pengajaran Bahasa Inggris.
    2. Siswa tidak aktif dalam proses belajar mengajar
    3. Tidak terjadinya pembelajaran yang menyenangkan.
    4. Tidak terdapat pembelajaran yang kreatif.
    5. Kurangnya kemampuan siswa dalam mengikuti mata pelajaran Bahasa Inggris, seperti kemampuan dalam speaking, listening, reading dan writing.
    Hal tersebut berbanding terbalik dengan kondisi yang diharapkan. Sehingga perlu adanya daya fikir dan kreatifitas guru untuk dapat mengorganisir kelas. Salah satunya denngan menarik perhatian siswa melalui penggunaan media pembelajran. Salah satu media yang paling mudah diperoleh dam murah, serta dapat digunakan dimana saja adalah penggunaan media berupa Kartu. Hal ini diharapkan dapat menciptakan kondisi belajaar mengajar yang menyenangkan, karena diharpkan dengan dilibatkannya siswa dalam proses pembelajaran, akan memunculkan rasa ingin tahu dan merasa peran mereka dibutuhkan dalam proses belajar mengajar tersebut. Motivasi yang muncul tersebut akan sangat besar pengaruhnya dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
    1.2. Rumusan Masalah
    Minimnya penggunaan Media pembelajaran masih dialami oleh sebagian besar guru. Hal ini memberikan efek buruk terhadap siswa yang masih memiliki motivasi belajar yang rendah.
    Berdasarkan deskripsi di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
    “Apakah penggunaan Media Pembelajaran Kartu dapat meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas VII A SMP Negeri I Cigugur .

    1.3. Pemecahan Masalah
    Dalam penelitian ini, untuk memecahkan masalah kurangnya motivasi belajar siswa, penulis lebih menitikberatkan pada penggunaan media Kartu. Penggunaan Media Pembelajaran Kartu diharapkan dapat meningkatkan efektivitas belajar mengajar khususnya peningkatkan motivasi belajar siswa.

    1.4. Hipotesis Penelitian
    Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
    “Dengan menggunakan Media Pembelajaran Kartu dapat meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas VII A SMP Negeri 1 Cigugur.”

    1 .4. Tujuan Penelitia
    Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk “Mengetahui penggunaan Media Pembelajaran Kartu dapat meningkatkan Motivasi Belajar Siswa.

    1.5. Manfaat Penelitian
    Adapun manfaat dari penyusunan laporan penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :
    1. Bagi Siswa
    a) Untuk meningkatkan minat & bakat siswa pada pelajaran Bahasa Inggris.
    b) Agar siswa lebih aktif, interaktif dan menyenangkan dalam proses pembelajaran.
    c) Agar siswa belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual.
    d) Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan.
    2. Bagi Guru
    Agar dalam proses belajar mengajar, guru harus :
    a) Mau berusaha memanfaatkan media pembelajaran yang ada semaksimal mungkin.
    b) Peran guru mengalami perubahan ke arah yang positif
    c) Selalu menerapkan metode pembelajaran dan melengkapi media pembelajaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
    3. Bagi Sekolah
    a) Meningkatkan prestasi sekolah terutama pada mata pelajaran Bahasa Inggris.
    b) Meningkatkan kinerja sekolah melalui profesionalisme guru.
    c) Meningkatkan kualitas pembelajaran.

    • Yaneu Medianeu berkata:

      BAB I
      PENDAHULUAN
      A. LATAR BELAKANG
      Kurikulum bahasa Inggris KTSP dan suplemennya menekankan keterampilan membaca ( reading ) pada pembelajaran bahasa Inggris di SMP ( kurikulum KTSP ). Oleh karena itu kegiatan pembelajaran bahasa Inggris di kelas banyak di pokuskan pada keterampilan membaca ( reading ) sementara itu keterampilan lainnya keterampilan berbicara ( speaking ) tidak banyak mendapatkan perhatian.
      Kondisi yang demikian ini terjadi di sekolah peneliti di SMPN 1 Kadugede Pembelajaran bahasa Inggris banyak di pokuskan pada reading karena Reading banyak medominasi pada soal-soal ulangan, baik ulangan bersama maupun UN.
      Di sisi lain penguasaan seseorang terhadap bahasa Inggris sebagai bahasa amat penting. Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah orang yang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa asing atau bahasa kedua akan melebihi julmlah penutur aslinya ( Melvia A Hasman, 2000 ).
      Melihat peluang itu dan memperhatikan keberadaan sekolah peneliti ada di daerah, tidak ada pilihan lain bahwa keterampilan berbicara siswa harus ditingkatkan. Mengapa keterampilan berbicara? Dari keempat keterampilan bahasa ( Menyimak, Berbicara, Membaca dan Menulis ) keterampilan berbicara dalam bahasa inggris sangat dibutuhkan dalam menghadapi era globalisasi .
      Guna meningkatkan kemampuan berbicara dalam bahasa inggris siswa SMP Negeri 1 Kadugede, peneliti menggunakan Role play sebagai bentuk kegiatan pembelajaran bahasa inggris di kelas.
      Dalam Role Play siswa di perlukan sebagai subjek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa ( bertanya dan menjawab dalam bahasa Inggris ) bersama teman temannya dalam situasi tertentu.
      Dalam uraian diatas peneliti mencoba merumuskan masalah, yaitu :
      Bagaimana mengembangkan materi dan strategi pembelajaran bahasa inggris melalui Role Play, guna meningkatkan keterampilan berbicara bahasa inggris siwa-siswa SMP Negeri 1 Kadugede?
      Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan materi dan strategi pembelajaran bahasa inggris melalui Role Play guna meningkatkan keterampilan berbicara siswa SMP Negeri 1 Kadugede.
      B. RUMUSAN MASALAH
      Dari latar belakang tersebut dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
      1. Bagaimana suasana belajar siswa dalam pembelajaran bahasa inggris dengan menggunakan Role Play.
      2. Bagaimana ketertarikan siswa terhadap pembelajaranbahasa inggris melalkui Role Play.
      3. Adakah pengaruh dalam peningkatan keterampilan berbicara melaluipembelajaran Role Play ?
      C. Tujuan Penelitian
      Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah :
      1. Membangun suasana belajar menyenangkan, dengan pembelajaran bahasa inggris melalui Role Play.
      2. Meningkatakan ketertarikan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran bahasa oingrris melalui Role Play.
      3. Adanya peningkatan keterampilan berbicara melalui pembelajaran Role play.
      D. Mamfaat Hasil Penelitian
      Penelitian ini bermamfaat bagi siswa, guru maupun sekolah,
      1. Mamfaat bagi siswa
      Hasil penelitian ini diharapkan bermamfaat bagi siswa besemangat dalam mengikuti proses pembelajaran lelalui Role Play dan menghasilkan prestasi lebih baik dari sebelumnya.
      2. Mamfaat bagi guru
      Dengan dilakasanakan penelitian ini guru secara bertahap, dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang bervariasi yang dapat memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran dikelas sehingga permasalahan yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran dapat diatasi. Disamping itu dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas, masalah yang di hadapi akan sangat membantu bagi perbaikan pembelajaran sefta profesionalisme guru yang bersangkutan.
      3. Mamfaat bagi sekolah
      Hasil penelitian ini diharapkan memberi sumbangan yang bermamfaat bagi sekolah, terutama alam rangka perbaikan pembelajaran sehingga meningkatakan mutu pendidikan.

  5. lili herlina berkata:

    B. Identifikasi Masalah
    Siswa kurang konsentrasi ketika guru menerangkan terutama yang duduk dibelakang. Sehingga kalau guru bertanya murid tidak dapat meresponnya
    C. Perumusan Masalah
    Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah penelitian adalah :
    – Apakah dalam menggunakan Media Audio Visual dapat meningkatkan konsentrasi siswa dalam belajar

    D. Alternatif Pemecahan Masalah

    Untuk mengatasi masalah yang terjadi penulis memilih Media Audio Visual untuk memotivasi siswa dalam meningkatkan perhatian ketika guru menerangkan karena Audio Visual akan lebih jelas dan menarik bagi siswa

    E. Hipotesis Tindakan

    Dengan menggunakan Media Audio Visual dapat meningkatkan perhatian siswa dalam belajar. Siswa dapat lebih konsentrasi ketika guru menerangkan karena dengan Audio Visual lebih jelas dan menarik.

    F. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    – Untuk mengetahui peningkatan perhatian siswa dalam belajar dikelas
    – Untuk mengetahui peningkatan perhatian siswa dalam belajar setelah menggunakan Media Audio Visual
    G. Kajian Teori
    Posisi media pembelajaran. Oleh karena proses pembelajaran merupakan proses komunikasi dan berlangsung dalam suatu sistem, maka media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung secara optimal. Media pembelajaran adalah komponen integral dari sistem pembelajaran
    Dari pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
    Menurut Edgar Dale, dalam dunia pendidikan, penggunaan media pembelajaran seringkali menggunakan prinsip Kerucut Pengalaman, yang membutuhkan media seperti buku teks, bahan belajar yang dibuat oleh guru dan “audio-visual”.
    Ada beberapa jenis media pembelajaran, diantaranya :
    1. Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
    2. Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
    3. Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
    4. Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.
    Pada hakikatnya bukan media pembelajaran itu sendiri yang menentukan hasil belajar. Ternyata keberhasilan menggunakan media pembelajaran dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar tergantung pada (1) isi pesan, (2) cara menjelaskan pesan, dan (3) karakteristik penerima pesan. Dengan demikian dalam memilih dan menggunakan media, perlu diperhatikan ketiga faktor tersebut. Apabila ketiga faktor tersebut mampu disampaikan dalam media pembelajaran tentunya akan memberikan hasil yang maksimal.
    Tujuan menggunakan media pembelajaran :
    Ada beberapa tujuan menggunakan media pembelajaran, diantaranya yaitu :
    – mempermudah proses belajar-mengajar
    – meningkatkan efisiensi belajar-mengajar
    – menjaga relevansi dengan tujuan belajar
    – membantu konsentrasi mahasiswa
    – Menurut Gagne : Komponen sumber belajar yang dapat merangsang siswa untuk belajar
    – Menurut Briggs : Wahana fisik yang mengandung materi instruksional
    – Menurut Schramm : Teknologi pembawa informasi atau pesan instruksional
    – Menurut Y. Miarso : Segala sesuatu yang dapat merangsang proses belajar siswa
    Tidak diragukan lagi bahwa semua media itu perlu dalam pembelajaran. Kalau sampai hari ini masih ada guru yang belum menggunakan media, itu hanya perlu satu hal yaitu perubahan sikap. Dalam memilih media pembelajaran, perlu disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi masing-masing. Dengan perkataan lain, media yang terbaik adalah media yang ada. Terserah kepada guru bagaimana ia dapat mengembangkannya secara tepat dilihat dari isi, penjelasan pesan dan karakteristik siswa untuk menentukan media pembelajaran tersebut.

  6. taufik berkata:

    PROPOSAL PTK
    Judul :
    UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR DI KELAS IX A SMP NEGERI 1 NUSAHERANG

    Bidang Kajian :
    Media Pembelajaran Bahasa Inggris

    I. Latar Belakang
    Kemampuan berbahasa Inggris merupakan suatu kebutuhan dan keharusan di era komunikasi dan globalisasi sekarang ini. Pelajaran Bahasa Inggris di SMP berfungsi sebagai alat pengembangan diri siswa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Setelah menamatkan studi, mereka diharapkan dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang mandiri, cerdas, terampil dan berkepribadian, siap ikut serta dalam pembangunan nasional. Pengajaran Bahasa Inggris di SMP meliputi empat kemampuan berbahasa yaitu : menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Semua itu harus didukung oleh unsur-unsur bahasa lainnya yaitu : Kosa kata, Tata Bahasa, dan pronunciation sesuai dengan tema sebagai alat tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Dari ke empat keterampilan berbahasa tersebut diatas, pembelajaran keterampilan berbicara (Speaking) ternyata kurang dapat berjalan sebagaimana mestinya.
    Kemampuan berbicara siswa Kelas IX A SMP Negeri 1 Nusaherang pada umumnya masih rendah, mungkin hal ini disebabkan beberapa faktor. Faktor yang pertama siswa masih rendah dalam penguasaan kosakata. Sehingga hal ini mengakibatkan siswa tidak bisa memahami apa yang disampaikan oleh guru dan sulit untuk mengomentari atau menanggapi apa yang dikatakan oleh guru. Faktor yang kedua karena rendahnya pengetahuan siswa dalam struktur bahasa, hal ini mengakibatkan siswa kesulitan untuk menyampaikan gagasan. Faktor yang ketiga adalah keberanian siswa untuk berbicara dalam bahasa inggris masih kurang. Sehingga yang terjadi didalam kelas hanya gurulah yang lebih dominan dalam pebelajaran.
    Diantara beberapa faktor yang melatarbelakangi kemampuan siswa dalam berbicara adalah penguasaan kosa kata. Pada kesempatan ini penulis akan mencoba untuk mengatasi permasalahan dengan menggunakan media gambar. Dengan menggunakan media gambar minimal siswa dapat memahami maksud yang terdapat pada gambar tersebut.

    II. Identifikasi Masalah
    a. Pembelajaran masih didominasi oleh guru
    b. Rendahnya kosakata yang dimiliki oleh siswa berdampak pada kemampuan berbicara dan hasil belajarpun menunjukkan angka di bawah angka KKM
    c. Minat belajar siswa kurang akibat siswa kurang memahami materi yang disampaikan guru.

    III. Perumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang permasalahan, yang merupakan kondisi nyata dalam proses pembelajaran adalah kurangnya kemampuan siswa untuk memahami apa yang disampaikan guru sehingga secara otomatis kebanyakan siswa memilih untuk bersikap diam. Untuk mengatasi hal seperti ini penulis mencoba merumuskan masalah yang diajukan sebagai proposal penelitian dengan judul “Apakah penggunaan media gambar dapat meningkatkan kemapuan berbicara siswa kelas IX A SMP Negeri 1 Nusaherang?”

    IV. Alternatif Pemecahan Masalah
    Untuk mengatasi permasalahan rendahnya kemampuan siswa dalam berbicara, penulis mencoba untuk memilih alternatif pemecahan dengan menggunakan media pembelajaran sebagai bahan yang akan digunakan dalam penelitian.

    V. Hipotesis Tindakan
    Dengan menggunakan media gambar diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas IX A SMP Negeri 1 Nusaherang dan prestasi belajar bahasa Inggris ikut meningkat.

    VI. Tujuan Penelitian
    Dengan menggunakan media gambar dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas IX A SMP Negeri 1 Nusaherang

    VII. Manfaat Penelitian
    A. Bagi Guru
    1. Menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran.
    2. Membantu memperbaiki / meningkatkan proses dan hasil belajar.
    3. Membantu meningkatkan kualitas profesionalisme guru sebagai pendidik.
    B. Bagi Siswa
    1. Meningkatkan kemampuan berbicara siswa terutama dalam memahami dan merespon makna teks lisan.
    2. Meningkatkan rasa senang dan motivasi belajar.
    3. Meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam belajar bahasa asing.
    4. Meningkatkan kompetensi komunikatif dan prestasi belajar Bahasa Inggris.
    5. Meningkatkan aktifitas, kreatifitas, dan hasil belajar siswa.
    C. Bagi Sekolah
    Melalui penggunaan media gambar diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa Inggris dan dapat meningkatkan prestasi akademik sekolah.

    VIII. Kajian Teori
    A. Media Gambar
    B Media Pembelajaran Bahasa
    B. Kosakat

  7. Yaneu Medianeu berkata:

    PTK Bahasa Inggris SMP.
    Posted by noer al khosim on 07:10 in PTKsmp | 2 komentar
    I. JUDUL
    UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOSA KATA UNTUK MENGUNGKAPKAN MAKNA DALAM BENTUK ESEI PENDEK BERBENTUK PROCEDURE DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN MIND MAPPING DI KELAS VII SMP NEGERI 1 KUNINGAN

    II. BIDANG KAJIAN
    Model Pembelajaran Bahasa Inggris

    III. PENDAHULUAN

    Latar Belakang

    Kemampuan berbahasa Inggris merupakan suatu kebutuhan dan keharusan di era komunikasi dan globalisasi sekarang ini. Pelajaran Bahasa Inggris di SMP berfungsi sebagai alat pengembangan diri siswa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Setelah menamatkan studi, mereka diharapkan dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang mandiri, cerdas, terampil dan berkepribadian siap ikut serta dalam pembangunan nasional.
    Pengajaran Bahasa Inggris di SMP meliputi empat kemampuan berbahasa yaitu : Menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Semua itu harus didukung oleh unsur unsur bahasa lainnya yaitu : Kosa kata, Tata Bahasa, dan Pronuonciation sesuai dengan tema sebagai alat tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Dari ke empat keterampilan berbahasa tersebut diatas, pembelajaran keterampilan Membaca ( Reading) ternyata kurang dapat berjalan sebagaimana mestinya. Kemampuan mengungkapkan dan merespon makna dalam bentuk esei pendek sederhana secara akurat, lancar, dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari hari dalam teks berbentuk procedure dan report adalah salah satu Kompetensi Dasar (KD) yang harus dikuasai oleh siswa Kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP).
    Pembelajaran mengungkapkan dan merespon makna dalam bentuk esei pendek sederhana secara akurat, lancar, dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari hari dalam teks berbentuk procedure dan report telah penulis lakukan secara klasikal. Dalam pembelajaran tersebut penulis menjelaskan materi pokok yang terdapat dalam indicator sebagai berikut :
    a. Mengidentifikasi makna gagasan dalam teks berbentuk procedure.
    b. Mengidentifikasi berbagai informasi yang terdapat dalam teks berbentuk procedure.
    Siswa disuruh membaca teks esei pendek berbentuk procedure kemudian mereka menterjemahkannya. Selanjutnya siswa mengidentifikasi dan mencari makna gagasan dan informasi yang terdapat dalam teks berbentuk procedure tersebut. Hasil pembelajaran tersebut ternyata dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dari hasil refleksi penulis diperoleh data bahwa selama proses pembelajaran siswa sangat pasif dan mengeluh serta munculnya rasa tidak percaya diri. Mereka sangat kesulitan mngerjakan tugas tugasnya. Jelas, pembelajaran ini sangat tidak epektif atau dengan kata lain pembelajaran tersebut tidak berhasil (Gagal). Uraian tersebut diatas merupakan kegagalan terhadap hasil dan proses belajar. Kegagalan tersebut merupakan masalah yang harus diatasi. Untuk mengatasi kegagalan pembelajaran tersebut diatas, penulis berusaha mencari solusi yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dalam hal ini seorang guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam mencari satu teknik pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi kelas. Prinsip PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) harus dilaksanakan.
    Guru bukan lagi merupakan sosok yang ditakuti dan bukan pula sosok otoriter, tetapi Guru harus bisa menjadi seorang fasilitator dan motor yang mampu memfasilitasi dan menggerakan siswa untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang mereka butuhkan. Berdasarkan pengalaman penulis, penulis berhipotesis bahwa teknik belajar (teori belajar) Kontruktivisme sangatlah tepat kalau dipakai dalam pembelajaran ini. Penulis mencoba menggunakan model pembelajaran Mind Mapping. Oleh karena itu, penulis mencoba merencanakan melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul, “Upaya meningkatkan kemampuan kosa kata siswa untuk mengungkapkan makna dalam bentuk esei pendek berbentuk procedure dengan menggunakan model pembelajaran Mind Mapping di Kelas VII SMPN1 Kadugede

    IV. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH

    Perumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut diatas maka penulis telah merumuskan permasalahan yang diajukan dalam proposal ini adalah : “Apakah melalui Model pembelajaran Mind Mapping dapat meningkatkan kemampuan kosa kata siswa dalam memahami dan merespon makna teks esei pendek berbentuk procedure di kelas VII SMP Negeri 1 Kadugede

    V. TUJUAN PENELITIAN

    Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagi berikut :
    1. Meningkatkan kemampuan kosa kata siswa dalam merespon makna teks esei pendek berbentuk procedure.
    2. Mengembangkan strategi pembelajaran dan model pembelajaran yang efektif, efisien, dan menyenangkan.
    3. Siswa dapat melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan komunikasi dengan mengungkapkan ide, gagasan, pendapat dan perasaannya secara sederhana baik lisan ataupun tulisan.

    VI. MANFAAT HASIL PENELITIAN
    A. Bagi Guru
    1. Mengembangkan model pembelajaran yang efektif, efisien, dan yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris untuk meningkatkan kompetensi komunikatif mereka.
    2. Membantu memperbaiki / meningkatkan proses dan hasil belajar mengajar.
    3. Membantu meningkatkan kualitas profesionalisme guru sebagai pendidik.
    4. Membantu dalam penyusunan karya ilmiah yang merupakan salah satu syarat kenaikan pangkat dari golongan IVa ke jenjang berikutnya.
    5. Membantu dalam penyusunan karya ilmiah untuk dijadikan penilaian guna mendapatkan tunjangan sertifikasi guru/pendidik.

    B. Bagi Siswa
    1. Meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami dan merespon makna dalam esei pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa lisan dan tulisan secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari hari dalam teks berbentuk procedure.
    2. Meningkatkan rasa senang dan motivasi belajar.
    3. Meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam berkomunikasi.
    4. Meningkatkan kompetensi komunikatif dan prestasi belajar Bahasa Inggris.
    5. Meningkatkan keaktifan, kreatifitas, dan hasil belajar siswa yang lebih tinggi.

    C. Bagi Sekolah
    Melalui Model pembelajaran Mind Mapping membantu memperbaiki pembelajaran Bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Kadugede

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s