Artikel Ilmiah


PENULISAN ARTIKEL ILMIAH mgmp matematka ciawi 7 des 2013

6 Balasan ke Artikel Ilmiah

  1. Puji berkata:

    JUDUL : UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS IX A SMPN 1 CIPICUNG DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL di smp kuningan….

    • Dr. Uhar Suharsaputra berkata:

      sy menyarankan agar pilih salah satu antara motivasi atau hasil belajar, ini dimaksudkan untuk menghindari tidak paralelnya peningkatan motivasi dan hasil belajar…dan sebaiknya tempat dimana ptk dilakukan ditempatkan di akhir dalam judul….sukses selalu buat Temanku Puji………

  2. COOPERATIVE LEARNING TIPE CIRC BERBASIS PENEMUAN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN DALAM MENYELESAIAN SOAL CERITA SISWA KELAS IX SMP

    Disusun oleh:
    1. Hilda Sandrayanti, S.Pd
    2. Tia Deni,S. S.PdI

    Abstrak
    Penilitan tindakan kelas melalui metode cooperative learning tipe CIRC berbasis penemuan dimaksudkan dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Penelitian ini dilakukan dengan 3 siklus, hasil penelitian ini pada akhir siklus III didapat angka pencapaian nilai rata-rata UH sebesar 69,00 (naik sebesar 26 atau 37,68 % dari pra-siklus dan termasuk dalam kriteria baik sekali), angka pencapaian prosentase perolehan skor keterampilan berpikir dalam pembelajaran 0,079 dan termasuk dalam kriteria baik. bahwa keterampilan siswa dalam pembelajaran mengalami peningkatan. Sehingga peneliti menyarankan kepada guru matematika pada khususnya untuk melaksanakan Cooperative Learning agar kemampuan siswa dapat ditingkatkan melalui pengembangan pengetahuan prosedural dan deklaratif serta belajar secara kooperatif.

    Kata kunci: cooperative learning

    PENDAHULUAN

    Berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis dalam mengajar matematika selama ini, siswa kurang memahami materi yang diajarkan guru dan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika. Pengalaman juga menunjukkan bahwa hasil belajar siswa belum memuaskan. Hal ini dapat dilihat diantaranya dari nilai ulangan harian pada materi pokok sebelum dilaksanakan penelitian (pra-siklus). Dimana jumlah siswa yang mencapai tingkat ketuntasan belajar baru 37,5 % dari 40 siswa. Dan rata-rata nilai ulangan hariannya sebesar 43.
    Gejala-gejala yang tampak pada saat proses belajar antara lain: kemampuan menganalisa dan menyelesaikan soal rendah, siswa kurang terampil berpikir dan cenderung suka mencontoh, siswa belum mampu berfikir kritis dan sistematis. Akibatnya jika diberikan soal-soal yang agak berbeda sedikit dengan contoh yang diberikan, mereka tidak mampu menyelesaikannya. Hal ini disebabkan siswa belajar hanya dengan mengingat fakta, dan kurang memahami konsep yang dipelajari.
    Selanjutnya melalui sebuah diskusi dengan teman sejawat, penulis mencoba mengidentifikasikan masalah sebagai berikut: bahwa mungkin rendahnya hasil belajar matematika disebabkan karena (1) pendekatan pembelajaran yang diberikan kurang sesuai, (2) metode mengajarnya kurang bervariasi, (3) keterampilan berpikir siswa kurang maksimal (4) teknik penilaian tidak sesuai sehingga perkembangan kemampuan siswa kurang terukur, (5) pemanfaatan lingkungan/alat peraga kurang , dan dukungan belajar dari orang tua dan masyarakat rendah. Mengingat masalah di atas jika tidak diselesaikan akan berakibat munculnya masalah-masalah yang baru seperti siswa akan semakin kesulitan menerima materi pada kelas berikutnya, peluang tidak lulus setelah ujian dan siswa semakin kurang memaknai dan menyenangi pelajaran matematika.
    Selanjutnya penulis mencoba akan meneliti apakah tindakan kelas dengan menerapkan model Cooperative Learning tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composation) dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa. Maka model Cooperative Learning tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) berbasis penemuan perlu diimplementasikan di SMP guna meningkatkan ketrampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Cooperative Learning di dalamnya ada Learning Society yang cocok untuk meningkatkan aktivitas kegiatan belajar. Dalam Learning Society ini, guru dapat menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif untuk saling bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan dalam kelompoknya. CIRC berbasis penemuan merupakan model pembelajaran yang tepat untuk melatih siswa berfikir tinggi. Menurut Chuck W. Wiederhold (2002:6), higher-level thinking student is concerned with problem finding or inquiry as well as problem solving. Higher-level thinking involves the aplication multiple criteria, and evaluating the possible benefits of a variety of solution passing through inquiry in contextual problems. Dengan demikian, permasalahan dalam penelitian ini layak untuk dipecahkan melalui Penelitian Tindaka Kelas dengan menerapkan model pembelajaran CIRC berbasis penemuan/ inquiry.

    METODE PENELITIAN
    Setting Penelitian
    Penelitian in dilakukan di kelas IX SMP 1 Kalimanggis tahun pelajaran 2011-2012. Sekolah ini berada di Jl. Raya Kalimanggis, Kecamatan Kalimanggis, Kabupaten Kuningan. Jumlah siswa yang ada di kelas IX E ini 40 orang siswa, 20 orang perempuan dan 20 orang laki-laki. Pelaksanaan penelitian ini mulai 3-24 November 2011.

    Prosedur Penelitian
    Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus. Setiap siklusnya memiliki 4 tahapan. Yaitu (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3) Pengamatan, dan (4) Refleksi. Dan terdiri dari 2 kali pertemuan yang masing-masing pertemuan hanya 2 jam pelajaran.
    Focus penelitian ini akan mengacu pada pola kerja cooperative learning tipe CIRC pada pembelajaran Matematika yakni: (a) Salah satu anggota kelompok membaca atau beberapa anggota saling membaca soal ceria tersebut, (b) Membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita, termasuk menemukan dan menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, adan memisalkan apa yang ditanyakan dengan suatu variable tertentu, (c) Saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita, (d) Menemukan dan menuliskan penyelesaian soal ceritanya secara urut (menuliskan urutan komposisi penyelesaiannya), (e) Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (jika ada yang perlu direvisi), dan (f) Ketua menyerahkan hasil tugas kelompok kepada guru. Yang akan di jadikan penilaian hasil belajar siswa.

    PEMBAHASAN

    Dari hasil observasi yang di lakukan dalam 3 siklus pada pembelajaran soal cerita matematika yang menggunakan cooperative learning tipe CIRC telah meningkatkan keterampilan dalam menyelesaikan soal cerita. Hasil belajar yang sebelumnya mencapai tingkat ketuntasan belajar baru 37,5 % dari 40 siswa berdasarkan rata-rata nilai ulangan hariannya sebesar 43. Selain itu hasil penelitian pada akhir siklus III didapat angka pencapaian nilai rata-rata UH sebesar 69,00 (naik sebesar 26 atau 37,68 % dari pra-siklus dan termasuk dalam kriteria baik sekali), angka pencapaian prosentase perolehan skor keterampilan berpikir dalam pembelajaran 0,079 dan termasuk dalam kriteria baik.

    KESIMPULAN DAN SARAN

    Berdasarkan uraian hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa (1) melalui Cooperative Learning tipe CIRC dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas IX SMP N 1 Kalimanggis dalam menyelesaikan soal-soal cerita. (2) melalui Cooperative Learning tipe CIRC dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX SMP N 1 Kalimanggis dalam menyelesaikan soal-soal cerita.
    Beberapa saran yang diberikan peneliti adalah(1) Guru matematika harus dapat mengemas proses pembelajaran yang menyenangkan namun tetap menantang.(2) Guru harus kreatif, inovatif dan selalu meningkatkan profesionalisnya.(3) Salah satu inovasi proses pembelajaran dalam rangka mengoptimalkan hasil belajar matematika dan meningkatkan keterampilan siswa adalah dengan menerapkan tipe CIRC dalam pembelajaran.

    DAFTAR PUSTAKA
    Abdurrahman As’ari. 2005. Pemecahan masalah matematika – Pembelajaran dan Asesmennya. Makalah disajikan dalam Seminar Pendidikan di SBI Madania Bogor.
    Amin Suyitno dan Isnaeni Rosyida. 2002. Pembelajaran RME ( Realistic Mahtematies Education ) sebagai langkah inovasi Pendidikan Matematika dan Implementasinya di SMP. Laporan Penelitian Dosen Muda. Semarang : Universitas Negeri Semarang.
    Amin Suyitno, 2001. Meminimalkan Kesalahan Mengerjakan Soal pada siswa kelas VIII SMP 9 Semarang Melalui Model Pembelajaran Problem Posing. Laporan Penelitian Program ASD. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

  3. Hasil penelitian dan Pembahasan sebelum kesimpulan baru memuat hasil saja, dan hasil juga sebaiknya dalam bentuk yang menggambarkan perubahan untuk setiap siklus, kemudian baru dibahas dengan menganalisis dari hasil tersebut per siklus, sehingga tergambar refleksi untuk setiap siklus sebelum melakukan siklus berikutnya. secara umum ok, abstrak cukup memadai, cuma kata kunci perlu ditambah dengan konsep2 penting dalam penelitian tersebut……sukses buat Ibu Hilda dan Ibu Tia…

  4. JUNAEDI, S.Pd.I berkata:

    UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA
    DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKAPADA MATERI STATISTIK DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL
    (Penelitian Tindakan Kelas pada siswa kelas IX SMP Al – Barokah)
    Oleh : Drs. Panut Alhusni & Junaedi, S. Pd. I
    ABSTRAK
    Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana aktivitas siswa ketika pembelajaran matematika pada materi statistik dengan pendekatan kontekstual dilaksanakan, mengetahui apakah motivasi belajar siswa berkembang setelah pendekatan kontekstual dilaksanakan, mengetahui hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika pada materi statistik setelah pendekatan kontekstual dilaksanakan.Penelitian ini menggunakan metoda penelitian tindakan kelas (PTK) dengan subyek penelitian adalah siswa kelas XI SMP Al – Barokah Kertawana Instrumen penelitian berupa : bahan ajar, tes formatif, ulangan harian, format observasi dan angket.Hasil penelitian
    Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontektual dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika pada materi statistik, sehingga peneliti mengajukan saran agar pendekatan kontekstual dapat digunakan sebagai salah satu alternativ dalam pembelajaran matematika.
    KATA KUNCI : Motivasi dan hasil belajar siswa, pendekatan kontekstual.

    PENDAHULUAN

    Latar Belakang Masalah
    Pendekatan kontekstual merupakan pembelajaran yang dimulai dengan membuat skenario pembelajaran yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Seperti yang diungkapkan Sagala (2003:87) bahwa “Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari”.
    Belajar dapat diartikan sebagai kegiatan aktif siswa dalam membangun makna tentang materi bahan belajar yang disajikan oleh guru. Suatu proses akan berjalan secara alami melalui tahap demi tahap menuju ke arah yang lebih baik. Perubahan hasil belajar dapat dilihat dari berbagai aspek baik kognitif, afektif, maupun psikomotor.
    Seseorang dapat dikatakan belajar apabila dia dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan sebelumnya, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti dan sebagainya. Ini berarti tujuan suatu kegiatan belajar adalah mencapai perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut aspek pengetahuan, keterampilan, maupun aspek sikap. Slamento (1995:2) mengemukakan bahwa: “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interkasi dengan lingkungan”.
    Mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangung sendiri pengetahuannya. Setiap guru harus menguasai serta terampil melaksanakan mengajar.
    Pengertian mengajar sekarang ini yang banyak diungkapkan oleh para ahli, mengajar menunjukkan aktivitas siswa sebagai subjek yang mengalami peubahan dalam proses belajar. Dalam hal ini, guru harus dapat membawa perubahan tingkah laku siswa ke arah yang lebih baik. Seseorang guru mempunyai peran sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik. Maka tekanan diletakkan pada siswa yang belajar dan bukan pada disiplin ataupun guru yang mengajar. Jadi melihat hal tersebut, mengajar merupakan proses membelajarkan siswa. Dalam proses pembelajaran, baik guru maupun siswa bersama-sama menjadi pelaku terlaksananya tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran ini akan mencapai hasil maksimal apabila pembelajaran berjalan secara efektif.
    Nurhadi (2002:1) berpendapat bahwa “Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat”. Dengan demikian, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Ini berarti guru lebih memfokuskan diri pada metoda dan strategi pembelajaran pada saat membantu siswanya dalam belajar dan tidak terlalu mendominasi kegiatan belajar dengan mentransfer informasi kepada siswa.
    Prinsip utama yang melandasi pembelajaran kontekstual adalah faham konstruktivisme, yang mengkondisikan adanya proses konstruksi konsep pada diri siswa. Pengetahuan bukanlah sekedar fakta-fakta, konsep, atau hukum yang perlu ditemukan. Manusia menciptakan atau mengkonstruk pengetahuan di saat mereka berusaha memaknai pengalamannya. Menurut Nurhadi (2002:10) pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen utama, yaitu:
    a .Konstruktivisme (Constructivism)
    Konstruktivisme merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
    b. Menemukan (Inquiry)
    Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri
    c .Bertanya (Questioning)
    Bertanya adalah cerminan dalam kondisi berfikir. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Masyarakat Belajar (Learning Community)
    Konsep masyarakat belakar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain, dari dalam kelas, sekitar kelas, di luar kelas, di lingkungan rumah atau di luar sana. Guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar, agar siswa membentuk masyarakat belajar untuk saling berbagi, membantu, mendukung dan menghargai.

    d. Pemodelan (Modeling)
    Pemodelan akan lebih mengefektifkan pelaksanaan pendekatan kontekstual untuk ditiru, diadaptasi, atau dimodifikasi.
    e . Refleksi (Reflection)
    Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang diterima.
    f. Penilaian Sebenarnya (Authentic Assesment)
    Pembelajaran matematika yang selama ini biasanya dilaksanakan dengan berpusat pada hasil akhir, pada pembelajaran kontekstual hal tersebut tidak berlaku lagi. Karena penilaian yang sebenarnya menekankan pada proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melalui proses pembelajaran.
    Motivasi adalah dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia termasuk perilaku belajar. Kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar dikatakan motivasi belajar. Dengan kata lain kekuatan mental akan menyebabkan berapa banyak seseorang terdorong untuk belajar. Hal-hal yang terkandung dalam motivasi adalah adanya keinginan, harapan, tujuan dan kebutuhan. Unsur-unsuer yang mempengaruhi motivasi belajar pada setiap siswa adalah:
    Unsur cita-cita
    Kemampuan siswa
    Kondisi siswa baik secara fisik maupun mental
    Kondisi lingkungan berupa lingkungan tempat tinggal, pergaulan
    Sebaya dan pergaulan masyarakat
    Hasil belajar adalah keberhasilan perubahan tingkah laku siswa setelah terjadinya proses belajar mengajar. Hasil penilaian tidak hanya bermanfaat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional, dalam hal ini perubahan tingkah laku siswa, tetapi juga sebagai umpan balik bagi upaya memperbaiki proses belajar mengajar. Menurut Sudjana (1989:3) “Penilaian proses belajar adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran”.
    Salah satu komponen yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran adalah AJEL (Aktive, Joyful adn Efective Learning). AJEL sangat populer dipadankan dengan istilah PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). PAKEM menciptakan suatu lingkungan belajar yang lebih melengkapi peserta didik dengan keterampilan-keterampilan, pengetahuan dan sikap bagi kehidupannya kelak. Aktif diartikan peserra didik maupun guru berinterkasi untuk menunjang pembelajaran.Guru harus menciptakan suasana sehingga peserta didik aktif bertanya, memberikan tanggapan, mengungkapakan ide dan mendemontrasikan gagasan atau idenya. Dengan memberikan kesempatan peserta didik aktif akan mendorong kreatifitas peserta didik dalam belajar maupun memecahkan masalah. Kreatif diartikan guru memberikan variasi dalam kegiatan belajar mengajar dan membuat alat bantu belajar, bahkan menciptakan tehnik-tehnik mengajar tertentu sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik dan tujuan belajarnya.
    Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji efektifitas pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual melalui penelitian tindakan kelas. Secara khusus, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
    Mengetahui peningkatan aktivitas siswa ketika pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual dilaksanakan.
    Untuk meningkatkan apakah motivasi belajar siswa berkembang setelah pendekatan kontekstual dilaksanakan.
    Untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika setelah pendekatan kontekstual dilaksanakan.
    Adapun manfaat dari penelitian ini diantaranya :
    Bagi penulis, penelitian ini dapat memberikan gambaran yang jelas tentang pengaruh pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual sehinggadapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
    Bagi sekolah, dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran, terutama dalam pembelajaran matematika.
    Bagi siswa, untuk meningkatkan motivasi belajar sehingga siswa memiliki hasil belajar yang baik.
    METODE PENELITIAN
    Setting Penelitian.
    Penelitian ini dilakukan di SMP Al – Barokah Kertawana Kabupaten Kuningan tahun pelajaran 2012-2013. Sekolah ini berada di desa Kertawana Kecamatan Kalimanggis Kabupaten Kuningan. Adapun yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX yang berjumlah 36 orang siswa, 12 orang laki-laki dan 24 orang perempuan.Pelaksanaan penelitian mulai tanggal 5 – 20 November 2012.
    Prosedur penelitian
    Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 siklus, tiap siklus terdiri dari 1 pertemuan, dan tiap pertemuan berjumlah 2 jam pelajaran. Adapun skema prosedur Penelitian Tindakan Kelas yang digunakan adalah skema prosedur PTK menurut Suherman (2001 : 6) yaitu sebagai berikut

    Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
    Tes
    Tes dilakukan setiap akhir pembelajaran satu sub pokok bahasan (tes formatif) dan pada akhir pembelajaran satu pokok bahasan (tes sub sumatif). Tes ini dilakukan untuk mengetahui tingkat penguasaan atau daya serap siswa terhadap materi pelajaran yang disajikan dalam proses pembelajaran.
    Observasi / Angket
    Lembar observasi angket ini adalah untuk mengobservasi aktifitas siswa dan mengetahui motivasi belajar siswa dan sikap siswa.
    Setelah data terkumpul dari hasil penelitian, selanjutnya dilakukan analisis data.
    Teknik menganalisis data tes formatif dan tes sub sumatif dilakukan dengan rumus:
    Daya Serap Siswa (DSS)=(Skor yang diperoleh ×100%)/(Skor Ideal)
    Siswa dikatakan tuntas belajarnya apabila DSS > 70%
    Daya Serap Kelas (DSK)=(Skor yang diperoleh ×100%)/(Seluruh Siswa)
    Suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya apabila DSK > 70%
    Nilai Rata-rata=(Skor yang diperoleh ×100%)/(Seluruh Siswa)
    Data hasil observasi aktivitas siswa dihitung dengan menjumlahkan aktivitas yang muncul, untuk setiap aktivitas yang muncul dipresentasikan.

    HASIL PENELITIAN

    Dari data tes akhir pembelajaran dan ulangan harian dilakukan analisis deskriftif yang bertujuan untuk memperoleh gambarantentang prestasi belajar siswa, daya seraf dan ketuntasan belajar tiap individu maupun klasikal.berdasarkan rumus persentase daya serap dan ketuntasan belajar, untuk daya serap siswa sama dengan skor yang diperoleh dibagi skor ideal dikalikan 100%. Siswa dikatakan tuntas apabila daya serap siswa lebih besar sama dengan 70%, sedangkan untuk daya serap kelas sama dengan jumlah siswa yang memperoleh nilai lebih besar sama dengan 70% dibagi dengan jumlah seluruh siswa dikalikan 100%. Untuk memperoleh data angket yaitu skor yang diperoleh dibagi skor keseluruhan dikalikan 100%
    Rekapitulasi Hasil Tes Formatif dan Ulangan Harian
    No Pembelajaran Nilai rata-rata kelas Daya serap kelas(%) Ketuntasan belajar kelas (%)
    1.
    2.
    3.
    4.
    5. I
    II
    III
    IV
    V 60,23
    68,70
    72,18
    75,35
    79,38 60,23
    68,70
    72,18
    75,35
    79,38 37,50
    60,00
    72,50
    85,00
    87,50

    Setelah pembelajaran keempat dilaksanakan, kemudian siswa diberi gaftar isian berupa angket untuk mengetahui pendapat siswa terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan. Data yang diperoleh ditabulasikan dan dihitung frekuensinya. Adapun data perolehan angket dapat dilihat pada tabel berikut ini.
    Rangkuman Data Hasil Angket

    Nomor Pernyataan Frekuensi Jawaban Siswa Jumlah Skor Rata-rata
    SS S TS STS
    Positif
    2 23 12 0 0 163 4,657
    3 18 17 0 0 158 4,514
    4 18 17 0 0 158 4,514
    7 13 20 2 0 149 4,257
    11 13 15 6 1 138 3,943
    13 19 15 0 2 156 4,457
    17 18 16 1 0 161 4,600
    19 26 9 0 0 166 4,743
    Negatif
    1 0 2 22 11 147 4,200
    5 1 1 20 13 148 4,229
    6 0 1 20 14 152 4,343
    8 2 6 19 8 130 3,714
    9 2 1 20 12 144 4,114
    10 1 8 18 8 129 3,686
    12 0 2 16 17 173 4,943
    14 2 3 22 8 136 3,886
    15 3 11 16 5 114 3,257
    16 0 2 11 23 163 4,657
    18 2 3 25 5 133 3,800
    20 1 3 15 16 147 4,200
    Jumlah Skor 2.965
    Rata-rata 4,236
    Kategori Positif
    Aktifitas siswa selama pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual sangat bervariasi. Jika dilihat dari pembelajaran pertama sampai dengan pembelajaran keempat partisipasi siswa semakin baik. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.
    Rekapitulasi Hasil Observasi

    Nomor. Pembelajaran Observasi (%)
    1 I 60
    2 II 70
    3 III 80
    4 IV 90

    PEMBAHASAN
    Berdasarkan hasil tes formatif dan ulangan harian rata-rata kelas pada pembelajaran pertama adalah 60,23 daya serap kelas 60,23% ketuntasan belajar kelas 37,50%. Pada pembelajaran kedua nilai rata-rata kelas sebesar 68,70, daya serap kelas 68,70%, ketuntasan belajar kelas 60,00%. Pada pembelajaran ketiga nilai rata-rata kelas sebesar 72,18, daya serap kelas 72,18%, ketuntasan belajar kelas 72,50%. Pada pembelajaran keempat nilai rata-rata kelas sebesar 75,35, daya serap kelas 75,35%, ketuntasan belajar kelas 85,00%.Dan ulangan harian yaitu pada pembelajaran kelima nilai rata-rata kelas sebesar 79,38, daya serap kelas 79,38%, ketuntasan belajar kelas 87,50%.
    Berdasarkan hasil tersebut nilai rata-rata kelas, daya serap kelas dan ketuntasan belajar kelas dari pembelajaran kesatu sampai dengan pembelajaran kelima mengalami peningkatan. Ini menunjukan bahwa penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
    Dari tabel rangkuman data hasil angket dapat dilihat bahwa siswa berpendapat positif terhadap penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika pada materi statistic, ini terbukti dengan banyaknya siswa yang menyatakan sangt setuju dan setuju pada semua pernyataan positif dan tidak setuju pada pernyataan negative. Dari tabel rekapitulasi hasil observasi, pada pebbelajaran pertama persentase observasi adalah 60 % menunjukan bahwa siswa terlihat belim siap mengikuti pembelajaran karena belum terbiasa. Keberanian siswa dalam memberikan ide, menyanggah pendapat, menafsirkan persoalan, membuat kesimpulan dan mempresentasikan hasil belajarnya di kelas terlihat masih kurang.Pada pembelajaran kedua presentase observasi sebesar 70 %, selama pembelajaran berlangsung, partisipasi siswa lebih baik dari pertemuan pertama, siswa mulai terbiasa bekerja sama dengan kelompoknya dan terlihat lbih aktif dan mulai berani berbicara didepan kelasdalam mempresentasikan hasil belajarnya. Pada pembelajaran ketiga persentase observasi meningkat menjadi 80 %. Selama pembelajaran partisipasi siswa sangat baik dan banyak siswa yang lebih berani mengemukakan pendapatnya. Dan pada pembelajaran keempat persentase observasi adalah 90 %. Selama pembelajaran partisipasi siswa semakin aktif, dan siswa mulai terbiasa dengan model pembelajaran kontekstual ini. Berdasarkan hasil observasi ini penerapan pendekatan kontekstual dapat menciptakan kondisi siswa aktif dengan kata lain penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
    KESIMPULAN
    Simpulan
    Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil pengolahan data selama penelitian yang meliputi analisis pengamatan siswa, analisis angket dan analisis ketuntasan belajar dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika pada materi statistic dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan :
    Hasil observasi, aktivitas siswa pada pelaksanaan siklus I 70%, siklus II 90%, Aktivitas siswa mengalami peningkatan.
    Setelah angket diberikan kepada siswa ternyata pendapat siswa positif terhadap dilaksanakannya pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika pada materi statistik.
    hasil tes formatif dan ulangan harian rata-rata kelas. Pada siklus I nilai rata-rata kelas sebesar 72,18, daya serap kelas 72,18%, ketuntasan belajar kelas 72,50%. Pada siklus II nilai rata-rata kelas sebesar 75,35, daya serap kelas 75,35%, ketuntasan belajar kelas 85,00%.Dan ulangan harian nilai rata-rata kelas sebesar 79,38, daya serap kelas 79,38%, ketuntasan belajar kelas 87,50%, maka hasil belajar siswa meningkat.
    Saran.
    Dari hasil penelitian penulis mengajukan saran dalam pelaksanaan pembelajaran matematika di sekolah sebagai berikut :
    Untuk praktisi pendidikan, agar pendekatan kontekstual dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran matematika pada materi statistik.
    Untuk siswa bisa mendapat wawasan yang lebih dalam pembelajaran agar pembelajaran yang dipelajari bias lebih mengaktifkan siswa dan lebih banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    DAPTAR PUSTAKA
    Kusumah Y.S (2004). Beberapa Pendekatan dan Model dalam Pembelajaran Matematika,Seminar Jurusan Pendidikan Matematika. Bandung :

    Margono S. (2000). Metodelogi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta

    Nurhedi (2000). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning / CTL). Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional

    Rustana. C.E (2000), Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual. Jakarta : Depdiknas

    Rusyan T, Kusdinar A, dan Arifin Z. (1989). Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Karya Offset

  5. bagus dan cukup menggambarkan keseluruhan hasil penelitian dalam konteks penulisan artikel ilmiah… sukses selalu yaaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s