Al Ghazali tentang Pendidikan 

Nama lengkapnya adalah  Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i, lahir di kota Thus Prsia pada tahun ; 1058M/450H  dan meninggal  tahun 1111M/505H;  pada usia 52–53 tahun). Dia adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan. Seorang Ulama, Filsuf sekaligus seorang Sufi yg menjadi tonggak kebangkitan ilmu ilmu Islam ketika mengalami keredupan. Beliau mulai menuntut ilmu sejak masa kecilnya yaitu Ilmu Fiqih kepada Al-Imam Ahmad Bin Muhammad Ar-Rodhakoni di kota Baghdad, lalu Al-ghazali melanjutkan studinya ke negara Jurjan, beliau belajar kepada Al-Imam Abi Nashr Al-isma’ili, Kemudian Al-Ghazali melanjutkan studinya ke Kota Naysabur untuk menimba ilmu kepada Al-Imam Al-Haromain Mufti Kota Mekkah dan Madinah. Dia  disekolahkan di Madrasah Nidzomiyah di Baghdad, Iraq. Setelah Al-Ghazali mengusai segala bidang ilmu, baik dalam Ilmu Fiqih, ilmu Jidal (debat ilmiah), Ilmu Ushul dan Filsafat. Dalam perkembangan intelektualnya, akhirnya Al-Ghazali memilih jalan Shufi, dan kemudian Dia menuju ke negara Syam untuk ‘Uzlah (menjauh dari hiruk pikuk) serta Kholwah (menyendiri) di Menara Masjid. Sebelumnya Dia merupakan akhli argumen dlm berdebat, Dia selalu mensalami sudut pandang temsn debatnya sehingga mampu melakukan, mengemukakan argumen tepat valud dan dipercata fihak yg berdiskusi. Pada suatu saat  Nidhomul Mulk mengumpulkan para ahli ilmu dan semua para Ulama’  untuk berdiskusi, berdebat serta berusaha untuk memusuhi Al-Ghazali. Namun Setelah Al-Ghazali menjelaskan ilmunya yang didapatkan dari Guru-Gurunya, akhirnya semua Ulama’ mengerti keutamaan Al-Ghazali. Hingga akhirnya Al-Ghazali diperintahkan pergi ke Madrasah Nidhomiyah di Baghdad pada Tahun 484 Hijriyah dan diangkat sebagai pendidik/Guru dan mengajar di sana, hingga semua orang terheran dengan kepiawaian Al-Ghazali dalam mengajar dan berargumen, serta mempunyai keutamaan yang indah dan fasih lisannya hingga semua orang mencitainya.

Dalam praktek pendidikan, pengajaran yg dilakukan menekankan pentingnya melatih hafalan (terus memperkuat daya ingat) sebagai fondasi berargumen, disamping metode rasa serta amalan yg dapat meningkatkan kedekatan dg Tuhan setelah beliau menjadi sufi.  Terkait dg pentingnya menghafal (di luar kepala) ini berhubungan dg pengalaman beliau sewaktu masih jadi pelajar yg dpt dikisahkan (hendy irawan) sbb:  Setelah bertahun-tahun belajar,  Al-Ghazali pulang ke kampung halamannya. Dia  menyusun dan mengumpulkan catatan-catatannya, lalu ikut kafilah yang akan pergi ke kampungnya. Ditengah jalan, kafilah itu dihadang oleh segorombolan perampok. Mereka mengambil setiap barang yang dijumpai. Pada giliran barang-barang bawaan Al-Ghazali, ia berkata kepada perampok tersebut, “Kalian boleh ambil semua barang-barangku, tapi tolong jangan kalian ambil yang satu ini. Gerombolan perampok tersebut menduga bahwa pasti itu adalah barang-barang yang bernilai. Secepat kilat mereka merebut dan membukanya. Mereka tidak melihat apa-apa kecuali setumpukan kertas-kertas yang hitam. “Hai anak muda (Al Ghazali), apa ini? Untuk apa kau menyimpannya? tanya para perampok itu. “Itulah barang-barang yang tidak akan berguna bagi kalian, tapi berguna bagiku,” jawab Al-Ghazali. “Apa gunanya?”, “Ini adalah hasil pelajaranku selama beberapa tahun,” jawab Al-ghazali. “Jika kalian merampasnya dariku, maka ilmuku akan habis, dan usahaku yang bertahun-tahun itu akan sia-sia. “mengapa engkau begitu ingin melindungi buku itu?” tanya sang pemimpin perampok. “karena buku ini adalah buku satu-satunya yang mencatat sebuah ilmu yang sangat penting…” jawab Al-Ghazali. “Hanya yang ada dalam lembaran-lembaran inikah ilmumu?” tanya salah seorang perampok “, Ya, “ jawab Al-Ghazali. Perampok itu melanjutkan, “Bagaimana menurutmu seandainya semua buku pelajaranmu ini ku ambil? maka sudah pasti kamu berpikir bahwa kamu akan menjadi orang bodoh. Karena kamu masih mengandalkan buku dan catatan. Pelajaran seharusnya di simpan di kepala bukan di dalam buku. Kalau memang begitu penting, mengapa tidak kau ajari orang lain tentang ilmu tersebut? bukankah kalau buku ini terbakar habis, maka hilanglah ilmu yang kau anggap penting itu? Ketahuilah wahai anak muda, Ilmu yang disimpan dalam bungkusan dan yang dapat dicuri, sebenarnya bukanlah ilmu. Pikirkanlah nasib dirimu baik-baik.”Kemudian para perampok itu pergi meninggalkan Al-Ghazali yang sedang memunguti kitab-kitab dan buku catatannya sambil merenungi cemoohan kepala perampok tersebut. Semua ucapan perampok tersebut yang nadanya mencemooh bagi Al-Ghazali justru merupakan nasehat penting dan hikmah serta berkah yang tak ternilai harganya. Sejak peristiwa itu Al-Ghazali semakin rajin menghafal. Satu persatu pelajaran yang asalnya merupakan tulisan kini telah pindah dan tertanam dalam otak dan hati sanubari Al-Ghazali. Al-Ghazali berkata, “Sebaik-baik nasehat yang membimbing kehidupan intelektualitasku adalah nasehat yang kudengar dari mulut seorang perampok.”
Penguasan ilmu pengetahuan yg mendalam dan mudah diretrieve (diambil kembali) karena hafal, menjadi fondasi dlm berbagai debat, diskusi dan mengembangkan wacana keilmyan dan keislaman dalam masyarakat yg sunfai aliean ajaran telah makin jauh sehingga banyak sungai2 kecil tg mempengaruhi kejernihan air sungainta dg berbabagai ajaran yg bersifat ilmiah seperti filsafat, golongan batiniah, golongan ahli ilmu kalam, bahkan golongan sufi/mistik. Dalam kondisi demikuan Al Ghazali mendalaminya, kemudian mengkritisinya berbagai kesesatan di dalam ajaran2 nya, dan untuk itu dia menulis buku kecil berjudul “Al Munqidzu min Al dhollal” (pembebas dari kesesatan), adapun buku terkenalnya yg Dia susun adalah “Ihya Ulumuddin” (Menghidupkan kembali Ilnu ilmu Agama), sebuah buku yg anat berpengaruh pada kehidupan intelektual dan amal keuslaman sampai sekarang. Al-Ghazali merupakan salah satu tokoh Muslim yang pemikirannya sangat luas (dlm terminologi sekarang Kmenguasai dan memahami berbagai disiplin ilmu, generalis dan ensiklopedis) dan masalah pendidikan mrrupakan aspek saja diri ilmu (Hudan) kehidupan yg untuk kebahagian (Dunya wal akhirah) manusia di dalamnya, Rasul Muhammad saw di utus mengajari, mendakwahi agar manusia mengikuti jalan Tuhan. Pada hakikatnya pendidikan menurut Al-Ghazali adalah dengan mengutamakan perwujudan secara utuh dan terpadu manusia sebagai mekhluk Tuhan yg dikembangkan mulai dari kandungan sampai mati (ini sejalan dg hadist Utlubul ilma minal mahdi ila allahdi).
Pendidikan terjadi sepanjang hayat, sejalan dg kewajiman manusia menuntut ilmu, dan pendudikan aapun haruslah menjada cara untuk makin raqorrub ila Allah (mendekatkan duri pada Allah swt). Oleh karenanya, Pendidikan merupakan proses pembimbingan  manusia sejak masa kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah sehingga menjadi manusia sempurna. Dengan demikian  pendidikan adalah membentuk manusia shalih dan sholihah, yakni manusia yang mempunyai kemampuan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada Allah dan kewajiban-kewajibannya kepada manusia sebagai hamba-Nya. Dalam prises tersebut peran pendidik  (Orang tua, masyarakat, ulama) amat menentukan, Mereka  perlu memahami tingkat perkembangan  murid (Anak), serra harus berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan, dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan Khaliq-Nya. Tugas ini didasarkan pada pandangan bahwa manusia merupakan makhluk yang mulia. Kesempurnaan manusia terletak pada kesucian hatinya. Untuk itu pendidik dalam perspektif Islam melaksanakan proses pendidikan hendaknya diarahkan pada aspek tazkiyah an-nafs. Dusamping itu Seorang pendidik dituntut memiliki beberapa sifat keutamaan yang menjadi kepribadiannya: 1) Sabar, 2) penyayang, 3) Sopan dan santun, 4) tidak sombong,  5) tawadlu, 6) mampu berargumen secara tepat dan benar.
Kepribadian Guru tsb menunjukan suatu perhatian penting dlm pendidikan, pengajaran, karena mereka itu menjadi corong, atau transformator ilmu pengetahuan bagi para pencari, penuntut ilmu (murid). Untuk itu posisi, peran dan tugas pendidik sanga penting, serta substansi ilmu pengetahuan yg disampaikannya juga menjadi menentukan bagi kebaikan murid sekaligus kebaikan hidup manusia. Berikut pernyataan Al Ghazali: “Sebaik baik makhluk di atas bumi adalah manusia, dan sebaik baik bagian tubuh manusia adalah hati. Sedang guru berusaha untuk menyempurnakan, membersihkan dan mengarahkan untuk mendekatkan diri pada Allah azza wajalla. Maka mengajarkan ilmu adalah salah satu bentuk ibadah dan termasuk memenuhi tugas kekhalifahan di bumi, bahkan yg paling utama”. (IHYA ULUMUDDIN)”. “Kesempurnaan manusia terletak pada pendekatan dirinya pd Allah Swt. Itu hanya bisa dilakukan lewat ilmu pengetahuan. Maka bila ilmunya makin banyak dan makin sempurna, berarti ia lebih dekat dg Allah dan lebih mendekati sifat Malaikan. (FATIHAT AL ULUM). demikian pulihan pernyataan Al Ghazali, yg sebenarnya bantak sekali tersebar dlm berbagai kitab/buku yg dutulisnya, yg menekankan pentingnya Guru dan Ilmu dalam kehidupan manusia, termasuk dlm mendidik dan mengajar.
Pendidikan, pengajaran merupakan suatu interaksi antara pendidik, pengajar, ilmu dan peserta didik, murid. Hubungan pendidik/guru dg ilmu tercermin dari penguasaan, pemahaman dan pengembangan akan ilmunya.  Hubungan murid dg ilmu tercermin dari penguasaan, pengingatan, dan penerapannya. Hubungan Pendidik/guru dg murid terlihat dari pembimbingan, pengarahan, pemberdayaan, penghormatan dan perubahan pd fihak peserta didik/murid, serta peningkatan pada fihak pendidik. Apapun kondisi dan situasinya pendudikan esensinya adalah human relation yg bersifat edukatif, keberhasilannya tebtu tak hanya ditentukab oleh kepribadian guru, namun juga oleh prilaku dan adab peserta didik, murid dalam mengikuti peroses pendidikan, pembelajaran. Dlm konteks inilah Al Ghazali memandang penting pada etika, akhlaq murid dlm mengikuti mengalami pendidikan (belajar). Al-Ghazali berpandangan bahwa terdapat hal-hal yang harus dipenuhi murid tugas dan kewajiban dalam proses pendidikan (belajar mengajar): 1) Mendahulukan kesucian jiwa. 2).Bersedia merantau untuk mencari ilmu pengetahuan. 3) Jangan menyombongkan ilmunya dan menentang guru. 4) Mengetahui kedudukan ilmu pengetahuan. 5) Peserta didik hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a)Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub ila Allah, sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik senantiasa mensucikan jiwanya dengan akhlaq al-karimah (Q.S. Al-An’am: 162, Adz Dzaariyaat:56). b) Mengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrawi (Q.S. Adh Dhuhaa:4). c) Bersikap tawadhu’ (rendah hati). d)Menjaga pikiran & pertentangan yang timbul dari berbagai aliran. e) Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji, untuk ukhrawi dan duniawi. f) Belajar dengan bertahap atau berjenjang, dimulai pelajaran yang mudah (konkret) menuju pelajaran yang sukar (abstrak) atau dari ilmu fardlu ‘ain menuju ilmu fardlu kifayah (QS Al-Fath:9). g) Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga anak didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam. h) Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi. i) Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu yang dapat bermanfaat yang dapat membahagiakan, mensejahterakan serta memberi keselamatan hidup dunia akhirat.
Dlm proses pendidikan, pembelajaran, kedudukan ilmu sangat menentukan bagi keberhasilan pendidikan, baik bagi pendidik/guru maupun murid, karena kemampuan penguasaan ilmu lah dg pemanfaatan anugrah akal, yg menjadi pembeda manusia dg makhluk lainnya. Al Ghazali tidak hanya bicara ilmu diniyah namun juga ilmu lain yg bermanfaat bagi pelaksanaan tugas kekhalifahan di muka bumi, hanya ada penekanan prioritas pd ilmu agama sebagai sarat utama pengabdian, ibadah pd Allah swt, karena untuk itulah manusia dan jin diciptakan (wama kholaqtu al jinna wa al insana ila li ya’buduun). Dalam konteks itu, maka perlakuan pd ilmu (interaksi dg ilmu) haruslah dilakukan dg hormat dan tawadhu, karena Belajar itu merupakan proses jiwa yang menuntut konsentrasi, oleh karena itu murid perlu memusatkan fikiran dan perhatiannya terhadap ilmu yang sedang dikaji, disamping tentunya Harus mengetahui nilai dan tujuan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya, serta dapat dipraktekkan dengan dan dlm akhlaqul karimah. Dlm pandangan Ghazali menuntut, belajar, mengajar ilmu bukanlah untuk sembarang ilmu, karena Ilmu mempunyai nilai dan muatan/konten yang bebeda-beda, begitu pula tujuannya, ada yang sangat penting, kurang penting dan tidak penting.
Apa  yang diajarkan tentu harus dilihat substantif  ontologinya dan fungsional kontennya secara epistemologis dan axiologis, yang terarah bagi kebaikan di dunia dan akherat (Fiddunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah). Al Ghazali membagi ilmu dalam beberapa perspektif, dilihat dari substansi kebermanfaatannya dibagi ke dalam 3 kategori: 1) Ilmu yang tercela (al madzmum)  ialah ilmu yang tidak ada manfaatnya baik sedikit maupun banyak, untuk kehidupan yg baik di dunia maupun akhirat dan terkadang hanya membawa mudharat bagi orang yang memilikinya, maupun bagi orang lain, seperti sihir, nujum, ramalan. 2) Ilmu yang terpuji ialah ilmu, baik sedikit maupun banyak, dsn semakin banyak semakin baik, yang pantas untuk dipelajari (al-mahmud), ilmu-ilmu yang erat kaitannya dengan peribadatan dan macam-macamnya. 3) Ilmu terpuji dalam kadar tertentu atau sedikit, dan tercela jika mempelajarinya secara mendalam, seperti ilmu logika, filsafat, ilahiyyat dan lain-lain. Dari ketiga kelompok ilmu tersebut, Al-Ghazali membagi lagi menjadi dua bagian yang dilihat dari kepentingan dan tanggung jawabnya, yaitu: 1) Ilmu fardhu ain, yg harus diketahui oleh semua Muslim, yaitu ilmu agama terutama ttg peribadatan. 2) Ilmu fardhu kifayah yang dipelajari oleh sebagian Muslim untuk memudahkan urusan duniawi, seperti: ilmu hitung, kedokteran, teknik, ilmu pertanian dan industri.
Disamping berfikir ttg pendidikan dalam makna umum, Al Ghazali juga sangat memahami ttg pendidikan Anak2 sebagai fondasi bagi pendidikan selanjutnya, sehingga pada saat seorang muridnya hendak meninggalkan tempat belajarnya, dan meminta nasihat, Beliau menuliskannya dlm kitab kecil yg berjudul “AYYUHA AL WALAD” (Wahai Anak). Dia mengawali nasihatnya dengan kalimat yang sangat indah. Ia memanggil muridnya dengan panggilan penuh simpati dan kasih sayang serta mendoakannya: “Wahai ananda tercinta. Se moga Allah memanjangkan usiamu agar bisa mematuhi-Nya. Semoga pula Allah memudahkanmu dalam menempuh jalan orang-orang yang dicintai-Nya”. Selama berabad-abad, Kitab Ayyuhal Walad karya Imam al-Ghazali dikenal sebagai salah satu kitab penting dalam pendidikan anak dan pendidikan jiwa manusia. Al-Ghazali hidup pada saat dunia Islam diuji dengan ‘Perang Salib’, dimana peran penting  dari para ulama dalam melahirkan generasi Shalahuddin (Shalahuddin Al Ayubi), yg kemudian berhasil membebaskan JERUSALEM. Itu semua diawali dengan pembenahan kon sep keilmuan dan pendidikan, yg antara lain dikembangkan oleh Al Ghazali. (Dr. Majid Irsan al-Kilani, “Hakadza Dhahara Jilu Shalahuddin wa-Hakadza ‘Adat al-Quds”).
Pendidikan anak merupakan fondasi penting bagi berkembangnya berbagai kemampuan dan potensi2 yg dimiliki anak sebagai anugrah Tuhan. Al-Ghazali (dalan Ihya Ulumu Addin)  menulis satu bab khusus tentang pendidikan anak dg judul “Bayânu Tharîq fi Riyâdhat al-Shibyân fî Awwali Nasy’ihim wa Ta’dîbihim wa Tahsîni Akhlâkihim” (Penjelasan metode/cara melatih anak pada masa pertumbuhan, mendidiknya dan memperbaiki akhlaknya), yg mengingatkan pentingnya pendidikan anak: “Ketahuilah! Sesungguhnya metode pendidikan anak merupakan hal yang paling penting dan paling ditekankan. Anak-anak itu adalah amanah bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang suci merupakan permata yang paling berharga, belum terukir dan terbentuk. Ia menerima setiap bentuk ukiran dan cenderung kepada setiap hal yang digiring kepadanya. Jika dibiasakan yang baik, dan diajarkan kebaikan maka ia akan tumbuh menjadi baik dan bahagia di dunia dan akhirat. Ayahnya, gurunya dan setiap orang yang mendidiknya juga akan mendapatkan pahala. Akan tetapi bila dibiasakan dg keburukan, dan dibiarkan seperti binatang maka ia akan celaka dan binasa. Dan dosanya ditanggung oleh orangtuanya”.  Selanjutnya Dia memberikan metode pendidikan anak yg dapat dikemukakan sbb: 1) orangtua (Sekolah) wajib mendidik anak-anaknya dengan adab/akhlak yang terpuji, dan dilaksanakan dg percontohan, teladan. 2) menyarankan agar  anak-anak diajarkan al-Qur’an, Hadits, dan kisah, sejarah orang2 saleh/baik, disamping itu  ilmu syair-syair (bahasa, sastra) yang Islami juga perlu untuk menanamkan cinta keindahan. 3) menanamkan, membiasakan  kedisiplinan yg disertai keadilan serta gunakan reward tuk memotivasi belajar anak. 4) perlunya diimbangi dg pendidikan, latihan fisik, olah raga untuk menjaga kesehatan. 5) beri waktu dan  izin anak untuk bermain setelah belajar untuk melunakan hati mereka, melarang bermain akan membuat hati anak menjadi keras dan menurunkan semangat belajar.
Lebih lanjut, Dia mengatakan bahwa Anak juga perlu dididik, diajari bagaimana pergaulan, interaksi dosial yg beretika, sopan dan santun. Dalam pergaulannya anak-anak harus dididik berbahasa yang santun, bersikap rendah hati (tawadhu’), menghormati orang yang lebih tua, mencegah dari mengambil hak orang lain, dan menanamkan dalam diri mereka bahwa kemuliaan seseorang itu ada di dalam sikap memberi kepada orang lain. Anak juga harus dididik agar tidak terlalu banyak bicara, mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, dan tidak mudah bersumpah meskipun dia benar. Adab-adab ini penting untuk diamalkan khususnya ketika mereka berhadapan dengan orangtua, guru ataupun orang lain yang lebih tua. Sementara dalan Aspek ibadah, orangtua hendaknya memperhatikan ibadah anak-anaknya, membiasakan anaknya dalam keadaan bersuci (dawâm al-thahârah), mendirikan shalat, berpuasa Ramadhan sesuai kemampuan. Pembiasaan ibadah sejak kecil ini penting untuk dilakukan agar ketika si anak dewasa dia sudah terbiasa melaksanakan perintah Allah dengan senang hati. Dalam praktek pendidikan, pembelajaran, pendidik, guru harus memahami perbedaan kemampuan anak (peserta didik), ” seorang pendidik (guru) hendaknya menyesuaikan dg kemampuan pemahaman murid. Jangan sampai mengajarkan materi pelajaran yg belum bisa dijangkau fikiran mereka. Itu akan berakibat murid akan menolak, atau terpaksa menerimanya meskipun ia tidak faham”. Bila dlm belajar terdapat prilaku yg buruk dan lambat dlm pemahaman, janganlah murid dipermalukan, “cegahlah (tegurlah) kejelekan (akhlaq) murid, sebisa mungkin dg cara sindiran, tidak secara terang2an serta dg rasa kasih sayang, tidak dg cemoohan”.
Pemikiran Al Ghazali tentang Pendidikan menunjukan suatu integrasi komprehensif dg kehidupan holostik manusia sebagai pembentuk masyarakat yg dibangun atas dasar2 keagamaan, dimana agama menjadi fondasi masyarakat etis religius, yg akan membangun manusia dng pendidikan yg juga sejalan dg masarakat yg terbangun (dibentuknya). Al Ghazali tidaklah secara tegas menjulaskan tentang pendidik yg mandiri secara profesi, namun lebih menjelaskan ulama ( tunggalnya Alim, orang yg berilmu) sebagai orang yg menjalankan tugas mendidik, mengahar, menyebarkan ilmu, dan tentunya berdakwah. Dari sini secara anatomis istilah ulama mencakup tiga unsur yakni Orang (Alim/Ulama), ilmu (materi), dan murid (artinya yg menginginkan ilmu). Oleh karena itu pendidikan selalu membicarakan karakter dan kompetensi Ulama (Pendidik, pengajar), ilmu dan keutamaannya, serta etika murid. Pendudik harus menghormati dan bersungguh sungguh dlm menguasai ilmunya, dia harus hormat, dan tawadhu terhadap ilmu, serta melihat secara moral, etika dlm menimbang kemanfaatan dan kemaslahatan ilmu. Terkait dg murid Pendidik harus memperlakukan mereka  penuh kasih sayang, jangan permalukan mereka bila ada kesalahan atau kekurangan, serta dituntut pula untuk memahami karakter para murid, agar pendidikan, pembelajaran efektif berdampak pd fikiran, sikap dan prilaku murid yg berakhlaq mulya.
Sementara itu murid harus menghormati dan tawadhu dihadapan Guru/ulama/pendidik, menghormati ilmu dan sungguh2 mempelajarinya hingga penguasaannya optimal dan dpt melekat kemanapun murid pergi dan dimanapun murid berada (dari sini bermakna bahwa “ILMU TAK BERAT DIBAWA SEBANYAK APAPUN”, klw buku/kitab pasti berat dibawa, makin banyak makin berat..implikasi nasihat Perampok pd Al Ghazali. Juga perkataan Ali Bin Abi Tholib ketika ditanya: “AYUL AFDHOLU? AL ILMU AMIL MAAL? ALI MENJAWAB : AL ILMU AFDHOLU MINAL MAAL, AL ILMU YAHRISUKA WAL MAALU TAHRISUHU/Ilmu menjagamu dan kamu menjaga harta). Dengan demikian terdapat siklus pendidikan yg membentuk TRILOGI PENDIDIKAN yaitu “–> PENDIDIK –> ILMU –> MURID –> dg posisi Ilmu paling utama karena pendidik/guru dan murid sama sama berkhidmat dan tawadlu pada ilmu, dan juga ilmu sebagai salah satu peninggi derajat, posisi manusia di mata Tuhan (Yarfaillahu alladzina amanu minkum walladzina utul ilma darojat, QS:58:11). 

Iklan
| Meninggalkan komentar

PendasKuningan

Kepada rekan rekan pendidik, mari kita terus belajar tuk mutu pendidikan yang lebih baik dari waktu ke waktu, berbagilah pengetahuan dan pengalaman untuk pencerahan bersama..silahkan tulis …. klik pada judul “PendasKuningan”

| Meninggalkan komentar

Pendidikan Islam (1)

Pendidikan merupakan khas manusia, dia ada dalam masyarakat maupun komunitas di manapun juga serta kapanpun juga, sehingga kontinyuitas peradaban manusua terus bertahan sampai sekarang, tentu dg fluktuasi yg jugaterjadi seiring dg kelahuran para rasul, para nabi yg berdampak pada tatanan sosial budaya masyarakat, kumunitas. Kehadiran Agama Islam tentu memberi warna masyarakat tidak hanya dalam prinsip keagamaan dan nubuwah, namun juga merekonstruksi susunan sosial budaya masyarakat sesuai dg ajaran Islam yag berbasis wahyu Allah. Nabi Muhammad saw, sebagai pembawa risalah melakukan dawah dlm mengajak masyarakat pada keyakinan dan ajaran Islam. Dlm konteks ini pendidikan terjadi, dimana nabi sendiri memantau ukuran keislaman masyarakat berdasar al qu’ran, ikrar sahadat, sikap tauhid dan melaksanakan ibadah menjadi indikator dari ketercapain tujuan da’wah yg tercakup dalam Iman dg komponen pengetahuan, sikap, dan prilaku keagamaan. Dlm konteks ini tujuan dawah, pendidikan bertumpu pada tujuan keagamaan. Dalam perkembangannya dari pelaksanaan person to person relation dlm pendidikan kemudian Nabi menggunakan tempat di Rumah Al Arqam di Mekkah untuk mendidik para pengikut Islam dlm upaya lebih memantapkan keyakinan keislamannya dg membacakan ayat Quran yg diwahyukan secara bertahap.

 Pada awal kelahiran Islam, Dakwah adalah Pendidikan pada masyarakat untuk mendirong pada perubahan dalam keyakinan melalui berkembangnya pengetahuan ke islaman sesuai al quran, sikap terhadap Tuhan, serta prilaku dalam beribadah pada Tuhan, dsn ini terkait dg  penciptaan Manusia tiada lain untuk Beribadah/mengabdi pada Allah. Dalam perspektif ini, secara dokrin keagamaan, maka pendidikan Islam memiliki fokus idealistik, spiritualistik, dimana perbaikan hidup manusia  dimulai dari tujuan agama serta mempersiapkan manusia hidup di masa yg sangat depan (keridhoan Allah. kehidupan bahagia di akherat, masuk surga, terhindar dari neraka), sebagai GRAND GOAL (Tujuan Utama), yg semua itu tentu dibangun dg tujuan instrumental yg menjadi tangga pencapaiannya. Oleh karena itu, Dawah  merupakan pendidikan dalam merekonstruksi masyarakat melalui perbaikan keagamaan individu, sehingga ketika individu telah kuat, mengikatnya dlm suatu komunitas akan lebih mudah dan mengokohkan bangunan keislaman dalam masyarakat. Secara perwujudan dokrin keagamaan dalam konteks sosial budaya masyarakat, pendidikan Islam adalah segala upaya dlm membimbing, mengajar, melatih manusia menuju keutamaan dlm keber-Islam-an yg berakhlaq mulya, bertakwa serta mampu mewujudkannya dalam berfikir, bersikap dan berprilaku sesuai ajaran islam yang dapat memeberi kontribusi signifikan bagi perkembangan sosial budaya masyarakat, dengan demikian maka tujuan praktis pendidikan Islam secara operasional empiris adalah Mewujudkan manusia yg beriman dan bertakwa dg berbagai karakter sesuai dan bersumber dari ajaran/Doktrin Islam.

Dalam perkembangannya, seiring dengan berkembangnya Islam ke berbagai daerah, tentu terjadi proses akulturasi dalam berbagai bidang kehidupan termasuk juga berkaitan dg format pendidikan masyarakat, yg awalnya di mesjid, atau rumah2 penduduk seperti “darul arqom”, berkembang ke arah madrasah2 dg pendidik yg khuus diberi tugas untuk itu oleh para Khalifah/Sulthan, meskipun pola2 informal tetap ada dalam bentuk Zawiyah2 (sudut2 mesjid) yg umumnya dilakukan para sufi yg biasanya di datangi murid2 dari berbagai daerah kekuasaan Islam. Dalam hal ini Islam menyikapi pertukaran budaya melalui pengkudusan (penyucian) atas budaya yang baru tuk kemufian diadopsi dan diadaptasi selama tidak dengan tegas bertentangan dg doktrin Islam (Quran dan sunnah Nabi). Terdapat perbedaan dlm materi pendifikan, ada yg fokus pada tarekat dan membimbing muridnya mencapai Tuhan dg Tarekat tertentu, ini yg dilakukan para sufi dg Zawiyah2 nya, ada yg gokus pada tata cara ibadah dg pendalaman fikih, ada yg mendalami ketuhsnan Theologi, ada yg mendalami filsafat serta menghubungkannya dg dokrin islam serta berbagai ketangkasan yg dipandang perlu dlm menegakkan dan mendawahkan Islam, yg jelas semua terpusat pd pendidikan agama dan keagamaan. Kondisi ini juga berimplikasi pada kecenderungan penggunaan istilah yg terkait dg Pendidikan yg terdapat dalam doktrin Islam. Terdapat beberapa istilah yg penting yg dpt juga jadi dasar pengklasifikasian model pendidikan Islam yaitu. TARBIYAH; TA’LIM; TADRIS; TAHDIB; dan TA’DIB. Meskipun dlm konteks Pendidikan di Indonesia Penggunaan Kata TARBIYAH lebih menonjol dalam dunia akademik, seperti Fakultas Tarbiyah, Sekolah Tinggi Tarbiyah Islamiyah, namun pemahaman istilah2 tsb tetap penting untuk jadi dasar frame of reference dalam melihat Pendidikan Islam dan Filosofinya di Indonesia.

Beberapa istilah di atas sering dikaitkan dg istilah Pendidikan/Education. Education itu sendiri berasal dari bhs Latin Educere yang artinya memasukan sesuatu, yg dimaknai maksudnya memasukan ilmu, nilsi, sikap dan prilaku pada fihak/orang lain. Dlm bahasa indonesia education umumnya diartikan Pendidikan sebagai belajar terbimbing yg tentu didalamnya ada upaya Pemasukan atau penanaman hal2 tertentu (nilai, pengetahuan, sikap, ketrampilan) pada peserta didik/orang lain. Dalam bahasa Arab dg konteks Doktrin Islam terdapat beberapa Kata, istilah yg bisa bermakna atau dimaknai paralel dg pendidikan/education yg tak jarang dg dasar argumen tertentu, meskipun keumuman yg bisa dipandang konvensi, lebih dominan dlm penggunaannya. Berikut ini akan dikemukakan makna masing2nya:

1. TARBIYAH. Berasal dari tiga kata kerja yg berbeda: raba; rabiya; rabba yg artinya berkembang; tumbuh, memperbaiki, mengurus, menjaga, memelihara. Dari segi istilah Tarbiyah diartikan sebagai proses pengembangan da. Bimbingan jasad, akal dan jiwa peserta didik (mutarabbi) untuk mencapai kedewasaan dan mandiri untuk hidup di mastarakat (Ath Thabari), sementara Athiyah Abrasi mengartikan Tarbiyah sebagai upaya menyiapkan individu dengan berbagai media agar memanfaatkan bakat dan minatnya, dan hidup dg sempurna dlm masyarakat tempat dia berada, serta meliputi aspek jasmani, akal, akhlak, sisial, emosional, dan estetika (ini bisa dipadankan dg mendidik).

2. TA’LIM. Berasal dari kata alima; allama yang artinya tahu, memberi tahu, dari kata ini juga lahir kata ilmu yg artinya mengetahui sesuatu dengan sebenarnya (idroku syai’a bi haqiqotihi). Secara istilah diartikan sebagai proses pemberitahuan sesuatu secara berulang2 sehingga muta’alimin (penerima informasi, siswa, nurid) dapat memgerti dan memahami maknanya (ini busa dipadankan dg mengajar).

3. TADRIS. Berasal dqri kata darosa yang artinya menghapus; menghilangkan; berubah. Dlm makna kiyasan (majazi) berarti membaca berulang ulang (darosa al kitaba). Secara istilah tadris dimaknai sebagai  kegiatan membaca (kitab, pengetahuan, ilmu) yg dilakukan berulang oleh mudarris (orang yg membaca, guru, Kyai, Ustadz) kepada yg mendengarkan bacaan (mutadarris, siswa, santri). Dari kata ini pula lahir kata madrasah (tempat pembacaan, sekolah, ponpes). Dlm konteks ini bisa dimaknai menghafal (membaca berulang, ngaderes istilah di sunda).

4. TAHDIB (TAHDZIB). Berasal dari kata hadaba, haddaba yg artinya memotong, membereskan, membersihkan, memurnikan. Secara istilah bermakna kegiatan yang bertujuan untuk membersihkan sesuatu yg tidak baik agar menjadi bersih, suci murni dalam itikad, hati, jiwa, dan prilaku.

5. TA’DIB. Berasal dari kata addaba, al adab yg berarti berakhlak baik, membuat orang lain berakhlak baik, secara istilah berarti proses penanaman untuk membuat akhlak seseorang menjadi baik (ber-akhlakul karimah). 

Istilah2 tersebut meskipun dlm tataran praktis lebih kuat menggunakan Tarbiyah untuk padanan Pendidikan, namun kajian2 akademis terus berlangsung, Naquib Alatas menganjurkan gunakan istilah ta’dib, yg lain menyarankan istilah ta’lim, tadris, dan juga tahdib, karena istilah Tarbiyah juga berlaku untuk hewan, tumbuhan dlm hal terkait pemeliharaan, sementara Pendidikan hanya untuk manusia, dan istilah yg lain fokus untuk manusia. Namun demikian makna Tarbiyah terus berkembang dg tetap memasukan aspek Tuhan sebagai “Rabbul Alamiin” (Tuhan pemelihara dan pengatur Alam Semesta) di dalamnya, sehingga menggambarkan betul Pendidikan (menurut) Islam, dimana dimensi ketuhanan dominan sebagai dasar dan sekaligus tujuan utama pendidikan. Istilah tarbiyah dalam arti pendidikan  memang tidak dikenal pada awal kehadiran Islam, namun dlm perkembanganntya, istilah “tarbiyah” mendapatkan pengertian konotatif dimana istilah lainnya (Ta’lim/mengajar; Tadrid/menghafal; Tahdib/mensucikan jiwa; dan Ta’dib/membangun akhlak) tercakup menjadi bagian yg terkandung di dalamnya, yg semua itu bersumber pada Doktrin Islam ttg Ketuhanan sebagai landasan dan tujuan pendidikan yaitu hidup sesuai dg perintah Tuhan untuk mendapat ridhontya dan kebaikan hidup dunia dan masa depan sekali yaitu kehidupan di akherat.

Istilah Tarbiyah dlm perkembangannya terutama di Indonesia cukup dominan terutama di dunia akademik untuk menunjukan suatu disiplin ilmu pendidikan dlm lingkungan studi keislaman, disamping istilah dirasah (darrosah, Tadris) islamiyah yg bermakna kajian keislaman. namun dlm pelaksanaan dg konteks sosial budaya, istilah Ta’lim juga populer dipergunakan terutama dlm pendidikan non formal, seperti penggunaan Istilah Majlis Ta’lim (kelompok pengajian berbasis mesjid, mushola) yg menunjukan trend meningkat dg maksud pokoknya adalah aktivitas pendalaman Ilmu/pengetahuan keislaman, meskipun secara evolutif sering dibarengi  aktivitas lainnya yg berunsur kesenangan, keriangan yg terkadang tak sejalan benar dg esensi ta’lim yg esensinya adalah pengajaran, pembelajaran, belajar hal2 terkait dg ajaran Islam.  Padahal bila mengacu pd kitab “Talimul Mutaalim wa Thiriqut taallum” yg biasa dipelajari di Pesantren2 Salafiyah, karya Syech Zarnuji, dg memdalam menjelaskan ta’lim dg berorientasi pd tazkiyatun nafsi (penyucian Jiwa) yg memiliki bobot tarbiyah dlm basis ke Tuhanan. Istilah Tarbiyah kemudian mendapat penguatan makna melalui kajian para Pakar, kata “rabba” yg menjadi asal kata tarbiyah juga terkait denga ketuhann, bahkan jika memakai “alim lam” (menunjukan bentuk marifah/tertentu) jadi Al Rabb maka itu khusus untuk Tuhan sebagai pemelihara Alam semesta, dan dari sini difahami bahwa Kata Tarbiyah untuk Pendidikan memiliki dimensi transenden, tidak sekedar pendidikan namun suatu pendidikan yg bersumber dan bertujuan pada keselarasan dengan perinrah Tuhan dalam Dokrin  Wahyunya (al Quran dan Sunnah). M Jamil Khayat (1986) dlm bukunya “al Nazariyah al Tarbiyah fi Al Islam” menggambarkan makna tabiyah secara komprehensif dan dinamis : “sesungguhnya Tarbiyah (pendidikan), dalam pemahaman yg islami, bukan merupakan sesuatu yg terpisah dari masyarakat (al mujtama’), bahkan pokok2 dan pelaksanaannya selamanya mempertimbangkan mastarakat.  Itumerupakan bagian dari proses take and give. Dengan begitu  esensi tarbiyah adalah pandangan menyeluruh dan saling terkait antara ajaran al quran dengan keterbukaan pd perkembangan iptek di masyarakat”..

| Meninggalkan komentar

ONTOLOGI PENDIDIKAN

Dinamika interaksi manusia, lingkungan, sejarah, budaya serta wahyu melahirkan berbagai pandangan tentang manusia dalam konteks kehidupan serta apa yang perlu dilakukan oleh pendidikan bagi berlangsungnya kehidupan masyarakat. Manusia seperti apakah yg perlu dibangun, dibentuk oleh pendidikan?.  Secara individual, manusia memiliki kekhasan masing2, tak kan ada yg sama, kondisi ini menjadikan setiap manusia harus mengoptimalkan dirinya dlm kapasitas alamiah yg telah dimilikinya secara kodrati, disini menjadi diri sendiri yg khas tiap orang sebagai bentuk perwujudan diri. Ini tentu perlu melihat esensi manusia dalam eksistensi kehidupannya. Secara ontologis, terdapat dua pandangan utama dalam hal ini yaitu:  1) pandangan monisme, dan 2) pandangan dualisme. Monisme memandang manusia sebagai substansi tunggal, disini ada yg memandang wujud fisiknya (material) dan ada yg memandang wujud jiwanya (mental) sedangkan pandangan dualistik memandang bahwa manusia gabungan dua wujud yakni fisik dan jiwa (material dan mental). Bagi Monisme materialistik perwujudan diri asalah diri material, dimana kebaikan hidup diukur oleh kesenangan jasadi, sehingga jika telah sampai ke sana berarti seseorang telah mekaktualisasikan dirinya. Bagi monisme spiritualistik/jiwa, perwujudan diri adalah menjadi mahluk ruhani, jiwa, dimana keluhuran budi dan jiwa sesuai ajaran2 Tuhan/ruhaniah menggambarkan tercapainya aktualisasi diri. Sementara pandangan dualistik memandang bahwa kebaikan ada dalam.keseimbangan keduanya. Ini berarti ketika pendidikan tuk menjadikan seseorang jadi dirinya sendir, diri yang mana yg dimaksudkan secara ontologis

 Pandangan2 dlm filsafat modern cenderung tak terlampau hirau dg masalah hakekat yg ada (ontologi), sebagai hal yg tak empiris dan tak bisa mutlak jadi dasar dalam pemikiran pendidikan. Disamping itu para penganut monistik juga sering mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada perubahan yg terjadi tanpa menilik aspek lainnya yg tak jadi perhatiannya. Yg berpandangan dualistik juga sering tetap berdebat tentang mana yg paling  menentukan kehidupan manusia, apakah esensi dan atau eksistensi manusia. Pemikir yg menolak metafisika (ontologi) berpandangan bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya, manusia lahir kosong dan wujudnya /eksistensinya dg pengalaman lah yg membangun esensinya sebagai manusia, tak perlu atau tak terkait dg nilai adikodrati yg dibawa dg kelahirannya ke dunia, jadi mau jadi apapun adalah lingkungan pengalaman yg membentuknya. Pemikiran seperti ini melihat nilai sebagai hal yang relatif, gak ada nilai yang perlu diwariskan karena semua dibentuk berdasarkan pengalaman eksistensial yg dijalaninya, hidup adalah keterlemparan dlm horizon waktu dan manusia memaknainya. Pendidikan dewasa ini kuat sekali dipengaruhi oleh pemikiran demikian, nilai global lah yg jadi acuan dengan sustem demokrasi, 6 literasi, 4 kompetensi, dan 6 karakter yg durumuskan dg jargon ketrampilan abad 21 yg juga jadi acuan pendidikan nasional dewasa ini. Tak satupun terkait langsung dg nilai agama araupun pancasila (kecuali kita mengkaitkannya), nah dg kondisi ini apakah tidak cukup alasan bagi bangsa untuk RISAU dg pembangunan pendidikan kita, tentu bukan tuk dihentikan tapi lebih pada bagaimana men-transformasikannya agar bermanfaat lebih signifikan bagi bangsa dan manusia Indonesia.

Pendidikan dlm efeknya yg sosial merupakan bangun bersama individu2 yg menjalani pendidikannya, namun kumpulan induvidu tak dapat serta merta jadi bangun sosial efek pendidikan, oleh karena itu pencermatan keduanya (individu dan sosial) perlu keseimbangan dalam suatu pertemuan nilai yg sejalan dlm substansinya bukan sekedar permukaan (bukan dise-suai2-kan). Perwujudan diri individu yg selalu bermuatan nilai dlm menyempurnakan potensi konstruktifnya, akan membentuk perwujudan sosial masyarakatnya jika terdapat kohesivitas sistem yg merangkumnya, disini prilaku dan kebijakan sosial masyarakat harus menjadi bagian utama dalam membangun kebaikan masyarakat. Para pemikir pendidikan, filosof moral umumnya melihat potensi manusia secara normatif positif, sementara lawannya dipandang sebagai ketiadaan perwujudan potensi. Kondisi ini tentu membingungkan manakala terdapat kejahatan, ketidak baikan yg terjadi, apakah itu potensi manusia atau ketiadaan potensi yg terwujud. Hal ini tentu akan terus membingungkan manakala nilai2 diserahkan pada pengalaman empiris tanpa mempertimbangkan nilai adikodrati yg dlm bentangan sejarah manusia telah menunjukan peran reformatif dan atau peran revolutif tatanan sosial yg dipicu oleh gerakan bangun individu yg meng-aktualisasi-kan dirinya dlm konteks perbaikan mutu hidup masyarakat.

Perwujudan diri, atau aktualusasi diri dlm jalan pendidikan seseorang merupakan sesuatu yg berdasarkan keyakinan dan nilai yg ada dalam kwasaan itu sendiri. Masalahnya makna apa yg berikan kepadanya sebagai sesuatu yg bernilai dutentukan oleh perspektif arau sudut pandang orang tsb. Paling tidak terdapat beberapa perspektif tentang perwujudan diri (atau menjadi diri sendiri) yg membantu memahami kondisi sesuatu yg dipandang bernilai, yaitu: 1) pandangangan/pendekatan psikologistik-individualistik; 2) pandangan/pendekatan sosiologis; 3) pandangan/pendekaran kooperatif; dan 4) pandangan/pendekatan Teistik. Basis pandangan pemikiran tsb merupakan pendekaran dalam melihat perwujudan diri yg dlm pilar pendidikan UNESCO dusebut “Learning to be” yg dimaknai sebagai belajar menjadi duri sendiri, atau belajar tuk mengaktualusasikan diri dalam hidup dan kehidupan masyarakat. Ketika seorang mengatakan “aktualusasikan diri sendiri,  jadilah diri sendiri”,  jelas ini tak memberi makna nilai apapun, diri sendiri yg gimana? “Yang individu; Yang sosial; Yang kooperatif, atau Yang Teistik/ketuhanan”, bila sydah jelas pilihannya, apakah sesuai dan relevan dengan nilai budaya masyarakat, komunitas?. Ternyata tidak sesederhana seperti yg sering kita katakan dan kita dengar…menyederganakannya bisa saja, tapi tak kan bisa buat itu sederhana karena implikasi praktisnya dalam berbagai aspek kehidupan termasuk pendidikan akan berdampak pd masyarakat yg ingin dibangun ke depan…BERSAMBUNG.

| Meninggalkan komentar

BUKU BARU TERBIT APRIL 2016

image

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

ORIENTASI FILSAFAT BERBASIS TOKOH 1

SOCRATES DAN PLATO.

SOCRATES. Dia adalah filosof besar. Hidup di Athena Yunani antara tahun 470 sampai 399 SM. anak dari ayah seorang pemahat dan ibu seorang bidan. Dia pernah jadi tentara yg kuat dan berani. Integritasnya mengagumkan dan prilakunya yang tawadhu menjadikan dia sebagai inspirator kaum muda saat itu. filsafatnya fokus pada manusia  dalam memahami hidup dan kehidupan serta menjalaninya dengan logis, etis dan estetis dengan selalu mencari tahu dan kebenaran dengan cara dialog (critical dialectics).
Dialog (dialektika kritis) merupakan dialog dua atau lebih pendirian yang berbeda (bertentangan) menuju pertemuan antar ide, dengan cara ini SOCRATES bertindak seperti bidan yang menolong kelahiran bayi (hadiwoyono). Pendirian/ide tidak diterima begitu saja tapi dilakukan uji bukti dan SOCRATES serta yang diajak dialog tidak merasa dirinya yang paling benar karena perspektif memiliki variasi yg perlu dihormati
Dengan jalan dialog pemikiran terus meningkat dan ide ide akan makin terdalami teruraikan, oleh karena itu dalam perspektif ini metodenya sering juga disebut MAINEUTIKA/PENGURAIAN. Dengan metode seperti itu golongan SOFIS yang mencari kebenaran melalui RETORIKA menganggapnya sebagai perongrong namun kaum muda sangat menyukainya karena pencarian atau pemerolehan pengetahuan, kebenaran dilakukan secara egaliter dan bukan retoris yang lebih menekankan pembenaran bukan kebenaran.
Dia berjalan jalan untuk menemui berbagai kalangan dari para akhli dan masyarakat umum. Dia berdialog, bertanya tentang berbagai hal mengenai hidup dan kehidupan manusia secara spesifik kemudian jawabannya dikaji bersama sampai sering terbukti kekeliruan dan dari sini dialog terus dilakukan untuk mendapatkan kebenaran/pengetahuan yang benar secara umum. Karena inilah SOCRATES dipandang menerapkan berfikir INDUKTIF yg bergerak dari kasus khusus menuju ke kebenaran umum (Universal).
Dengan metode induksi dia mencari dan menggali tentang tujuan hidup dan tujuan hidup yang benar adalah EUDAIMONIA (kebahagiaan jiwa) dan itu bisa dicapi dengan ARETE (virtue, kebajikan, keutamaan), yang adalah pengetahuan yang benar yg menjadi dasar sikap dan tindak, sehingga muncul kebijakan (WISEDOM), untuk itu orang harus terus mencintai kebijakan (PHILOSOPHIA).”wisedom adalah sesuatu yang luhur dan hanya dimiliki Tuhan. Sebutan yang bersahaja adalah pecinta wisedom atau akhli filsafat” (Phaedrus, dalam H.C. Webb).
Dalam usia tua 70 TAHUN socrates harus menerima tuduhan  murtad pada Para dewa yunani dan telah menghasut para pemuda. Dan setelah disidangkan dia dihukum mati dengan jalan minum racun. Meslipun sahanatnya mengajak tuk melarilan diri namun dia tidak mau. Akhirnya dia meninggal setelah meminum racun dan ketika petugas pembawa racun dan menyerahkannya padanya  socrates menerima dan bertanya cara meminumnya..tidak menolak tidak berontak dan melakukannya dg sadar. Bukan karena menerima tuduhan yg telah ditolaknya dlm sidang tp leyakinan akan kebenaranlah yg ditunjukan dg berani meski harus mati karenanya..sungguh lematian yang estetis karena mempertahankan kebenaran logis dan leutamaan etis.
Dia mati secara fisik..ide pemikiran, serta model prilaku terus diabadikan para muridnya. PLATO adalah murid terbesar penerusnya dalam melanjutkan, memelihra, mengembangkan ajarannya. SOCRATES memang tidak menuliskan ide dan fikirannya karena alasan dia tak tahu apapun jadi apa yang dapat ditulis (kerendahan hati). PLATO lah yang utama mengenalkan ajaran SOCRATES, dan menulisnya dalam format dialog dg temannya yang berkunjung ke penjara menjelang hukuman matinya. Ini menjadi dasar dan latar tulisan PLATO tentang ajaran SOCRATES yang terlihat dari TETRALOGI nya PLATO  terdiri dari EUTHYPHRO, APOLOGY, CRITO, dan PHAEDO.
EUTHYPHRO menggambarkan kekhawatiran dalam menghadapi dengar pendapat awal atas tuntutan kemurtadannya serta konsekwensi untuk menemukan makna keshalehan hakiki. APOLOGY menggambarkan pembelaan di depan pengadilan serta ajuan hukuman yg mungkin setelah mendengar bahwa pengadilan sepakat menghukum mati. CRITO menggambarkan kehidupan di penjara ketika menanggapi teman temannya yg mengatur pelarian dari penjara. PHAEDO menggambarkan perbincangan di hari terakhir menjelang kematiannya tentang keabadian jiwa serta meyakinkan teman temannya akan nasibnya (Tredennick dan Tarrant, 2003).
Tetralogi Plato disusun dalam bentuk dialog kecuali Apology. Didalamnya berbicara tentang pengetahuan, kesalehan, keberanian, kebijakan kebajikan hidup dan kehidupan manusia. Namun semua itu sering dipandang bukan murni ajaran SOCRATES, karena polesan bisa terjadi mengingat Plato sendiri adalah seorang filosuf yg juga muridnya. Meskipun begitu dewasa ini Plato menjadi juru bicara hostoris yang diandalkan dalam memahami SOCRATES, dibanding tulisan murid-murid lainnya seperti Aristhopanes (penulis drama komedi), Xenophone (dipandang kurang bakat dalam Filsafat) yg menulis dialog kecil dlm Memorabilia. Aristhopanes menggambarkan SOCRATES sebagai seorang yang korup terhadap anak muda dan tidak mengakui dewa yang dipuja seluruh negeri/Yunani. Sementara Xenophone menggambarkan SOCRATES sebagai orang yg shaleh, mampu menjaga diri. Suatu penggambaran yg bertentangan dan patut difahami.
Kebohongan tuduhan.  yg coba digambarkan Aristbopanes mendapat dukungan massa dan nevara sampai akhirnya SOCRATES dihukum mati. Sementar penggambaran sebagai orang bijak (Xenophone, Plato) menjadi suara minor yg kalah/mengalah pada saat itu, namun sejarah menunjukan suara minor kalau kebenaran tetap jadi pemenang dan sekarang ini SOCRATES diposisika. Sebagai orang. Bijak filosuf yg mati demi mempertahankan kebenaran.
Kebebaran obyektif merupakan esensi ajarannya dalam melihat realitas hidup, kebenaran harus merupakan sesuatu yg benar dimanapun dan kapanpun.. Ini sebagai kritik dan koreksi atas dominasi pemikiran kaum sofis yg melihat kebenaran secara relatif tergantung kemampuan retorika yg disetujui masyarakat (umum), artinya yg benar disini tidak harus benar disana. Dengan metode dialektis SOCRATES berpandangan bahwa manusia harus mengutamakan kebahagiaan jiwa yg pencapaiannya melalui arete, dan ini berlaku dimana saja serta pada siapa saja, oleh karena itu pemerintah/penguasa harus tahu yg baik dan mengenalkan/mendidik masyarakat ttg yg baik dengan keutamaannya yaitu pengetahuan yg baik.
Untuk mengetahui yg baik dan menjalankan kebenaran perlu perjuangan, dan ujian akan dihadapinya, itulah hidup yg layak karena kehidupan dan hidup yg tak teruji tak layak dijalani (APOLOGIA, PLATO). Kebenaran pasti menang, kebenaran itu tak dapat kamu lawan. Yg bisa kamu lawan adalah SOCRATES (SYMPOSIUM, PLATO). Dia dihukum mati, dia mati, tapi kebenaran tetap berjalan terus menginspirasi dan menggerakan pemikiran dan kehidupan baru yg terus terbarukan.
KonsistensiNYA untuk berfikir benar dan bertindak baik sesuai kebenaran menjadi model existensial hidup dan kehidupanNYA. Berikut akandikemukakan kutipan panjang perkataan SOCRATES yang dituturkan Plato dalan PHAEDO: Tampaknya hanya ada satu jalan sempit yg bisa kita tempuh dg selamat untuk mencapai tujuan akhir perjalana kita, dengan akal sebagai penuntun. Selama kita masih mempunyai tubuh – ditambah kejahatan yg bisa merasuki jiwa kita, kita tak bakalan bisa sepenuhnya mencapai apa yg kita kehendaki, yakni kebenaran.
Tubuh selamanya menyia nyiakan waktu kita dg tuntutannya. Sampai kapanpun tubuh menghalangi upaya kita mengejar keberadaan kita yg sejati. Tubuh memenuhi kita dg nafsu, keinginan, ketakutan, dan segala macam hayalan dan kebodohan. Tubuh menghalangi kita berfikir lurus. Tubuh dibarengi mafsu-nafsunya telah menyebabkan percekcokan, perpecahan sosial, dan perang…karena mementingkan tubuh, kita tak punya waktu untuk berfilsafat.
Apabila kita mau memperoleh pengetahuan yg sejati, kita harus bebas dari tubuh, dan jiwa dapat melihat segala sesuatu apa adanya (pengetahuan sejati). Selama masih hidup, satu diantara dua hal ini pasti benar yaitu takkan peroleh pengetahuan sejati atau hanya bisa memperolehnya setelah mati karena jiwa berada pd dirinya sendiri. Namun ketika hidup kita bisa berada sedekat dekatnya dengan pengetahuan sejati jika tidak menyatukan diri dg tubuh melebihi keharusan.
Tibalah saatnya bagi kita tuk berpisah, aku akan menjalani kematian, kalian terus jalani hidup. Mana yg lebih baik adalah sesuatu yg tak diketahui siapapun, kecuali Tuhan (APOLOGI, Plato).Itulah SOCRATES..Yg hidup dalam ahir yg menyedihkan secara material fisikal, namun kebaikan pemikiran dan jiwanya mampu membungkusnya dengan indah dalam kerangka yg LOGIS, ETIS, ESTETIS..

PLATO…..salah seorang murid SOCRATES terpenting dalam melanjutkan dan mengembangkan pemikiran2 SOCRATES, Dia juga membangun pemikirannya sendiri sebagai filosuf. Lahir dari keluarga bagsawan Athena thn 427/428 SM dan meninggal thn 348 SM. HIdupnya cukup ironis pernah jadi penasehat raja, namun pernah juga dijual sebagai budak, tp dibebaskan temannya dan ketika mau mengganti uang pembebasannya temannya tak terima, kemudian uang itu digunakan untuk mendirikan Sekolah AKADEMIA, sebagai tempat mengasah fikiran para muridnya.
Dia menulis cukup banyak karya buku termasuk yg dalam bentuk surat-surat, 9 buku termasuk dalam kategori tetralogi 10 buku tentang Negara,namun ada 6 buku dianggap tidak otentik (kontroversial, diragukan dari PLATO). Meskipun demikian pemikiranNYA tetap dapat diketahui. Buku-bukuNYA banyak ditulis dalam bentuk dialog (percakapan, diskusi) dg menempatkan SOCRATES sebagai interlocutor (teman bercakap, teman diskusi) bijak sehingga mengalir ide pemikiran yg memberi keyakinan akan kebenarannya.
PandanganNYA: terdapat dua dunia pertama: dunia ide (eidos, bentuk), realitas objektif yg sesungguhnya, berdiri sendiri bebas dari subyek yg berfikir, tidak berubah, bersifat tunggal dan hanya bisa dikenali dg rasio. Kedua: dunia material/fisikal yang terus berubah, bersifat jamak dan pengenalannya melalui panca indra. Ini merupakan fikiran yg memadukan pendapat PERMENIDES, segala sesuatu bersifat tetap, dengan pendapat HERAKLEITOS, segala sesuatu terus berubah. Untuk dunia ide, PLATO menjelaskannya dengan analogi kisah Manusia dalam Goa.
Manusia ibarat tahanan  terkerangkeng dlm goa menghadap dinding, dibelakangnya ada nyala api, para budak berkegiatan ditengahnya. Para tawanan melihat bayangan yg dianganggap realitas, ketika ada yg lepas akan disadari bahwa itu bukan realitas terlebih setelah keluar gua melihat cahaya matahari. Ketika kembali ke goa dan cerita, tak ada yg percaya, tetap menganggap bayangan sebagai realitas. Nah dunia luar goa dg cahayanya merupakan realitas sebenarnya, ide yg benar, baik dan obyektif, hanya dpt dikenali rasio, bayangan hanya representasi tak sempurna dari realitas.
Masalah ide merupakan fondasi ajaran PLATO dg makna sesuatu realitas di luar fikiran dan bersifat obyektif (bukan gagasan yg ada dalam fikiran dan bersifat subyektif). Ide tidak diciptakan, tidak tergantung pd pemikiran kita, namun pemikiranlah yg tergantung pd ide. Berfikir, pemikiran adalah menaruh perhatian pada ide-ide. Segitiga dipapan tulis merupakan representasi ide segitiga obyektif dan bisa direpresentasikan juga oleh segitiga di kertas, di tembok dsb. Ide bagus bisa direpresentasikan dg kain bagus, mobil bagus dsb, itu terjadi karena ada realitas bagus yg obyektif. Dunia ide berhubungan dg dunia fisik/materi, namun ide tidak dipengaruhi olehnya. Terdapat tigacara hubungan antara keduanya: 1) ide hadir dalam benda konkrit, tp ide tak terkurangi olehnya, gambar segitiga bisa dihapus namun tak mengurangi ide segitig; 2) benda konkrit berpartisipasi dlm satu atau beberapa ide, orang jujur berpartisipasi dlm ide orang dan ide jujur; 3) ide sebagai model/ paradiegma bagi benda konkrit. Dan benda konkrit merupakan represen-tasi tak sempurna dari ide, hanya menyerupai model saja.
Terdapatnya dua dunia berimplikasi pada dua jenis pengenalan yg bisa diperoleh manusia yaitu: 1) Pengenalan ide-ide (yg bersifat jelas, tak berubah) melalui rasio (disebut episteme, pengetahuan), menghasilkan kepastian dan memungkinkan kebenaran mutlak; 2) Pengenalan benda-benda, fisik, materi (yg bersifat selalu berubah) melalui panca indra (disebut doxa, pendapat, opini), kebenaran relatif, tidak menghasilan kepastian.
Dunia ide dan dunia fisik tergambar dlm diri manusia (dualisme) dimana badan itu dunia fisik selalu berubah dan jiwa sebagai dunia ide yg telah mengenalinya sebelum bersatu dg badan. Badan adala belenggu jiwa dan untuk mengenali lagi dunia ide, manusia perlu melepaskan (mengurangi) ketergantungannya pada dunia fisik/materi/badan, sehingga dg fungsi rasionalnya, jiwa dpt mengarah pd dunia ide dan bersifat bijaksana yg mampu menjaga hidup manusia. Fungsi jiwa lainnya kehendak/keberanian, sifat kegagahan, serta fungsi ketiga yaitu keinginan/nafsu yg perlu pengendalian.
Melepaskan jiwa dari badan dicapai dg pengetahuan, fungsi rasional jiwa yg mengingat kembali ide-ide, ini perlu upaya keras sebab  kuatnya tarikan dunia fisik/badan/materi, hingga sulit naik ke dunia ide. Sedikit yg mampu menjalaninya dg kurangnya dukungan masyarakat akan pentingnya  pengetahuan kebenaran dan kebijakan. Ibaratnya delman dg kusirnya (fungsi rasional jiwa) yg ditarik oleh dua kuda yg satu kuda kebenaran yg ingin terbang ke dunia ide dan yg satu kuda napsu/kehendak yg ingin ke dan tetap dibawah, tarik menarik, dan nafsu yg menang sehinga dipenjarakanlah jiwa dalam badan.
Namun demikian keterpenjaraan jiwa dapat terus dringankan  dg pengenalan kembali pada dunia ide yg puncaknya adalah ide yg baik yg menyinari ide ide lainnya dlm hirarkinya. Dan kematian akan menjadi pembebas yg menghancurkan belenggu penjara (terbebas dari hidup di dalam goa), dimana jiwa akan tetap abadi dengan dunia ide yg telah dikenalnya pd pra hidup (pra exostensi) manusia. Dari sini PLATO percaya akan adanya hidup dan kehidupan sesudah mati dg jiwa yg kembali pd dunia ide dimana ide yg baik (Tuhan) sebagai realitas yg sebenarnya, tetap tidak berubah dan abadi.
Itu bermakna bahwa hidup manusia yg baik adalah hidup yang dikendalikan jiwa yg baik dg akal sebagai penjaga dan penuntun untuk mengenal ide-ide menuju ide yg baik yg menyinari seluruh ide-ide dlm dunia ide yg kekal. Orang baik dikuasai akal budi, mampu menguasai diri sendiri dalam kesatuan. Orang yg dikuasai keinginan dan nafsu akan terombang ambing oleh kekuasaan diluar diri, tidak teratur, kacau, karena menjadi obyek dorongan irasional diluar diri (Taylor, 1989). Hidup yg baik didasarkan  perhatian pd realitas yg sebenarnya, berhijrah dari yg badani ke jiwani, dari indrawi ke ruhani, dan dari materi ke ide yg abadi.
Bila hidup manusia terarah pada alam ide, manusia akan ikut dalam keterarahan alam ide, dan alam ide itu sendiri akan terarah pada ide tertinggi yaitu IDE YANG BAIK sebagai dasar segalanya. Segalanya menuju padanya dan tertarik olehnya (Suseno, F.M). Manusia yg baik yg mampu mencapai puncak eksistensinya adalah manusia yg terarah pada ide yang baik (Tuhan). Untuk sampai kesana CINTA menjadi kekuatan, karena YANG BAIK adalah yg paling dicintai dan dirindu oleh dunia ide, dan dalam kesanggupan memandang yang BAIK maka CINTA dan KEBAIKAN menyatu.
Tujuan hidup manusia  adalah kebahagiaan (eudaimonia) yakni hidup dengan mengenal dunia ide dan mengarah pada  yg baik, namun itu harus terjadi dalam polis/masarakat/negara bukan secara asketis. Oleh karena itu DIA juga mengemukakan fikirannya tentang negara. Manusia-manusia yg baik akan menjadikan Negara  baik, untuk itu setiap kelompok harus mengisi posisinya dlm negara sesuai dg ciri kemampuannya. Negara ideal terdiri dari tiga golongan yaitu Filosuf yg ngurus negara, Prajurit yg membantu negara, dan petani/tukang/Pegawai sbg penyokong negara.
Negara/Pemerintah yg baik dihuni oleh orang-orang yg baik. Negara harus memperhatikan, mengutamakan keselamat warganya bukan orang2 yg memerintah. Orang yg memerintah harus mempersembahkan hidupnya bagi pemerintahan dg mengorbankan kepentingan diri sendiri. Negara perlu mendidik warganya dengan baik ke arah yg baik dan bukan semata soal akal, tapi harus memberi bimbingan kepada perasaan2 yg dapat mengarahkan diri pada akal, mampu mengendalikan nafsu. Negara harus baik, mendidik warganya menjadi baik dan warga yg baik inilah yg dpt menjadikan Negara baik.
Dalam hal pelaksanaan pendidikan, PLATO berpendapat bahwa pendidikab  anak 10 tahun ke atas menjadi kewajiban/urusan Negara, pd masa ini olah raga dan musik menjadi materi utamanya ditambah membaca menulis dan berhitung, untuk membuat badan dan fikiran sehat, dan menumbuhkan keberanian untuk mampu menjadi penjaga negara. Usia 14-16 diajarkan musik, puisi/bersajak, dan mengarang, untuk menanamkan kehalusan perasaan, budi yg halus, harmoni dan irama, dan ini penting untuk menghidupkan rasa keadilan.
Usia 16-18 diberi pelajaran Matematika untuk mendidik, melatih cara berfikir, agama dan etika sopan santun untuk menumbuhkan persatuan. Pada usia 18-20 tahun mendapat didikan militer, kemudian seleksi 1 untuk dpt pendididikan keilmuan lebih mendalam. Setelah 10 tahun seleksi 2, yg gagal jadi pegawai negara, yg lulus meneruskan 5 th belajar tentang wujud, ide, dan dialektika, setelah lulus dpt menjabat lebih tinggi, sesudah 15 th bekerja (50 th) dpt diterima masuk dlm lingkungan pemerintahan atau filosuf, karena dipandang mampu menyelenggarakan pemerintahan yg adil dg dasar ide yg Baik.
Semua pemikiran Plato terdapat dalam bentuk tulisan, meskipun ada juga yg secara lisan disampaikan dlm kuliahnya di AKADEMIA, Sekolah/PT/Universiras yg didirikannya dg biaya pembebasan Budak (PLATO pd saat itu). ini berarti Universitas/PT pertama berdiri sebagai efek perbudakan. PLATO mengajar selama 40 th sejak usianya 40 th dan meninggal di usia 80 th, setengah kehidupannya diabdikan untuk mengajar murid-murid, mengembangkan fikirannya dan ide yg baik sebagai realitas mutlak (TUHAN) menjadi dasar pemikirannya dlm berbagai aspek kehidupan manusia baik individu yg baik,masyarakat yg baik maupun politik dan negara yg baik.
Setelah PLATO meninggal, AKADEMIA terus berjalan berganti ganti pemimpin selama hampir 800 tahun, baru pada 529 M kaisar Yustinianus menutup seluruh sekolah filsafat di Athena termasuk AKADEMIA. Dari Sekolah ini lahir Filosuf-filosuf besar, dan Aristoteles yg belajar dg Plato selama 20 tahun merupakan muridnya yg dipandang terbesar sebagai filosuf dengan pengaruh kuat pada perkembangan berfikir dan filsafat kemudian.

| Meninggalkan komentar

Tentang Sekolah

SEKOLAH, PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT

| Meninggalkan komentar