informasi bagi MGMP B.Inggeris dan MGMP Matematika

kepada para Guru Matematika dan B. Inggeris yang berkenan untuk berdiskusi tentang Penelitian dimohon unruk mengunduh proposal atau hasil penelitian ke dalam Blog saya dengan alamat “uharsputra.wordpress.com

| Meninggalkan komentar

Mikir Teliti

MENEELITI BERATI BERFIKIR PLUS AKSI. JADI KETIKA SESEORANG MELAKUKAN PENELITIAN DORONGAN DAN DASAR UNTUK MELAKUKANNYA HARUSLAH SEBENTUK FIKIRAN YANG DIPANTULKAN LEWAT KENYATAAN DAN FAKTA-FAKTA YANG MEMERLUKAN PEMAHAMAN LEBIH MENDALAM.

NAH..DALAM KONTEKS INI PERAN PERGURUAN TINGGI DENGAN TRIDHARMANYA MAKIN MENGEMUKA, PERGURUAN TINGGI BUKAN HANYA SEKEDAR TEMPAT MELAKSANAKAN PROSES PEMBELAJARAN DI RUANG-RUANG SEMPIT TAPI MERUPAKAN TEMPAT MENGEMBANGKAN PEMAHAMAN TENTANG BERBAGAI FENOMENA YANG TERJADI DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN, DAN PEMAHAMAN AKAN SESUATU BUKANLAH SUATU KONDISI TAPI SUATU PROSES EVOLUSI DAN DIALEKTIKA ANTARA SUBJEK DENGAN OBJEK, DALAM KONTEKS INI BERFIKIR MEMANTUL MENJADI SUATU KENISCAYAAN BAGI SIAPAPUN YANG BERGERAK DALAM DUNIA PENDIDIKAN TERMASUK PERGURUAN TINGGI.

LANTAS DIMANA POSISI KITA, INI PERTANYAAN REFLEKTIF YANG HARUS DIJAWAB OLEH KITA MASING-MASING, MESKIPUN ORANG LAIN DAN LEMBAGA TELAH MEMPOSISIKAN DALAM TEMPAT DAN KONDISI TERTENTU, NAMUN SEMUA ITU JELAS HANYALAH SEBAGAI PEMICU UNTUK TERUS MERUBAH DAN MENINGKATKAN POSISI KEILMUAN KITA DALAM KONTEKS PENGABDIAN DI DUNIA PENDIDIKAN..

DAN DALAM KAITANNYA DENGAN PENELITIAN PETA POSISI MUNGKIN DAPAT MEMBANTU MELETAKAN KITA BERADA DIMANA, PALING TIDAK TERDAPAT EMPAT POSISI YAITU 1) PUNYA KEMAMPUAN TAPI KURANG KEMAUAN (BOGA KABISA EUWEUH KAHAYANG), 2)  KURANG MAMPU TAPI PUNYA KEMAUAN (BOGA KAHAYANG EUWEUH KABISA), 3) KURANG MAMPU DAN TIDAK PUNYA KEMAUAN (EUWEUH KAHAYANG EUWEUH KABISA), DAN 4) PUNYA KEMAMPUAN DAN KEMAUAN (BOGA KABISA BOGA KAHAYANG). JADI BERPROSESLAH UNTUK MERUBAH POSISI DAN ITU HANYA BISA DENGAN KEKUATAN BERFIKIR BAHWA TIDAK BERFIKIR ITU MERUPAKAN MUSIBAH BAGI PERKEMBANGAN ILMU DAN PERWUJUDAN KEMANUSIAAN…..NAH… MARI BERPROSES….. UNTUK MEWUJUDKAN FIKIRAN KE DALAM TINDAKAN……TENTU YANG ILMIAH……DAN ITU JELAS BUKAN SESUATU HAL YANG MUSTAHIL………

| 3 Komentar

Pendidikan dan tantangan Global

394923_2468071462810_1283023304_32068049_1925792119_n  Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting bagi    kehidupan manusia, dengan  Pendidikan manusia menjadi berbudaya dan mampu terus mengembangkan budaya tersebut demi mencapai kehidupan yang lebih baik. Pendidikan berperan tidak hanya dalam pembentukan individu tapi juga dalam pembentukan budaya masyarakat menuju kualitas hidup yang lebih baik, hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Nanang Fattah (2004:7) bahwa pendidikan merupakan salah satu upaya dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia,  dengan makin berkualitasnya hidup manusia, manusia dapat mengaktualisasikan dirinya secara terus menerus dalam mempertahankan dan meningkatkan kualitasnya kearah yang lebih baik dalam berbagai bidang kehidupan kemasyarakatan.

Dalam konteks globalisasi dewasa ini, pentingnya pendidikan dalam rangka pengembangan potensi manusia/peningkatan kualitas sumber daya manusia makin mengemuka, mengingat globalisasi akan menjadikan kondisi kehidupan penuh dengan persaingan, dan dalam persaingan tersebut kualitas sumber daya Manusia akan menjadi penentu keberhasilan dalam menghadapi semua itu. Dalam era Global sekarang ini dengan perkembangan Ilmu dan teknologi yang sangat cepat, keunggulan suatu bangsa tidak dapat lagi mengandalkan pada sumberdaya alam, melainkan harus pada sumberdaya manusia, sikap kreatif inovatif, kemampuan membuat jejaring serta pemanfaatan teknologi menempati kedudukan lebih penting dibanding dengan sumberdaya alam. Memang dalam kehidupan ekonomi internasional/global, menurut pakar ekonomi klasik, seperti Adam Smith dan Ricardo, perbedaan keunggulan Sumber daya alam menjadi pendorong utama perkembangan ekonomi nasional melalui perolehan keuntungan mutlak (absolute advantage) atau keuntungan komparatif (comparative advantage), namun dewasa ini hal tersebut tidak dapat menjadi jaminan, karena kemajuan suatu bangsa lebih ditentukan oleh kualitas Sumberdaya manusia yang dimilikinya yang mampu bersaing dalam percaturan ekonomi global (Competitive advantage), hal ini seperti dikemukakan Kenichi Ohmae (1990:12)

“having abundance of resources has truly slowed down a country’s development, because bureaucrats there still think that economy could solve all problems. In a truly interlinked, global economy, the key success factor shifts from resources to the marketplace, in which you have to participate in order to prosper. It also means people are the only true means to create wealth”

pernyataan tersebut menunjukan betapa pentingnya kualitas Sumber Daya Manusia dalam kehidupan global dewasa ini, dengan kualitas SDM yang baik kinerjanya  juga akan  baik, baik dalam kehidupan masyarakat maupun kehidupan organisasi, sehingga kehidupan masyarakat secara keseluruhan akan meningkat dalam berbagai terpaan perubahan dan persaingan, menurut Robinson&Robinson (1995:5)”The competitive advantage, and perhaps the survival, of an organization demands that employee perform at a high level”. Ini berarti bahwa pendidikan baik dalam tataran sistem, kebijakan, khususnya dalam tataran organisasi kelembagaan perlu terus mecermati berbagai perubahan yang terjadi.

Undang-undang Sisdiknas No 20 tahun 2003, menyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dari pengertian tersebut dapatlah dimengerti bahwa pendidikan merupakan suatu usaha atau aktivitas untuk membentuk manusia-manusia yang cerdas dalam berbagai aspeknya baik intelektual, sosial, emosional maupun spiritual, trampil serta berkepribadian dan dapat berprilaku dengan dihiasi akhlak mulia. Oleh karena itu segala upaya  pendidikan harus merupakan suatu langkah bagi perwujudan  manusia yang baik dalam seluruh dimensinya yang nantinya mampu mengisi kehidupannya secara produktif bagi kepentingan dirinya dan masyarakat.

Pendidikan diharapkan mempunyai pengaruh yang signifikan pada pembentukan  Sumber Daya Manusia (human capital) bermutu dalam aspek kognitif, afektif maupun keterampilan, baik dalam aspek fisik, mental maupun spiritual, dan ini menuntut kualitas penyelenggaraan pendidikan yang baik agar kualitas proses dan hasil pendidikan dapat benar-benar berperan optimal dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan upaya berkesinambungan untuk membangun pendidikan secara terpadu baik pada tataran kebijakan sistem secara nasional, tataran institusi, tataran manajerial dan tataran teknis, sehingga terdapat sinkronisasi serta sinergitas diantara tataran-tataran tersebut.

Pentingnya pendidikan yang berkualitas dalam rangka pengembangan potensi manusia dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia makin mengemuka dalam era global dewasa ini, mengingat globalisasi akan menjadikan kondisi kehidupan penuh dengan persaingan, dan dalam persaingan tersebut kualitas Sumber Daya Manusia akan menjadi penentu keberhasilan dalam menghadapi semua itu. Dalam era Global sekarang ini, dengan perkembangan Ilmu dan teknologi yang sangat cepat, keunggulan suatu bangsa tidak dapat lagi mengandalkan pada Sumber Daya Alam, melainkan harus pada Sumber Daya Manusia, sikap kreatif, kinerja inovatif, kemampuan membuat jejaring serta pemanfaatan teknologi menempati kedudukan lebih penting dibanding dengan Sumber Daya Alam seperti dikemukakan Kenichi Ohmae (1990:12) bahwa manusia merupakan satu-satunya alat yang benar dalam menciptakan kekayaan. Ini berarti bahwa dengan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, kinerjanya  juga akan  makin berkualitas, baik dalam kehidupan masyarakat maupun kehidupan organisasi, sehingga kehidupan masyarakat secara keseluruhan akan meningkat dalam berbagai terpaan perubahan dan persaingan sebagaimana dikemukakan Robinson & Robinson (1995:5) bahwa keunggulan kompetitif suatu organisasi menuntuk pekerja berkinerja unggul, dan implikasinya adalah bahwa pendidikan baik dalam tataran sistem, kebijakan, khususnya dalam tataran organisasi kelembagaan perlu terus mecermati berbagai perubahan yang terjadi.

| 2 Komentar

Pendulum Pendidikan

Kehidupan itu ibarat pendulum, dalam berfikir dan bersikap, posisi tengah selalu menjadi kondisi ideal yang perlu diperjuangkan. Ini berlaku dalam berbagai hal, dalam berfikir, dalam ilmu, dalam teknologi. Kalau berbicara kualitas, ada yang baik ada yang buruk, bentuk interaksinya selalu merupakan dialektika, upaya mendorong sesuatu agar lebih berkualitas, mengindikasikan adanya posisi yang kurang berkualitas, dan adalah sulit menggeser pendulum dari posisi kurang berkualitas. Dilihat dari jangkar pendulum normal posisi kurang berkualitas sebenarnya berada dalam posisi tidak seimbang, dia seimbang bila jangkar pendulumnya berkondisi tidak normal, dan hal ini juga berlaku bagi sesuatu yang lebih berkualitas, keadaan lebih berkualitas belum tentu berada dalam posisi keseimbangan, sehingga untuk mempertahankannya dalam posisi tersebut amat berat (posisi sebenarnya dilihat dari jangkar pendulum adalah ditengah)

Jadi akan sulit berbicara peningkatan kualitas apabila tidak ada perubahan yang mendasar. peningkatan sdm, dan fasilitas penunjang untuk mendongkrak kualitas sebenarnya akan sulit berdampak pada kualitas bila jangkar pendulum tidak mengalami perubahan, karena posisinya akan selalu tidak seimbang.  Jadi masalah sebenarnya ada dalam posisi jangkar pendulum, bagaimana bila hal tersebut diterapkan pada ORGANISASI PENDIDIKAN sebagai suatu system?

Sederhananya adalah pendulum organisasi pendidikan harus terus berubah ke posisi yang lebih baik, berkualitas, kompetitif  dan atribut lainnya yang menunjukan posisi ideal, dan itu berarti harus melakukan kerja besar merubah jangkar pendulum organisasi, yakni identitas, personalitas organisasi, dan ini bias terjadi bukan dengan hanya mendidik sdm, menambah fasilitas penunjang, tapi pada kepribadian organisasi yang mungkin merupakan visi dalam tataran muka yang terinternalisasi dengan bagian-bagian lain dalam organisasi, atau mungkin juga yang lain yang masih perlu dicermati, yang jelas perubahan dalam tataran muka sama sekali tidak akan mengganti posisi  jangkar pendulum.

Dipublikasi di Refleksi | 1 Komentar

Pendidikan Kita : Kembali ke jalan yang benar…..?

Pendidikan selalu diberi bobot nilai-nilai normatif, demikian juga dalam Undang-undang Sisdiknas dimana Pendidikan diberi makna yang syarat dengan nilai-nilai luhur yang harus terjadi. Namun apakah itu tercermin dalam praktek pendidikan ?, inilah masalahnya, selalu terdapat kesenjangan yang makin lama makin lebar antara apa yang diharapkan bangsa Indonesia dari Pendidikan dengan apa yang dilakukan dalam tataran praktis pendidikan/pembelajaran.

Pendidikan harus mendorong terwujudnya manusia yang dewasa secara personal, sosial dan moral, namun ketika aspek pragmatis kecerdasan intelektual kognitif menjadi konsern utama, maka banyak hal yang dikorbankan, dan pengorbanan itu justru lebih tinggi nilainya dari sekedar kecerdasan (seperti kejujuran, keadilan, kemandirian, percaya diri). Ketika praktek pendidikan di Sekolah bersibuk diri dengan upaya peningkatan kemampuan siswa untuk lulus Ujian Nasional, sebenarnya tidak ada yang salah dengan upaya tersebut selama sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan dan pembelajaran, namun ketika ada upaya lain yang memaksakan pencapaian target tertentu diluar kaidah pendidikan, seperti pengkondisian dan distribusi info, maka sebenarnya pendidikan kita telah memasuki jalan yang sesat dan menyesatkan.

Sesat karena berada diluar kaidah pendidikan, menyesatkan karena output atau lulusannya nanti akan menggantikan posisi-posisi pendidikan yang jelas sudah tertular dan terkontaminasi dengan apa yang dialaminya pada saat Ujian di Sekolah, sehingga mereka juga cenderung akan menyesatkan pendidikan dan pembelajaran seterusnya. Jadilah generasi pendidikan yang sesat dan menyesatkan. Dan bangsa ini akan dipenuhi dengan   warga sesat dan menyesatkan. Dan kita perlu khawatir dengan PENDIDIKAN SESAT DAN MENYESATKAN. Semoga masih ada nilai dan akal sehat. Nah dalam konteks ini pengembangan pendidikan karakter merupakan upaya koreksi agar pendidikan KEMBALI KE JALAN YANG BENAR…masalahnya tinggal bagaimana implementasinya serta eliminasi faktor pengganggu yang sistemik……

Dipublikasi di Refleksi | Tag , , | 8 Komentar

Penglamaan dan Pengalamaan

Pengalaman adalah guru terbaik, demikian kata pepatah yang sangat terkenal, orang cenderung memahaminya taken for granted tanpa mengkritisi makna dibaliknya yang bisa saja pepatah itu mengandung bahaya psikologis dan sosiologis yang dahsyat.

Pengalaman memang penting dan tak mungkin hilang dari ingatan kita, namun yang bisa jadi guru terbaik itu pengalaman siapa, adalah konyol jika kita hanya belajar dari pengalaman sendiri, sama konyolnya dengan melihat pengalaman sendiri hanya berupa kejadian dalam rangkaian waktu, sebab kalau demikian bukanlah pengalaman tapi penglamaan yang secara alami akan berjalan dengan sendirinya seiring waktu.

Jadi masalahnya adalah kita harus belajar dari semua pengalaman, melakukan refleksi atas semua pengalaman tersebut, dan ilmu merupakan akumulasi pengalaman manusia yang sistematis karena disitematiskan sebagai hasil refleksi kolektif manusia..

Jadi esesnsi dasar dari pepatah itu adalah bagaimana kita belajar terus, dan terus belajar menggali ilmu pengetahuan, dan dosen atau guru merupakan ujung tombak dalam upaya mendorong hal tersebut. Guru/dosen tidak hanya bercerita, menjelaskan, mendemontrasikan, tapi juga harus mampu memberi inspirasi untuk bertumbuh kembangnya manusia-manusia pembelajar yang secara efektif dapat belajar dari semua pengalaman manusia.

Guru/Dosen merupakan profesi yang mendesain masa depan, dan upaya untuk lebih baik dalam menjalankan peran kependidikan merupakan proses tiada henti, sehingga mampu bergerak dari bercerita ke memberi inspirasi, seperti kata Arthur Ward :

The mediocre teacher tells (Guru biasa berceritera)

The good teacher explains (Guru yang baik menjelaskan)

The superior teacher demonstrate (Guru superior mendemonstrasikan)

The great teacher inspire (Guru yang hebat memberi inspirasi)

Kita ingin menjadi yang mana, keputusan ada di tangan kita sendiri-sendiri, yang penting jangan sampai kita hanya belajar dari pengalaman mengajar kita sendiri, dijamin hal itu akan membuat kita tak akan dapat meningkatkan kemempuan kita dalam mengajar, dan jika demikian mana mungkin pembelajaran di kelas akan berkembang, selamat belajar…..

Dipublikasi di Refleksi | Tag , , | 6 Komentar

Persahabatan

Bila dua orang teman bertemu dalam keremangan, keremangan itu tidaklah menjemukan, demikian Ivan Illich menulis dalam bukunya yang terkenal Deschooling Society. Mungkin memang demikian seharusnya, kemampuan seorang untuk berteman mengindikasikan dimilikinya dua hal penting dalam emosi seseorang, memahami emosi orang lain dan membina hubungan menurut Goleman. Berteman telah banyak dielaborasi dalam konteks kehidupan, Erich From berbicara mendalam tentang cinta yang dapat dipandang sebagai pendalaman dari pertemanan, dalam The Art of Loving, From mendefinisikan cinta sebagai the active concern of the life and the growth of that which we love,  aku mencintaimu sebab dalam dirimu terdapat jutaan orang lain, mencintaimu membuat keinginan untuk berteman dengan semua orang, penyatuan kesadaran merupakan bagian darinya, dan menghormati semuanya merupakan wujud penghormatan ku pada manusia dan kemanusiaan universal.

Namun dewasa ini nampaknya yang berkembang adalah pertemanan individualistic yang diperluas, bila dikembangkan dalam keterbatasan ruang dan waktu, teman adalah yang dekat dengan kita yang membantu kita secara konkrit, akan menjadikan pertemanan menyebar secara terbatas (limited spread effect), hanya yang terjangkaulah, berada dalam radius yang terbatas, yang dianggap teman dan layak menjadi objek cinta.  Menjangkau radius yang luas memang memerlukan pelatihan dan pembelajaran terus menerus, teknologi komunikasi memang telah membantu memperluas radius pertemenan, namun boundary yang telah dibuat terbatas cenderung menjadikan hal tersebut kurang memperkuat keakraban dan penghormatan. In group saya adalah yang dekat, diluar saya adalah out group yang tidak perlu diperlakukan sama dengan yang in group, jika demikian maka bencana sosial menjadi ancaman karena kohesivitas sosial menjadi longggar dan sulit menyatu, bahkan mudah sekali pecah, dan dari situlah mungkin kita bisa memehami tawuran antar mahasiswa sebagai menifestasi ekstrim dari pertemanan yang terbatas dalam radius dan waktu.

Lantas apa yang diperlukan, mungkin “pengepungan” dari berbagai sudut diperlukan untuk mendorong terjadinya perluasan pertemanan universal, dan ini memerlukan upaya serius dan waktu yang cukup, namun yang penting adalah memulainya, bukankan kalau kita tidur diatas kasur, sebenarnya telah banyak melibatkan teman-teman kita semua, dari mulai pencangkul, petani kapuk, kain, pembuat kasur, pedagang dan kuli untuk bisa terwujudnya sebuah kasur yang kita nikmati, nah kesadarn sekali lagi kesadaran, dan itu perlu pembelajaran, sekali lagi pembelajaran sehingga keremangan ataupun kegelapan tidak akan menjemukan bila ketemu manusia apapun dan siapapun apalagi kalau …………

Dipublikasi di Refleksi | Tag , , | 7 Komentar