BUKU BARU TERBIT APRIL 2016

image

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

ORIENTASI FILSAFAT BERBASIS TOKOH

SOCRATES DAN PLATO.

SOCRATES. Dia adalah filosof besar. Hidup di Athena Yunani antara tahun 470 sampai 399 SM. anak dari ayah seorang pemahat dan ibu seorang bidan. Dia pernah jadi tentara yg kuat dan berani. Integritasnya mengagumkan dan prilakunya yang tawadhu menjadikan dia sebagai inspirator kaum muda saat itu. filsafatnya fokus pada manusia  dalam memahami hidup dan kehidupan serta menjalaninya dengan logis, etis dan estetis dengan selalu mencari tahu dan kebenaran dengan cara dialog (critical dialectics).
Dialog (dialektika kritis) merupakan dialog dua atau lebih pendirian yang berbeda (bertentangan) menuju pertemuan antar ide, dengan cara ini SOCRATES bertindak seperti bidan yang menolong kelahiran bayi (hadiwoyono). Pendirian/ide tidak diterima begitu saja tapi dilakukan uji bukti dan SOCRATES serta yang diajak dialog tidak merasa dirinya yang paling benar karena perspektif memiliki variasi yg perlu dihormati
Dengan jalan dialog pemikiran terus meningkat dan ide ide akan makin terdalami teruraikan, oleh karena itu dalam perspektif ini metodenya sering juga disebut MAINEUTIKA/PENGURAIAN. Dengan metode seperti itu golongan SOFIS yang mencari kebenaran melalui RETORIKA menganggapnya sebagai perongrong namun kaum muda sangat menyukainya karena pencarian atau pemerolehan pengetahuan, kebenaran dilakukan secara egaliter dan bukan retoris yang lebih menekankan pembenaran bukan kebenaran.
Dia berjalan jalan untuk menemui berbagai kalangan dari para akhli dan masyarakat umum. Dia berdialog, bertanya tentang berbagai hal mengenai hidup dan kehidupan manusia secara spesifik kemudian jawabannya dikaji bersama sampai sering terbukti kekeliruan dan dari sini dialog terus dilakukan untuk mendapatkan kebenaran/pengetahuan yang benar secara umum. Karena inilah SOCRATES dipandang menerapkan berfikir INDUKTIF yg bergerak dari kasus khusus menuju ke kebenaran umum (Universal).
Dengan metode induksi dia mencari dan menggali tentang tujuan hidup dan tujuan hidup yang benar adalah EUDAIMONIA (kebahagiaan jiwa) dan itu bisa dicapi dengan ARETE (virtue, kebajikan, keutamaan), yang adalah pengetahuan yang benar yg menjadi dasar sikap dan tindak, sehingga muncul kebijakan (WISEDOM), untuk itu orang harus terus mencintai kebijakan (PHILOSOPHIA).”wisedom adalah sesuatu yang luhur dan hanya dimiliki Tuhan. Sebutan yang bersahaja adalah pecinta wisedom atau akhli filsafat” (Phaedrus, dalam H.C. Webb).
Dalam usia tua 70 TAHUN socrates harus menerima tuduhan  murtad pada Para dewa yunani dan telah menghasut para pemuda. Dan setelah disidangkan dia dihukum mati dengan jalan minum racun. Meslipun sahanatnya mengajak tuk melarilan diri namun dia tidak mau. Akhirnya dia meninggal setelah meminum racun dan ketika petugas pembawa racun dan menyerahkannya padanya  socrates menerima dan bertanya cara meminumnya..tidak menolak tidak berontak dan melakukannya dg sadar. Bukan karena menerima tuduhan yg telah ditolaknya dlm sidang tp leyakinan akan kebenaranlah yg ditunjukan dg berani meski harus mati karenanya..sungguh lematian yang estetis karena mempertahankan kebenaran logis dan leutamaan etis.
Dia mati secara fisik..ide pemikiran, serta model prilaku terus diabadikan para muridnya. PLATO adalah murid terbesar penerusnya dalam melanjutkan, memelihra, mengembangkan ajarannya. SOCRATES memang tidak menuliskan ide dan fikirannya karena alasan dia tak tahu apapun jadi apa yang dapat ditulis (kerendahan hati). PLATO lah yang utama mengenalkan ajaran SOCRATES, dan menulisnya dalam format dialog dg temannya yang berkunjung ke penjara menjelang hukuman matinya. Ini menjadi dasar dan latar tulisan PLATO tentang ajaran SOCRATES yang terlihat dari TETRALOGI nya PLATO  terdiri dari EUTHYPHRO, APOLOGY, CRITO, dan PHAEDO.
EUTHYPHRO menggambarkan kekhawatiran dalam menghadapi dengar pendapat awal atas tuntutan kemurtadannya serta konsekwensi untuk menemukan makna keshalehan hakiki. APOLOGY menggambarkan pembelaan di depan pengadilan serta ajuan hukuman yg mungkin setelah mendengar bahwa pengadilan sepakat menghukum mati. CRITO menggambarkan kehidupan di penjara ketika menanggapi teman temannya yg mengatur pelarian dari penjara. PHAEDO menggambarkan perbincangan di hari terakhir menjelang kematiannya tentang keabadian jiwa serta meyakinkan teman temannya akan nasibnya (Tredennick dan Tarrant, 2003).
Tetralogi Plato disusun dalam bentuk dialog kecuali Apology. Didalamnya berbicara tentang pengetahuan, kesalehan, keberanian, kebijakan kebajikan hidup dan kehidupan manusia. Namun semua itu sering dipandang bukan murni ajaran SOCRATES, karena polesan bisa terjadi mengingat Plato sendiri adalah seorang filosuf yg juga muridnya. Meskipun begitu dewasa ini Plato menjadi juru bicara hostoris yang diandalkan dalam memahami SOCRATES, dibanding tulisan murid-murid lainnya seperti Aristhopanes (penulis drama komedi), Xenophone (dipandang kurang bakat dalam Filsafat) yg menulis dialog kecil dlm Memorabilia. Aristhopanes menggambarkan SOCRATES sebagai seorang yang korup terhadap anak muda dan tidak mengakui dewa yang dipuja seluruh negeri/Yunani. Sementara Xenophone menggambarkan SOCRATES sebagai orang yg shaleh, mampu menjaga diri. Suatu penggambaran yg bertentangan dan patut difahami.
Kebohongan tuduhan.  yg coba digambarkan Aristbopanes mendapat dukungan massa dan nevara sampai akhirnya SOCRATES dihukum mati. Sementar penggambaran sebagai orang bijak (Xenophone, Plato) menjadi suara minor yg kalah/mengalah pada saat itu, namun sejarah menunjukan suara minor kalau kebenaran tetap jadi pemenang dan sekarang ini SOCRATES diposisika. Sebagai orang. Bijak filosuf yg mati demi mempertahankan kebenaran.
Kebebaran obyektif merupakan esensi ajarannya dalam melihat realitas hidup, kebenaran harus merupakan sesuatu yg benar dimanapun dan kapanpun.. Ini sebagai kritik dan koreksi atas dominasi pemikiran kaum sofis yg melihat kebenaran secara relatif tergantung kemampuan retorika yg disetujui masyarakat (umum), artinya yg benar disini tidak harus benar disana. Dengan metode dialektis SOCRATES berpandangan bahwa manusia harus mengutamakan kebahagiaan jiwa yg pencapaiannya melalui arete, dan ini berlaku dimana saja serta pada siapa saja, oleh karena itu pemerintah/penguasa harus tahu yg baik dan mengenalkan/mendidik masyarakat ttg yg baik dengan keutamaannya yaitu pengetahuan yg baik.
Untuk mengetahui yg baik dan menjalankan kebenaran perlu perjuangan, dan ujian akan dihadapinya, itulah hidup yg layak karena kehidupan dan hidup yg tak teruji tak layak dijalani (APOLOGIA, PLATO). Kebenaran pasti menang, kebenaran itu tak dapat kamu lawan. Yg bisa kamu lawan adalah SOCRATES (SYMPOSIUM, PLATO). Dia dihukum mati, dia mati, tapi kebenaran tetap berjalan terus menginspirasi dan menggerakan pemikiran dan kehidupan baru yg terus terbarukan.
KonsistensiNYA untuk berfikir benar dan bertindak baik sesuai kebenaran menjadi model existensial hidup dan kehidupanNYA. Berikut akandikemukakan kutipan panjang perkataan SOCRATES yang dituturkan Plato dalan PHAEDO: Tampaknya hanya ada satu jalan sempit yg bisa kita tempuh dg selamat untuk mencapai tujuan akhir perjalana kita, dengan akal sebagai penuntun. Selama kita masih mempunyai tubuh – ditambah kejahatan yg bisa merasuki jiwa kita, kita tak bakalan bisa sepenuhnya mencapai apa yg kita kehendaki, yakni kebenaran.
Tubuh selamanya menyia nyiakan waktu kita dg tuntutannya. Sampai kapanpun tubuh menghalangi upaya kita mengejar keberadaan kita yg sejati. Tubuh memenuhi kita dg nafsu, keinginan, ketakutan, dan segala macam hayalan dan kebodohan. Tubuh menghalangi kita berfikir lurus. Tubuh dibarengi mafsu-nafsunya telah menyebabkan percekcokan, perpecahan sosial, dan perang…karena mementingkan tubuh, kita tak punya waktu untuk berfilsafat.
Apabila kita mau memperoleh pengetahuan yg sejati, kita harus bebas dari tubuh, dan jiwa dapat melihat segala sesuatu apa adanya (pengetahuan sejati). Selama masih hidup, satu diantara dua hal ini pasti benar yaitu takkan peroleh pengetahuan sejati atau hanya bisa memperolehnya setelah mati karena jiwa berada pd dirinya sendiri. Namun ketika hidup kita bisa berada sedekat dekatnya dengan pengetahuan sejati jika tidak menyatukan diri dg tubuh melebihi keharusan.
Tibalah saatnya bagi kita tuk berpisah, aku akan menjalani kematian, kalian terus jalani hidup. Mana yg lebih baik adalah sesuatu yg tak diketahui siapapun, kecuali Tuhan (APOLOGI, Plato).Itulah SOCRATES..Yg hidup dalam ahir yg menyedihkan secara material fisikal, namun kebaikan pemikiran dan jiwanya mampu membungkusnya dengan indah dalam kerangka yg LOGIS, ETIS, ESTETIS..

PLATO…..salah seorang murid SOCRATES terpenting dalam melanjutkan dan mengembangkan pemikiran2 SOCRATES, Dia juga membangun pemikirannya sendiri sebagai filosuf. Lahir dari keluarga bagsawan Athena thn 427/428 SM dan meninggal thn 348 SM. HIdupnya cukup ironis pernah jadi penasehat raja, namun pernah juga dijual sebagai budak, tp dibebaskan temannya dan ketika mau mengganti uang pembebasannya temannya tak terima, kemudian uang itu digunakan untuk mendirikan Sekolah AKADEMIA, sebagai tempat mengasah fikiran para muridnya.
Dia menulis cukup banyak karya buku termasuk yg dalam bentuk surat-surat, 9 buku termasuk dalam kategori tetralogi 10 buku tentang Negara,namun ada 6 buku dianggap tidak otentik (kontroversial, diragukan dari PLATO). Meskipun demikian pemikiranNYA tetap dapat diketahui. Buku-bukuNYA banyak ditulis dalam bentuk dialog (percakapan, diskusi) dg menempatkan SOCRATES sebagai interlocutor (teman bercakap, teman diskusi) bijak sehingga mengalir ide pemikiran yg memberi keyakinan akan kebenarannya.
PandanganNYA: terdapat dua dunia pertama: dunia ide (eidos, bentuk), realitas objektif yg sesungguhnya, berdiri sendiri bebas dari subyek yg berfikir, tidak berubah, bersifat tunggal dan hanya bisa dikenali dg rasio. Kedua: dunia material/fisikal yang terus berubah, bersifat jamak dan pengenalannya melalui panca indra. Ini merupakan fikiran yg memadukan pendapat PERMENIDES, segala sesuatu bersifat tetap, dengan pendapat HERAKLEITOS, segala sesuatu terus berubah. Untuk dunia ide, PLATO menjelaskannya dengan analogi kisah Manusia dalam Goa.
Manusia ibarat tahanan  terkerangkeng dlm goa menghadap dinding, dibelakangnya ada nyala api, para budak berkegiatan ditengahnya. Para tawanan melihat bayangan yg dianganggap realitas, ketika ada yg lepas akan disadari bahwa itu bukan realitas terlebih setelah keluar gua melihat cahaya matahari. Ketika kembali ke goa dan cerita, tak ada yg percaya, tetap menganggap bayangan sebagai realitas. Nah dunia luar goa dg cahayanya merupakan realitas sebenarnya, ide yg benar, baik dan obyektif, hanya dpt dikenali rasio, bayangan hanya representasi tak sempurna dari realitas.
Masalah ide merupakan fondasi ajaran PLATO dg makna sesuatu realitas di luar fikiran dan bersifat obyektif (bukan gagasan yg ada dalam fikiran dan bersifat subyektif). Ide tidak diciptakan, tidak tergantung pd pemikiran kita, namun pemikiranlah yg tergantung pd ide. Berfikir, pemikiran adalah menaruh perhatian pada ide-ide. Segitiga dipapan tulis merupakan representasi ide segitiga obyektif dan bisa direpresentasikan juga oleh segitiga di kertas, di tembok dsb. Ide bagus bisa direpresentasikan dg kain bagus, mobil bagus dsb, itu terjadi karena ada realitas bagus yg obyektif. Dunia ide berhubungan dg dunia fisik/materi, namun ide tidak dipengaruhi olehnya. Terdapat tigacara hubungan antara keduanya: 1) ide hadir dalam benda konkrit, tp ide tak terkurangi olehnya, gambar segitiga bisa dihapus namun tak mengurangi ide segitig; 2) benda konkrit berpartisipasi dlm satu atau beberapa ide, orang jujur berpartisipasi dlm ide orang dan ide jujur; 3) ide sebagai model/ paradiegma bagi benda konkrit. Dan benda konkrit merupakan represen-tasi tak sempurna dari ide, hanya menyerupai model saja.
Terdapatnya dua dunia berimplikasi pada dua jenis pengenalan yg bisa diperoleh manusia yaitu: 1) Pengenalan ide-ide (yg bersifat jelas, tak berubah) melalui rasio (disebut episteme, pengetahuan), menghasilkan kepastian dan memungkinkan kebenaran mutlak; 2) Pengenalan benda-benda, fisik, materi (yg bersifat selalu berubah) melalui panca indra (disebut doxa, pendapat, opini), kebenaran relatif, tidak menghasilan kepastian.
Dunia ide dan dunia fisik tergambar dlm diri manusia (dualisme) dimana badan itu dunia fisik selalu berubah dan jiwa sebagai dunia ide yg telah mengenalinya sebelum bersatu dg badan. Badan adala belenggu jiwa dan untuk mengenali lagi dunia ide, manusia perlu melepaskan (mengurangi) ketergantungannya pada dunia fisik/materi/badan, sehingga dg fungsi rasionalnya, jiwa dpt mengarah pd dunia ide dan bersifat bijaksana yg mampu menjaga hidup manusia. Fungsi jiwa lainnya kehendak/keberanian, sifat kegagahan, serta fungsi ketiga yaitu keinginan/nafsu yg perlu pengendalian.
Melepaskan jiwa dari badan dicapai dg pengetahuan, fungsi rasional jiwa yg mengingat kembali ide-ide, ini perlu upaya keras sebab  kuatnya tarikan dunia fisik/badan/materi, hingga sulit naik ke dunia ide. Sedikit yg mampu menjalaninya dg kurangnya dukungan masyarakat akan pentingnya  pengetahuan kebenaran dan kebijakan. Ibaratnya delman dg kusirnya (fungsi rasional jiwa) yg ditarik oleh dua kuda yg satu kuda kebenaran yg ingin terbang ke dunia ide dan yg satu kuda napsu/kehendak yg ingin ke dan tetap dibawah, tarik menarik, dan nafsu yg menang sehinga dipenjarakanlah jiwa dalam badan.
Namun demikian keterpenjaraan jiwa dapat terus dringankan  dg pengenalan kembali pada dunia ide yg puncaknya adalah ide yg baik yg menyinari ide ide lainnya dlm hirarkinya. Dan kematian akan menjadi pembebas yg menghancurkan belenggu penjara (terbebas dari hidup di dalam goa), dimana jiwa akan tetap abadi dengan dunia ide yg telah dikenalnya pd pra hidup (pra exostensi) manusia. Dari sini PLATO percaya akan adanya hidup dan kehidupan sesudah mati dg jiwa yg kembali pd dunia ide dimana ide yg baik (Tuhan) sebagai realitas yg sebenarnya, tetap tidak berubah dan abadi.
Itu bermakna bahwa hidup manusia yg baik adalah hidup yang dikendalikan jiwa yg baik dg akal sebagai penjaga dan penuntun untuk mengenal ide-ide menuju ide yg baik yg menyinari seluruh ide-ide dlm dunia ide yg kekal. Orang baik dikuasai akal budi, mampu menguasai diri sendiri dalam kesatuan. Orang yg dikuasai keinginan dan nafsu akan terombang ambing oleh kekuasaan diluar diri, tidak teratur, kacau, karena menjadi obyek dorongan irasional diluar diri (Taylor, 1989). Hidup yg baik didasarkan  perhatian pd realitas yg sebenarnya, berhijrah dari yg badani ke jiwani, dari indrawi ke ruhani, dan dari materi ke ide yg abadi.
Bila hidup manusia terarah pada alam ide, manusia akan ikut dalam keterarahan alam ide, dan alam ide itu sendiri akan terarah pada ide tertinggi yaitu IDE YANG BAIK sebagai dasar segalanya. Segalanya menuju padanya dan tertarik olehnya (Suseno, F.M). Manusia yg baik yg mampu mencapai puncak eksistensinya adalah manusia yg terarah pada ide yang baik (Tuhan). Untuk sampai kesana CINTA menjadi kekuatan, karena YANG BAIK adalah yg paling dicintai dan dirindu oleh dunia ide, dan dalam kesanggupan memandang yang BAIK maka CINTA dan KEBAIKAN menyatu.
Tujuan hidup manusia  adalah kebahagiaan (eudaimonia) yakni hidup dengan mengenal dunia ide dan mengarah pada  yg baik, namun itu harus terjadi dalam polis/masarakat/negara bukan secara asketis. Oleh karena itu DIA juga mengemukakan fikirannya tentang negara. Manusia-manusia yg baik akan menjadikan Negara  baik, untuk itu setiap kelompok harus mengisi posisinya dlm negara sesuai dg ciri kemampuannya. Negara ideal terdiri dari tiga golongan yaitu Filosuf yg ngurus negara, Prajurit yg membantu negara, dan petani/tukang/Pegawai sbg penyokong negara.
Negara/Pemerintah yg baik dihuni oleh orang-orang yg baik. Negara harus memperhatikan, mengutamakan keselamat warganya bukan orang2 yg memerintah. Orang yg memerintah harus mempersembahkan hidupnya bagi pemerintahan dg mengorbankan kepentingan diri sendiri. Negara perlu mendidik warganya dengan baik ke arah yg baik dan bukan semata soal akal, tapi harus memberi bimbingan kepada perasaan2 yg dapat mengarahkan diri pada akal, mampu mengendalikan nafsu. Negara harus baik, mendidik warganya menjadi baik dan warga yg baik inilah yg dpt menjadikan Negara baik.
Dalam hal pelaksanaan pendidikan, PLATO berpendapat bahwa pendidikab  anak 10 tahun ke atas menjadi kewajiban/urusan Negara, pd masa ini olah raga dan musik menjadi materi utamanya ditambah membaca menulis dan berhitung, untuk membuat badan dan fikiran sehat, dan menumbuhkan keberanian untuk mampu menjadi penjaga negara. Usia 14-16 diajarkan musik, puisi/bersajak, dan mengarang, untuk menanamkan kehalusan perasaan, budi yg halus, harmoni dan irama, dan ini penting untuk menghidupkan rasa keadilan.
Usia 16-18 diberi pelajaran Matematika untuk mendidik, melatih cara berfikir, agama dan etika sopan santun untuk menumbuhkan persatuan. Pada usia 18-20 tahun mendapat didikan militer, kemudian seleksi 1 untuk dpt pendididikan keilmuan lebih mendalam. Setelah 10 tahun seleksi 2, yg gagal jadi pegawai negara, yg lulus meneruskan 5 th belajar tentang wujud, ide, dan dialektika, setelah lulus dpt menjabat lebih tinggi, sesudah 15 th bekerja (50 th) dpt diterima masuk dlm lingkungan pemerintahan atau filosuf, karena dipandang mampu menyelenggarakan pemerintahan yg adil dg dasar ide yg Baik.
Semua pemikiran Plato terdapat dalam bentuk tulisan, meskipun ada juga yg secara lisan disampaikan dlm kuliahnya di AKADEMIA, Sekolah/PT/Universiras yg didirikannya dg biaya pembebasan Budak (PLATO pd saat itu). ini berarti Universitas/PT pertama berdiri sebagai efek perbudakan. PLATO mengajar selama 40 th sejak usianya 40 th dan meninggal di usia 80 th, setengah kehidupannya diabdikan untuk mengajar murid-murid, mengembangkan fikirannya dan ide yg baik sebagai realitas mutlak (TUHAN) menjadi dasar pemikirannya dlm berbagai aspek kehidupan manusia baik individu yg baik,masyarakat yg baik maupun politik dan negara yg baik.
Setelah PLATO meninggal, AKADEMIA terus berjalan berganti ganti pemimpin selama hampir 800 tahun, baru pada 529 M kaisar Yustinianus menutup seluruh sekolah filsafat di Athena termasuk AKADEMIA. Dari Sekolah ini lahir Filosuf-filosuf besar, dan Aristoteles yg belajar dg Plato selama 20 tahun merupakan muridnya yg dipandang terbesar sebagai filosuf dengan pengaruh kuat pada perkembangan berfikir dan filsafat kemudian.

| Meninggalkan komentar

Tentang Sekolah

SEKOLAH, PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT

| Meninggalkan komentar

Pendidikan Karakter

PENDIDIKAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER

Pendahuluan

Pendidikan selalu diberi bobot nilai-nilai normatif, demikian juga dalam Undang-undang Sisdiknas dimana Pendidikan diberi makna yang syarat dengan nilai-nilai luhur yang harus terjadi dan menjadi bagian dari interaksi pendidikan. Namun apakah itu tercermin dalam praktek pendidikan ?, inilah masalahnya, selalu terdapat kesenjangan yang makin lama makin lebar antara apa yang diharapkan bangsa Indonesia dari Pendidikan dengan apa yang dilakukan dalam tataran praktis pendidikan/pembelajaran. Kondisi ini sudah tentu menuntut suatu penataan manajemen pendidikan baik dalam tataran makro, messo maupun mikro pendidikan sehingga kemenyeluruhan dan keterpaduan proses pendidikan/pembelajaran dapat terwujud.

Pendidikan harus mendorong terwujudnya manusia yang dewasa secara personal/emosional, moral, sosial, dan intelektual, sehingga terwujud manusia, menurut UUD 1945 maupun UU Sisdiknas 2003, yang meningkat keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia sebagai dasar untuk menjadikan mereka cerdas, serta secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara . Ini bermakna bahwa pendidikan di Indonesia syarat dengan nilai-nilai yang harus menjadi bagian di dalam prosesnya, sehingga istilah Pendidikan Karakter nampaknya hanya memperkuat fokus pada pendidikan yang memang sudah memasukan unsur nilai-nilai (karakter), sehingga pendidikan Karakter itu ya Pendidikan, dan Pendidikan itu ya Pendidikan Karakter.

Pentingnya fokus tersebut nampaknya tumbuh dari suatu kesadaran akan makna hakiki pendidikan, ketika aspek pragmatis kecerdasan intelektual kognitif menjadi konsern utama (seperti pengukuran melalui UN), maka banyak hal yang dikorbankan, dan pengorbanan itu justru lebih tinggi nilainya dari sekedar kecerdasan (seperti kejujuran, keadilan, kemandirian, percaya diri). Ketika praktek pendidikan di Sekolah bersibuk diri dengan upaya peningkatan kemampuan siswa untuk lulus Ujian Nasional, sebenarnya tidak ada yang salah dengan upaya tersebut selama sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan dan pembelajaran, namun ketika ada upaya lain yang memaksakan pencapaian target tertentu diluar kaidah pendidikan, seperti pengkondisian dan distribusi info, maka sebenarnya pendidikan kita telah memasuki jalan yang sesat dan menyesatkan, bukan jalan yang lurus sesuai amanat UUD seta UU Sisdiknas. Dalam kondisi yang demikian serta terjadinya kemunduran dalam moral dan karakter bangsa, maka fokus pada pendidikan karakter (pendidikan) menjadi amat penting, urgen dan bermakna bagi pembangunan bangsa yang berkarakter.

  1. Manajemen Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter secara sederhana dapat dimaknai sebagai pendidikan yang menjadikan karakter sebagai bagian yang mewarnai proses pendidikan. Karakter itu sendiri adalah nilai-nilai yang melandasi perilaku manusia berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum/konstitusi, adat istiadat, dan estetika (Kemendiknas, 2010). Pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil, dengan demikian Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai perilaku (karakter) kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil (Kemendiknas, 2010).

Selama manusia hidup, pendidikan (pendidikan karakter) akan dialami dan dirasakan dimanapun berada, apakah itu di jalur informal, nonformal maupun formal, baik itu sebagai kejadian ataupun proses yang terencana. Namun kontrol pemerintah yang sistematis terhadap pendidikan formal cenderung penekanan pendidikan (terencana) difokuskan kapada pendidikan formal termasuk dalam kaitannya dengan pendidikan karakter yang didorong untuk menjadi gerakan nasional baik dalam tataran kebijakan maupun dalam level mikro pendidikan (kelembagaan Pendidikan formal) dengan berbagai tingkatannya dari mulai tingkatan institusi, manajerial maupun operasional (pembelajaran di Kelas). Kondisi ini menuntut kelembagaan pendidikan formal mengintegrasikannya secara sistemik dalam penyelenggaran pendidikan di sekolah.

Dalam pendekatan pendidikan sebagai suatu industri, input diproses kemudian menghasilkan output dalam arti lulusan (IPO), maka lulusan yang berkarakter menjadi konsern utama, dan itu hanya mungkin terwujud bila proses/pelayanan pendidikan mengintegrasikan nilai-nilai sebagai bagian utama di dalamnya. Dalam proses pendidikan seluruh tingkatan manajemen harus mengacu pada upaya menginternalisasikan nilai-nilai, baik untuk tingkatan institusional yang terkait dengan hubungan eksternal sekolah, tingkatan manajerial terkait dengan pengelolaan seluruh sumber daya internal sekolah, maupun tingkatan operasional/teknikal yang terkait dengan proses pembelajaran. Namun demikian untuk tataran operasional manajemen pendidikan dalam hal ini pembelajaran di kelas, maka fokus utama untuk menginternalisasikan nilai-nilai menjadi hal yang amat penting dan urgen mengingat siswa itulah yang menjadi indikator utama keberhasilan pendidikan karakter.

Dalam perspektif demikian, proses utama pendidikan yaitu pembelajaran di kelas menjadi kondisi yang amat menentukan dan harus dapat menginternalisasikan nilai-nilai secara efektif di dalamnya, sehingga tidak cukup hanya menginformasikan nilai-nilai yang ingin ditanamkan tapi juga mengembangkan sikap positif terhadapnya serta mendorongnya untuk menjadi bagian dari prilaku peserta didik, sehingga pendidikan karakter benar-benar berdampak prilaku. Oleh karena itu keberhasilan dari pendidikan karakter bukan dari makin meningkatnya pengetahuan tentang nilai-nilai, tapi menguatnya sikap positif akan nilai-nilai dan yang utama adalah berprilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut, sehingga siswa dan juga lulusan lembaga pendidikan dapat menjadi tiang utama dalam membangun dan memperkuat karakter bangsa yang belakangan ini cukup memprihatinkan. Dengan demikian dalam tataran operasional/teknikal manajemen pendidikan yaitu pembelajaran, penciptaan proses pembelajaran yang kondusif bagi internalisasi nilai-nilai menjadi hal yang akan sangat menentukan, dalam konteks ini guru dituntut untuk dapat melakukannya, dan untuk itu Guru Berkarakter menjadi manajer pendidikan utama yang akan menentukan keterjaminan proses pembelajaran yang dapat mendidik karakter siswa, menginternalisasikan nilai-nilai yang dapat membentuk siswa berkarakter.

  1. Pendidikan Karakter dan Guru berkarakter

Mengapa mesti Guru Berkarakter?, mungkin jawaban untuknya akan bervariasi, tapi yang jelas karakter bukan masalah pengajaran dalam arti transfer of moral knowledge, namun lebih pada pemodelan atau percontohan melalui interaksi edukatif yang dapat mengkondisikan suasana pembelajaran yang menumbuhkan sikap positif serta prilaku dalam melaksanakan nilai-nilai, dan ini sudah barang tentu bukan soal administratif (seperti pendidikan karakter telah diterapkan bila RPP telah memasukan nilai-nilai), tapi soal sikap, prilaku dan karakter guru dalam melaksanakan peran dan tugasnya sebagai pendidik. Guru berkarakter menuntut belajar yang berkesinambungan , guru berkarakter bukan soal ada atau tidaknya, tapi guru berkarakter merupakan suatu proses menjadi, sehingga upaya untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi guru dari mulai kepribadian, sosial, pedagogik dan profesional menjadi suatu keharusan, dan hal itu hanya bisa apabila komitmen profesi guru diperkuat, menjadi guru merupakan panggilan, menjadi guru merupakan pengabdian, suka menjadi guru, maka bahagia menjadi guru dan terus mengembangkan kemampuan untuk memberi layanan pendidikan kepada siswa guna ikut merancang masa depan peradaban yang dihiasi nilai-nilai luhur dalam masyarakat. Dalam situasi yang demikian proses pemodelan dan pengkondisian dalam membentuk karakter siswa akan efektif karena dikelola oleh guru yang berkarakter yang mampu menanamkan nilai-nilai pada siswa sebagai pelanggan primer pendidikan di sekolah..

  1. Penutup

Secara komprehensis dan sistemik, pada akhirnya pendidikan karakter menuntut manajeman pendidikan pada tataran manajerial yang memberdayakan serta memfasilitasi tumbuh kembangnya nilai-nilai dikalangan SDM pendidikan, dan pengelolaan seluruh sumber daya yang dapat mendorong pada pembelajaran yang optimal dan efektif dalam keterbukaan dan partisipasi yang aktif dan signifikan dalam menata proses pendidikan di sekolah, dalam tingkatan institusional juga menuntut manajemen pendidikan yang kolaboratif dengan pemangku kepentingan eksternal seperti orang tua siswa, masyarakat serta pemerintah, sehingga semua komponen pemangku kepentingan pendidikan di sekolah menjadi barisan yang kuat dalam dalam membangun pendidikan karakter dengan menjadikan sekolah yang berkarakter dari mulai tingkatan institusi, manajerial maupun operasional. Oleh karena itu pendidikan karakter harus terintegrasi secara sistemik dalam organisasi sekolah yang mengembangkan budaya yang kondusif bagi tumbuh kembangnya karakter, dan internalisasi nilai-nilai luhur pada seluruh anggota organisasi sekolah. Tanpa itu pendidikan karakter hanya fatamorgana yang bertumpu dalam rentetan administrasi dan dokumen tentang pendidikan karakter tanpa ruh dan semangat di dalamnya. Dan untuk itu Guru berkarakter dapat menjadi pemicu bagi penguatan dan pengembangan pendidikan karakter dalam tataran manajen dan organisasi pendidikan sekolah menuju sekolah berkarakter. Dan diharapkan Pendidikan dapat kembali ke jalan yang lurus, bukan jalan sesat dan menyesatkan, karena dengan pendidikan karakter maka insan kamil dapat menjadi pengisi dan penerus pembangunan bangsa sekarang dan masa depan…..semoga….

Sumber Bacaan

  1. Undang-undang Dasar 1945
  2. Undang-Undang Sisdiknas No 20 tahun 2003
  3. Kemendiknas, 2010. Grand Design Pendidikan Karakter
  4. D. Kesuma, et al, 2011, Pendidikan Karakter, Remaja Rosdakarya, Bandung
  5. Uhar Suharsaputra.2011, Menjadi Guru Berkarakter, Paramitra Publishing,   Yogyakarta
  6. Uhar Suharsaputra, 2013, Administrasi Pendidikan, Refika Aditama, Bandung.
Sampingan | Posted on by | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Beberapa Buku yang ditulis Dr Uhar Suharsaputra

bagi yang berminat, dapat membeli di toko-toko buku..semoga bermanfaat bagi belajar bersama kita

| 2 Komentar

Informasi

Kepada teman-teman Guru di SMPN 1 Kadugede, SMPN 2 Kadugede, SMPN 1 Nusaherang, SMP Ainur Rafik Cilimus, dan SMP Al Multazam Jalaksana yang ingin belajar bareng dan berdiskusi tentang pendidikan keguruan, penelitian dipersilahkan untuk menyampaikannya pada  Blog saya dengan alaman “uharsputra.wordpress.com, sub folder masing masing SMP dengan mengklik Folder SMP lalu pilih smp nya dan tuliskan atau kopikan masalah yang ingin didiskusikan pada kolom TINGGALKAN BALASAN…

Dr. Uhar Suharsaputra

| Meninggalkan komentar

informasi bagi MGMP B.Inggeris dan MGMP Matematika

kepada para Guru Matematika dan B. Inggeris yang berkenan untuk berdiskusi tentang Penelitian dimohon unruk mengunduh proposal atau hasil penelitian ke dalam Blog saya dengan alamat “uharsputra.wordpress.com

| Meninggalkan komentar