Masyarakat dan Pendidikan

Artikel (1). MASYARAKAT DAN PENDIDIKAN

Manusia adalah homo educandum, makhluk yang bisa dididik, yang dengannya berkembang kemampuan untuk mendidik, dan interaksi antara mendidik dan yang dididik melahirkan konsep pendidikan dan proses pendidikan, sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, dalam masyarakat, dan untuk masyarakat. Apapun namanya, masyarakat memerlukan mekanisme untuk mempertahankan diri dan melanjutkan kehidupannya. Pola nilai, sikap, serta prilaku dengan berbagai variasi kompetensinya merupakan cara yang tumbuh dalam melakukan adaptasi terhadap lingkungan hidup sekitarnya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang keberhasilannya akan menentukan hidup dan kehidupannya, keberhasilan suatu kelompok mayarakat mempertahankan dan mengembangkan diri menjadi khazanah pengetahuan yang dimiliki secara sosial, dan ketika sunatullah berjalan maka keinginan untuk menjadikan semua khazanah pengetahuan dimiliki oleh penerus mereka, mulailah pewarisan nilai, sikap, prilaku dan kompetensi hidup dan kehidupan yang dimiliki terjadi dalam suatu suasana dan kejadian pendidikan yang berjalan alami dalam lembaga keluarga sebagai bagian dari kohesivitas kehidupan sosial masyarakat, sehingga ketika generasi tua meninggal, generasi penerus telah siap dengan pola nilai, sikap, prilaku dan kompetensi yang relatif sama dengan pendahulunya untuk melanjutkan hidup dan kehidupannya.

Pewarisan nilai-nilai, kecakapan dan ketrampilan pada awalnya merupakan hal yang cukup sederhana dimana orang tua dapat secara langsung melakukannya pada berbagai kejadian pendidikan (pengajaran, pelatihan) dalam kehidupan sehari-hari, karena apa yang terjadi dan dialami oleh orang tua, itulah yang akan dialami oleh anak-anak seiring perkembangan waktu, namun ini jelas hanya bisa efektif dalam bentuk masyarakat post-Figurative yang menurut Margareth Mead (dalam Astrid Susanto, 1986), merupakan masyarakat tradisional dimana generasi yang lebih tua sudah mengalami apa yang baru akan dialami oleh generasi muda, ini berarti bahwa dalam masyarakat tradisional golongan Tua memandang bahwa golongan muda akan mengalami perkembangan dalam hidupnya sesuai dengan apa yang telah dialami oleh golongan tua, sehingga nilai-nilai, kecakapan dan ketrampilan yang harus dimiliki relatif sama, dan generasi tua merasa berkewajiban mentransmisikan kepada generasi muda (transmisi vertikal dari atas/generasi tua ke bawah/generasi muda).
Seiring dengan perkembangan masyarakat melalui berbagai hubungan antar kelompok masyarakat, maka masyarakat kemudian berubah menjadi bersifat co-Figuratif, dimana baik golongan tua maupun golongan muda (anak-anak) sama-sama belum mempunyai pengalaman, sehingga mengalami kesulitan untuk mentransmisikan nilai-nilai, kecakapan serta ketrampilan yang perlu disampaikan pada golongan muda. Dalam kondisi ini ketegangan antara golongan tua dan golongan muda merupakan ciri dari masyarakat dan hanya bisa diatasi dengan upaya melakukan adaptasi dari golongan tua agar bisa kompatibel dengan perkembangan yang ada dan yang mungkin ada, inilah masyarakat pre-Figuratif, yang hanya mungkin bisa diwujudkan dengan pendidikan dan komunikasi yang efektif. Dengan demikian pendidikan merupakan unsur penting dalam masyarakat apapun bentuk masyarakatnya.
Setiap masyarakat, sesederhana apapun, berusaha untuk mendidik anggotanya khususnya generasi muda menurut cita-cita, harapan yang dimiliki masyarakatnya, sehingga perbedaan suasana dan kejadian pendidikan jelas akan nampak. Ini berarti akan terdapat perbedaan antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya karena setiap masyarakat mempunyai nilai-nilai, pola sikap dan prilaku yang berlainan, sehingga tidaklah sederhana bila suatu saat upaya untuk menyamakan cara mendidik lintas budaya menjadi harapan dan keinginan politik yang mengagregasi kepentingan, harapan dan cita-cita masyarakat yang bervariasi, meskipun esensinya pada dasarnya relatif sama dalam konteks mempertahankan hidup dan kehidupan masyarakatnya masing masing. Masyarakat memang terus berubah, interaksi antar kelompok masyarakat, kehadiran berbagai nilai-nilai baru seperti agama serta proses asimilasinya jelas menjadi faktor yang menjadikan dinamika sosial budaya masyarakat terus terjadi dengan variasi reaksinya masing-masing, yang jelas semua itu akan mempengaruhi pada berbagai nilai-nilai sosial budaya masyarakat dalam menjalani hidup dan kehidupannya.
Kehadiran agama-agama serta berkembangnya kebudayaan yang kuat telah membangun dan mengokohkan nilai-nilai kehidupan tertentu dalam hubungan sosial kemasyarakatan, dan hal ini juga mempengaruhi arah dan tujuan pendidikan sebagai instrumen mewariskan nilai-nilai bagi generasi penerus. Generasi tua memandang bahwa generasi muda akan mengalami tahapan kehidupan yang persis atau nyaris sama dengan apa yang dialami generasi tua, sehingga mempersiapkan generasi muda dengan nilai, sikap dan prilaku yang sudah berlaku menjadi suatu keharusan dalam mempertahankan keberlanjutan hidup dan kehidupan. Meskipun terdapat perubahan pola interaksi akibat adanya inovasi praktis tertentu dalam kehidupan masyarakat, namun nilai-nilai dasar hidup dan kehidupan tetap dipandang sebagai bagian yang akan tetap berlaku dan penting dimanapun dan kapanpun hidup itu terjadi.
Dengan peradaban dan kebudayaannya yang cukup tinggi, masyarakat Mesir kuno juga telah menjadikan pendidikan sebagai hal penting dalam mencapai tujuan susila keagamaan agar manusia menjadi makhluk yang berbakti pada dewa-dewa, sehingga penyelenggaranya adalah para agamawan (pendeta). Dalam masyarakat India purba dengan agama Hindunya juga telah melaksanakan pendidikan dimana tujuan pendidikannya adalah menanamkan kesabaran, penyerahan diri, dan kepatuhan; dalam masyarakat china klasik, pendidikannya diselenggarakan oleh negara dengan tujuan mendidik manusia menjadi kepala keluarga yang baik dan setia, ilmuwan dan pegawai pemerintah yang jujur, rajin serta rela berbakti (I Djumhur, 1976:3-22); bangsa Sparta Kuno, tujuan pendidikannya adalah membentuk manusia yang penuh keberanian, mampu menghadapi berbagai tantangan, hormat dan patuh terhadap pimpinan, berjiwa patriot dan loyal terhadap negara; bangsa Athena punya tujuan pendidikan membentuk manusia paripurna yang mempunyai kemampuan fisik, keutuhan moral, kemampuan intelektual dan kepekaan terhadap aspek sosial; pada awal kebudayaan Romawi tujuan pendidikan adalah menjadikan manusia yang tangguh mental (constantia), berbudi luhur, patuh terhadap tuhan, mampu menguasai diri (modestas), bermartabat (gravitas), bijaksana, dan adil (Soenarya, 2000:50-51). Kehadiran agama islam juga telah mempengaruhi pada bidang pendidikan, dimana tujuan utamanya adalah mendidik agar manusia menjadi insan kamil yang dapat berperan sebagai khalifah dimuka bumi, semua itu didasarkan pada nilai-nilai yang dibawakan oleh kitab suci Al Qur’an serta tarih Nabi yang memberikan contoh bagaimana hidup dan mengisi kehidupan sesuai dengan kehendak kitab suci, sementara itu kelembagaannya sangat fleksibel baik dilakukan di mesjid maupun dirumah sebagaimana kasus Darul Arqam yang menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran di rumah Al arqam. Yang jelas bahwa tujuan utama pendidikan adalah bagaimana menginternalisasikan nilai-nilai agama pada masyarakat, sehingga dapat terwujud masyarakat yang sholeh dan berakhlaqul karimah.
Orientasi pendidiKan pada aspek emosional dan moral dalam konteks sosial kemasyarakatan (sikap dan prilaku hidup) merupakan nilai dasar yang menjadi tujuan utama pendidikan, dimana keberagamaan seseorang (atau nilai-nilai lainnya) merupakan dasar bagi terbentuknya atau terbangunnya manusia yang tetap menjaga nilai-nilai etika dalam kehidupan masyarakat serta mampu menerapkannya dalam gerak perkembangan hidup dan kehidupan masyarakat sehingga keberlangsungan serta kesinambungan tradisi dan budaya msyarakat baik berdasarkan agama ataupun yang lainnya dapat terus terjaga. namun dalam perkembangannya sekarang ini, pendidikan sekolah cenderung lebih berorientasi pragmatis dimana nilai tunai dari sesuatu kondisi, proses pendidikan, cukup mendominasi dengan kuantifikasi yang menonjol serta ekonomisasi yang juga dominan dalam melihat hasil dari suatu proses pendidikan yang diperankan oleh sekolah, kekaburan pendidikan dan pengajaran, antara pendidikan dan latihan cenderung menjadi bagian yang umum dalam pemahaman masyarakat, dengan akibat pada makin kurangnya perhatian pada penguatan norma dan nilai prilaku sosial kemasyarakatan yang pada tahap awal perkembangan pendidikan sekolah menjadi orientasi utamanya sebagai bagian penting yang diharapkan masyarakat.
Kondisi tersebut bisa dirunut pada pendidikan di masa penjajahan (bagi negara-negara yang mengalami penjajahan), dimana penjajah mencoba memberikan pendidikan melalui sekolah, meski terbatas dan diskriminatif, untuk kepentingan penyediaan tenaga kerja murah untuk dimanfaatkan oleh penjajah tersebut, sehingga sekolah menyelenggarakan pendidikan di masyarakat untuk kepentingan di luar masyarakatnya yang berakibat kohesivitas sosial masyarakat menjadi terganggu. T.R. Batten dalam bukunya School And Community (1959) menemukan beberapa fakta terdapatnya keluhan masyarakat akan pendidikan sekolah seperti yang terjadi di Afrika dimana masyarakat menyampaikan memorandum pada tahun 1935 bahwa sekolah telah mendorong individualisme yang tidak berketentuan yang destruktif bagi elemen-elemen kehidupan komunal, memperlemah ikatan sosial, membongkar tradisi, keakraban, dan penguasaan diri, pengaruhnya (sekolah) adalah merusak dan destruktif. Demikian juga laporan Furnivall (dalam Batten, 1959) yang menyebutkan bahwa moral anak-anak sekolah selalu tetap menjadi bahan pembicaraan, dan distrik/daerah yang mencapai prestasi/rekord terbaik dalam pendidikan (sekolah) justru mencapai pula rekord dalam kriminal. Kondisi ini jelas menunjukan dinamika interaksi antara sekolah dan masyarakat, ketika peran sekolah sebagai lembaga yang dapat menyuntikan perubahan masyarakat bertemu dengan kondisi masyarakat yang ada, dan hal seperti itu cenderung terjadi di berbagai negara terutama yang mengalami penjajahan yang penyelenggaraan pendidikan sekolahnya bukan untuk kepentingan masyarakat melainkan untuk kepentingan ekonomis penjajah.
Kondisi demikian, sayangnya tidak banyak berubah, bahkan cenderung dipertahankan sesudah negara-negara jajahan mengalami kemerdekaan, hal ini diperkuat dengan mitos pembangunan yang harus menjadi bagian integral dari perjuangan bangsa. disamping itu perkembangan iptek yang sangat cepat telah menjadikan negara-negara berkembang mempunyai idola baru masyarakat yakni masyarakat dan negara-negara maju yang notabene penjajahnya, sehingga orientasi dan tujuan pendidikan sekolah juga cenderung mengarah pada terwujudnya masyarakat iptek yang makin mendekati masyarakat maju, kondisi ini mengakibatkan pendidikan sekolah tidak terarah pada masyarakatnya sendiri, melainkan pada masyarakat yang lain, meskipun secara tersurat tetap mengklaim sebagai mengakarkan dirinya pada budaya masyarakat setempat, namun cenderung tidak paralel dengan proses dan kontennya pendidikan di sekolah.
Memang pendidikan tidak dimaksudkan untuk membawa generasi penerus pada kehidupan masa lalu, namun juga jangan sampai dilepaskan begitu saja pada kehidupan masa depan tanpa mengikatkan diri dengan masyarakatnya. Masyarakat terus berubah dengan cepat, masa depan yang akan dijalani oleh generasi muda tidaklah terlalu jelas, sehingga kejutan masa depan menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam pendidikan. Alvin Toffler (1972) menyatakan akan terjadinya Future Shock atau kejutan masa depan, dimana akan ada tekanan yang mengguncangkan dan hilangnya orientasi yang dialami oleh individu-individu jika kita menghadapkan mereka dengan terlalu banyak perubahan dalam waktu yang terlalu singkat (hal ini nampak dari jargon revolusi industri 4.0, masyarakat 5.0, yg direspon ramai tapi tak faham apa sebenarnya esensinya dan bahayanya akibat adopsi dan adaptasi permukaan yg serampangan). Banyak perubahan yang terjadi dalam waktu yang bersamaan akan membuat individu dan masyarakat mengalami kegamangan, karena kepastian menjadi sulit dan keterputusan menjadi bagian kehidupan, ini berarti apa yang akan dialami generasi penerus belumlah akan menjadi jelas, dan harus mempersiapkan generasi muda dengan kemampuan prima yang fleksibel, serta adalah bijak bila nilai-nilai yang berlaku di masyarakat yang dapat menjadi fondasi hidup dan kehidupan tetap menjadi perhatian utama pendidikan. (Kalapagunung, Sabtu, 28122019, 22.13)

RUJUKAN
Abdulah, Taufik & Leeden. ed. (1986). Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas, Yayasan Obor Jakarta
Ahmadi, Abu (2007) Sosiologi Pendidikan, Rineka
Bach, James Marcus. (2009) Secrets of Buccaneer Scholar, How Self Education and the pursuit of Passion can lead to a lifetime of Success. Terj. Dharma, Kaifa, Bandung
Barth, Roland S. (1990) Improving School from within, Jossey and Bass, San Fransisco
Bastian, Aulia Reza. (2002) Reformasi Pendidikan, Lappera Pustaka Utama Yogyakarta
Batten, T.R. (1959) School and Community in the tropics, terj Suryadi, 1976, Alumni, Bandung
Beck, Lynn G. & Murphy. (1996) The Four Imperatives of Successful School, Corwin Press, California.
Buchori, Mochtar (1994a) Spektrum Problematika Pendidikan di Indonesia, Tiara Wacana, Yogya.
_______ (1994b) Ilmu Pendidikan dan Praktek Pendidikan, Tiara Wacana, Yogya.
_______ (2001) Transformasi Pendidikan, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

| 5 Komentar

Filosofi Mudik

MUDIK adalah suatu kejadian sosial, dia juga bisa dilihat sebagai kejadian pendidikan, dia bukan proses terencana, namun bisa menjadi kejadian yg didalamnya ada internalisasi, sosialisasi nilai2 tertentu yg diwariskan masyarakat pd generasi penerus. Setiap masyarakat/bangsa akan selalu berusaha mempertahankan diri dlm identitas sosial budaya tertentu dan mem-propaganda-kannya untuk dapat diikuti, ditiru oleh budaya lain melalui berbagai cara dan dalam berbagai bidang kehidupan serta dlm semua unsurnya. Dlm konteks ini mudik terkait dg iedul fitri, merupakan contoh menarik penyucian budaya melalui pengaitan dg nilai Agama.  Ini merupakan kejadian pendidikan dlm model sosialisasi nilai nilai dlm simbol mudik. Tak diragukan lagi bahwa tak satupun ajaran islam yg menyatakan wajibnya mudik atau memandang bagian dari ajaran islam. Namun di dalamnya terselip atau tercakup nilai silaturahmi, hormat orang tua dan kedermawanan dg berbagi rezeki dengan keluarga, masyarakat yg telah mengeluarkan energi besar untuk tumbuh kembangnya Kita, saya anda kami kamu. Jika mereka mudik berarti keterikatan akan daerah yg membesarkan jadi terhubungkan dan ini menghindari manusia dari “hilap kana purwadaksina”,  sebab kultur barat yg egosentris cenderung melihat hubungan manusia dg manusia transaksional bahkan pd orang tua sendiri cenderung hubungan “keingatan” bersifat materialistik, padahal kehadiran adalah sesuatu yg tak bisa tergantikan.
Ditengah pragmatisme dan pemujaan efisiensi, MUDIK jadi gambaran bagaimana pengorbanan besar jadi sikap dan prilaku masyarakat untuk mencapai nilai-nilai perenial kemanusiaan. Manusia jadi sadar akan horizon waktu kehidupan, memberi makna padanya adalah esensi kemanusiaan, sagregasi, stratifikasi sosial karna pekerjaan, pendidikan dan kapasitas ekonomi lebur dalam kesatuan kemanusiaan, saya dan anda jadi kita, jadi kami, lem perekat kohesivitas sosial dalam dan antar keluarga serta masyarakat makin terbangun kuat betapapun nanti berpisah lagi namun lem itu akan selalu menariknya kembali. Ketika manusia lebih memikirkan saat ini dan masa depan hidup dan kehidupan, dia diingatkan akan masa lalu yg telah memberi makna pd kehidupan kita, memberi fondasi nilai prilaku kini dan memurnikan menguatkan harapan masa depan (bila gunakan istilah Dilthey, filsuf jerman), semua makna dan nilai itu jadi bentuk pemotivasian sosial untuk berjuang dan kembali. Ketika lokasi tinggal telah jadi alat stratifikasi sosial, maka Mudik menyatukannya, ketika ekonomi jadi alat stratifikasi sosial, maka mudik menguranginya, ketika pendidikan jadi alat stratifikasi sosial, maka mudik menyambungkannya. Ketika kita lebih sering bicara “hidupku-hidupmu”, mudik menjadikannya semua adalah “hidup kita, hidup kami” (Gotong royong), mudik memang bisa jadi obat egoisme, individualisme, dan keterasingan hidup di perkotaan, dia membangun ke”kita”an dan memperkuat kebersamaan, dia membanguan ke”ingat”an dan memperkuat per”saudara”an, dan tentu banyak lagi nilai yg bisa digali dari fenomena MUDIK (mungkin perlu buku khusus untuk menulisnya) , SEHINGGA ALANGKAH BODOHNYA KITA JIKA MASIH BERTANYA “UNTUK APA” “KACAPE CAPE”, “NANAHAAN”, mudik kan bisa kapan saja !!, nah yg begini gak faham MOMENTUM, sebagai kesadaran sosial, dan idul fitri dg mudiknya tlah terekontruksi kuat dlm budaya kita dg nilai nilai keagamaan di dalamnya, siapapun yg menghalanginya termasuk pemerintah akan KALAH, daripada kalah lebih baik berilah, perbaikilah terus fasilitas mudik, bantulah terus masyarakat untuk dg aman nyaman MUDIK, selamat Mudik dan semoga selamat kembali ke tempat masing2 dengan semangat dan motivasi yg terbarukan dan tercerahkan

Filsafat Pendidikan (6)

ANALISIS KONDISI PENDIDIKAN BERDASARKAN KECENDERUNGAN PEMIKIRAN FILOSOFIS. 

Dalam Perkembangan Pendidikan Formal peesekolahan sekarang ini, pendidikan sekolah cenderung lebih berorientasi pragmatis dimana nilai tunai dari sesuatu  kondisi, proses pendidikan, cukup mendominasi dengan kuantifikasi yang menonjol serta ekonomisasi yang juga dominan dalam melihat hasil dari suatu proses pendidikan yang diperankan oleh sekolah, kekaburan pendidikan dan pengajaran, antara pendidikan dan latihan cenderung menjadi bagian yang umum dalam pemahaman masyarakat,  dengan akibat pada makin kurangnya perhatian pada penguatan norma dan nilai prilaku sosial kemasyarakatan yang pada tahap awal perkembangan pendidikan sekolah menjadi orientasi utamanya sebagai bagian penting yang diharapkan masyarakat.

Kondisi tersebut bisa dirunut pada pendidikan di masa penjajahan (bagi negara-negara yang mengalami penjajahan), dimana penjajah mencoba memberikan pendidikan melalui sekolah, meski terbatas dan diskriminatif,  untuk kepentingan penyediaan tenaga kerja murah untuk dimanfaatkan oleh penjajah tersebut, sehingga sekolah menyelenggarakan pendidikan di masyarakat untuk kepentingan di luar kebutuhan masyarakatnya yang berakibat kohesivitas sosial masyarakat menjadi terganggu. T.R. Batten dalam bukunya School And Community (1959) menemukan beberapa fakta terdapatnya keluhan masyarakat akan pendidikan sekolah seperti yang terjadi di Afrika  dimana masyarakat menyampaikan memorandum pada tahun 1935 bahwa sekolah telah mendorong individualisme yang tidak berketentuan yang destruktif bagi elemen-elemen kehidupan komunal, memperlemah ikatan sosial, membongkar tradisi, keakraban, dan penguasaan diri, pengaruhnya (sekolah) adalah merusak dan destruktif. Demikian juga laporan Furnivall (dalam Batten, 1959) yang menyebutkan bahwa moral anak-anak sekolah selalu tetap menjadi  bahan pembicaraan, dan  distrik/daerah yang mencapai prestasi/rekord terbaik dalam pendidikan (sekolah) justru mencapai pula rekord dalam kriminal. Kondisi ini jelas menunjukan dinamika interaksi antara sekolah dan masyarakat, ketika peran sekolah sebagai lembaga yang dapat menyuntikan perubahan masyarakat bertemu dengan kondisi masyarakat yang ada, dan hal seperti itu cenderung terjadi di berbagai negara terutama yang mengalami penjajahan yang penyelenggaraan pendidikan sekolahnya bukan untuk kepentingan masyarakat melainkan untuk kepentingan ekonomis penjajah.

Kondisi demikian, sayangnya tidak banyak berubah, bahkan cenderung dipertahankan sesudah negara-negara jajahan mengalami kemerdekaan, hal ini diperkuat dengan mitos pembangunan yang harus menjadi bagian integral dari perjuangan bangsa. disamping itu perkembangan iptek yang sangat cepat telah menjadikan negara-negara berkembang mempunyai idola baru masyarakat yakni masyarakat dan negara-negara maju yang notabene penjajahnya, sehingga orientasi dan tujuan pendidikan sekolah juga cenderung mengarah pada terwujudnya masyarakat iptek yang makin mendekati masyarakat maju, kondisi ini mengakibatkan pendidikan sekolah tidak terarah pada masyarakatnya sendiri, melainkan pada masyarakat yang lain, meskipun secara tersurat tetap mengklaim sebagai mengakarkan dirinya pada budaya masyarakat setempat, namun cenderung tidak paralel dengan proses dan kontennya pendidikan di sekolah. Memang pendidikan tidak dimaksudkan untuk membawa generasi penerus pada kehidupan masa lalu, namun juga jangan sampai dilepaskan begitu saja pada kehidupan masa depan tanpa mengikatkan diri dengan masyarakatnya. Masyarakat terus berubah dengan cepat, masa depan yang akan dijalani oleh generasi muda tidaklah terlalu jelas, sehingga kejutan masa depan menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam pendidikan. Alvin Toffler (1972) menyatakan akan terjadinya Future Shock atau kejutan masa depan, dimana akan dialami oleh individu-individu jika kita menghadapkan mereka dengan terlalu banyak perubahan dalam waktu yang terlalu singkat. Banyak perubahan yang terjadi dalam waktu yang bersamaan akan membuat individu dan masyarakat mengalami kegamangan, karena kepastian menjadi sulit dan keterputusan menjadi bagian kehidupan, ini berarti apa yang akan dialami generasi penerus belumlah akan menjadi jelas, dan harus mempersiapkan generasi muda dengan kemampuan prima yang fleksibel, serta adalah bijak bila nilai-nilai yang berlaku di masyarakat yang dapat menjadi fondasi hidup dan kehidupan tetap menjadi perhatian utama pendidikan.

Sekolah sebagai bagian dari upaya pendidikan masyarakat perlu mengintegrasikan dua sudut pandang yaitu antara cara sebagai tujuan dan cara untuk mencapai tujuan. Tujuan pendidikan menjadi konsern utama ketercapaiannya, karena tanpa itu pendidikan dan sekolah akan kehilangan makna, dan untuk itu sarana untuk mencapainya harus terus diperkuat dan dikembangkan agar makin mempermudah sampai pada tujuan, meningkatkan mutu sekolah sebagai tujuan saja akan menjadikan kegiatan pendidikan di sekolah sangat teknis dan rutin tanpa refleksi, dan kondisi ini harus terus dijiwai dengan menyadarkan akan makna pendidikan/sekolah sebagai sarana agar pendidikan dan atau sekolah dapat menjadi jembatan yang menuju pada tujuan pendidikan/sekolah bukan sekedar jembatan (sarana) yang tidak membawa kemana-mana selain kebuntuan yang akan membebani masyarakat. Dengan demikian perlunya tujuan pendidikan/ sekolah untuk dicapai dengan menjadikan sekolah sebagai sarana harus terus dikembangkan sama dengan perlunya memperkuat jembatan untuk mencapainya agar tidak ambruk ketika dilewati anak-anak kita, murid-murid kita, siswa-siwa kita dalam mencapai tujuan masyarakat dan kemasyarakatan, tujuan hidup dan kehidupan umat manusia.

Tujuan pendidikan tidak sama dengan tujuan sekolah, tujuan sekolah merupakan bagian kecil dari tujuan pendidikan, karena pendidikan mempunyai aspek dan dimensi yang luas dalam masyarakat, tujuan sekolah disangga oleh tujuan pembelajaran setiap pelajaran yang disampaikan, tujuan pendidikan disangga oleh tujuan sekolah serta lingkungan pendidikan lainnya baik non formal maupun informal, keterpaduan semua itu merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat dan meningkatkan mutu hidup dan kehidupan manusia dan kemanusiaan, sehingga fragmentasi tujuan pendidikan harus dihindari agar pembelajaran menjadi penguat sekolah dan sekolah menjadi penguat pendidikan, dan kuatnya pendidikan akan memperkokoh kehidupan masyarakat dalam keberlanjutan peradaban serta beradaptasi terhadap perubahan yang terus terjadi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, serta dinamika social masyarakat. Sekolah merupakan jalur pendidikan formal yang memiliki jenjang-jenjang sesuai dengan kesamaan karakteristik umum peserta didiknya, dimulai dari PAUD, dimulailah langkah-langkah untuk meniti jembatan, Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (6 tahun), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (3 tahun), Sekolah Menengah Atas/Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah (3 tahun), sampai Perguruan Tinggi (S1 4 tahun, S2 2tahun, dan S3 3 tahun) , bila dihitung waktu formal mengikuti Pendidikan di sekolah seseorang harus menghabiskan 21 tahun untuk bisa menyelesaikan pendidikan sekolah sampai S3, itu bila belajar lancar dan normal, jika tidak maka waktu yang dihabiskan lebih lama lagi. Bila usia rata-rata hidup manusia 60 tahun, maka lebih dari sepertiga hidup manusia dilalui melalui jembatan sekolah, ini suatu yang cukup lama dihabiskan untuk mengikuti pendidikan persekolahan, sehingga adalah wajar apabila masyarakat menuntut balikan dari perjalanan meniti jembatan dan dapat menyelesaikannya dengan sampai pada yang diharapkan oleh masyarakat. Masa lalu menjadi bagian yang membentuk kita, masa kini menjadi bagian yang kita jalani, dan masa depan menjadi bagian hidup kita yang pasti terjadi, itu fakta penting, dan setiap masa itu pasti tidak sama, Margaret Mead (dalam ONeill, 1981. Terj. Omi Intan Naomi, 2001) menyatakan bahwa Saya tidak dilahirkan di sebuah dunia di mana saya hidup sekarang ini, dan saya tidak hidup di sebuah dunia dimana nantinya saya akan mati. Seseorang bersekolah ataupun tidak, kehidupan masa depan dengan berbagai perubahannya akan datang dengan sendirinya selama kehidupan masih terjadi, namun demikian, sekolah mencoba membantu menjadikan manusia, kita, lebih siap dalam menghadapi dan menjalaninya, di sini ada hegemoni nilai yang seolah mengetahui betul apa yang akan terjadi di masa depan, padahal dimasa kapanpun esensi manusia dan kemanusiaan, esensi hidup dan kehidupan tetaplah sama, dan kondisi ini sering tidak mendapat tempat manakala berbicara tentang peran sekolah bagi hidup dan kehidupan, bagi manusia dan kemanusiaan.

Filsafat Pendidikan (5)

PRAGMATISME. Faham filsafat ini populer mulai sekitar abad 19, namun embrionta telah menggejala pada masa yunani, pemikiran Idealisme Plato itu sendiri dipandang respon akan kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat pada saat itu dimana materi dan kegunaannya relah jadi keberan yg jadi tujuan hidup. Pragmatisme berpandangan bahwa kebenaran sesuatu ditentukan ole akibat akibatnya, jika sesuatu itu berguna dan atau bermanfaat bagi kehidupan umum, maka itu benar terlepas dari ide dan dan fakta objektifnya, sehingga ukuran kebenaean bisa terus berubah karena efek sosial ekonomi, budaya yg berguna pd satu saat bisa hilang kegunaannya di waktu dan tempat berbeda. Dia tak bicara tentang kebenaran agama atau ide, atau hukum objektif alam, namun dia bertanya apakah itu berguna atau bermanfaat bagi kehidupan? Kalau ada, benarlah itu kalau tidak, ya tidak benar. Untuk itu pertimbangan dlm menentukan kebenaran adalah Guna dan atau Manfaat.

Terdapat 4 tema utama dlm pemikiran Pragmatisme: 1) ttg realiras perubahan, 2) sifat esensial manusia secara fisik dan sosial, 3) relativitas nilai dan 4) pentingnya pemikiran kritis. (Kneller). Pragmatisme berpendapat bahwa dunia tidak bebas dan tidak tergantung pada ide ide manusia tenrangnya, namun merupakan suatu interaksi antara manusia dan lingkungannya, yg terakumulasa dlm suatu pengalaman. Manusia dan lingkungannya berkoordinasi, dan semua bertanggung jawab, ikut menentukan atas apa yg dusebut “nyata”/real. Itu berarti bahwa dunia punya maknahanya jika manusia memberi makna ke dalamnya.

Pragmatisme meyakini bahwa esensi kehidupan (realitas) adalah perubahan, oleh karena itu manusia harus selalu dipersiapkan untuk berubah dalam berbagai cara hidup dan kehidupan. Tujuan dan cara pendidikan harus fleksibel dan selalu terbuka pd perbaikan, revisi terus menerus. Pendidikan itu sendiri adalah alat sekaligus tujuan, sebagai alat berarti cara untuk mencapai tujuan, dan sebagai tujuan berarti untuk memperbaiki manusia. Dalam pendidikan disiplin harus tumbuh dari dalam diri mereka sendiri, dan hendaknya tidak dipertentangkan dg minat siswa.

Pragmatisme banyak pengaruhnya dlm berbagai aspek kehidupan dewasa ini termasuk bidang pendidikan. Era global, perubahan telah menjadikan setiap langkah, cepat kedaluwarsa, sehingga keajegan jadi sulit ditegakan. Kurikulum tak perlu waktu lama tuk ketinggalan, dicanangkan bentar tuk kedaluwarsa, ini menuntut pemikiran yg konsisten ttg untuk apa pendidikan jika hanya untuk tertinggal dari dinamika perubahan…nah ini “the crucial point of education”.

Karena realitas ditentukan oleh interaksi orang dg lingkungan, maka peserta didik harus memahami dunia yg mempengaruhinya. Manusia tak bisa terpisah dari lingkungan dimana dia hidup, yg berarti juga bahwa sekolah tak dapat dipisahkan dari hidup dan kehidupan, oleh karena itu pendidikan adalah hidup dan kehidupan itu sendiri, bukan untuk persiapan, atau mempersiapkan hidup, dan kehidupan. Dg demikian materi belajar hendaknya terkait langsung dg masalah2 yg dihadapi peserta didik dlm kehidupan nyata, dan yg dapat membantu masyarakat memecahkan berbagai masalah sosial, budaya, dan masalah kehidupan masyarakat yg dihadapinya pd saat itu.

Filsafat Pendidikan (4)

REALISME. Adalah Faham  filsafat kedua yg dipandang tradisional (yg pertama Idealisme seperti dikemukakan terdahulu). Pemikiran Realisme ini merupakan reaksi terhadap pemikiran idealisme. Dlm pandangan Realisme objek2 dari indra muncul apa adanya yg terlepas dari konstruksi akal fikjran. Sehingga yang ril itu bukan ide abstrak. Sebuah pohon yg ada di hutan rimba dia ada hanya jika ada idenya dlm fikiran, tanpa itu pohon tidak ada, sementara Realisme berpandangan bahwa pohon itu tetap ada seperti apa adanya, apakah ada orang yg memikirkannya ataupun Tidak. Jadi objek real tetap ada tanpa tergantung pada ide/akal fikir.

Bila Idealisme dirujukan pd pemikiran PLATO, maka Realisme merujuk pada pemikiran ARISTOTELES.  Realisme berpandangan bahwa segala sesuatu di alam semesta berjalan menurut hukum alam yg pasti dan tak tergantung pada ide atau amatan yg dimiliki manusia. Pemikiran ini telah membuka jalan lebar bagi berkembangnya Iptek, disamping memperkuat metode induktif dalam berfikir, sehingga observasi, eksperimen yg jadi pendorong berkembangnya iptek makin kuat  dipraktekan dalam lebih memahami alam semesta. Oleh karena itu dlm pemikiran Realisme, kebenaran atau sesuatu itu benar bila ada kesesuaian dg fakta dan bisa dibuktikan secara nyata (Teori kebenaran Korespondensi), sementara dlm Idealisme kebenaran, atau sesuatu itu benar bila konsisten secara logis diantara ide2 dan atau gagasan (teori kebenaran koherensi).

Dalam pandangan realisme pendidikan, pembelajaran difokuskan pd penguasaan hukum hukum alam yg ada di dunia fisik, ilmu2 kealaman menjadi muatan utama dlm pembelajaran. Pendidikan harus mewariskan ilmu ilmu yg pasti yg sudah terbukti secara empiris. Guru dipandang sebagai orang yg menguasai hukum alam dg pengamatan yg kompleks dan ini harus diinformasikan pd peserta didik. Segala sesuatu di alam harus dilihat secara objektif empiris dg mengesampingkan nilai nilai serta sikap pribadi. Pendekatan dalam melihat kurikulum bersifat saintifik indrawi, dimana panca indra jd dasar dan sumber ilmu, dg metode induksi (observasi, eksperimen) sebagai cara pemerolehan keputusan atau kesimpulan akan sesuatu yg terjadi di alam.

Dlm faham realisme, metode pembelajaran disesuaikan dg teori kebenarannya, yakni teori korespondensi, yg menunjukan bahwa sesuatu itu benar jika sesuai dg kenyataan,  sehingga metode harus mengarah pd pencerapan indra, sebagai pengalaman kemudian diorgansir dalam suatu kesatuan dg dukungan fakta empiris, dlm hal ini metode demonstrasi, observasi lapangan menjadi dominan untuk melihat fakta kasus yg kemudian jadi dasar pengetahuan umum yg objektif. Dg cara ini pemikiran realisme memperkuat pengembangan logika induktif dimana pemikiran bergerak dari kasus kasus khusus untuk kemudian disimpulkan dlm generalisasi. Sementara itu terkait peran sekolah cenderung sama  mendukung status quo bedanya jika idealisme yg mentransfer nilai nilai, ide, gagasan abadi masa lalu, sedang realisme mentransfer pengetahuan objektif yg sesuai hukum alam, dan keduanya memandang sekolah bukan agen perubahan, tapi agen konservasi

Filsafat Pendidikan (3)

Semua praktek pendidikan, temasuk  apa yg dilakukan para pendidik/Guru sebenarnya dibangun diatas asumsi asumsi filosofis, dan titik tolak filisofis yg berbeda dapat mempengaruhi praktek2 pendidikan yg berlainan. Dalam kaitan  pemahaman awal akan aliran pemikiran filsafat menjadi bagian penting untuk memahami kenapa suatu praktek pendidikan tertentu dilakukan. Berikut akan dikemukakan aliran2 filsafat dasar ,(sering juga disebut tradisional) yg pertama faham IDEALISME.  Faham ini berpandangan bahwa yang nyata itu adalah ide,  sehingga penekanan di berikan pd realitas gagasan, pemikiran, atau akal fikir ketimbang pada objek2 material. Faham ini juga menunjukan pd pemikiran bahwa ide, pemikiran sebagai sesuatu yg nyata, sedang materi adalah akibat yg ditimbulkan oleh ide, akal fikir, mind/jiwa.

Dalam pemikiran Idealisme (Ideisme) dunia materi adalah sesuatu yg tak bisa dijadikan dasar kebenaran, karena selalu berubah dan akan terus berubah, oleh karenanya kebenaran harus berdasar pada sesuatu yg bersifat tetap, ide itulah sebagai kebenaran absolut. Dalam setiap dunia fisik materi selalu terdapat ide universal tentangnya. Misalnya: kita punya teman si A pada waktu belajar di SD, sesudah itu kita berpisah karena menempuh jalan hidup yang berbeda sesudah puluhan tahun kita bertemu lagi dg si A dalam kondisi fisik yg sama sama sudah sepuh (pareot) karna udah tua, nah pd waktu ketemu itu kita yakin bahwa itu si A, darimana keyakinan itu padahal dulu dia kekar badannya, sementara ketika ketemu udah rapuh…? Kalau dari fisik jelas sudah beda karena berubah, tapi ide, fikiran kita ttg si A masih tetap, yakni si A ini adalah si A yg dulu teman saya di SD, kita tak bisa menolak si A sebagai bukan teman SD saya hanya karna fisiknya udah berubah, kita akan berpegang pada ide kita ttg si A, sebagai sesuatu yg tetap. Dg faham idealisme ini, maka pendidikan harus menganjarkan siswa pada sesuatu yg tetap, sesuatu yg abadi, bukan pd sesuatu yg berubah. Bukan pada kebenaran si A waktu di SD seperti itu, sedang sekarang seperti ini, tapi pada kebenaran ttg ide  si A yg tak berubah baik dulu dan sekarang, tetaplah dia itu si A. Klw anda ketemu teman minggu lalu mukanya bersih mulus, tp sekarang ketemu dia lagi banyak jerawatnya, apakah anda yakin bahwa teman anda yg ketemu sekarang adalah teman anda yg minggu lalu ketemu juga, klw yakin kenapa apa dasar keyakinan anda….Ide anda tentang teman anda lah yg anda yakini bahwa itu tetap teman anda.

IDEALISME (IDE-ISME) berefek pada pendidikan melalui pemikirannya bahwa pendidikan haruslah mengarahkan peserta didik pada hal hal yg tetap, yaitu ide ide yg tak kan lekang oleh waktu, dulu benar, sekarang benar dan nantipun benar. Peserta didik dipandang sebagai mikrokosmos yg harus mengarahkan dirinya pd kebenaran mutlak makrokosmos. Dalam alam semesta dimana realitas terpusat pada ide-ide (gagasan), maka aspek terpenting, paling penting adalah intektualitas, karena itulah yg dapat mengantarkan peserta didik pada tercapainya pengetahuan yg benar. Oleh karena itu faham idealisme memfokuskan kajiannya pd perkembangan mental dan kurikulumnya menekankan pd kajian ilmu kemanusiaan (hamanities), sejarah dan kajian sastra, karna ini dapat membantu peserta didik menemukan sosok manusia dan masyarakat ideal. Disamping itu matematika dipandang ilmu yg cocok karena berdasarkan prinsip universal, kalau 2 x 5 = 10, maka itu adalah benar dulu sekarang dan nanti, sehingga idenya bersifat tetap. Guru dipandang punya kedudukan sangat utama karena merupakan contoh hidup yg lebih dekat dg dunia ide absolut (makrokosmos) dibanding peserta didik. Guru punya pengetahuan lebih ttg dunia akal fikir dan ide ide, sehingga mampu menjembatani peserta didik (mikrokosmos) dg makrokosmos. Disamping itu guru juga merupakan contoh keluhuran etika dan jadi pola panutan peserta didik dlm kehidupan intelektual sekaligus perwujudannya dlm kehidupan sosial.

Dalam faham ini Cara pendidikan/pembelajaran yg utama adalah ceramah (lecturing) dimana guru yg lebih akrab dan dekat  dengan dunia akal fikir, dunia ide menyampaikan ide ide untuk dapat beralih pada peserta didik, dg begitu terjadilah penyerapan ide oleh peserta didik. Menurut Knight (Issues and Alternatives in Educational Philosophy, 2007) dlm pemikiran pengikut filsafat Idealisme, perpustakaan cenderung menjadi pusat aktivitas pendidikan, karena disinilah siswa bergumul dg ide2 umat manusia, dan kelas hanya merupakan perluasan saja dari perpustakaan. Dlm pembelajaran guru dapat saja berdiskusi tp dengan maksud pendalaman ide2/gagasan2, serta penggalian potensi dirinya, seperti Socrates yg slalu bertanya guna tumbuhnya kebenaran atas perkembangan dan pemikiran individunya masing2 (anak, orang, peserta didik).  Seorang anak (peserta didik) diyakini sebagai bagian dari jiwa universal (makrokosmos) yg harus mengembangkan potensinya lebih agar makin mendekati jiwa tersebut dan harmoni dengannya. Idealisme dlm pendidikan juga memberikan perhatian yg cukup kuat pd pendidikan agama sebagai kebenaran yg abadi tak tergantung waktu. Dalam pandangan Idealisme, pendidikan merupakan proses abadi dlm penyesuaian utama dengan perkembangan fisik dan mental secara bebas dan sadar dg perintah Tuhan, yg diwujudkan dlm kehidupan manusia pd aspek  intelektual, emosional, dan prilaku (Horne, The Philisophy of Education).

Dengan pemikiran seperti itu, idealisme dg penekanan pd ide, gagasan yg mutlak di masa lalu, cenderung punya kebijakan sosial yg konservatif, karena dunia yg tak berubahlah, yg bersifat tetap yg merupakan realitas puncak yg sebenarnya. Dg demikian manusia, termasuk peserta  didik harus  menata hidupnya selaras dg ide, gagasan yg mutlak tadi. Dlm konteks sekolah yg utama adalah peran pelestarian warisan budaya (nilai2), sehingga sekolah tak bisa jadi agen perubahan, dan kecenderungannya, sekolah lebih pada mendukung status quo…

Filsafat Pendidikan (2)

Bidang/Cabang Filsafat seperti disebutkan terdahulu akan memberi menjadi bagian penting dalam kajian filsafat pendidikan baik secara tersurat maupun tersirat, tergantung pada modus filsafat pendidikan dlm mengkaji, mengkritisi bidang pendidikan. Secara umum, berdasar aktivitasnya, Kneller mengemukakan 3 gaya, modus atau cara dalam berfilsafat, yg dapat diterapkan dlm bidang Pendidikan yaitu : 1) SPECULATIVE PHILOSOPHY: Filsafat Spekulatif merupakan cara berfikir filsafat berkaitan dg segala sesuatu yg ada (bidang ontologi/metafisika).  Berfilsafat model ini akan merasa tak puas dg berbagai hal yg khusus (partikular), namun akan melihat dan memikirkan serta mengkaji segala sesuat secara holistik (keseluruhan), saling keterkaitan. Berbagai faktor dlm pendidikan serta posisinya dalam keseluruhan  sistem budaya, religiousness, serta bagai mana itu terkait dengan seluruh sistem kehidupan masyarakat, apakah itu koheren atau tidak. Mengapa pendidikan di indonesia berbeda dg di negara lain?   jawaban dibangun dlm kajian pemikiran keseluruhan, tentu tidak cukup dg hanya mengacu pd undang2, ketentuan semata, namun pada sistem nilai yang berlaku serta keseluruhan faktor yg ada di masyarakat dlm Suatu keseluruhan yg sistematis sistemik. Misalnya sistem pendidikan, persekolahan di suatu negara tak bisa serta merta ditiru dan diterapkan di negara lain, karena suatu sistem pendidikan merupakan suatu proses dinamis interaksi masyarakat dg berbagai faktor budaya, historis dan juga agama yg berlaku dlm masyarakat tersebut. Klw pendidikan di Finlandia, singapura dianggap bagus, bermutu, kemudian diimitasi di indonesia, hal itu dijamin gagal, karena yg terjadi di negara tersebut sesuai dg faktor2 masyarakatnya. Mencangkokkan pohon mangga ke pohon singkong dijamin tak akan berhasil, seberapa besar dana proyek untuk itu dikeluarkan.

Kenapa setiap masyarakat, setiap bangsa mengeluarkan pengorbanan tenaga dan dana besar untuk mengelola penddikan, bukankah itu akan berjalan alamiah melalui belajar dari pengalaman, dari perjalanan waktu yg dilaluinya. Dari sini timbul pertanyaan pokok yakni untuk apa pendidikan? Apakah untuk mempersiapkan hidup dan kehidupan penerus masyarakat di masa depan?, apakah pendidikan itu mempersiapkan hidup masa depan ataukah pendidikan itu adalah kehidupan itu sendiri?, apakah pendidikan itu suatu tujuan atau hanya sebagai alat mekanisme sosial untuk mencapai suatu tujuan?. Pertanyaan2 itu esensinya adalah terkait dg tujuan pendidikan, nilai nilai apa yg harus jadi tujuan pendidikan, apakah nilai kematangan hidup ataukah nilai pragmatis ekononomis, ataukah keduanya, dan bagaimana caranya, kalau itu sudah dipastikan apa yg harus diajarkan dlm proses pendidikan dan pembelajarannya, apakah ilmu2 empiris saja atau pengetahuan ttg nilai2 kebaikan mutlak yg berasal dari Tuhan, atau keduanya. Ini merupakan kajian ttg bagaimana pendidikan harus diarahkan, dijalankan, dan nilai apa yg harus dicapai oleh pendidikan, dan kajian tsb merupakan bagian dari kajian yg masuk dlm model yang ke 2) PRESCRIPTIVE PHILOSOPHY. Model filsafat ini mengkaji dan memikirkan apa yang seharusnya dilakukan terkait dg nilai nilai (Axiologi) yg baik dalam suatu masyarakat manusia. Nilai2 terkait dg etika (baik buruk) dan estetika (indah jelek) yang dalam konteks pendidikan tentu akan melihat apakah pendidikan yg dilakukan harus menjunjung nilai mutlak atau nilai kontekstual, Pendidikan itu harus membangun Manusia matang berakhlak karimah/berkarakter atau harus tunduk pada aspek ekonomis pragmatis seperti siap kerja, atau keduanya, tentu ini terkait pilihan dan itu perlu dirujuk pada nilai2 yg berkembang di masyarakat dan mendialogkannya dg norma norma etika mutlak…that is the main point of speculative philosophy.

Filsafat preskriptif memberikan fokus pa nilai-nilai Etika dan Estetika. Dalam psikologi terutama behavioristik, semua prilaku tidak bisa dikatakan baik atau buruk secara etika, prilaku hanya dilihat apa adanya, namun bagi pendidik  suatu prilaku bisa disebut baik atau buruk, dan disitulah pendidik berperan bagaimana yg baik diperkuat dan yg buruk ditekan dalam suatu proses pendidikan, pembelajaran. Itu merupakan kajian filsafat preskriptif yg berupaya mencari, menemukan dan merekomendasikan prinsip untuk menentukan apakah suatu tindakan itu baik, bermanfaat, serta apa ukurannya untuk itu, serta kenapa hal tersebut harus dilakukan. Belakangan ini psikologisme cukup berpengaruh dalam pemikiran di dunia Pendidikan, banyak ungkapan yg kurang memberi bobot nilai pada prilaku siswa misal: “pendidikan itu untuk menjadikan peserta didik jadi diri mereka sendiri”, “jadilah diri sendiri”, “learning to be”, aktualisasi diri’, “siswa itu tidak ada yg nakal”. Kalau hal ini tidak dicermati dg cerdas dan tepat akan mengganggu pada proses pendidikan yg tanpa tujuan baik dan bernilai. Jadi untuk apa pendidikan kalau siswa didorong untuk jadi dirinya sendiri. Kalau begitu diri yg mana, aspek mana yg harus diwujudkan, padahal pendidikan itu mendidik untuk mencapai tujuan tertentu yg bernilai sesuai nilai2 masyarakatnya. Klw ada siswa 20 lalu dididik menjadi dirinya sendiri maka ada 20 diri, lalu apakah itu menuju pada tujuan pendidikan misal di indonesia salah satu tujuannya manusia berimtak dan berakhlakul karimah, apa hanya karena menjadi diri sendiri akan dibiarkan meski tak sesuai tujuan tadi?. Tentu tidak, sebab tanpa proses pendidikan semua orang akan jadi dirinya sendiri, dan pendidikan merupakan upaya untuk menjadikan manusia yg dalam dirinya terkandung serta terarah dan berprilaku sesusi nilai nilai yg diyakini dan dikembangkan dlm masyarakat.

Model Filsafat yang ke tiga adalah 3) ANALITIC PHILOSOPHY. yaitu model  yg memfokuskan pada kata kata, istilah dan maknanya (words and meaning). Kajian, pemikirannya ditujukan untuk meneliti, mengkaji istilah2 guna memahami perbedaan makna dalam berbagai konteks yg berbeda. Misalnya dalam bidang pendidikan, makna “pendidikan”, “persamaan kesempatan memperoleh pendidikan”, “wajib belajar”, dsb. Intinya adalah bahwa penggunaan kata2, istilah tidak bisa sembarang sesuai makna yg mengucapkannya, kalau ini terjadi tentu pembicaraan, dialog, diskusi akan kacau balau karena masing2 beri makna sendiri, dan universalitas makna dari suatu kata atau istilah tak kan ada yg akan berimplikasi sulitnya ilmu pengetahuan berkembang. Kita tak bisa buat sendiri lambang kimia dari air meski anda maksudkan untuk air, demikian juga kita tak bisa menggunakan lambang kimia air untuk makna diluarnya.  Misalnya orang memandang atau berfikiran bahwa pendidikan itu membantu peserta didik menjadi dirinya sendiri “be yourself”, apa sebenarnya makna ungkapan kata2 tersebut. Apakah pendidikan itu membimbjng orang jadi individualis, apakah bermakna bahwa pendidikan itu tidak terkait dg kepentingan sosial masyarakat, lalu klw begitu apa makna dari pendidikan bagi peningkaran mutu hidup masyarakat?. Misalnya pejabat mengatakan bahwa “pendidikan dilakukan untuk melahirkan SDM yg beriman dan takwa, cerdas dan berdaya saing”. Apakah makna iman takwa yg dimaksudkannya? Apakah perolehan nilai pelajaran agama yg tinggi? Atau prilaku keimanan dan ketakwaan, klw ya apakah itu terserap pada pelaksanaan pendidikan formal, dan apakah itu dipandang penting, kalau penting kenapa tak jadi dasar kelulusan…kemudian cerdas apa maknanya, apakah hanya terkait dg kemampuan  menjawab soal yg sudah dipelajari materinya, atau kemampuan mengatasi masalah yg akan dihadapinya.. kalau berdaya saing apa maknanya, apakah dg rekan sendiri bersaingnya dlm suatu lingkungan.. ..atau dg orang lain dari bangsa lain, klw begitu apakah yg diperlukan dimasa depan itu benar kemampuan bersaing atau kemampuan bikin jejaring (kerjasama)..itu beberapa pertanyaan kritis ttg makna, namun sebenarnya akan terkait dg model filsafat sebelumnya, oleh karena itu dlm prakteknya ketiganya merupakan suatu kesatuan dari aktivitas filsafat..karna makna tentu ada asumsi filisofisnya serta asumsi kebenaran pengetahuan yg mendasarinya..itulah THREE IN ONE dalam model atau cara berfilsafat yg juga diterapkan dlm pendidikan jadilah FILSAFAT PENDIDIKAN.

Filsafat Pendidikan (1)

Filsafat Pendidikan merupakan penerapan disiplin Filsafat dalam bidang.  Dari segi bahasa Filsafat berasal dari kata “Philo” yg artinya Love (cinta), dan “sophia” yg srtinya kebijaksanaan (wisedom). Jd FILSAFAT dapat dimaknai sebagai “Cinta pada kebijaksanaan”, Filosof (orang yg berfilsafat) adalah orang yng selalu berusaha untuk mencari serta berusaha mencapai kebijaksanaan, dan itu berarti tidak akan merasa puas dan percaya begitu saja akan apa yg dilihat, didengar, dan dirasa dalam kehidupan, namun akan terus berfikir dg menggali sampai mendalam (ke akar akarnya) agar ditemukan suatu hakekat kebenaran sebagai dasar kebijaksanaan. Oleh karena itu secara istilah, Filsafat dapat dimaknai sebagai berfikir radikal (mendalam sampai akar) dg cara rasional, sistemik, sistimatis, objektif agar dapat diperoleh pengetahuan universal yg berlaku dimanapun dan pada siapapun juga.

Bila dilihat dari aktivitasnya filsafat merupakan suatu cara berfikir yang mempunyai karakteristik tertentu. Dg memperhatikan berbagai pendapat akhli. Ciri berfikir filsafat dapat dikemukakan sbb, ; 

1. Rasional : mendasarkan pada kaidah berfikir yang benar dan logis (sesuai dengan kaidah logika)

2. Radikal :: berfikir secara mendalam sampai ke akar-akarnya atau sampai pada tingkatan esensi yang sedalam-dalamnya

3. Sistematis : berfikir dalam suatu keterkaitan antar unsur-unsur dalam suatu keseluruhan sehingga tersusun suatu pola pemikiran Filsufis.

4. Koheren : diantara unsur-unsur yang dipikirkan tidak terjadi sesuatu yang bertentangan dan tersusun secara logis

5. Komprehensif, universal : berfikir tentang sesuatu dari berbagai sudut (multidimensi).

6. Universal : muatan kebenarannya bersifat universal, mengarah pada realitas kehidupan manusia secara keseluruhan 

Memang diakui terdapat beberapa kesamaan ciri berfikir ilmu dan berfikir filsafat, namun berfikir ilmiah harus bersifat empiris, bisa dibuktikan dg observasi, eksperimen, dan ilmu tak mengkaji sesuatu yg mungkin ada, dan ttg hakekat sesuatunya, olehkarena itu berfikir filsafat tentu lebih mendalam, hal yg tidak bisa dijawab ilmu karena tidak empirik, filsafat memikirkannya. Jika ilmu pendidikan berbicara ttg perlunya tujuan pendidikan menanamkan keimanan dan ketakwaan karena UU mengatakan demikian, maka filsafat pendidikan berbicara apa itu keimanan ketakwaan, dan kenapa itu perlu, serta apakah pelaksanaannya sejalan dg tujuan tersebut?, kenapa negara lain tidak menjadikan imtak sebagai tujuan…dsb pertanyaan yg tak bisa dijawab ilmu pendidikan, dan disitulah filsafat pendidikan bergerak. Berfikir ilmu itu sederhananya adalah berfikir “rasional empiris faktual”, sedang berfikir filsafat itu “rasional koheren logikal”. Seorang ilmuwan tidak serta merta seorang filosuf, namun dlm sejarah mayoritas filosuf adalah ilmuwan pd awalnya, dan bergerak jadi filsuf ketika ilmu tak mampu memberi jawaban akan suatu soal atau masalah yg dipertanyakan, disamping juga ada yg berawal dari teolog/akhli agama. EINSTEIN adalah ilmuwan ketika bicara teori relativitas, tapi dia filsuf ketika mengatakan bahwa “Tuhan tidak sedang bermain dadu”. ALGhazali akhli Agama ketika bicara “Ihya Ulumuddin”, tapi dia Filsuf ketika bucara “Tahafut Alfalasifah” Ibnu Rusy adalah akhli agama/fiqh ketika bicara ttg “Budayatul Mujrahid”, tapi dia Filsuf ketika bicara “Tahafut at tahafutu falasifah”.

Dengan pemahaman demikian,maka berfilsafat atau berfikir filsafat bukanlah sembarang berfikir tapi berfikir dengan mengacu pada kaidah-kaidah tertentu secara disiplin dan mendalam. Pada dasarnya manusia adalah homo sapien, hal ini tidak serta merta semua manusia menjadi Filsuf (termasuk juga Ilmuwan) sebab berfikir filsafat memerlukan latihan dan pembiasaan yang terus menerus dalam kegiatan berfikir sehingga setiap masalah/substansi mendapat pencermatan yang mendalam untuk mencapai kebenaran jawaban dengan cara yang benar sebagai manifestasi kecintaan pada kebenaran, kebijaksanaan.

Bidang2 Filsafat yg nanti akan terkait dengan pendidikan dg intensitas yg variatif perlu diketahui paling tidak secara umum. Cakupan bidang filsafat secara umum dikelompokkan ke dalam tiga bidang/cabang utama yaitu 1) METAFISIKA, 2) EPISTEMOLOGI, 3) AKSIOLOGI. 1). METAFISIKA (META = dibalik, dibelakang, FISIKA = yg berwujud, fisik) merupakan bidang/cabang Filsafat yg memperbincangkan, mengkaji tentang hakekat realitas, jika yg nyata itu ttg alam disebut kosmologi, jika yg nyata itu ttg Tuhan dusebut Teologi,  jika yg nyata itu ttg manusia disebut Antropologi, dan jika yg nyata itu ttg hakekat “ada” atau apa makna bahwa sesuatu itu “ada”, disebut Ontologi. 2) EPISTEMOLOGI (EPISTEME = Tahu, Pengetahuan, LOGI = ILMU, NALAR) mengkaji ttg hakekat, sember, dan keabsahan pengetahuan, serta makna suatu kebenaran berdasar pengetahuan. 3) AKSIOLOGI (AXIOS = Nilai, logi = ilmu, nalar) mengkaji tentang nilai (etika, estetika), ini terkait persoalan ttg apa itu nilai, apa itu baik, apa itu indah?. Dunia pendidikan tentu tak bisa terlepas dari perkembangan pemikiran Filosofis tsb, meski dg intensitas berbeda. Pemikiran akan asal usul semesta dan hakekat semesta akan berefek pada pemikiran akan Tuhan, dan pemikiran ini akan berefek pada hakekat manusia serta ttg sesuatu yg ada (ontologi). Dalam bidang pendidikan bidang metafisika yg intens terkait dg pemikiran tentang hakekat manusia (antropologi) serta hakekat kenyataan, ini menjadi fokus dg intensitas tinggi karena dari sinilah hakekat pendidikan dikembangkan, baik tujuan maupun isinya. Kalau kosmologinya berpandangan bahwa alam jadi dg sendirinya, maka teologinya pasti tak mengakui adanya Tuhan, dan ini akan berefek pada tujuan pendidikan gak mungkin ada Imtak, dan isinya gak mungkin ada pendidikan agama atau akhlak yg baik. Jadi meski tak disadari benar, secara umum faktor Metafisika akan berkaitan dg pendidikan, karena pendidikan suatu masyarakat merupakan cerminan dari pemikiran yg berkembang, dipegang teguh dan mengakar di masyarakat itu sendiri, kondisi itulah yg mendorong lembaga pendidikan tetap bertahan, berkembang dan dikembangkan karena dipandang sesuai bahkan memperkuat keyakinan, sekaligus harapan masyarakat.

Jika pandangan Metafisika Kosmologi, dan Teologi seperti diatas, itu akan berefek pd pandangan manusia hanya sebagai benda fisikal, dan ontologinya akan berpandangan bahwa yang nyata itu adalah Materi, diluar materi itu tidak ada, tidak nyata. Pandangan seperti itu akan berefek juga pada pemikiran Epistemologinya. EPISTEMOLOGI sebagai cabang Filsafat yg mengkaji ttg Ilmu/pengetahuan, tentu akan mengacu pd pandangan metafisiknya, jika alam tak ada penciptanya, dan yg nyata adalah materi, maka sumber pengetahuan/ilmu hanya dari apa yg materi juga, yg bisa dibuktikan, yg dutangkap panca indra, diluar itu tidak ada dan atau tak dipandang sebagai ilmu, misalnya pengetahuan dari wahyu Tuhan tentu dipadang tak relevan dg ilmu, implikasinya bagi pendidikan adalah bahwa isi materi/kurikulum yg di berikan dlm proses pendidikan hanyalah ilmu/pengetahuan empiris, yang kebenarannya harus bisa dibuktikan secara empiris (observasi, eksperimen). Itu berarti bahwa pengetahuan ttg Agama yg melalui wahyu Tuhan tidak perlu dan tidak penting diberikan, karena tak bisa dibuktikan, dan kalau ada yg percaya maka itu hanyalah bersifat kecenderungan pribadi saja, dan tidak perlu masuk dlm proses pendidikan. Hal ini juga akan berefek pada pandangan pemikiran Axiologis, terkait nilai nilai. Kalau Tuhan tak Ada dan yang nyata itu Materi, maka etika baik buruk tidak dutentukan Tuhan, tapi mengacu pada rasio kemanfaatan fisikal/duniawi, karena bagi mereka akhir kehidupan ya di Dunia, kalau mati ya kembali lagi jadi materi di bumi, pertanggungjawaban sesudah kematian itu tak ada karna tak bisa dibuktikan, demikian juga nilai seni, yg penting indah secara rasional, tak perlu nengacu pilihannya pada ajaran Wahyu Tuhan. Apa yg dikemukakan terdahulu dg sedikit contoh merupakan bagian dari upaya pemahaman lebih cermat dan agak mendalam, bahwa sebenarnya di balik apa yg kita lakukan dlm pendidikan terdapat pandangan, pemikiran filosofis yg mendasarinya, terlepas kita menyadarinya atau tidak, semua itu akan memoles berbagai kebijakan ttg pendidikan yg sering tak dikritisi, dipertanyakan lagi, padahal kelebihan manusia itu yg utama adalah berfikir reflektif atas berbagai hal yg dilakukan khususnya dlm bidang pendidikan. Manusia bukan hanya bergerak, karna klw hanya ini gak beda dengan “Embe”, tapi bergerak dg berfikir dan mempertanyakan kenapa, dan untuk apa bergerak, sampai faham dasar dan arah geraknya, PENDIDIK BUKAN MOBIL YG DI-SOPIRI ORANG LAIN MENUJU TUJUANNYA, PENDIDIK ADALAH SOPIR BAGI MOBILNYA SENDIRI UNTUK MEMBAWA PESERTA DIDIK PADA TUJUAN YG BAIK DAN MENERIMA KEBAIKAN SAAT MENUMPANGINYA. Untuk itulah kita sasieureun sabeunyeureun  ngaderes Filsafat Pendidikan, bukan tuk jadi Filosuf, atau Akhli Filsafat tapi untuk tetap memikirkan apa yg kita lakukan, untuk makin memberi makna bagi hidup dan kehidupan serta memperkaya makna pada PENG-LAMA-AN HIDUP, MENJADI PENG-ALAM-AN HIDUP YANG MENGHIDUPKAN KEHIDUPAN.

Jalan Pendidikan (3)

Pendidikan merupakan proses pewarisan nilai2 budaya dan pengembangan potensi manusia secara terkendali, terkontrol dlm melihat efek perubahannya. Pendidikan merupakan upaya pembudayann sekaligus pemberdayaan, dia merjadi bentuk belajar khusus yg melibatkan kesadaran pihak2 terkait dlm melihat pencapaian serta perubahan yg terjadi dengan kriteria yg telah ditetapkan atau diharapkan dalam konteks kehidupan individu dan masyarakat. Pendidikan merupakan sub kategori dari belajar, sementara belajar itu sendiri merupakan proses yg menghasilkan kemampuan menunjukkan tingkah laku manusiawi yg baru, sebagai akibat dari suatu perubahan dari sebelumnya, dimana perubahan tersebut bukan karena faktor2  kelelahan fisikal atau degradasi mental. Pendidikan  merupakan upaya sengaja yg dilakukan oleh seseorang dan disertai oleh orang lain untuk mengontrol, memandu, mengarahkan, dan mengelola situasi belajar agar dapat mencapai hasil belajar yg diinginkan (John A Laska, Schooling and Education).. dlm konteks tersebut, maka sekolah dapat dipandang sebagai suatu bentuk pendidikan, dan pendidikan merupakan suatu bentuk dari belajar…

Pendidikan merupakan belajar terkontrol (pembelajaran) yg mengacu pada belajar terkontrol dalam hal pemikiran, pemahaman secara reflektif tentang sesuatu, sementara jika belajar sesuatu dg merespons yg tidak reflektif atas stimulan tertentu disebut pelatihan, jadi pelatihan dapat dipandang sebagai belajar terkontrol merespon yg tidak reflektif. Pendidikan dan pelatihan merupakan dua hal yg bisa terjadi dalam lembaga pendidikan seperti sekolah (formal), dlm msyarakat (non formal), dan juga dalam keluarga (informal). 

Belajar merupakan perubahan relatif permanen yg terjadi dalam diri seseorang   akibat dari perubahan pengalaman dalam hidupnya, belajar bisa terjadi secara mandiri, dan sepanjang hidup manusia, belajar akan selalu terjadi pada siapapun dan kapanpun seiring berjalannya waktu yg mengakumulasi variasi pengalaman hidup, dari sini life long learning, atau belajar sepanjang hayat sebenarnya merupakan deskripsi fakta sosial  masyarakat, dan bukan sesuatu yang normatif. Pendidikan adalah belajar terkontrol, terbimbing, terarah pada suatu tujuan, pendidikan merupakan sub kategori belajar dan pelatihan merupakan sub kategori pendidikan, dan merupakan gradasi kedua dari belajar. Pendidikan khas manusia, sedang pelatihan bisa manudua dan bisa juga manusia, baik pendidikan maupun pelatihan dapat terjadi disekolah dan juga ditempat lain (di keluarga, di masyarskat), karena itu sekolah  hanyalah jalur kelembagaan dari belajar terkontrol dan atau berlatih terpandu, atau pendidikan, pelatihan melalui upaya membuat, mengontrol, peserta didik belajar, berlatih dlm mencapai tujuan tertentu , dimana ketercapaian tujuannya merupakan konsern dari organisasi sekolah, (yg dalam hal ini pendidik dan tenaga kependidikan).

Seorang Guru Masuk kelas, kemudian menyampaikan, menjelaskan materi yg menjadi bahasannya, guru tersebut tak mempedulikan apa yg dilakukan siswa, ada yg tidak perhatian, ada yg nundutan dibiarkan saja, dia terus bercerita, menjelaskan sampai selesai materi bahasannya, bagi guru tsb yang dilakukannya menyelesaikan bahan materi bahasan sesuai yg direncanakannya dlm rpp. Jika demikian yg dilakukan oleh guru, maka dia hanya mengajar, dalam arti menyampaikan materi bahasan saja. Kondisi seperti ini tentu bisa diganti oleh perangkat teknologi, srperti e learning dsb, dan jika itu terjadi maka peran guru amat sederhana dan gampang dilakukan dan diganti dg cara teknologi informasi dan komunikasi yg berkembang pesat dewasa ini, atau siapapun. Jika proses yg terjadi di kelas terdapat perhatian dari guru akan sikap dan prilaku dlm mengikuti, menyimak penjelasan materi bahasan serta mengingatkan pada siswa yg tidak memperhatikan, yg bertindak main main dalam mengikuti penjelasan materi, serta memantau ketercapaian tujuannya, maka itu berarti guru mendidik, menjadi pendidik, karena dg begitu guru membelajarkan siswa, jadi pembelajaran lah yg terlaksana dlm interaksi di kelas. Dg begitu pendidikan terjadi dimana belajar siswa terkontrol, terarah, dan terbimbing dg pencapaian tujuan belajar yg terpantau. Jadi dlm konteks kelas, apakah seorang guru itu pengajar atau pendidik terletak pada perhatian terhadap bagaimana siswa belajar di dalam kelas, jika hanya nyampaikan materi, itu pengajar tapi klau penyampaian materi dibarengi memandu, membimbing dan mengontrol aktivitas siswa dalam belajar (membelajarkan suswa), maka guru itu adalah pendidik. Sebagai Pendidik, guru tak kan pernah tergantikan secanggih apapun teknologi atau oleh orang sembarang yg pandai bicara, karena interaksi dalam pendidikan bukan hanya menyampaikan ilmu, namun memandu sikap, prilaku dlm belajar (tentu juga dlm konteks sekolah), yg pasti berintikan penanaman, penguatan nilai2, sosial, budaya, agama, dengan pemahaman akan karakteristik siswa, dan ini perlu ilmu mendidik, yg tak mungkin semua irang tahu, untuk itu guru jika ingin jadi profesi yg kuat (hard profession) sebagai pendidik perlu memahami ilmu mendidik (pedagogik) dan ilmu yg diajarkan (profesional), dan itu hanya bisa terlaksana efektif bila kemampuan personal dan sosial mampu membingkainya dalam suatu wujud pendidik dlm aktivitas pendidikan.

Belajar adalah genus, pendidikan dan latihan adalah species dari belajar, belajar itu netral nilai karena tak terkontrol, juga cenderung tak bertujuan. Setiap perubahan akibat akumulasi pengalaman dalam perjalanan hidup merupakan proses dan kejadian belajar baik disadari ataupun tidak, selama perubahan tersebut bukan karena faktor perubahan alamiah akibat berjalannya waktu. Sementara itu pendidikan dan pelatihan terkait dg nilai tertentu, pendidikan bertujuan dlm esensinya (tujuan ideal normatif), sedang pelatihan bertujuan dalam penerapan dan atau pemanfaatannya (tujuan praktis realistis). Dalam konteks tersebut maka kajian filsafat terfokus pada pendidikan bukan pada belajar, karena dasar2 dari pelaksanaan pendidikan memerlukan fondasi yg dapat menjawab kenapa pendidikan dilakukan seperti ini, seperti itu?, yg tentu saja akan memerlukan alasan makna, nilai yg menjadi panduan dalam masyarakat. Mengapa pendidikan di sini begini, dan disitu begitu?, mengapa suatu masyarakat menentukan isi pendidikannya pd generasi penerusnya seperti ini?, supaya jadi begini, dan masyarakat lain menentukan seperti itu supaya jadi begitu?. Ini semua tentu saja tergantung pada pemberian makna dan nilai bagi hidup dan kehidupan, dan itu tergantung pd cara masyarakat memberi makna pada hidup berdasarkan interaksinya dg lingkungan baik fisik maupun sosial, dari sini manusia memberi makna pada apa yg terjadi dimasa lalu, memberi nilai pada apa yg dilakukan sekarang, serta meletakkan harapan pada apa yg akan terjadi dimasa depan, manusia menjadikan masa lalu sebagai pelajaran, masa kini sebagai pendidikan, dan masa depan sebagai keinginan, harapan, perencanaan. Dari sini filsafat pendidikan merupakan perspektif dalam memikirkan secara radikal akan makna dan nilai dlm pendidikan bagi manusua, bagi masarakat, serta bagi bangsa dan negara. Ketika kecenderungan pendidikan makin mekanistik, pragmatis, maka refleksi akan makna serta alasan pendidikan dilakukan menjadi relevan, untuk terus memasukan spirit dlm proses pendidikan yg makin kehilangan ruh dan nilai makna di dalamnya. Guru lebih sibuk pada apa yg diajarkan dan bagaimana menyelesaikan materi yg diajarkan tersebut, namun jarang atau sudah terlupakan untuk bertanya mengapa sy mengajar ini, untuk apa mengajar ini, inilah point penting untuk merevitalisasi pendidikan agar jalan yg ditempuh dari mengajar ke mendidik terus berkembang dinamis, 

Jalan Pendidikan (2)

Dibanding makhluk hidup yg lain, manusia adalah makhluk yg paling tidak siap hidup langsung di dunia ini. Manusia perlu bantuan, bimbingan, arahan dan perlindungan tuk dapat  hidup, tanpa itu, hanya kepunahan yg menanti. Bayi yg baru lahir kedunia akan memiliki probabiliras nol jika dibiarkan hidup sendiri.  Keterlibatan manusia lain jadi kunci kesinambungan hidup manusia, baik aspek fisik jasmani, maupun aspek sosial. Inilah esensi historis  lahir dan berkembangnya konsep Pendidikan.  Manusia dusebut “homo educandum”, makhluk yg bisa dididik, bisa mendidik, dan lalu mampu mengorganisasikan pendidikan.

Apapun namanya, masyarakat perlu cara mempertahankan diri tuk melanjutkan hidup dan kehidupannya. Anugrah akal, kemampuan berfikir jadi modal dasar membangun pola nilai, sikap, serta prilaku dengan berbagai variasi kompetensinya yang tumbuh, berkembang dalam melakukan adaptasi terhadap lingkungan, baik fisik maupun sosial, yang menentukan kelangsungan hidup dan kehidupannya. Keberhasilan suatu kelompok mayarakat mempertahankan dan mengembangkan diri menjadi khazanah pengetahuan yang dimiliki secara sosial.

Pergiliran sejarah mendorong tumbuhnya keinginan untuk menjadikan semua khazanah pengetahuan dapat dimiliki oleh penerus mereka, maka mulailah pewarisan nilai, sikap, prilaku dan kompetensi hidup dan kehidupan yang dimiliki terjadi dalam suatu suasana dan atau kejadian pendidikan/pewarisan yang berjalan alami dalam lembaga keluarga sebagai bagian dari kohesivitas kehidupan sosial masyarakat, sehingga ketika generasi tua meninggal, generasi penerus telah siap dengan pola nilai, sikap, prilaku dan kompetensi yang relatif sama dengan pendahulunya, untuk melanjutkan hidup dan kehidupannya.  

Pewarisan nilai2 hidup dan kehidupan pada awalnya cukup sederhana dan alami,  orang tua  langsung melakukannya pada berbagai kejadian, pengalaman dlm perjalanan hidup dan kehidupan sehari-hari, karena apa yang terjadi dan dialami oleh orang tua, itulah yang akan dialami oleh anak-anak seiring perkembangan waktu, namun ini bisa efektif dlm bentuk masyarakat post-Figurative yang menurut Margareth Mead (dalam Astrid Susanto, 1986), merupakan masyarakat tradisional dimana generasi yang lebih tua sudah mengalami apa yang baru akan dialami oleh generasi muda kedepan. Dalam   masyarakat tradisional golongan Tua memandang bahwa golongan muda akan mengalami perkembangan dalam hidupnya sesuai/sama dg yang telah dialami oleh golongan tua, sehingga nilai-nilai, kecakapan dan ketrampilan yang harus dimiliki relatif sama, dan generasi tua merasa berkewajiban mentransmisikannya kepada generasi muda (transmisi vertikal dari atas/generasi tua ke bawah/generasi muda).

Seiring dengan perkembangan masyarakat melalui berbagai hubungan antar kelompok masyarakat, kontak budaya, tumbuh dan berkembang berbagai nilai, prilaku serta kompetensi makin variatif yg terserap pada masing2 kelompok masyarakat, sehingga golongan tua dan muda sama sama menghadapi situasi baru,  maka masyarakat kemudian berubah menjadi bersifat co-Figuratif, dimana baik golongan tua maupun golongan muda (anak-anak) sama-sama belum mempunyai pengalaman, sehingga  mengalami kesulitan untuk mentransmisikan  nilai-nilai, kecakapan serta ketrampilan yang perlu disampaikan pada golongan muda yg bersifat vertikal menjadi horizontal saling belajar. Dalam kondisi ini ketegangan antara golongan tua dan golongan muda merupakan ciri dari masyarakat dan hanya bisa diatasi dengan upaya melakukan adaptasi dari golongan tua agar bisa kompatibel dengan perkembangan yang ada dan yang mungkin ada, inilah masyarakat pre-Figuratif, yang hanya mungkin bisa diwujudkan dengan pendidikan dan komunikasi yang efektif. Dengan demikian pendidikan merupakan unsur penting dalam masyarakat apapun bentuk masyarakatnya.

Setiap masyarakat, sesederhana apapun, berusaha untuk mendidik anggotanya khususnya generasi muda menurut cita-cita, harapan yang dimiliki masyarakatnya, sehingga perbedaan suasana dan kejadian pendidikan jelas akan nampak. Ini berarti akan terdapat perbedaan antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya karena setiap masyarakat mempunyai nilai-nilai, pola sikap dan prilaku yang berlainan, sehingga tidaklah sederhana bila suatu saat upaya untuk menyamakan cara mendidik lintas budaya menjadi harapan dan keinginan politik yang mengagregasi kepentingan, harapan dan cita-cita masyarakat yang bervariasi, meskipun esensinya pada dasarnya relatif sama dalam konteks mempertahankan hidup dan kehidupan masyarakatnya masing masing. Masyarakat memang terus berubah, interaksi antar kelompok masyarakat, kehadiran berbagai nilai-nilai baru seperti agama serta proses asimilasinya jelas menjadi faktor yang menjadikan dinamika sosial budaya masyarakat terus terjadi dengan variasi reaksinya masing-masing, yang jelas semua itu akan mempengaruhi pada berbagai nilai-nilai sosial budaya masyarakat dalam menjalani hidup dan kehidupannya.

Kehadiran agama-agama serta berkembangnya kebudayaan yang kuat telah membangun dan mengokohkan nilai-nilai kehidupan tertentu dalam hubungan sosial kemasyarakatan, dan hal ini juga mempengaruhi arah dan tujuan pendidikan sebagai instrumen mewariskan nilai-nilai bagi generasi penerus. Generasi tua memandang bahwa generasi muda akan mengalami tahapan kehidupan yang persis atau nyaris sama dengan apa yang dialami generasi tua, sehingga mempersiapkan generasi muda dengan nilai, sikap dan prilaku yang sudah berlaku menjadi suatu keharusan dalam mempertahankan keberlanjutan hidup dan kehidupan. Meskipun terdapat perubahan pola interaksi akibat adanya inovasi praktis tertentu dalam kehidupan masyarakat, namun nilai-nilai dasar hidup dan kehidupan tetap dipandang sebagai bagian yang akan tetap berlaku dan penting dimanapun dan kapanpun hidup itu terjadi.

Dengan peradaban dan kebudayaannya yang cukup tinggi, masyarakat Mesir kuno juga telah menjadikan pendidikan sebagai hal penting dalam mencapai tujuan susila keagamaan agar manusia menjadi makhluk yang berbakti pada dewa-dewa, sehingga penyelenggaranya adalah para agamawan (pendeta). Dalam masyarakat India purba dengan agama Hindunya juga telah melaksanakan pendidikan dimana tujuan pendidikannya adalah menanamkan kesabaran, penyerahan diri, dan kepatuhan; dalam masyarakat china klasik, pendidikannya diselenggarakan oleh negara dengan tujuan mendidik manusia menjadi kepala keluarga yang baik dan setia, ilmuwan dan pegawai pemerintah yang jujur, rajin serta rela berbakti (I Djumhur, 1976); bangsa Sparta Kuno, tujuan pendidikannya adalah membentuk manusia yang penuh keberanian, mampu menghadapi berbagai tantangan, hormat dan patuh terhadap pimpinan, berjiwa patriot dan loyal terhadap negara; bangsa Athena punya tujuan pendidikan membentuk manusia paripurna yang mempunyai kemampuan fisik, keutuhan moral, kemampuan intelektual dan kepekaan terhadap aspek sosial; pada awal kebudayaan Romawi tujuan pendidikan adalah menjadikan manusia yang tangguh mental (constantia), berbudi luhur, patuh terhadap tuhan, mampu menguasai diri (modestas), bermartabat (gravitas), bijaksana, dan adil (Soenarya, 2000). Kehadiran agama islam juga telah mempengaruhi pada bidang pendidikan, dimana tujuan utamanya adalah mendidik agar manusia menjadi insan kamil yang dapat berperan sebagai khalifah dimuka bumi, semua itu didasarkan pada nilai-nilai yang dibawakan oleh kitab suci al quran serta tarih nabi yang memberikan contoh bagaimana hidup dan mengisi kehidupan sesuai dengan kehendak kitab suci, sementara itu kelembagaannya sangat fleksibel baik dilakukan di mesjid maupun dirumah sebagaimana kasus Darul Arqam yang menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran di rumah Al arqam. Yang jelas bahwa tujuan utama pendidikan adalah bagaimana menginternalisasikan nilai-nilai agama pada masyarakat, sehingga dapat terwujud masyarakat yang sholeh dan berakhlaqul karimah.

Orientasi pendidiKan pada aspek emosional dan moral dalam konteks sosial kemasyarakatan (nilai sikap dan prilaku hidup) merupakan nilai dasar yang menjadi tujuan utama pendidikan,  dan masyakat menjadi pengontrol keterwujudannya dalam keseharian, dimana keberagamaan  seseorang dan atau kepatuhan pada nilai-nilai adat, tradisi budaya merupakan dasar bagi terbentuknya atau terbangunnya manusia  yang tetap menjaga nilai-nilai etika dalam kehidupan masyarakat serta  mampu menerapkannya dalam gerak perkembangan hidup dan kehidupan masyarakat sehingga keberlangsungan serta kesinambungan tradisi dan budaya msyarakat  baik berdasarkan agama ataupun adat, tradisi lainnya dapat terus terjaga. Oleh karena itu dlm tradisi bermasyarakat, pendidikan lebih menjadi alat budaya tuk melanggengkan tatanan hidup bermasyarakat, kesinambungan menjadi filosofi dasarnya. Itulah sebenarnya pemaknaan pendidikan dari sudut pandang masyarakat (makna sosial pendidikan). Narasi narasi tentang masyarakat dan kehidupannya selalu memandang pewarisan nilai, sikap, prilaku sebagai hal paling penting guna menjaga kesinambungan dan keseimbangan sosial dlm kehidupan masyarakat. Nilai nilai komunitas baik berdasar agama ataupun bukan menjadi faktor terkuat yg mengendalikan dan mengatur bagaimana generasi penerus mesti berjalan dlm tatanan yg identik dg yg dilakukan generasi tua, dan harus terkontrol sejak dini. Semua ini pada dasarnya menunjukan karakter masyarakat post figuratif, yg statis tak berubah (lambat berubah).

Masyarakat yg demikian dlm klasifikasi F. TONNIES, termasuk dlm “Gemeinschaaf”, masyarakat “Paguyuban”, dimana kebutuhan masyarakat menjadi kebutuhan individu anggota masyarakat sendiri, sikap, nilai dan prilaku serta kompetensi hidup individu selalu guyub, atau homogen dg individu lainnya, kekuatan masyarakat menjadi bagian yg membentuk bahkan mencerak anggota masyarakat untuk sama (paling tidak dalam nilai dasar, dan prilaku hidup utama sbgai prasyarat bagi kelanjutan hidup masyarakat). Misalnya, pada masa berburu, semua harus bisa berburu agar dpt melanjutkan hidup). Seorang pria yg mau menikahi seorang wanita, oleh orang tua wanita diberi tambang dan tombak dan disuruh pergi ke hutan dlm jangka waktu tertentu, jika setelah waktu tsb pulang dari hutan tanpa membawa hasil buruan, maka orang tua wanita tak akan menikahkan anaknya, tp jika bawa barang hasil buruan, pria itu akan dikawinkan karena dia telah dipandang siap hidupi keluarga, dan itu berlaku guyub bagi semua pria, sehingga setiap ortu akan mewariskan kompetensi berburu tsb. Semua itu terjadi dalam alur perubahan linier dan pendidikan dimonopoli oleh konsensus mastarakat tanpa memberikan kebebasan anggotanya mengembangkan diri, setiap penyimpangan pasti dihukum secara sosial, bahkan sampai masa menjelang masehi, socrates pun mengalaminya. Dalam kondisi seperti ini pendidikan identik dengan pembudayaan, pewarisan budaya, nilai, sikap dan prilaku homogin sesuai dengan mastarakatnya, pendidikan jadi alat kontruksi sosial yg homogin, sehingga pendidikan tak dapat menjadi agen perubahan bagi masyarakat, melainkan hanya sebagai konservasi atau pelestarian nilai nilai budaya yg diperoleh generasi tua daru para pendahulunya.

Dalam perkembangan sejarah, masyarakat satu dg lainnya mulai berinteraksi, yg makin lama makin intens seiring ditemukannya alat, hewan tranportasi yg mempercepat pertukaran barang melalui barter sekaligus juga budaya, nilai serta kompetensi, sehingga dlm masyarakat berkembang variasi kompetensi yg berbeda satu individu dg individu lainnya dlm suatu masyarakat. Dalam kondisi ini, pewarisan nilai, terutama kompetensi menjadi sulit distandarkan oleh masyarakat, maka lahirlah pewarisan nilai secara indivudual, dimana potensi individu anggota masyarakat dikembangkan sesuai potensi dan kapasitas masing masing. Dg begitu lahirlah pemahaman bahwa pendidikan juga harus melihat aspek individu, dimana perbedaan individu dlm potensi harus mendapat tempat untuk dikembangkan. Penekanan pada pendidikan dari sudut pandang individu mulai mendapat tempat, dan makin lama makin berkembang seiring bertambah dan berkembangnya variasi kompetensi hidup yg dibutuhkan masyarakat. Dari perkembangan sejarah umat manusia secara ringkas dapat dilihat bahwa pendidikan bisa dilihat dari perspektif masyarskat dan perspektiff individu, hal ini cenderung tarik menarik meskipun upaya memadukan juga terlihat seperti di indonesia, antara penanaman nilai dg basis masyarakat dan pengembangan potensi dari basis individu, antara nilai yg mutlak harus diwariskan dg kompetensi yg terus berkembang, dari sini juga berkembang perdebatan ttg belajar, pendidikan dan kelembagaannya seperti persekolahan, oleh karena itu dlm perspektif historis tsb pemahaman pendidikan dpt memberi ruang pada perkembangan filsafat pendidikan. Dari sinilah kita akan bicara pemaknaan pendidikan dlm konteks sosial yg terus berkembang, berubah cepat, namun apakah semuanya harus berubah juga…that is the point we are talking about.

Pengenalan selintas ttg gambaran evolusi, perkembangan masyarakat pada dasarnya merupakan upaya memahami suatu makna konsep atau istilah pendidikan dan konsep terkait dengannya, serta filsafat dasar tentang pendidikan, yg secara fundamental tidak terpisahkan dari  perspektif perkembangan sosial masyarakat. Suatu istilah, konsep akan diberi makna yg variatif sesuai sudut pandangnya, namun karena makna sesuatu sebenarnya merupakan konstruksi sosial, maka tahapan perkembangan masyarakat dapat menjadi dasar utama dalam memaknai suatu istilah atau suatu konsep. Dlm kehidupan sehari hari sering terjadi apa yg disebut “argumentum ad populum”,  suatu kesalahan pemaknaan istilah yg dianggap umum, sehingga dipandang benar sedemikian adanya, dan hal ini juga sering terjadi dalam dunia pendidikan. Misalnya: 1). “saya akan menikah jika telah menyelesaikan pendidikan saya”; 2). “Program wajib belajar sembilan tahun di daerah cukup menggembirakan”. Perhatikan kata “pendidikan” dan kata “belajar” dalam dua pernyataan tsb menggambarkan sesuatu yg merujuk pada hal yg sama yakni “sekolah”,, karna maksud pendidikan saya itu adalah sekolah saya, dan maksud wajib bajar 9 tahun itu adalah wajib sekolah 9 tahun. Penggunaan istilah yg keliru dan terus menerus tentu akan menjadikan kekaburan, atau pendangkalan istilah pendidikan serta istilah belajar. Pertanyaannya adalah : apakah pendidikan bisa disamakan dengan sekolah?, apakah belajar dapat disamakan dengan sekolah?. Tentu jawabannya bisa berbeda ada yg menjawab tidak soal yg penting orang faham arah maksud kata kata tsb, namun bagi yg sedikit belajar logika, ini akan membuat pemahaman jadi kacau karena orang semena mena memaknai kata, istilah, konsep dan bisa menimbulkan debat kontroversial yg tidak perlu. Misal: jika sekolah dipandang sama dg pendidikan bagaimana jika orang mengataka, “sekolah sekolah  di daerah kurang bermutu”, apakah itu berarti pendidikan di daerah kurang bermutu, padahal sekolah hanya salah satu jalur pendidikan yaitu pendidikan formal. Jika sekolah difahami sama dengan belajar maka mereka yg sudah lulus smp, tak wajib lagi belajar, belajar jadi sunnah, padahal dalam nilai masyrakat belajar itu wajib sepanjang hayat, dan akan tidak logis jika orang mengatakan wajib sekolah sepanjang hayat…nah dari situ pelurusan arah makna istilah2 tersebut penting, bukan meluruskan yg bengkok, meluruskan arah yang dipandang sudah lurus oleh umum namun arahnya tertuju pada sesuatu yg tidak logis…