Krisis Pendidikan (5)

Krangka fikir bukanlah sesuatu yg muncul dari dlm diri individu, namun itu masuk terbentuk melalui faktor luar yakni pengetahuan dan kekuasaan. Foucault menjadikan kekuasaan sebagai perhatian utama, dimana dlm pandangannya, keberadaan individu dan masyarakat, serta komponen lain dlm dunia sosial hanya dapat ditelaah melalui hubungannya dg kekuasaan (Martono, 2014). Kekuasaan mengacu pd hubungan pengaruh mempengaruhi (bukan hanya dlm makna negara/pemerintah), dan tersebar, terdistribusi dalam masyarakat. Oleh karena itu kekuasaan bersifat divergen/menyebar dan tidak hanya ada di satu tempat tertentu. Kekuasaan punya kemampuan menciptakan sistem pemikiran sehingga mampu membentuk pola fikir seseorang, kekuasaan dan pengetahuan saling mempengaruhi, pengetahuan akan membentuk sistem kekuasaan dan kekuasaan selalu muncul dan menjadi sistem kontrol yg membatasi aktivitas manusia, melalui wacana2 yg mampu mempengaruhi praktek sosial sehari hari. Kekuasaan dpt mewujudkan dirinya dg menghasilkan pengetahuan dan wacana tertentu yg dapat diinternalisasikan oleh individu serta membimbing prilaku masyarakat. Kondisi seperti inilah yg terjadi terkait efek neoliberalisme dlm pendidikan kita. Kekuasaan yg tersebar serta pengetahuan dan wacana neolib yg dikondisikan oleh globalisasi serta adaptasi kekuasaan legal formal terhadapnya, menjadikan pengetahuan pendidikan bangsa dan wacananya makin pudar (seperti pemikiran Kartini, Akhmad Dahlan, Ki hajar, M Syafii, Rahmah El Yunusiah, Dewi Sartika dll), sehingga penyelenggaraan pendidikan cenderung sama dg di negara maju, yg membedakannya hanya ketertinggalannya saja…

Suatu pengetahuan berkembang bukan hanya  karena substansinya yg penting, namun  dukungan kekuasaan yg menjadikannya penting karena sejalan dg kepentingan kekuasaan. Kesaling terkaitan antara pengetahuan dg kekuasaan oleh Foucault disebut sebagai genealogi (genealogi kekuasaan). Kekuasaan perlu pengetahuan dan pengetahuan juga memerlukan kekuasaan agar dpt berkembang efektif dg wacana wacana yg memperkuatnya sehingga mampu membangun pola fikir serta berefek pd praktek2 sosial. Ini juga bermakna bahwa kekuasaan dg wacana saling terkait, dan membawa beberapa konsekwensi yaitu: 1) dapat membentuk klaim2 kebenaran, 2) dg klaim tsb memungkinkan lembaga2 sosial memanfaatkan teknologi dominasi untuk ngatur manusia, 3) membentuk subyektifikasi, menundukan subjek (manusia), membentuk identitas diri melalui kesadaran/pengetahuan diri, 4) secara intrinsik potensial akan menumbuhkan perlawanan dan menghasilkan subyektivitas baru melalui kompetisi (wacana, episteme) pd tingkat individu. Kekuasaan dapat mewujudkan dirinya secara positif dg memproduksi pengetahuan dan wacana tertentu yg dapat diinternalisasi oleh individu dan membimbing prilaku masyarakat. Misalnya kasus yg hangat ttg film G30S_PKI, jaman oede baru pertengahan film tersebut tak menimbulkan polemik, bahkan mendekati konflik seperti sekarang, karena pengetahuan ttg PKI yg didukung kekuasaan legal formal seperti itu, ilmuwan juga mayoritas membenarkannya, wacana2 pengetahuan juga mendukungnya, dan kalau pun ada yg tak dukung, itu hanya wacana minor yg tak dapat dukungan  masyarakat karena telah dibentuk pengetahuannya oleh kuasa kebenaran saat itu (interaksi pengetahuan dan kekuasaan). Tapi setelah reformasi film tersebut hilang dari peredaran karena dianggap menyimpang dan hanya menokohkan orang yg dibenci yg jadi alasan adanya gerakan reformasi. Kebebasan dan efek neoliberal dg gerakan HAM menjadikan tumbuh pengetahuan dan wacana ttg perlunya kebebasan dan penghormatan HAM, termasuk korban yg dipandang PKI, ini membawa alasan Hukum tuk dijual pd masyarakat, namun mayoritas masyarakat masih berpandangan bahwa PKI Tetap bahaya yg harus diwaspadai dan Film tersebut dipandang sebagai upaya membangun kesadaran dan kewaspadaan akan bahaya tsb. Hal ini cenderung meruncing karena pemerintah/kekuasaan legal secara tersamar seperti membiarkan kelompok2 yg mengadvokasi PKI dg alasan HAM dan Hukum, ini makin runyam ketika Pemerintah juga mendorong dibuatnta Film baru ttg PKI yg dibaca sebagai pelurusan atas Film yg ada sekarang, padahal upaya apapun tak akan pernah buat sejarah itu benar sebenar benarnya, karena selalu ada aspek deskriptif dan interpretatif, deskriptif bisa dicocokan data2 dan saksi, namun penafsiran pasti sulit, jadi klw ada film baru akan dipandang sebagai versi kekuasaan Jokowi orde reformasi, dan yg ada versi suharto Orde Baru. Jadi gak kan pernah selesai, nanti kekuasaan baru lain lagi, dst..dst. Inilah yg juga pernah dikemukakan Foucault (genealogi kekuasaan/kajian hubungan kekuasaan dan Pengetahuan). Sejarah yang difahami di masa sekarang  sebenarnya bukanlah sejarah yg sebenarnya, ia merupakan sejarah yg telah dipoles sedemikian rupa oleh kekuasaan yg berkembang dimasanya, dan klw jokowi bikin, nanti akan dipandang begitu lagi. Oleh karena itu kita bicara deskripsinya saja bahwa PKI MELAKUKAN PEMBERONTAKAN DI MADIUN 1948, DAN UPAYA KUDETA 1965, dan dari jaman Suharto, Jokowi, serta penguasa selanjutnya berkecenderungan kuat akan sepakat itu. Interpretasinya silahkan kekuasaan mainkan apalagi Film nya yg sebagai karya seni.
Dlm pandangan Foucault dapat dikemukakan bahwa kuasa/kekuasaan selalu berkaitan dengan pengetahuan dan pengetahuan selalu bersinggungan dengan wacana atau diskursus, sehingga antara pengetahuan, wacana dan kekuasaan selalu bersifat relasional. Dalam konteks ini Kekuasaan tidak difahami dlm pengertian umum yg bersifat hirarki, namun terkait dg  sistem-sistem regulasi, aturan, menormalisas/ standarisasi serta bentuk pendisiplinan kehidupan individu dan sosial masyarakat.  Sementara itu Pengetahuan (dalam bahasa Inggrisnya Knowledge) memiliki cakupan yg luas tidak sekedar terbukanya objek terhadap subjek, namun mencakup banyak definisi tentangnya (Kamus Filsafat) : 1. Pengakuan tentang sesuatu, 2. Keakraban atau pengenalan sesuatu dari pengalaman aktual, 3. Persepsi yang jelas tentang apa yang dipandang sebagai fakta, kebenaran atau kewajiban, 4. Informasi dan/atau pelajaran yang disimpan, 5. Hal-hal yang disimpan dalam kesadaran seperti kepercayaan, ide-ide, bangunan konsep, pernyataan yg dianggap benar. Adapun Wacana menurut pengertian Foucault, adalah sebagai bidang dari semua pernyataan (statement), kadangkala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadangkala sebagai praktek regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan, wacana berarti sesuatu yang ditulis atau dikatakan atau dikomunikasikan dengan menggunakan tanda-tanda, dan menandai hubungan/relasi. Paparan dan contoh terdahulu merupakan sebuah bukti bagaimana wacana kebenaran dibentuk dan diproduksi melalui sebuah proses-proses dan mekanisme-mekanisme kuasa. Bahwa wacana tidaklah bisa berdiri secara otonom dalam kerangka kebenaran objektif. Namun lebih dari itu wacana merupakan bagian yang inheren (tidak bisa dipisahkan) dari proses dan mekanisme kekuasaan.
Sementara kekuasaan dalam konteks ini bukanlah hal yang bersifat hierarkis. Semisal kekuasaan negara, kekuasaan aparat dan sebagainya. Namun kekuasaan ini diartikan sebagai ‘yang menormalisasi’, dan ‘yang mendisiplinkan”. Dan kekuasaan yang sedemikian itu menyebar dan beroperasi dalam mekanisme-mekanisme sosial yang ada. Dengan demikian tidak ada yang disebut sebagai subjek kuasa. Analisis kekuasaan, pengetahuan dan wacana merupakan cara yg ampuh untuk membedah praktek2 pendidikan modern, gagasan untuk menggunakan pendidikan sebagai sarana mengubah struktur dan hubungan sosial menunjukan sebuah transformasi besar dlm hubungan kekuasaan (Martono). Pendidikan/persekolahan cenderung  telah menjadi tempat memaksakan wacana pada siswa dg menggunakan guru dan kurikulum untuk mewujudkan kepentingan penguasa supra nasional yg berefek pd kebijakan nasional. Ketika pendidikan sejak awal kemerdekaan adalah dominan membangun manusia berakhlak, berkarakter, tiba2 penguasa membikin slogan lagi penguatan, tp pada saat yg sama hasrat bersaing secara individu, juga institusi terus didorong dg alasan kompetisi global, ini suatu yg ahistoris, kenapa bukan persaingan berbasis komunitas, bangsa yg dikuatkan dulu, dan ini memerlukan soliditas komunitas, bangsa, yg untuk itu penguatan akhlak dan atau karakter gotong royong harus jadi prioritas dalam pendidikan tuk membangun bangsa. Disinilah neoliberalisme yg mendorong kuatnya kapitalisme merasuk pada pengetahuan dan wacana yg kemudian diterima bahkan didukung oleh negara2 berkembang termasuk indonesia…dg kondisi ini kita tinggal menunggu pudarnya nilai budaya bangsa, kita cenderung ingin masuk budaya global dg budaya global dan kita makin kurang pede masuk budaya global dg budaya nasional…itulah makna berbeda, dan itu perlu keberanian pemimpin bangsa.
Hal tersebut tentu saja sulit, tapi bukan tidak bisa, karena berbagai faktor yang berinteraksi serta berefek menekan secara sukarela. Emile Durkheim dan Karl Marx telah menunjukan bahwa Pendidikan sudah masuk dalam jaring Kuasa liberalisne, Kapitalisme, neoliberalisme, dimana posisinya lebih sebagai penyedia pekerja bagi kaum kapitalis, implikasi lebih jauhnya, mereka makin cenderung mendesakkan apa apa yang perlu diajarkan, dilatihkan pada peserta didik di sekolah melalui kurikulum, pelatihan guru yang relevan dg kepentingan industri, sehingga lulusan lembaga pendidikan tidak lagi berfikir keras untuk merancang character building, tapi lebih pada skill building yang dibutuhkan dunia industri (kapitalis). Sementara untuk pendidikan dasar/umum, kompetensi, literacy dan soft skill mereka juga mendiktenya, dan kita dg riang dan sadar memasyarakatkannya dalam bidang pendidikan,  tentu kita tak bisa berharap pada mereka (negara maju) untuk adanya soft skill iman dan takwa. Negara2 maju menjadi kiblat pendidikan negara berkembang, mereka mendikte standar yg perlu dipenuhi, yg otomatis pada saat itu juga pendidikan negara berkembang langsung ketinggalan, disini pendidikan sebagai pembudayaan (penanaman nilai, keimanan, ketakwaan, karakter) makin menjadi isu pinggiran, karena yg utama mengejar ketertinggalan dari negara maju, yg mereka gak ada sama sekali bicara iman takwa sebagai tujuan pendidikan. Disinilah jaring kekuasaan supra nasional (neoliberalisme)l makin membelit pendidikan negara berkembang. Kita harus lari mengejar mereka pada jalan yg mereka buat sendiri, bukan pada jalan yg  kita buat. Tak mungkin dahului mereka karena mereka juga berlari pd jalan yg mereka buat yg  tentu sudah faham dan terbiasa sekali dg kondisinya…BERSAMBUNG

Iklan
| Meninggalkan komentar

Krisis Pendidikan (4)

Secara permukaan memang nampak seperti tak terjadi perubahan, Pancasila masih tetap jadi dasar negara dan ideoligi bangsa serta jadi rujukan nilai dlm bidang yg legal dan formal  dg agama sebagai penguatnya, namun hal ini tak selamanya sinkron dg kehidupan real masyarakat, sehingga secara substantif dlm kehidupan praktis seolah terjadi gap anrara apa yg seharusnya (normatif) dg apa yg terjadi dalam kenyataan kehidupan masyarakat. Pergulatan bidang politik penuh dengan permusuhan, intrik, pengkhiatan, dsb, dlm bidang ekonomi, korupsi, monopoli, kesenjangan serta berebut pekerjaan dg cara yg tak benar dan tak baik seolah suatu hal yg diterima masyarakat demikian adanya (Taken for granted), dlm bidang pendidikan upaya berkompetisi terkadang dicampuri dg langkah yg menabrak nilai2, target sering dicapai dg semu tanpa substansi, formalitas dokumen sering mengalahkan esensi, cara dan instrumen mengabaikan substansi dsb. Semua itu tentu memerlukan “install ulang nilai” dg nilai dasar, nilai terminal bangsa, dan semua bertanggung jawab terhadapnya. Kita tak cukup bertanya apa yg dilakukan dan bagaimana melakukannya dlm  menyelenggarakan pendidikan, namun kita justru perlu mempertanyakan “kenapa, mengapa kita melakukan itu??”, ini akan memandu kita untuk melihat esensi pendidikan serta rel nilai yg tepat dalam Menyelenggarakan pendidikan, baik sebagai pendidik , tenaga kependidikan, birokrat pendidikan, serta masyarakat.

Apakah hal tersebut menunjukan bahwa sebagai negara, bangsa indonesia lemah dlm menanamkan nilai2 yg jadi fondasi hidup berbangsa dan bernegara..?, bisa ya bisa tidak, karena kompleksitas interaksi era global memperumit tindakan2 dan kebijakan2 publik nasional. menurut Jurgen Hubermas, dg konteks global dewasa ini demokrasi tak berarti kekuasaan yg dilimpahkan rakyat pd pemimpinnya merupakan satu satunya kekuasaan (demokrasi sekarang adalah demokrasi deliberatif yg tuk memahaminya perlu melihat negara, pasar, dan masyarakat sebagai tritunggal kekuasaan) dalam suatu masyarakat bangsa, namun hanya salah satunya saja karena kekuasaan makin terdistribusi, bahkan ada kekuatan kekuasaan yg besar sebagai supra-nasional yg pengaruhnya sangat kuat pada kebijakan suatu negara bangsa, misalnya IMF (sebagai instrumen neolib), yg sering ikut mengatur ekonomi suatu bangsa. Hal itu pun berlanjut pd bidang lain kehidupan termasuk Pendidikan juga menjadi bagian yg terkena oleh efek neolib dg penguatan kompetisi, serta standar2 yg mereka tentukan sebagai ukuran mutu pendidikan yg diterima oleh negara serta diperkuat oleh wacana2 keilmuan yg mengokohkan bahwa hal itu penting bagi bangsa kita. Disini pengetahuan dan kekuasan bergabung menggempur wacana berfikir masyarakat, disini melahirkan “episteme” yg menurut Focault menjadi penentu suatu kebenaran dlm tindakan sosial, karena episteme itu menentukan bagaimana manusia mengalami kenyataan, memerintah, melarang, mengontrol pengetahuan manusia, sehingga berbagai kebijakan pemerintah cenderung berjalan di atasnya dan masyarakat menerima tanpa refleksi ttg kesesuaian dengan konteks nilai dan budaya bangsa.
Dalam masyarakat Islam Awal, Pendidikan merupakan kepanjangan dari dawah islam yg ditata secara sistem, setelah agama agama masuk ke Indonesia pendidikan ada dibawah kendali padepokan (tuk non islam) dan pesantren2 (sesudah masuk islam), ini juga yg terjadi pd masyarakat tradisional eropa, dimana pendidikan merupakan kepanjangan dari gereja (marshal,1996), pd saat ini pendidikan, sekolah menjadi tempat interaksi dalam penanaman nilai moral agama. Dlm perkembangannya, abad perintisan iptek tlah mendorong pemisahan agama dg ilmu (sekularisme), exploitasi, eksplorasi alam semesta melahirkan expansi bangsa yg kuat  (basis Iptek) untuk menjajah, menguasai berbagai daerah, negara, bangsa yg masih tertinggal, disamping terus berkembangnya teknologi dan industri, yg mendesak peran pendidikan, sekolah menjadi penopang industrialisasi dlm kehidupan masyarakat, yg oleh Emile Durkheim (1956) dikatakan bahwa pendidikan berperan tuk bekali masyarakat dg berbagai ketrampilan yg dibutuhkan dlm kegiatan industri, artinya pendidikan berposisi sebagai penyedia tenaga kerja, yg berimplikasi pd pendiktean apa yg perlu diajarkan di sekolah agar sesuai kebutuhan industri. Kondisi ini bagi negara sekuler lebih sederhana masalahnya namun bg negara yg berfilosofi teistik tentu ada upaya mengkombinasikannya meski tetap dominannya pd kebutuhan praktis peagmatis yakni bekerja dan mendukung industri. Dlm kondisi seperti inilah neolib mendapat tempat yg terbuka untuk berperan merasuk pd seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Apa yg terjadi dalam suatu masyarakat, apalagi masyarakat modern selalu terhubung dg kekuasaan yg dominan, yg mampu mengatur dan mempengaruhi prilaku, sikap, keyakinan, bahkan pengetahuan umum masyarakat, sehingga mampu memberi efek kuat pada pilihan hidup masyarakat terkait mana yg boleh dan yg tidak, mana yg baik dan mana yg buruk, mana yg bermanfaat dan mana yg tidak. Semua itu berkembang dlm wacana2 (wacana atau discourse adalah cara/pendekatan yg digunakan seseorang untuk memahami dunia dan sosial) yg merupakan kombinasi yg diperankan oleh kekuasaan yg dibenarkan oleh pengetahuan dan pengetahuan yg dibenarkan dan didukung oleh kekuasaan, sehingga wacana juga dapat dimaknai sebagai otoritas/kekuasaan untuk nenggambarkan sesuatu yg dipropagandakan oleh suatu institusi. Hal itu mungkin hanya perlu analisis permukaan/sederhana saja untuk memahami dinamika masyarakat bila terdapat monopoli kuat dari kekuasaan negara (pemerintah, mungkin di indonesia cukup relevan mencontohkan jaman soekarno dan soeharto). Namun keduanya tentu punya episteme yg berbeda meski mengaku demokrasi namun dalam wacana yg berbeda yg pada saat itu dibenarkan oleh pengetahuan dan dibenarkan pula oleh kekuasaan, sementara kekuasaan diluar negara/pemerintah relatif tak bisa muncul digempur rezim wacana kebenaran saat itu. Ketika reformasi, dimana rakyat menunjukan taringnya dalam hubungan kekuasaan tentu wacana demokrasi juga berubah, juga kekuasaan nampak makin terdistribusi pada berbagai kelompok masyarakat terutama yg merasa ikut melahirkan reformasi. disinilah makna demokrasi deliberatif jadi kerangka pendekaran penting dalam memahami dinamika masyarakat dan bangsa.
Demokrasi deliberatif (Jurgen Habermas) adalah demokrasi dimana kekuasaan negara, pemerintah dalam menentukan kebijakannya perlu dikonsultasikan pada publik, masyarakat, demokrasi ini (akan) meningkatkan intensitas partisipasi masyarakat dlm pembentukan opini dan penjaringan aspirasi. Semua ini terjadi bukan karena negara, pemerintah berbaik baik dg rakyat, namun karena kondisi, dimana kekusaan tersebar, yg buat negara, pemerintah tak mungkin lagi memonopoli kekuasaan, dan kebenaran tanpa memperhatikan perspektif kekuasaan lain yg tersebar di masyarakat. Bahkan kekuatan/kekuasaan pasar bebasnya sebagai instrumen neolib mempengaruhi masyarakat dunia sering dipandang sebagai kekuasaan supra-nasional yg meski tak ada dasar konstitusinya namun negara nasional, pemerintah tak bisa melakukan pengaturan atau mendikte pasar sesuai keinginan pemerintah dan tuntutan masyarakatnya.
Semua itu bermakna bahwa dlm era global, globalisasi ekonomi pasar bebas dan informasi telah menerjang batas2 nation state, juga globalisasi dan liberalisasi bidang politik mendorong lahir dan berkembangnya berbagai gaya hidup serta orientasi nilai2 yg makin pluralis. Kondisi ini menjadikan kehidupan sosial masyarakat makin kompleks (Habermas menyarankan agar memahami masyarakat seperti itu sebagai jaringan tindakan2 sosial) yg berefek pada makin  lemahnya otiritas/kekuasan negara, pemerintah karena wacana2 tentang sesuatu kebijakan publik akan mendapat tantangan wacana lain yg dipertahankan oleh neolib (mis. Negara ingin mengatur harga atau tata niaga komoditi, itu jelas akan sulit dan banyak tantangan, karena pasar dalam suatu negara punya sambungannya atau terkait dg pasar global yg liberal/neoliberal), serta masyarakat melalui berbagai organisasi kemasyarakatan, keagamaan yg memiliki wacana berbeda bahkan kontradiksi dengan pemerintah (mis. Wacana bhineka tunggal ika dan pancasila, nampak wacana pemerintah ttg nya berbeda dg wacana umat beragama/ormas keagamaan, pemerintah gunakan otoritas legal, mungkin penggunaan hukum yg tidak fair tuk membendungnya, dan umat mendesakkan wacananya melalui hak berdemontrasi). Dalam kondisi seperti itu akan terjadi ketegangan, dan untuk mengatasinya hanya tindakan dialog terbuka, tentu dg kesadaran bahwa pemerintah di era sekarang bukan lagi kekuasaan tunggal objek loyalitas mutlak masyarakat, dan masyarakat pun perlu menyadari bahwa otoritas yg terbatas tak bisa merangkul atau menundukan otoritas lain yg makin kompleks. Itulah yg terjadi pasca reformasi sampai sekarang, dan keharmonisan hanya bisa bila pemimpin negara, pemerintahan mau berdialog terbuka dg berbagai fihak yg dipandang memiliki wacana yg berbeda, sehingga saling pemahaman terjadi, tapi harus dihindari penyamaan karena itulah esensi Bhineka Tunggal Ika. Kondisi ini juga tebawa dlm sistem pendidikan (yg cenderung disamakan mengabaikan variasi daerah yg dg tepat dilakukan dg MBS, namun telah pudar kembali proyeknya..!!!), terutama dlm tatanan operasional, dg UU susdiknas yg sama sejak 2003, namun kebijakan pendidikan tiap rezim berubah bahkan berganti, yg secara permukaan makin berkiblat pd neoliberasme dan makin manjauh dari akar budaya dan nilai bangsa.
Itu menunjukan bahwa kekuasaan selalu berinteraksi dg pengetahuan  demikian juga pengetahuan memiliki efek kekuasaan dalam melihat sesuatu sebagai kebenaran atau ketidak benaran. Dg dasar negara dan way of life bangsa yg sama sejak kemerdekaan, namun praktek kuasa ternyata berbeda bahkan bertentangan dan saling menyalahkan itulah yg terjadi pd bangsa kita dari orde lama, baru dan reformasi. Wacana2 muncul di masyarakat global dan nasional dg perspektif kepentingan masing2, neolib dipandang sebagai pemenang dalam pertarungan ideologi pasca runtuhnya komunisme dan berakhirnya perang dingin, sampai2 Fukuyama menyatakan bahwa kemenangan liberalisme sebagai “THE END OF HISTORY”,  meskipun dlm sejarah tak pernah suatu ideologi benar2 mati, namun hanya pendukungnya saja yg melemah sehingga muncul kembali tetap merupakan great possibility, tergantung upaya wacana2 yg dilempar menguat atau tidak serta adanya  keberpihakan kekuasaan2 yg dominan di masyarakat. Semua itu tentu akan berefek pada nilai2 yg ditanamkan dlm pendidikan, serta instrumen apa yg dipakainya dalam menanamkan nilai tsb di bidang pendidikan

| Meninggalkan komentar

Krisis Pendidikan (3)

Secara normatif, sistem pendidikan nasiol cukup konsisten dlm menentukan tujuan pendidikan dg nilai terminal yg sejalan dg ideologi bangsa pancasila. Kita simak makna dan tujuan pendidikan nasional berikut: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU 20/2003). Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3 UU 20/2003).

Untuk melihat bagaima nilai2 dlm pendidikan nasional, diperlukan analisis bertingkat dari tataran normatif filosofis kemudian tataran praktisnya, dari tataran nilai terminal/nilai akhir kemudian pada nilai instrumental, nilai operasional. Dari fungsi dan tujuan pendidikan nasional nampak benang merah yg kuat dg ideologi bangsa Pancasila yakni iman dan ketakwaan pd Tuhan YME, keimanan ini akan termanifestasikan dlm akhlak mulya secara mental spiritual, serta fisik yg sehat, yang dengannya ditingkatkan keilmuannya, kecakapan, kreativitas, kemandirian, hingga menjadi warga yg demokratis dan bertanggung jawab. Dari urutan tsb maka nilai terminalnya adalah keimanan dan kerakwaan sementara yg lainnya menjadi instrumen untuk menjadikan manusia yg secara individu memiliki kemampuan dan secara sosial mampu berdemokrasi, yg dlm nilai sekuler demokrasi jd nilai inti, terminal. Dg melihat konteks ini dlm masyarakat indonesia, demokrasi bukan nilai terminal, namun ketuhanan menjadi yg mendasar sebagai rujukan nilai bagi perwujudan diri manusia, sekaligus perwujudan diri sosial kemasyarakatan.

Dengan  Tujuan pendidikan nasional tsb, makna pendidikan nampak menunjukan konsistensi dalam menjadikan nilai terminal sebagai bagian utama definisinya, meski tidak secara tegas disusun dlm urutan yg terpadu dlm melihat nilai spiritual keagamaan. Memang Hal ini akan bermasalah dlm aspek pendasarannya. Kekuatan spiritual keagamaan adalah penginspirasi akhlak mulia, kemudian kepribadian, baru pengendalian diri, kecerdasan, dan kemudian ketrampilan bagi masyarakat, sehingga secara gradasi nilai dimulai dari spiritual, emosional, intelektual, dan terakhir sosial ( diagregasi jadi “Ke-Tuhanan, Ke-Dirian, Ke-Masyarakatan”). Bentuk integrasinya seperti piramid dimana klw dari atas menginspirasi atau menjiwai kalau dari bawah mendukung dan  memperkuat. Dengan Pemahaman makna seperti itulah maka dalam kehidupan masyarakat bangsa, pendidikan dapat menjalankan fungsinya dalam suatu interaksi sosial kehidupan masyarakat yg terarah jelas dan lurus menuju pencapaian tujuannya melalui tangga pendidikan yg merefleksikan tujuan masyarakat bangsa.

Dalam konteks perwujudan atau aktualusasi diri dalam proses dan hasil pendidikan, masalahnya jadi cukup rumit terkait dg: 1) apakah perwujudan diri pendidikan harus langsung mencerminkan nilai terminal pendidikan (keimanan dan ketakwaan pd Tuhan YME), artinya tingkat iman dan takwa yg jadi ukuran keberhasilan Pendidikan, ataukah cukup pd nilai instrumental, nilai operational yg lebih jelas dan terukur?, dan 2) apakah diri yg diwujudkan itu, personal, sosial, kooperatif, atau teistik?. Kerumitan itu bukan karna kekurangan norma, tp norma nilai yg cukup banyak yg harus dicapai pendidikan, pada saat gelombang global dg nilai nilai pragmatis yg menarik dan tentu saja lebih terukur begitu kuat dampaknya pd kehidupan masyarakat. Masalahnya adalah bagaimana  jika hal ini tak mengarah dan atau tak sejalan dg nilai terminal, apakah masih bisa disebut pendidikan bangsa kita bertujuan melayani budaya dan nilai bangsa lain.

Kondisi ini memang menjadi fenomena global dimana pasar bebas “nilai” terjadi tanpa proteksi,  sehingga setiap orang memilih, memilah berdasarkan kepentingan dan pengalaman masing2, upaya negara pasca reformasi cenderung longgar dan lemah dalam menanamkan nilai2 bangsa (yg tentu bersifat Teistik sesuai Pancasila), kritik akan tak tepatnya indoktrinasi, serta pendidikan yg makin cenderung liberal (menjadi diri sendiri itu liberalistik jika basisnya individu), kebebasan di kembangkan tapi perkuatan nilai sendiri kurang dilakukan sehingga dlm pasar ide dan nilai sering kalah dlm tararan individu, baik umum ataupun peserta didik, sehingga proses pendidikanpun mau tak mau ikut liberal, mendudukan individu srcara spesifik yg kurang menguatkan konteks sosial, menjadi praktek umum di lembaga pendidikan (Sekolah), meski bukan karena nilainya yg didukung, namun intervensi hukum, HAM sering buat pendidik makin lama makin apatis, dan kurang dlm menyelami aspek personal, karakter peserta didik, disamping terputusnya informasi karakter dari jenjang pendidikan sebelumnya. Ketika sekarang ada penguatan penddikan karakter dg beberapa nilai2 nya (mayoritas nilai2 instrumental), nampaknta hanya sesuatu yg politis saja tuk membuat rasa aman masyarakat, namun bagaimana melakukannya dg efektif..?. Itulah masalahnya, dan Ini tentu merisaukan kita sebagai bangsa, terlebih lagi sebagai pendidik.

Dalam sistem pendidikan nasional secara normatif cukup jelas perspektif nilai yang teistik dan juga sosial dlm aspek kemasyarakatan. Ini mengindikasikan bahwa keimanan dan ketakwaan peserta didik dan hasil pendidikan harusnya mampu mewujudkan nilai2 tersebut dalam perwujudan diri individu sebagai Tujuan pertama (paling tidak salah satu tujuan) pendidikan. Ini bermakna bahwa perspektif teistik dlm perwujudan diri menjadi filosofi dasar pendidikan yg kemudian terjabar dlm tujuan nilai2 instrumental seperti: “berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Bila dilihat dlm model hirarki piramidal, nilai2 tersebut dapat dilihat sebagai kesatuan jika perspektif Teistik menjadi fondasi sekaligus arah urama yg ingin dicapai dg nilai2 lainnya. Disamping itu bila dilakukan sintesis nilai2 bisa juga nilai2 tsb merupakan pesrpektif lain dari perwujudan diri yakni perspektif indivjdu, sosial dan kooperatif, namun karena ideologi bangsa puncaknta ada dlm Ketuhanan maka nilai selain iman takwa tak dapat jadi perwujudan diri dlm pendidikan melainkan jadi nilai instrumental dln kerangka perwujudan diri Teistik dimana nilai mutlak iman dan takwa jadi yg utama “the ultimate goal” dari pendidikan nasional…apakah prakteknya demikian?…nah disiinilah masalahnya.

Dasar Negara sebagai fondasi nilai tujuan pendidikan Nasional (Pembukaan UUD 45, Alinea ke 4 “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Tentang Pendidikan dan Kebudayaan: “(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia (UUD Pasal 31). “(1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. (2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budayanasional. Norma di atas dapat menjadi kerangka fikir dalam menimbang sistem dan praktek pendidikan nasional.

Pancasila merupkan norma dasar, fundamental dlm hidup dan kehidupan sosial masyarakat bangsa. Ketika norma, filosofi, atau nilai itu berada dalam tataran ide, maka dia tak akan mampu penetrasi secara kuat pada praktek kehidupan masyarakat. Masalah krusial dlm setiap ideologi, norma, nilai, adalah bagaimana bisa berefek pd kehidupan sosial masyarakat dan bisa jadi way of life (membudaya), sehingga tak ada gap atau paling tidak gap-nya kecil, antara nilai dg prilaku, antara ideologi dg gerakan, antara yg seharusnya dg kenyataannya….   Misal: dlm ajaran Islam, orang sering merujuk pada surat Al Alaq ayat 1 “Iqra bismi robbika alladi kholaq” bacalah dg nama tuhannu yg telah mencipta, semua umat islam dewasa pasti sudah tahu, sudah membaca, dan faham maknanya, tapi apa yg terjadi, jika umat islam rendah dlm membaca pastilah masyarakat Indonesia juga kebawa rendah dlm membaca (kalkulasi mayoritas, demikian pula sebaliknya). Itu mafhumnya adalah bahwa bangsa indonesia tidak kekurangan nilai yg jadi fondasi untuk budaya literasi, kita kekurangan Gerakan berbasis nilai yg sistemis tuk mendekatkan nilai dengan praktek kehidupan sosial masyarakat. Jadi kalau presiden menghimbau, menteri menghimbau, gubernur menghimbau, bupati menghimbau, maka itu akan jadi pemborosan dana saja jika begitu, sebab himbauan, bahkan perintah membaca, Tuhan telah melakukannya seperti ada dlm Al Quran, dan Tuhan itu Pencipta para penghimbau (Kata ungkapan Sunda: ku Gusti Allah geus dititah oge teu jalan, komo ngan saukur dihimbau ku makhlukna), Nah kalau begitu bagaimana mungkin dan apa masih mungkin mengembangkan budaya literacy dlm msyarakat kita?..sangat mungkin dan sangat bisa, syarat pertama adalah berhentilah pejabat jadi penghimbau (yg untuk lakukan itu ada perayaan dan banyak dana keluar), jadilah mereka “Pe”merintah” yg menggerakan budaya literacy, jadilah “penggerak literacy”, ambil kebijakan yg pro literacy (sangat banyak variasi yg bisa diambil)..buat gerakan literacy masyarakat secara bertahap, sistematis dan sistemik…dan banyak langkah lain yg bisa diambil. Dalam kondisi seperti ini pemimpin/pemerintah hanya perlu dua hal “KAHAYANG” (kemauan) dan “KAWANI” (keberanian) Bergerak… dan langkah ini sekaligus akan  memperbaiki, meningkatkan mutu pendidikan.

Secara konstitusional, dalam aspek normatif Pancasila sudah menyatu dan menjadi koridor wajib dlm mengembangkan sistem2 kehidupan sosial kemasyarakatan, termasuk dalam sistem pendidikan nasional nampak jelas ideologi pancasila terjabar dalam tujuan dan makna pendidikan, sehingga perwujudan diri dari perspektif Teistik tentu akan memperkuat ideologi pancasila. Namun dalam tataran praktek pendidikan berbagai tantangan yg dihadapi cukup menyulitkan untuk tetap sinkron dg nilai terminal pancasila, karena pengaruh yg kuat dari ideologi leberalisme, neo liberalisme, yg tak hanya bawa nilai tapi juga dana dan kriteria yg sering memaksa negara lain mengikutinya, padahal mereka sama sekali tak libatkan Tuhan di dalamnya. Dg kondisi ini kesinambungan sejarah menjadi kabur, bangsa yg berketuhanan, namun terus bergelut dengan ideologi sekuler tentu akan mengalami kegamangan, benturan, keterputusan, yg membuat sistem sulit tuk mapan, stabil. Perubahan, perusakan sistem dpt sering terjadi karena penerapan yg tidak matcing dg akar budaya dan nilai utama di masyarakat. Kalau normanya pendidikan itu pertama untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, namun prakteknya pendidikan lebih pada penyediaan tenaga kerja (kuli) dimana pengembangan tenaga blue collar dari lulusan pendidikan menengah seperti digenjot, dan mereka sebenarnya hanya akan melayani sistem industri kapitalis, neo liberalis. Hal ini tentu akan memperlemah bangsa karena akan banyak masyarakat, rakyat kita menjadi kuli di negara sendiri (inilah salah satu yg dikhawatirkan Soekarno, makanya pendidikan rakyat indonesia harus tinggi agar tak jadi kuli di negeri sendiri). Namun sekarang jadi kuli bukan karna terpaksa, namun bangsa kita lewat penguasanya justru memproduksinya melalui praktek pendidikan..

Berkembang dan menguatnya faham neolib kapitalistik telah berdampak pd berbagai kehidupan sosial masyarakat, yg tak bisa memilih dan memilah nilai2 apalagi kalau terkait dengan kehidupan praktis, pragmatisme cenderung jadi pilihan. Dalam kondisi dimana kekuasaan tersebar, maka lemahnya kekuasaan pemerintah dlm bentengi ideologi menimbulkan wacana baru yg justru dilegitimasi oleh pemerintah, melalui penguatan dan pembiaran wacana yg tak sinkron dg ideologi negara merayap muncul.

Di era “borderless world”, alias era global, kekuasaan nasional merupakan salah satu saja yg bisa berperan dlm pembentukan dan atau penjagaan nilai budaya bangsa, apalagi jika mengingat kekuasaan dlm suatu masyarakat terdistribusi dengan berbagai kelompok, tentu konsolidasi kekuasaan bangsa lebih diperlukan agar penguatan nilai2 bangsa dapat mengakar dan mampu menangkal efek negatif dari nilai budaya global yg meraksuk sampai ke dalam kamar melalui panji ideoligi neoliberalisme. — (Neoliberalisme adalah paham Ekonomi, ideologi yang mengutamakan Perdagangan Bebas, Ekspansi Pasar, Privatisasi, Deregulasi dlm rangka Penghilangan, pengurangan campur tangan pemerintah, dan pengurangan peran negara dalam layanan sosial seperti pendidikan, kesehatan, dan sebagainya) — dan instrumen teknologinya, yg bertumpu pd kebebasan individu dalam memilih memilah dan berprilaku sesai keputusan masing2 dlm menjalani hidupnya. Kondisi ini tenttu berdampak pd peserta didik, jargon “jadilah dirimu sendiri”, “menjadi diri sendiri”, sangat individualistik (bahkan kalangan pendidik juga sering memperlakukan prinsip, jargon ini tanpa melihat relevansi dan atau menimbang dg ideologi bangsa, dan nilai sosial budaya bangsa sendiri, bahkan mungkin tanpa pemahaman yg tepat tentangnya) dan mengabaikan lingkungan sosial serta harapan masyarakat sesuai nilai2 bangsa akan potret lulusan dan karakter yg diharapkan dari hasil Pendidikan.

Kondisi seperti itu nampak sulit dilihat dalam perspektif kontinyuitas sejarah bangsa, analisis diakroni (sejarah kronologis) akan menimbulkan berbagai pertanyaan yg sulit dipecahkan jawabannya, seperti kenapa dengan dasar negara, dg filosofi yang masih tetap Pancasila sebagai rujukan nilai kehidupan bermasyarakat, tapi prilaku masyarakatnya makin materialistik, hedonistik, pragmatis..?, kenapa sikap dan prilaku bangsa kita makin mendekat (mungkin juga dlm banyak hal sama) dg sikap, dan prilaku bangsa lain (barat), padahal nilai rujukan kehidupannya sangat berbeda, bangsa kita teistik, sosial, sedang mereka pragmatis sekuler individual??. Pertanyaan lebih fokus, kenapa pendidikan kita yg syarat nilai teistik (Iman dan Takwa) selalu ditimbang banding dengan pendidikan mereka yg sekuler dan menggunakan ukuran mereka seperti ukuran TIMMS, PISA, OECD,  padahal kalau timbangannya nilai Teistik bukankah kita lebih maju..????. 

Jika seperti ini, refleksi ulang perlu, faham neoliberal dg kompetisi bebasnya memasukan pendidikan sebagai komoditas yg dipersaingkan bebas sehingga masuk dlm perjanjian WTO, dan bangsa kita menerimanya juga (bisa karna setuju atau karna tak berdaya), sehingga mau tak mau seluruh ukuran internasional (negara maju) cenderung diikuti tanpa pilah pilih, ini berarti melihat mutu pendidikan di kita dan di negara maju menggunakan kacamata yg sama, padahal di kita Tuhan masih selalu dusebut dan nilainya diwariskan di dalam kelas, tp itu gak dipandang sebagai keunggulan, pun oleh bangsa kita sendiri, karena kriteria global tak menghendakinya…pembawa panji neolib nampaknya malu bersaing bebas tanpa gunakan lapang dan kriteria yg sama, maka mereka propagandakan, paksakan kriteria standar yg sama, sehingga jika dlm bersaing kita kalah, maka itu salah kita tak ikut kriteria global, sehingga mereka sembunyi dari keserakahan materialistik yg sebenarnya merupakan transformasi dari penjajahan. PENJAJAHAN GAYA BARU.

| Meninggalkan komentar

Krisis Pendidikan (2)

Pendidikan dlm efeknya yg sosial merupakan bangun bersama individu2 yg menjalani pendidikannya, namun kumpulan induvidu tak dapat serta merta jadi bangun sosial efek pendidikan, oleh karena itu pencermatan keduanya (individu dan sosial) perlu keseimbangan dalam suatu pertemuan nilai yg sejalan dlm substansinya bukan sekedar permukaan (bukan dise-suai2-kan). Perwujudan diri individu yg selalu bermuatan nilai dlm menyempurnakan potensi konstruktifnya, akan membentuk perwujudan sosial masyarakatnya jika terdapat kohesivitas sistem yg merangkumnya, disini prilaku dan kebijakan sosial masyarakat harus menjadi bagian utama dalam membangun kebaikan masyarakat. Para pemikir pendidikan, filosof moral umumnya melihat potensi manusia secara normatif positif, sementara lawannya dipandang sebagai ketiadaan perwujudan potensi. Kondisi ini tentu membingungkan manakala terdapat kejahatan, ketidak baikan yg terjadi, apakah itu potensi manusia atau ketiadaan potensi yg terwujud. Hal ini tentu akan terus membingungkan manakala nilai2 diserahkan pada pengalaman empiris tanpa mempertimbangkan nilai adikodrati yg dlm bentangan sejarah manusia telah menunjukan peran reformatif dan atau peran revolutif tatanan sosial yg dipicu oleh gerakan bangun individu yg meng-aktualisasi-kan dirinya dlm konteks perbaikan mutu hidup masyarakat.

Perwujudan diri, atau aktualisasi diri dlm jalan pendidikan seseorang merupakan sesuatu yg berdasarkan keyakinan dan nilai yg ada dalam kedewasaan itu sendiri. Masalahnya makna apa yg berikan kepadanya sebagai sesuatu yg bernilai  ditentukan oleh perspektif atau sudut pandang orang tsb. Paling tidak terdapat beberapa perspektif tentang perwujudan diri (atau menjadi diri sendiri) yg membantu memahami kondisi sesuatu yg dipandang bernilai, yaitu: 1) pandangangan/pendekatan psikologistik-individualistik; 2) pandangan/pendekatan sosiologis; 3) pandangan/pendekaran kooperatif; dan 4) pandangan/pendekatan Teistik. Basis pandangan pemikiran tsb merupakan pendekaran dalam melihat perwujudan diri yg dlm pilar pendidikan UNESCO dusebut “Learning to be” yg dimaknai sebagai belajar menjadi diri sendiri, atau belajar tuk mengaktualusasikan diri dalam hidup dan kehidupan masyarakat. Ketika seorang mengatakan “aktualusasikan diri sendiri,  jadilah diri sendiri”,  jelas ini tak memberi makna nilai apapun, diri sendiri yg gimana? “Yang individu; Yang sosial; Yang kooperatif, atau Yang Teistik/ketuhanan”, bila sudah jelas pilihannya, apakah sesuai dan relevan dengan nilai budaya masyarakat, komunitas?. Ternyata tidak sesederhana seperti yg sering kita katakan dan kita dengar…menyederjanakannya bisa saja, tapi tak kan bisa buat itu sederhana, karena implikasi praktisnya dalam berbagai aspek kehidupan termasuk pendidikan akan berdampak pd masyarakat yg ingin dibangun ke depan.

Pendekatan psikologik individualistik, memandang bahwa perwujudan diri merupakan penyempurnaan diri pada sesuatu nilai yg diyakini ada dalam diri individu itu sendiri. Pendekatan ini sering dihubungkan dg psikolog humanistik seperti Maslow, Carl Rogers yg memandang “diri” sebagai unit psikologis dg karakteristik khas sebagai sifat2 hakiki manusia yg tertanam dalam dirinya yg terus membuka diri, berinteraksi dg lingkungan yg terus berubah dlm dialektika antara “ada-tiada-menjadi”, antara “mengada dan menjadi (being and becoming, dlm O’neil, 1981). Apabila pendekatan seperti ini maka nilai menjadi sangat subjektif, jika orang meyakini manusia itu homo ekonomikus sebagai nilai utama maka perwujudan dirinya tentu akan dilihat dari aspek ekonomi tersebut, jika diri yakin berhakekat binatang maka perwujudan dirinya adalah kebinatangannya, jika yakin kebebasan individu, maka perwujudan dirinya adalah individualistik egoistik. Disini tentu akan memuculkan masalah etika baik-buruk, apakah nilai  hidup dan kehidupan diserahkan atau dibiarkan pada pengalaman masing2 individu atau bagaimana?, jika manusia tsb berupaya merubah lungkungannya sesuai nilai pengaktualisasian dirinya, apakah tidak akan chaos/kacau, sehingga sulitlah masyarakat dapat stabil dalam melanjutkan kehidupannya. disinilah perspektif lainnya jadi penting tuk menimbang hal tersebut.

2). Pendekatan Sosiologis. Pendekatan ini melihat Diri lebih ke masyarakat (bukan individu), sehingga perwujudan diri adalah perwujudan “diri sosial”. Diri tidak lagi dipandang sebagai unit psikologis/individu yg terpisah dari kekuatan, kondisi sosial budaya dimana seseorang dilahirkan dan hidup di dalamnya. O’neil (1981) mengemukakan bahwa dlm pendekatan ini perwujudan Diri dibatasi/didefinisikan dan dirumuskan oleh hakekat serta derajat konsep tertentu tentang “Diri” yg disebarluaskan dlm masyarakat tertentu dalam titik2 tahapan sejarah. Individu tunduk pada suatu sistem sosial masyarakat yg kuat, diri menjadi diri sosial yg selaras dg sistim sosial yg berlaku di masyarakat. Jika masyarakat menganut sistim sosialis marxis yang atheis, maka tak mungkin ada individu memiliki komitmen moral, nilai yg bermakna dln perwujudan diri dlm arti psikologis individualis, karena tak sejalan dg sistem sosial masyarakat. Oleh karena itu perwujudan diri sosial tidak melihat nilai subjektif individu jadi penting dalam pengaktualisasian diri, namun tentu saja mengingkari karakteristik khas manusia akan mendegradasi keunikannya sebagai hayawanu nathiq/homo sapien.

3). Pendekatan kooperatif. Individu yg menentukan menujukkan pada kurang diperhatikannya lingkungan sosial budaya masyarakat, sementara diri sosial kurang memperhatikan individu dg kemampuan berfikir, merasa dan bertindak, oleh karena itu pendekatan ini boleh dipandang untuk mendialogkan kedua pemikiran yg bisa saja ada distorsi dalam tataran implemenrasinya. Ke-diri-an pd dasarnya adalah fenomena suprapersonal (duluar,diatas individu) yg ada pd kesadaran historis segenap budaya atau bangsa. Perwujudan diri merupakan akibat yg wajar dari partisipasi jati diri individu yg membentuk jati diri kooperatif, atau jatidiri kolektif. Dengan pola ini diri individu kerjasama saling berefek meski menurut pemikiran ini “DIRI SEJATI” adalah kolektiviras sosial yg mampu lebih besar dari jumlah, dan individu dipandang dlm keseluruhan sistem sosial, meski ada kontribusi dlm pembentukannya. Sementara itu pendekatan yang ke 4). Pendekatan Teistik, dg pandangan bahwa manusia adalah terutama dan pertama2 sebagai entitas/makhluk rohaniah, yg perwujudan dirinya dusubordinasikan pada ajaran wahyu, dan secara sukarela berada dlm kekuasaan Tuhan, serta puncaknya ada dalam persekutuannya dg diri  Tuhan yg maha agung.

Empat pendekatan dalam melihat diri individu (perwujudan diri/aktualisasi diri) merupakan kerangka berfikir dlm melihat apa bagaima dan untuk apa pendidikan bagi manusia, bagi masyarakat. Walaupun tidak secara eksplisit dijelaskan — misal : Negara ini perspektifnya begini — namun tentu saja dari praktek, arah dan tujuan pendidikannya dpt diketahui, meski tak selalu koheren dlm satu perspektif. Di negara berkembang seperti Indonesia, keterombang-ambingan kebijakan pendidikan cenderung seperti bandul yg bergerak kekiri kekanan dan sulit berada pada posisi ajeg seimbang, karena dominasi negara maju dg program dan dananya masuk ranpa melihat ketepatan dg ideologi negara Pancasila yg belakangan mulai lagi jadi isu nasional akan pentingnya dijadikan dasar dlm kehidupan bermasyarakat (terlepas dari jargon politik, masa orde baru hampir semua sistem dlm bidang kehidupan masyarakat selalu durujukan pd pancasila seperti: sistem politik pancasila, sistem ekonomi pancasila, sistem pendidikan Pancasila, dsb, pasca reformasi terjadi pelemahan mengaitkan sistem dg ideologi negara). Klw Dasar Negara Pancasila merupakan hasil penggalian dari nilai2 yg tumbuh berkembang pd bangsa Indonesia, tentu sangat tepat  jika semua mengacu ke sana termasuk Pendidikan, namun fakta menunjukan berat sekali, karena kekuatan ideologi liberalisme, neo liberal serta dalih globalisasi, berderless world, menjadikan posisi ideologis cenderung inferior berhadapan dg nya, apalagi upaya membentengi oleh pemerintah belakangan ini lebih sebagai isu politis kekuasan yg tak mengakar dalam cara berfikir dan jadi paradigma ilmu dlm mengkaji  kondisi yg ada serta mencari solusi ideologis yg berdasar Pancasila….(sedikit refleksi sutuasi, sebelum lanjut bahasan selanjutnya).

Perwujudan diri dan atau aktualisasi diri dlm konteks pendidikan pada dasarnya merupakan sebuah totalitas kedirian manusia sebagai makhluk hidup yg memiliki fungsi, peran dan tugas dlm kesinambungan hidup dan kehidupan manusia, masyarakat. Namun kedirian yg bagaimana yg layak menjadi arah dan tujuan pedidikan menjadi hal yg rumit mengingat banyak konteks yg berpengaruh pd penentuan pilihan serta banyak tingkat yg perlu ditegaskan untuk memperterang bangun manusia, masyarakat yg diharapkan dari suatu proses pendidikan.  Dalam kehidupan sosial yg dinamis dimana perubahan menjadi realitas faktual, bagaimana perwujudan diri yg tepat dan dapat dipandang sebagai hidup yg baik, ketika pandangan sosial budaya masyarakat bervariasi tentang nya. O’neil mengemukakan 6 sudut pandang ttg bagaimana caranya hidup yg baik: 1. Ketaatan pd ketentuan  yg terungkap pd keyakinan dan.prilaku. 2. Pencerahan filosofis dan atau keagamaan. 3. Taat pd konvensi ttg keyakinan dan prilaku. 4. Kecerdasan praktis dlm pemecahan masalah. 5. Pengembangan lembaga2 sosial yg baru. 6. Penghapusan pembatasan2 kelembagaan tuk kebebasan individual.

Perwujudan diri yg ingin dibangun dan dikembangkan dlm sistem pendidikan suatu masyarakat selalu menunjukan atau merefleksikan tujuan2 hidup dan kehidupan masyarakatnya, sehingga esensinya adalah membuat manusia hidup dg kebaikan tertinggi yg membahagiakan. Perspektif, pendekatan perwujudan diri bila disederhanakan dpt dibagi dua yaitu yg “Teistik” dan yang “sekular”, berdasar kemutlakan nilai yg menjadi kriterianya. Bg masyarakat yg menjadikan Agama  Wahyu Tuhan sebagai pedoman hidup, maka, ideal normatif nya, perwujudan diri adalah menjadikannya sebagai manusia yg yakin dan mengabdi pada Tuhan, ini tentu dilihat dlm konteks holistik yg mencakup berbagai kegiatan manusia dlm mengisi kehidupannya sebagai Makhluk Tuhan (Beriman dan bertakwa). Semenrara itu perwujudan diri dlm perspektif sekuler (non-Teistik) kebaikan merujuk pd hal material dan sosial meskipun ada yg mengacu pd nilai yg muncul dari budaya, pemikiran filsafat. Namun perkembangan sosial yg pesat dewasa ini telah mendorong perwujudan diri pada nilai praktis serta nilai2 sosial kontemporer, seperti demokrasi, HAM (sebagai tolok ukur yg dipandang mapan, serta lembaga2 yg dipandang humanis serta hilangnya pembatasan2 kelembagaan). Sementara itu kebaikan hidup yg meletakannya pd kecerdasan praktis lebih menggambarkan pergulatan sosial ekonomi dimana ketercapaian situasi ekonomi yg layak menjadi fokus dari perwujudan diri. Disini pragmatisme sangat kuat efeknya dlm melihat pendidikan sebagai perwujudan diri yg bersifat materialistik. Semua itu tentu tak bisa serta merta jadi ukuran penghakiman seseorang dlm perwujudan dirinya, karena tetap harus dilihat gradasi nilainnya apakah nilai akhir (terminal value) atau nilai antara (instrumental value).

Perwujudan diri manusia sebagai kebaikan hidup haruslah sesuatu pencapaian  kondisi yg melekat di dalamnya nilai utama/puncak, bersifat intrinsik tanpa perlu nilai lainnya yg lebih tinggi, karena klw masih memerlukan lagi maka itu nilai intrumental, nilai ekstrinsik, yg dituju tapi untuk mendapat yg lainnya. Disini perspektif diri yg Teistik dan sekuler berbeda dlm memberi bobot nilai pd perwujudan diri. Misalnya dlm faham sekuler kebahagiaan, kesenangan (titik berat ke materi fisikal) bisa menjadi nilai yg dituju dlm perwujudan diri dg kondisi kepuasan terpenuhi tanpa kekurangan. Nah apakah ini bisa jadi tujuan kebaikan akhir atau hanya tujuan antara untuk mendapat kondisi lebih tinggi dg nilai lain yg juga lebih tinggi. Klw siswa Sma apa perwujudan dirinya? Misal melanjutkan studi, klw smk misal dapat bekerja, lalu mana yg lebih tinggi dan mana yg lebih merupakan nilai tujuan akhir  dalam dirinya (intrinsik) sebagai kebaikan hidup. Simaklah kisah berikut ….. Seorang pengusaha berjalan di pantai dan menemukan seorang nelayan yg sedang tidur,  kemudian pengusaha itu mendekatinya dan nelayan tersebut terbangun,  lalu terjadilah dialog : pengusaha bertanya kenapa saat seperti ini tidur? Nelayan menjawab: emang harus lakukan apa? Pengusaha: ya pergilah ke laut, cari ikan yg banyak. Nelayan:  kalau dah banyak ikan bagaimana. Pengusaha:  ya nanti dijual, dapat uang banyak dan dapat memenuhi apa yg kau inginkan. Nelayan: kalau sudah banyak uang dan memenuhi apa yg saya inginkan bagaimana. Pengusaha: maka hidupmu akan senang. Nelayan: maaf pa, sy sekarang gak banyak duit juga  hidup sudah senang.

Dari dialog tsb dapat diketahui beberapa hal terkait dg nilai tujuan. Pertama tujuan yg ingin dicapai oleh keduanya (pengusaha dan nelayan) adalah kesenangan (dlm perspektif material) namun pengusaha melihatnya sebagai suatu hasil yg menyenangkan, sedang nelayan melihat dari pengalaman hidup yg menyenangkan. Bagi pengusaha nilai kesenangan merupakan nilai dari hasil suatu kegiatan, cari ikan, jual ikan, penuhi kebutuhan yg semua itu merupakan nilai antara atau nilai instrumental untuk mencapai nilai utama/akhir/nilai dasar (terminal value, basic value). Jadi bagi pengusaha pencapaian nilai utama memerlukan tahapan nilai antara yg perlu dilalui, sehingga nilai akhir merupakan efek atau penciptaan nila-nilai instrumental dan bagi pengusaha nilai kesenangan merupakan nilai kreatif (creative values. Semenrara bagi si nelayan nilai kesenangan lebih kepada sikap pd pengalaman hidupnya, dan ini yg dusebut experiential value, nilai mengalami, atau kalau nelayan tersebut senang dg menyikapi kondisi hidupnya bisa juga masuk dalam attitudinal value, nilai bersikap (kategori nilai dari victor frankle dlm logotheraphy)…pengusaha untuk sampai pd nilai kesenangan berbelit dan berliku, sementara si nelayan langsung menuju sasaran…nah bagi dunia pendudikan yg mana cara yg tepat untuk dicapai…perlu difikirkan dan didialogkan dg mempertimbangkan banyak dimensi dan aspek sosial budaya masyarakat.

Manusia hidup tentu bukan sekedar hidup, tp selalu sadar dan membangun kesadaran untuk hidup bernilai, bermakna bagi hidup dan kehidupan manusia. Oleh karena pendidikan merupakan bagian utama dari kehidupan manusia, maka apa yg menjadi kebaikan hidup dg hidup yg baik tentunya mesti sejalan dg hidup yg baik secara esensial sebagai ciri dasar manusia. Disini kita perlu berbicara ttg axiologi pendidikan, dimana timbangan etika (baik-buruk) juga estetika (indah-jelek) jadi timbangan nilai yg perlu dituju oleh suatu proses atau kejadian pendidikan yg dialami manusia dalam hirizon waktu hidup dan kehidupannya. Aksiologi itu sendiri bermakna pemahaman atau filsafat ttg nilai, apa yg bernilai bagi manusia dlm jalani hidupnya, dan karena pendidikan itu adalah baik hidup itu sendiri (pragmatisme), atau persiapan tuk hidup (idealisme, esensialisme),  semua itu tetap konsern utamanya adalah kehidupan manusia dlm konteks masyarakat. 

| Meninggalkan komentar

Krisis Pendidikan (1)

Dalam proses lmplementasi dan individuasi suatu sistem pemikiran pendidikan, selalu terjadi dialog sosial antara yg ideal seharusnya, dg kondisi yg ada dari peserta didik (dlm suatu masyarakat). Sejarah selalu menunjukan terjadinya gap yg jauh, namun selalu juga ada upaya jalan tengah yakni sesuatu “yang mungkin”, yg menjembatani antara yg ideal dg yg faktual, sehingga yg norma ideal mendapat penghampiran empiris dan yg faktual mendapat penghampiran ideal, yg bisa sebagai sintesa. Pada masa Mesir kuno pendidikan dimaksudkan tuk membangun manusia  susila makhluk yang berbakti pada dewa-dewa, sehingga penyelenggaranya adalah para agamawan (pendeta). Dalam masyarakat India purba dengan agama Hindunya juga telah melaksanakan pendidikan dimana tujuan pendidikannya adalah menanamkan pd manusia kesabaran, penyerahan diri, dan kepatuhan; dalam masyarakat china klasik, pendidikannya diselenggarakan oleh negara dengan tujuan mendidik manusia menjadi kepala keluarga yang baik dan setia, ilmuwan dan pegawai pemerintah yang jujur, rajin serta rela berbakti (I Djumhur); Bangsa Sparta Kuno, menjadikan pendidikannya untuk membentuk manusia yang penuh keberanian, mampu menghadapi berbagai tantangan, hormat dan patuh terhadap pimpinan, berjiwa patriot dan loyal terhadap negara; bangsa Athena punya tujuan pendidikan membentuk manusia paripurna yang mempunyai kemampuan fisik, keutuhan moral, kemampuan intelektual dan kepekaan terhadap aspek sosial.

Pada awal kebudayaan Romawi pendidikan dilakukan tuk menjadikan peserta didik jadi manusia yang tangguh mental (constantia), berbudi luhur, patuh terhadap tuhan, mampu menguasai diri (modestas), bermartabat (gravitas), bijaksana, dan adil (Soenarya). Kehadiran agama islam juga telah mempengaruhi pada bidang pendidikan, dimana tujuan utamanya adalah mendidik agar manusia menjadi insan kamil yang dapat berperan sebagai khalifah dimuka bumi, semua itu didasarkan pada nilai-nilai yang dibawakan oleh kitab suci al quran serta tarih nabi yang memberikan contoh bagaimana hidup dan mengisi kehidupan sesuai dengan kehendak kitab suci. Dlm konteks Indonesia, pada masa awal kemerdekaan menjadikan peserta didik punya nasionalisme tinggi serta bersikap revolusioner dalam mengisi kemerdekaan menjadi bagian penting yg diharapkan dari hasil pendidikan. Pada masa orde baru, pendidikan dilaksanakan tuk membangun manusia pancasila, manusia seutuhnya yg seimbang antara mental spirutual dan material fisikal, kadang juga dusebut insan kamil. Sejak reformasi perubahan terjadi, meskipun dasar negara tetap tp ekspresi kebijakan pendidikan cenderung tak lagi memiliki, menggunakan filosofi dan nilai dominan pancasila.  Globalisasi serta jebolnya pertahanan budaya nasional atas agresi budaya global/asing menjadikan pancasila berada pd pinggiran nilai pendidikan. Trend negara maju serta merta diimitasi, sehingga fondasi pancasila dan nilai2 nya tak mampu mengakar kuat pd output pendidikan dan peserta didik.

Dalam perkembangan sisdiknas sekarang ini, pendidikan sekolah cenderung lebih berorientasi pragmatis, atau mungkin lebih tepat semi pragmatis/progresivis/ rekonstruksionis,  Perubahan, norma, nilai universal demokrasi menjadi rujukan dlm pendidikan, pembelajaran tanpa mengkritisi atau mempertanyakan keterkaitan dg nilai berbangsa dan bernegara, tanpa melihat dalam radar Pancasila. Disamping itu  nilai tunai dari sesuatu  kondisi, proses pendidikan, cukup mendominasi dengan kuantifikasi yang menonjol serta ekonomisasi yang juga dominan dalam melihat hasil dari suatu proses pendidikan yang diperankan oleh sekolah, kekaburan atau keremangan pendidikan dan pengajaran, antara pendidikan dan latihan cenderung menjadi bagian yang umum dalam pemahaman masyarakat,  dengan akibat pada makin kurangnya perhatian pada penguatan norma dan nilai prilaku sosial kemasyarakatan berbasis nilai ideologi bangsa yang pada tahap awal perkembangan pendidikan sekolah menjadi orientasi utamanya sebagai bagian penting yang diharapkan masyarakat.

Ketika nilai2 masyarakat, pandangan hidup bangsa serta pemikiran filosofis pendidikan hendak diterapkan dalam suatu proses pendidikan atau kejadian pendidikan dlm kehidupan sosial, maka aspek individu yg bagaimana yg dapat merefleksikan semua nilai2 tersebut. Masalahnya adalah apakah kebaikan individu yg dihasilkan pendidikan harus selalu sama dg kebaikan masyarakatnya ataukah kebaikan individu itu hanya sebagai tiang penguat yg tak harus sama, ini cukup rumit karena ketika bicara individuasi pendidikan variasi akan pasti ada, jika demikian apakah masyarakat bisa punya alasan logis dan etis sekaligus filosofis, jika harus diseragamkan. Nah disini  diskusi etis tentang hakekat diri manusia (peserta didik) menjadi perdebatan secara normatif. Apakah hakekat diri (individu) itu ?, apakah itu sesuatu yg alamiah kodrati, atau sesuatu yg bersifat adikodrati, apakah diri itu terisolasi dan terpenuhi dlm dirinya sendiri atau sebagai satu aspek diri sosial, ataukah diri itu sendiri hakekatnya bersifat sosial (mohon maaf jika agak sedikit membingungkan, kedepan insya Allah akan makin remang terang)..

Dlm perkembangan modern, dg orientasi pemahaman dan pemikiran hidup yg berpusat pd manusia (antrophocentris), pencapaian kebahagiaan hidup manusia berada pd diri manusia itu sendiri secara alamiah/kodrati, dimana aktualisasi diri menjadi tujuan hidup sekaligus juga menjadi hal yg diupayakan oleh pendidikan, suatu kondisi alamiah yg tak memerlukan pemahaman dan kriteria nilai dari luar (seperti sifat adikodrati), dimana nilai meresap dan terserap melalui doktrin motologi ataupun Agama yg di indoktrinasikan melalui proses pendidikan, belajar, kejadian pendidikan dalam masyarakat. Dunia sekitar tak lagi sebagai dunia yg dihayati, namun dunia yg difikirkan, dan itu berarti membuat jarak pemikiran dan penghayatan jadi terpelihara, sehingga ketika perwujudan diri dapat membuat hidup yg membahagiakan bg peserta didik, namun ketika difikirkan, sering itu Kontraproduktif dg apa yg diharapkan masyarakat akan hasil pendidikan, dimana tuntutan ekonomi dan sosial menjadikan nilai perwujudan diri tak bermakna dalam timbangan kebutuhan msyarakat, yg mana sifat kompetitif cenderung jadi poin penting dg ukuran suksesnya dapat dg mudah bekerja, menghasilkan sesuatu yg tak menyulitkan, merepotkan masyarakat.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar tentang perwujudan diri/realisasi diri, atau hakekat diri. “Apakah itu merupakan kebaikan yg langsung serta merta yg bisa jadi cara berbeda?” untuk melihat kebahagiaan personal, dlm bahasa yg lebih lugas empiris “apakah lulusan suatu lembaga pendidikan yg dpt memanjat tingkat berikutnya (melanjutkan pendidikan atau bekerja) merupakan orang2 yg beraktualisasi diri serta berbahagia dengannya?, atau itu hanya tahapan antara untuk perwujudan diri yg sebenarnya, apakah nilai yg harus dijadikan timbangan terhadapnya melekat dlm diri tsb ataukah mesti gunakan nilai adikodrati (dari ajaran agama, nilai budaya) untuk melihat sesuatu itu membuat diri yg bahagia?.

Bila perwujudan diri merupakan penyempurnaan diri yg langsung, maka dengan mempertimbangkan variasi manusia, akan ada jutaan diri yg khas dan akan terus menerus saling meneguhkan dlm variasi yg kompleks sehingga integrasi  dan komunikasi sosial akan terus diapdate manakala ketemu dg orang lain karena pengenalannya akan sangat spesifik individu. Klw dia seorang guy maka biarkan dia jadi dirinya sendiri seperti itu, dan ini tentu akan selalu jadi masalah penyesuaian yg tak berujung. Namun bila perwujudan diri merupakan cara dlm mencapai keberadaan diri yg lain yg menjadi kebahagiaan hidupnya, maka nilai adikodrati tentu harus berperan. Dalm proses perwujudan dirinya, inilah sebenarnya makna pendidikan dlm konteks kehidupan sosial masyarakat.

Pendidikan sebagai belajar terkontrol tentu mengharapkan perwujudan diri dalam batas kapasitas manusia dlm menjalani hidupnya kedepan. Disini peruban perilaku menjadi konsern utama pendidikan. Perwujudan diri, apakah dilihat sebagai tujuan akhir (kondisi membahagiakan dlam dirinya) araupun tujuan antara (sarana tuk mecapai kebahagian diri), perlu mempertimbangkan prulakunya dlm melihat kontribusi proses pendidikan. Perubahan prilaku macam apa yg dikehendaki pendidikan. Disini kita perlu melihat jenis prilaku yg terjadi pada peserta didik (manusia). Terdapat 3 jenis prilaku dilihat secara evolutif kematangan: 1) Prilaku Konatif, yaitu prilaku yg secara tersirat memiliki tujuan, namun tidak secara sadar bertujuan seperti itu (mis. Prilaku bayi yg baru lahir secara tersirat memiliki tujuan tuk memuaskan kebutuhan, namun blm bisa menalarnya, lapar -> nangis -> nenen). 2) Prilaku Volisional, adalah prilaku konatif yg disadari tujuannya (seseorang benar2 sadar tujuan akan prilakunya).  3) Prilaku Normatif, yaitu prilaku yg diarahkan baik tersirat maupun tersurat oleh gagasan2 atau nilai2 tertentu tentang sesuatu yg dianggap baik atau dikehendaki.

Kondisi demikian tentu layak jadi ke-RISAU-an kita dg terus berupaya melakukan transformasi pendidikan dg menimbang matang, karena pendidikan yg ada cenderung menyuburkan prilaku2 konatif dan volisional, tanpa mencoba lebih keras tuk mampu menjadi prilaku normatif, karena disinilah sebenarnya esensi manusia yg mampu jadi dewasa, matang dalam hidupnya melalui ketundukan pada nilai2 yg diyakininya, baik yg bersumber dari ajaran Agama dan atau filsafat, budaya, yg terbentang dlm hamparan sejarah panjang umat manusia. Sejarah pendidikan manusia memang setua sejarah manusia itu sendiri, selalu terjadi dialog, perang, damai yg menunjukan kekuatan spiritual yg tetap, dengan yang material yg selalu berubah, dan selalu juga ada solusi alamiah yg secara sosial saling penetrasi secara lambat sampai kemudian terjadi lg konflik, perang dan damai menjadi sarana  dlm resolusi konflik. Pendidikan terus terimbas dlm aplikasinya yg kemudian jadi keyakinan dan pemikiran yg selalu diperkuat sekaligus juga ditentang manakala pemikir besar lahir. Nah sekarang budaya besar yg menekan semua bangsa tuk mengikutinya, sehingga pertahanan nilai budaya/agama suatu bangsa harus reposisi dan restrategi tuk tak ngikuti tanpa syarat, namun berbeda tidak hanya dg yang lain namun juga dg masa lalu, artinya inovasi.

Dinamika interaksi manusia, lingkungan, sejarah, budaya serta wahyu melahirkan berbagai pandangan tetang manusia dalam konteks kehidupan serta apa yang perlu dilakukan oleh pendidikan bagi berlangsungnya kehidupan masyarakat. Manusia seperti apakah yg perlu dibangun, dibentuk oleh pendidikan?.  Secara individual, manusia memiliki kekhasan masing2, tak kan ada yg sama, kondisi ini menjadikan setiap manusia harus mengoptimalkan dirinya dlm kapasitas alamiah yg telah dimilikinya secara kodrati, disini menjadi diri sendiri yg khas tiap orang sebagai bentuk perwujudan diri. Ini tentu perlu melihat esensi manusia dalam eksistensi kehidupannya. Secara ontologis, terdapat dua pandangan utama dalam hal ini yaitu:  1) pandangan monisme, dan 2) pandangan dualisme. Monisme memandang manusia sebagai substansi tunggal, disini ada yg memandang wujud fisiknya (material) dan ada yg memandang wujud jiwanya (mental) sedangkan pandangan dualistik memandang bahwa manusia gabungan dua wujud yakni fisik dan jiwa (material dan mental). Bagi Monisme materialistik perwujudan diri adalah diri material, dimana kebaikan hidup diukur kesenangan jasadi, sehingga jika telah sampai ke sana berarti seseorang telah mekaktualisasikan dirinya. Bagi monisme spiritualistik/jiwa, perwujudan diri adalah menjadi mahluk ruhani, jiwa, dimana keluhuran budi dan jiwa sesuai ajaran2 Tuhan/ruhaniah menggambarkan tercapainya aktualisasi diri. Sementara pandangan dualistik memandang bahwa kebaikan ada dalam keseimbangan keduanya. Ini berarti ketika pendidikan tuk menjadikan seseorang jadi dirinya sendiri, diri yang mana yg dimaksudkan secara ontologis.

Pandangan2 dlm filsafat modern cenderung tak terlampau hirau dg masalah hakekat yg ada (ontologi), sebagai hal yg tak empiris dan tak bisa mutlak jadi dasar dalam pemikiran pendidikan. Disamping itu para penganut monistik juga sering mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada perubahan yg terjadi tanpa menilik aspek lainnya yg tak jadi perhatiannya. Yg berpandangan dualistik juga sering tetap berdebat ttg mana yg paling  menentukan kehidupan manusia, apakah esensi dan atau eksistensi manusia. Pemikir yg menolak metafisika (ontologi) berpandangan bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya, manusia lahir kosong dan wujudnya /eksistensinya dg pengalaman lah yg membangun esensinya sebagai manusia, tak perlu atau tak terkait dg nilai adikodrati yg dibawa dg kelahirannya ke dunia, jadi mau jadi apapun adalah lingkungan pengalaman yg membentuknya. Pemikiran seperti ini melihat nilai sebagai hal yang relatif, gak ada nilai yang perlu diwariskan karena semua dibentuk berdasarkan pengalaman eksistensial yg dijalaninya, hidup adalah keterlemparan dlm horizon waktu dan manusia memaknainya. Pendidikan dewasa ini kuat sekali dipengaruhi oleh pemikiran demikian, nilai global lah yg jadi acuan dengan sistem demokrasi, 6 literasi, 4 kompetensi, dan 6 karakter yg durumuskan dg jargon ketrampilan abad 21 yg juga jadi acuan pendidikan nasional dewasa ini. Tak satupun terkait langsung dg nilai agama araupun pancasila (kecuali kita mengkaitkannya), nah dg kondisi ini apakah tidak cukup alasan bagi bangsa untuk RISAU dg pembangunan pendidikan kita, tentu bukan tuk dihentikan tapi lebih pada bagaimana men-transformasikannya agar bermanfaat lebih signifikan bagi bangsa dan manusia Indonesia, bukan sekedar membanyakan obat gosok, namun berani mengoperasinya dan mengamputasinya: “SISDIKNAS”….

| Meninggalkan komentar

Ibnu Khaldun tentang Pendidikan

BNU KHALDUN,  Hidup sekitar 200 tahun pasca Al Ghazali dan sekitar 100 tahun sesudah Az Zarnuji. Nama lengkapnya: Abu Zayd ‘Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami, lahir di Tunisia pada 27 Mei 1332 – meninggal 19 Maret 1406 dalam  usia 73 tahun. Dia adalah seorang sejarawan dan sosiolog muslim, yg sudah hafal Quran ketika usia 12 tahun, Dia hidup dalam kondisi politik yg labil pasca kejatuhan dinasti abasiyah sehingga sering berpindah pindah tempat untuk memperoleh kerentraman yg diperlukan dlm menuangkan fikiran fikirannya. Karyanya yang terkenal sampai sekarang adalah Kitab Muqaddimah (Pendahuluan) yg mengantarkan buku utamanya “Al Ibar wa Diwan al Mubtada wa al Khobar, fi Ayyam al Arabi wa al Ajami wa al Barbar, wa Man Asrahum min Dzawi Al Sulrhon al Akbar”. Dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun membagi dalam enam bab dimana bab terakhirnya membahas tentang Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan. Dengan Tulisannya yg mendalam dan luas dlm Muqaddimah serta Tulisan2 lainnya, Ibnu Khaldun pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya.  Ketika usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana. Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan/observasi terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas. Kehidupan Ibn Khaldun didokumentasikan dengan baik, saat dia menulis sebuah otobiografi, di mana banyak dokumen mengenai kehidupnnya menjadi rujukan.

Dari perjalanan hidupnya, kita bisa tahu betapa luas dan dalamnya pengamatan yg dilakukan olehnya, dilihat segi geografis sosial budaya, variasi budaya dialami dlm perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, disamping memahami secara mendalam berbagai masalah sosial melalui keterlibatan dlm kebijakan pemerintahan berbagai kekuasaan politik, dg berbagai konflik dan intrik yg dialaminya, yg semuanya bermuara pd perebutan pengaruh dan kekuasaan. Dari sini Ibnu Khaldun berpendapat bahwa kehidupan sosial masyarakat selalu memiliki sejarahnya yg khas yg membentuk budaya masing2, untuk itu sejarah tak hanya sekedar berbicara ttg  tahun, kejadian tanpa melihat kausalitasnya, karena nanti sejarah hanya jadi masa lalu yg antik tanpa dapat memberi nilai dan pemahaman pd apa yg terjadi serta apa yg akan terjadi, sehingga sejarah menjadi suatu fakta yg hidup dan menjelaskan kehidupan, oleh karena itulah dia disebut sejarawan dan sosiolog yg berpengaruh dlm melihat perkembangan masyarakat dalam perspektif waktu (Sejarah adalah sosiologi mas lalu, dan sosiologi adalah sejarah masa depan). Dlm konteks inilah Pendidikan dipandang sebagai fenomena sosial yang telah terbentang dalam sejarah panjang kehidupan manusia yang selalu melekat dalam setiap kebudayaan masyarakat manusia, dia merupakan instrumen pennyaluran nilai, budaya dan keyakinan2 dari generasi ke generasi. Ibnu Khaldun berpandangan bahwa pendidikan (belajar pembelajaran) merupakan suatu ciri dari sifat2 peradaban, dimanapun ada peradaban, maka pendidikan dan ilmu pengerahuan tumbuh dan berkembang.

Ibnu Khaldun lebih melihat pendidikan dlm praktek yg inheren dg masyarakat dan perkembangan peradaban (makro pendidikan), oleh karena itu cukup dpt difahami Dia tidak memberikan definisi pendidikan secara jelas dalam konteks keilmuan, ia hanya memberikan gambaran-gambaran secara umum pendidikan yg ada dalam dinamika peradaban masyarakat, namun tetap menyadari arti penting pendidikan serta posisinya dlm konteks masyarakat dengan pendapatnya bahwa Barangsiapa tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan terdidik oleh zaman. Ini menunjukan bahwa secara empiris, sebagai makhluk sosial, pendidikan tak bisa dihindari, hanya yg mana yg berperan utamanya, meskipun hal itu tak bersifat mengganti, hanya sekedar komplementer saja satu sama lain. Jika orang tua tak mendidik, jaman akan mengejarnya, dan ini tentu perlu jadi penguatan kesadaran dan tanggung jawab bahwa pendidikan tak bisa diabaikan dan dibiarkan begitu saja. Dlm konteks sekarang “jika orang tua, guru tak mendidik anak2 dg baik, maka jaman akan menggerusnya dg pendidikan yg keras dan kasar serta cenderung tak beretika”. Dari pendapatnya sebagaimana dikemukakan terdahulu, mengindikasikan bahwa pendidikan  mempunyai pengertian yang  luas. pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar dlm lingkup terbatas, tetapi pendidikan adalah suatu proses dimana manusia secara sadar menangkap, menyerap dan menghayati peristiwa-peristiwa  yg dialami dlm hidup manusia baik terkait dg kejadian natural maupun sosial budaya masyarakat.  

Pendidikan bisa merupakan suatu kejadian maupun tindakan. Segala sesuatu yang terjadi tanpa direncanakan namun memberi efek perubahan dapat dipandang sebagai pendidikan (lebih tepatnya belajar), sedang bila suatu budaya dan peradaban memiliki suatu keinginan, arah dan atau tujuan yang ingin diwujudkan bagi kesinambungan masyarakatnya, maka mereka akan membangun suatu siatem atau cara bagaimana anak2 sebagai penerus harus dibangun, dan ini tentu mendorong pada pengembangan siatem pendidikannya, karena hanya dengan cara ini kesiapan generasi pelanjut suatu budaya, peradaban dan kekuasaan dapat dirancang dlm kesinambungan. Oleh karena itulah Ibnu Khaldun berpandangan bahwa, sebagaimana dikemukakan terdahulu, dimana ada suatu peradaban, disitulah ilmu dan pendidikan berkembang. Dlm melihat pendidikan sebagai bagian dari suatu peradaban, maka ilmu menjadi hal utama yg harus jadi isi pendidikan, pembelajaran. Dari sini (ilmu yg berkembang, dikembangkan, dan diajarkan) dapat dilihat arah dari suatu peradaban berkembang kedepan karena ilmulah yg menjadi fondasi, isi serta enerji dari suatu kelangsungan peradaban yg berkembang dan terus bertahan. Untuk itu Ibnu Khaldun mengklasifikasikan secara umum ilmu ke dalamndua kelompok besar yaitu: 1) Ilmu Naqliyay, adalah ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits yang dalam hal ini peran akal hanyalah menghubungkan cabang permasalahan dengan cabang utama, karena informasi ilmu ini berdasarkan kepada otoritas Syariat yang diambil dari al-Qur’an dan Hadits. Adapun yang termasuk ke dalam ilmu-ilmu naqliyah itu antara lain: ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu hadits, ilmu ushul fikih, ilmu fikih, ilmu kalam, ilmu bahasa arab, ilmu tasawwuf, dan ilmu ta’bir mimpi (Ibnu Khaldun, Mukaddimah, Terj Mastur Irham dkk, Jakarta: Pustaka al-Kautsar,2011). 2) Ilmu Aqliyah (Ilmu-ilmu Filsafat atau ilmu Rasional). Ilmu ini bersifat alami bagi manusia, yang diperolehnya melalui kemampuannya akal, rasio berfikir.  Menurut Ibnu Khaldun ilmu-ilmu filsafat (aqliyah) ini dibagi menjadi empat macam ilmu yaitu: Ilmu Logika, Ilmu Fisika, Ilmu Metafisika dan Ilmu Matematika.

Pembagian ilmu seperti dikemukakan terdahulu, kemudian untuk kepentingan pendidikan, pembelajaran bagi anak didik, murid, siswa, santri, diberi rincian perluasan ke dalam empat kelompok yang masing-masing bagian diletakkan berdasarkan kegunaan dan prioritas mempelajarinya, yaitu: 1) Ilmu agama (syariat) yang terdiri dari tafsir, hadits, fikih, dan ilmu kalam. 2) Ilmu ‘aqliyah yang terdiri dari ilmu kalam, Fisika, metafisika (khususnya ilmu ketuhanan). 3) Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu agama (syariat), ilmu bahasa Arab (Nahwu, Shirof, Balaghoh), ilmu hitung dan ilmu-ilmu lain yang membantu pelajaran agama (khusnya hal Warist, muamalah, dan jual Beli). 4) Logika, Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu filsafat, berfikir benar. Kedua kelompok ilmu yang pertama (no 1 dan no 2) itu adalah merupakan ilmu pengetahuan yang dipelajari karena faidah, kegunaan dari ilmunya itu sendiri. Sedangkan kelompok kedua (no 3 dan no 4)  merupakan ilmu sebagai alat untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang lainnya (no 1 dan no 2). Pembagian ini juga menunjukan bahwa diperlukan keseimbangan dalam pendidikan, antara aspek spiritual melalui ilmu agama dan intelektual melalui ilmu2 berfikir, filsafat. Untuk itu unstrumen untuk memahami dan mempelajarinya tentu menjadi keharusan, ilmu bahasa (Arab) menjadi penting tuk mendalami ilmu2 agama, memahami kitab suci Al Quran sebagai landasan utama ajaran agama (Islam), sementara berfilsafat, disamping memahami bahasanya juga dipetlukan memahami cara berfikir benar dan Logika menjadi ilmu alat untuk itu.

Ilmu memang jadi perhatian utama (seperti dlm pemikiran Al Ghazali, Az Zarnuji) dalam pemikiran pendidikan islam, karena ini substansi yg akan membentuk pengetahuan, sikap, nilai, keyakinan dan skill  seseorang (manusia peserta didik, siswa, murid, santri), sehingga kebaikan ilmu dan manfaatnya selalu ditimbang dari aspek keagamaan. Namun demikian hal itu tak berarti komponen lain tak diperhatikan, adab etika bagi murid, dan guru akan menentukan perjalanan menuntut ilmu, belajar pembelajaran, terkait dg pendidik, guru Ibnu Khaldun berpandangan bahwa Pendidik haruslah orang yang berpengetahuan luas, dan mempunyai kepribadian yang baik dan bisa menjadi contoh atau suri tauladan bagi peserta didiknya. Ibnu Khaldun menganjurkan  para guru untuk bersikap dan berperilaku penuh kasih sayang kepada peserta didiknya, mengajar mereka dengan sikap lembut dan saling pengertian, tidak berperilaku keras dan kasar, sebab sikap demikian dapat membahayakan peserta didik, dan dapat merusak mental mereka, peserta didik bisa menjadi berlaku pembohong, pemalas dan bicara kotor/tak sopan, serta berpura-pura bersikap baik, karena didorong rasa takut dimarahi guru atau takut dipukuli. Contoh, keteladanan guru yang merupakan hal utama, penting  dalam pendidikan, sebab para peserta didik menurut Ibnu Khaldun lebih mudah dipengaruhi dengan cara peniruan dan peneladanan serta nilai-nilai luhur yang mereka saksikan, dari pada yang dapat dipengaruhi oleh nasehat, dan atau perintah-perintah, karena peserta didik cenderung mengimitasi/memodelkan prilaku yg dicontohkan (dlm konteks teori belajar kontemporer masuk dlm belajar sosial yg efektif/social learning theory).

Pendidik, guru, ustadz disamping harus menguasai ilmu secara luas, memperlakukan peserta didik penuh kasih sayang serta memberi contoh teladan, juga harus mendalami karakteristik peserta didik untuk dapat memperlakukanya dg tepat sesuai kondisi masing2 peserta didik. Dia menganjurkan agar guru-guru mempelajari sungguh-sungguh perkembangan akal pikiran murid-muridnya, karena anak pada awal hidupnya belum memiliki kematangan pertumbuhan,“Kita telah menyaksikan kebanyakan guru pada masa itu tidak mengetahui metoda pengajaran dan cara penggunaannya, sehingga mereka hadir di depan murid-muridnya dengan mengajarkan permasalahan yang sulit dipahami, dan mereka menyuruh agar memecahkannya (menganalisanya) dan mereka menduga bahwa cara demikian akan memperkembang pengajaran dan mengandung kebenaran, padahal kemampuan menerima pengetahuan di kalangan murid dan kematangannya, berkembang secara bertahap. Itulah sebabnya murid mula-mula lemah pemahamannya terhadap keseluruhan ilmu, kecuali dengan jalan mendekati dan memperbaiki dengan menggunakan contoh-contoh yang dapat diamati dengan pancaindera”. Pendidikan, pengajaran harus sesuai dg tingkat kematangan peserta didik agar kapasitas sesuai dg kuantitas dan kualitas materi ajar yg disampaikan, sehingga pembelajaran dapat efektif serta membawa pd pendidikan yg optimal, mampu memperkuat kematangan peserta didik untuk berkembang lebih jauh, serta tak terjadi overlearning yg bisa berakibat regresi kapasitas belajar peserta didik yg akan mengganggu perkembangan tingkat kematangan.

Pemahaman terhadap anak, peserta didik, murid, santri menjadi faktor yg menentukan bagi efektivitas pendidikan, pembelajaran, karena sesulit dan semudah apapun suatu materi ajar akan terdistorsi jika dilakukan dg cara, metode yg tak sesuai dg kematangan siswa (dlm konteks teori belajar ini selaras dg ZPD dari Vigotsky serta proses Scaffolding). Ini mengindikasikan bahwa Ibnu Khaldun berpendapat, efektivitas metode pendidikan, pembelajaran bergantung pada sejauh mana kematangan persiapan guru dalam mempelajari hidup kejiwaan anak-anak didiknya. Sehingga diketahui sejauh mana kematangan kesiapan mereka dan bakat-bakat ilmiahnya. Oleh karna itu seorang guru hendaknya memiliki kemampuan memilih dan menerapkan metode pembelajaran yang baik dan benar, dan efektif dg dasar penguasaan ilmu yang luas dan mendalam untuk disampaikan, serta mampu memperhatikan, memahami serta menerapkan metode sesuai kondisi psikologis anak didik, dan itu hanya dapat terjadi,  bila pendidikan dan  pembelajaran, dilakukan dengan penuh kasih sayang serta perhatian penuh pd peserta didik.

Metode (yg sekarang dikembangkan pd konsep yg melingkupinya seperti Model, Strategi) sebenarnya merupakan suatu situasi dan tak melekat pada individu, artinya memerlukan suatu interaksi sosial edukatif, dan ini ketika diterapkan perlu kapasitas pendidik serta kesiapan peserta didik. Ibnu Khaldun mengatakan terkait sistem dan interaksi sosial: “perlu ada yg berjongkok untuk memberi jalan kemajuan”. Ini mengindikasikan bahwa dlm pendidikan, pembelajaran  “apa memerankan apa, bagaimana, pada siapa dan dlm situasi apa perlu jadi pertimbangan, apa guru yg berdiri atau jongkong, situasi interaksilah yg menentukan pilihan. Hal ini juga menuntut skill dan gesture yg tepat, utulah kenapa tak ada metode yg sapu jagat karena dlm tataran praktis kesiapan dan kapasitas yg berinteraksi serta suasana interaksi akan jadi penentu keefektivan pendidikan, pembelajaran. Meski demikian Perlu difahami metode2 pendidikan, pembelajaran sebagai pendasaran kapasitas ketika pengajaran sudah masuk dlm aspek seni (education, learning is not only a science but also an art), dimana skill gesture jadi yg penting di dalamnya dan ini yg diperlukan berlatih terus menerus. Dlm hal ini Ibnu Khaldun mengemukakan beberapa metode yg dipandang tepat pada saat itu berdasarkan hasil amatan yg dilakukan dlm berbagai bangsa yg dikunjunginya. Secara umum Dia mengemukakan tentang metode Tadarruj Wat Tikrori (Metode Pentahapan dan Pengulangan, mungkin ini lebih tepatnya model atau strategi). Menurut Ibnu Khaldun, metode Tadarruj yaitu mengajarkan anak-anak atau remaja hendaknya didasarkan atas prinsip-prinsip pandangan bahwa tahap permulaan pengetahuan adalah bersifat total (keseluruhan), kemudian secara bertahap, baru terperinci (mirip Psikologi Gestalt), agar anak dapat menerima dan memahami permasalahan pada tiap bagian dari ilmu yang diajarkan, kemudian mentrabsformasikan ilmu itu dengan penjelasan dan uraian-uraian sesuai tingkat kemampuan berpikir anak-anak, peserta didik tersebut serta kesiapan kemampuan menerima materi apa yang diajarkan.

Sejalan dg tradisi pendidikan masa itu seperti yg dikemukakan oleh Al Ghazali, Az Zarnuji juga yg lainnya tentang penguasaan ilmu pengetahuan, maka Ibnu Khaldun pun berpandangan pentingnya pengulangan2 dlm belajar agar memori dpt jadi penyimpan informasi ilmu pengetahuan hingga mampu memunculkan kembali dg cepat (ini juga terjadi pada para imam mazhab, serta akhli hadis, yg berusaha keras untuk mampu menghafal pengetahuan yg diperolehnya dg pengulangan2 yg ketat). Dan metode pengulangan juga perlu dilakukan oleh guru agar mengulangi lagi ilmu yang diajarkan itu agar anak-anak meningkat daya pemahamannya sampai kepada taraf yang tertinggi melalui uraian dan pembuktian yang jelas, setelah itu beralih dari uraian yang global kepada uraian yang hingga tercapai tujuan akhirnya yang terakhir, kemudian diulangi sekali lagi pelajaran tersebut, sehingga tidak lagi terdapat kesulitan murid atau anak untuk memahaminya dan tak ada lagi bagian-bagian yang diragukan, inilah yg dimaksud dg metode “Attiqror”, dimana: ulang yg umum kemudian lanjut ke perincian ilmu agar dapat diperoleh pemahaman holistik dari suatu ilmu pengetahuan.   Pengulangan secara bertingkat ini, menurut pendapat beliau, sangat besar faedah dalam upaya menjelaskan dan memntapkan ilmu ke dalam jiwa anak serta memperkuat kemampuan jiwanya untuk memahami ilmu. Tujuan mempelajari ilmu tersebut adalah kemahiran anak dalam memahami dan mengamalkannya, serta mengambil manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari. Alasan mengulang-ulang sampai beberapa kali (lebih dari sekali) dikarenakan  kesiapan dan pemahaman anak akan ilmu pengetahuan  terjadi secara bertahap.

Ibnu Khaldun juga mendorong pd penggunaan media belajad/alat-alat peraga, karena anak pada waktu mulai belajar permulaannya lemah dalam memahami dan kurang daya pengamatannya (berfikir konkrit). Alat-alat peraga itu membantu kemampuan memahami ilmu yang diajarkan kepadanya, dan hal inilah yang ditekankan oleh beliau, karena memang anak bergantung pada panca inderanya dalam proses penyusunan pengalamannya. Dalam pekerjaan mengajar alat-alat peraga tersebut merupakan sarana pembuka cakrawala yang lebih luas, yang berlawanan dengan kebiasaan merumuskan kalimat-kalimat yang ditulis atau diucapkan, di samping itu juga alat peraga ini menjadikan pengetahuan anak bersentuhan dengan pegalaman indrawi yang hakiki. Selain itu Ibnu Khaldun pun berpandangan bahwa study tour Widya-wisata) dapat menjadi metode pembelajaran penting dlm menuntut ilmu guna  medapatkan Pengalaman yang Langsung baik dlm pengalaman objek maupun pengalamn belajar dari sumbernya, dan peserta didik dpt menggali pengetahuan berdasarkan observasi langsung yang akan  memperjelas pemahamannya terhadap ilmu pengetahuan. “Sesungguhnya melakukan perlawatan (Rihlah) untuk menuntut ilmu dan menjumpai para ahli ilmu pengetahuan dan tokoh-tokoh ilmu dan tokoh pendidikan, menambah kesempurnaan ilmu mereka, sebab banyak orang menimba pengetahuan dan akhlak serta aliran paham yang dianut serta keutaman-keutamaan mereka; kadangkala dengan cara menukil ilmu, mempelajari atau menerima kuliah, dan kadang kala dengan cara meniru dan belajar melalui peergaulan dengan mereka. Sedangkan keberhasilan mendapatkan pengetahuan dengan bergaul (interaksi langsung dg guru) dlm menerima pelajaran akan lebih mendalam dan lebih kuat kesannya daripada cara lain, apalagi melalui banyak guru yang ilmunya bermacam-macam”. Meskipun tetap harus memperhatikan kerumitan ilmu yg dipelajari, belajar, mengajarlah dengan dan dari yg mudah.

Pemikiran2 pendidikan merupakan ekspresi pemikiran terdokumentasi dari suatu peristiwa, kejadian pendidikan baik yg berbasis rasionalitas normatif, maupun rasionalitas empirik. Proses pendidikan, belajar pembelajaran terus  terjadi dalam perjalanan hidup manusia sejalan dg peradaban, budaya yg dikembangkannya atau yang berkembang sebagai jaring nilai yg menelikung hidup dan kehidupan manusia. Tiga pemikir pendidikan, Al Ghazali, Az Zarnuji, dan Ibnu Khaldun hanya sebagian kecil dari pemikir Islam yang meskipun bukan fokus dlm bidang ilmu pendidikan, namun mereka pelaksana pendidikan yg banyak melahirkan ulama, guru ustadz yg menyambungkan khasanah ilmu, model prilaku dari generasi ke generasi, yg sampai sekrangpun ruh, jejak  pemikirannya memiliki pengaruh besar dlm pendidikan baik disadari ataupun tidak. Bila dikelompokan 3 pemikir tersebut secara substantif dapat dipandang mewakili dua arah atau basis berfikir yang berbeda meskipun kadang terdapat hal2 yg paralel dan komplementer. Al Ghazali dan Az Zarnuji mewakili pemikiran pendidikan yg normatif dg dasar kokoh pada nilai2 agama, sehingga posisi ilmu, adab, etika bagi guru juga siswa menempati posisi penting disamping ada juga hal empiris dari pengalamannya sebagai penuntut ilmu dan sebagai guru. Sementara Ibnu Khaldun lebih pada pemikiran pendidikan yg memiliki basis empiris kuat dg rihlah, pengalaman di berbagai negara yg dia kunjungi meskipun tetap memperhatikan nilai2 dasar agama akan kewajiban menuntut ilmu. Oleh karena itu dua arah ini cenderung berkembang dlm.alur masing masing yg mungkin secara kelembagaan sekarang ini dpt dianalogikan yang satu dlm bentuk Pesantren (normatif) dan yg satunya lagi dlm bentuk Sekolah/Madrasah (empirik). 

| Meninggalkan komentar

Az Zarnuji tentang Pendidikan

Nama lengkap beliau adalah Nu’man bin Ibrahim bin Khalil al-Zarnuji, Taj al-Din, hidup sekitar tahun 591 H/1195 M-630 H/1242 M/645H/1253M (terdapat perbedaan masa hidup, lahir dan wafatnya/versi lain nama lengkapnya Burhanuddin Al-Islam Az-Zarnuji hidup pada masa sekitar akhir abad 12 sampai awal abad 13 masehi). Az-Zarnuji hidup di akhir periode Daulah Abbasiyah, (Khalifah Abbasiyah terakhir (al-Mu’tashim) wafat pada tahun 1258 M), dan jatuhnya Daulat Abasiyyah akibat serangan bangsa Mongol. Selama hidupnya, beliau mempelajari banyak bidang keilmuan melalui para ulama’ masa itu. Beberapa ilmu yang dipelajari seperti fikih, tasawuf, sastra, dan juga ilmu kalam (teologi). Dari beberapa guru yang berbeda fokus keilmuannya, menunjukan bahwa Syekh az-Zarnuji bukan hanya ahli pendidikan, tapi juga seorang ahli fikih, sastra, dan lainnya. Az-Zarnuji hidup di era keemasan islam akhir, di mana di era ini banyak bermunculan dan berkembang lembaga-lembaga pendidikan islam seperti Madrasah Nizhamiyah (Al Ghazali pernah menjadi Guru di Madrasah ini), Madrasah An-Nuriyah Al-Kubra, juga Madrasah Al-Mustansyiriah. Madrasah-madrasah tersebut menyediakan fasilitas yang lengkap sebagai sarana pengkajian dan pengembangan ilmu pengetahuan, di antaranya perpustakaan, aula, dan gedung-gedung tempat belajar yang megah. Kondisi tersebut memberi pengaruh yang sangat positif bagi perjalanan intelektual Burhanuddin Az-Zarnuji untuk menjadi seorang ilmuwan yang berpengetahuan dan berwawasan luas. Pemikiran Pendidikan (Islam) Az-Zarnuji tersusun secara sistematis dalam kitabnya “Ta’limul Muta’alim Thariqu Atta’allum” (Pendidikan/Pengajaran murid, cara2 menuntut Ilmu, Kitab kecil yg sampai saat ini dipelajari di pondok2 Pesantren di Indonesia, terdiri dari tiga belas bab). Di dalam kitab tsb Az Zarnuji berbicara tentang Pendidikan yg secara prinsip sejalan dg apa yg dikemukakan Al Ghazali terkait dg Ilmu, Pendidik/Guru, dan murid, serta Etikanya dg penjelasan posisi masing2 dlm konteks pendidikan..

Ilmu selalu menempati posisi utama dlm pendidikan baik dlm pemikuran Al Ghazali maupun Az Zarnuji yg hidup pasca Al Ghazali yg tentunya dapat efek baik langsung araupun tak langsung dari pemikiran Al Ghazali. Namun hal itu tentunya merujuk pada ajaran Islam (Quran dan Sunnah) yg sejak awal memerintahkan manusia untuk membaca dan wajibnya menuntut Ilmu, karena hanya dengan itulah kewajiban, larangan Tuhan dapat diketahui, difahami dan dilaksanakan.  Az Zarnuji mengatakan “Tidak seorang pun yang meragukan akan pentingnya ilmu pengetahuan, karena ilmu itu khusus dimiliki umat manusia. Adapun selain ilmu, itu bisa dimiliki manusia dan bisa dimiliki binatang”.  Namun demikia Dia juga mengingatkan ttg ilmu yg tepat dan baik yg harus dipelajari, dididikan pada murid, bukan sembarang ilmu, “Perlu diketahui bahwa, kewajiban menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan ini tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama, dan ilmu yang menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama manusia. Sehingga ada yang berkata,“Ilmu yang paling utama ialah ilmu Hal. Dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku.”. Yang dimaksud ilmu hal ialah ilmu agama islam, yg mencakup beberapa bagian yaitu: 1) Ilmu tauhid, 2) Ilmu fikih, 3) Ilmu alat seperti nahwu sharaf, 4) Ilmu kerohanian seperti tawakkal, taubat, ridha, dan lain-lain.

Ilmu ditafsiri dengan : Sifat yang dimiliki seseorang, maka menjadi jelaslah apa yang terlintas di dalam pengertiannya. Ilmu itu sangat penting karena itu sebagai perantara (sarana) untuk bertaqwa. Dengan taqwa inilah manusia menerima kedudukan terhormat disisi Allah, dan keuntungan yang abadi. Sebagaimana dikatakan Muhammad bin Al-Hasan bin Abdullah dalam syairnya : “Belajarlah! Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. dia perlebihan, dan pertanda segala pujian, Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna.” Allah Ta’ala mengangkat derajat Nabi Adam as. Diatas para malaikat. Oleh karena itu, malaikat di perintah oleh Allah agar sujud kepada Nabi Adam as. Belajarlah ilmu agama, karena ia adalah ilmu yang paling unggul. Ilmu yang dapat membimbing menuju kebaikan dan taqwa, ilmu paling lurus untuk di pelajari. Dialah ilmu yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yakni jalan petunjuk. Tuhan yang dapat menyelamatkan manusia dari segala keresahan. Oleh karena itu orang yang ahli ilmu agama dan bersifat wara’ lebih berat bagi setan daripada menggoda seribu ahli ibadah tapi bodoh. Ilmu ada yg wajib dipelajari semua orang (Ilmu Fardu Ain) dan ilmu yg tidak wajib dipelajari semua orang (Ilmu Fardu Kifatah). Adapun mempelajari amalan agama yang dikerjakan pada saat tertentu seperti shalat zenajah dan lain-lain, itu hukumnya fardhu kifayah. Jika di suatu tempat/daerah sudah ada orang yang mempelajari ilmu tersebut, maka yang lain bebas dari kewajiban. Tapi bila di suatu daerah tak ada seorangpun yang mempelajarinya maka seluruh daerah itu berdosa. Oleh karena itu pemerintah wajib memerintahkan kepada rakyatnya supaya belajar ilmu yang hukumnya fardhu kifayah tersebut. Pemerintah berhak memaksa mereka untuk melaksanakannya. Sementara mempelajari amalan ibadah yang hukumnya fardhu ain itu ibarat makanan yang di butuhkan setiap orang. Sedangkan mempelajari amalan yang hukumnya fardhu kifayah, itu ibarat obat, yang mana tidak dibutuhkan oleh setiap orang, dan penggunaannya pun pada waktu-waktu tertentu.

 Ilmu yg dipelajari atau dudidikan harus disesuaikan dg tingkat urgensi dan relevansi. Ilmu fardu ain menduduki posisi utama, dan di dalamnya juga perlu dilihat relevasi dg kegiatan hidup manysua di masyarakat. Misalnya: Setiap orang islam wajib mempelajari/mengetahui rukun shalat sebagai kewajiban individu muslim dlm amalan ibadah yang harus dikerjakan untuk memenuhi kewajiban tersebut. Karena sesuatu yang menjadi perantara untuk melakukan kewajiban, maka mempelajari wasilah/perantara tersebut hukumnya wajib. Ilmu agama adalah sebagian wasilah untuk mengerjakan kewajiban agama. Maka, mempelajari ilmu agama hukumnya wajib. Misalnya ilmu tentang puasa, zakat bila berharta, haji jika sudah mampu. Sementara itu prinsif relevansi juga penting misal: Setiap orang yang berkecimpung di dunia perdagangan, wajib mengetahui cara berdagang dalam islam supaya dapat menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan. Setiap orang juga harus mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan batin atau hati, misalnya tawakal, tobat, takut kepada Allah, dan ridha. Sebab, semua itu terjadi pada segala keadaan. Secara implikatif juga berarti bahwa jika seorang Tentara, dia harus belajar tentang cara berperang, serta berprilsku dalam peperangan sesuai ajaran agama. Semua itu, baik prinsip urgensi, prinsif tanggung jawab, juga relevansi semua diarshkan pd kebaikan hidup dan kehidupan manusia dalam menjalankan peran Kekhalifahan di muka bumi, denga tugas kewajiban beribadah pada Allah swt, dan Ilmu itu sendiri merupakan  perantara (sarana) untuk bertaqwa. Dengan taqwa inilah manusia menerima kedudukan terhormat disisi Allah, dan keuntungan yang abadi. Sebagaimana dikatakan Muhammad bin Al-Hasan bin Abdullah dalam syairnya : “Belajarlah! Sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. dia perlebihan, dan pertanda segala pujian, Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna”.

ILMU yg dipelajari atau yang diajarkan tak hanya harus ilmu yg baik dlm timbangan agama, “Belajarlah ilmu agama, karena ia adalah ilmu yang paling unggul. Ilmu yang dapat membimbing menuju kebaikan dan taqwa, ilmu paling lurus untuk di pelajarai. Dialah ilmu yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, yakni jalan petunjuk. Tuhan yang dapat menyelamatkan manusia dari segala keresahan. Oleh karena itu orang yang ahli ilmu agama dan bersifat wara’ lebih berat bagi setan daripada menggoda seribu ahli ibadah tapi bodoh. Menuntutbilmu juga harus diimbangi atau diisi dengan etika terpuji, agar ilmu yg dipelajari dpat membawa kebaikan bagi guru dan muridnya. Untuk itu Setiap orang islam, termasuk Guru dan Murid, juga wajib mengetahui/mempelajari akhlak yang terpuji dan yang tercela, seperti watak murah hati, kikir, penakut, pemberani, merendah diri/tawadlu, congkak, menjaga diri dari keburukan, israf (berlebihan), bakhil terlalu hemat dan sebagainya. Sifat sombong, kikir, penakut, israf, hukumnya haram. Dan tidak mungkin bisa terhindar dari sifat-sifat itu tanpa mengetahui kriteria sifat-sifat tersebut serta mengetahui cara menghilangkannya. Oleh karena itu orang islam wajib mengetahuinya dan mempelajarinya. Karena seyogyanya manusia jangan sampai lengah diri dari hal-hal yang bermanfaat dan berbahaya di dunia dan akhirat. Dengan demikian dia akan mengambil mana yang bermanfaat dan menjauhi mana yang berbahaya, agar supaya baik akal dan ilmunya tidak menjadi beban pemberat atas dirinya dan menambah siksanya. Kita berlindung kepada allah dari murka dan siksanya.

Disamping memposisikan ilmu agama yg baik yang fardu ain maupun yg fardu kifayah. Zarnuji juga berbicara ilmu2 yg tak terkait langsung dg ilmu agama dg beberapa contoh: seperti haramnya mempelajari astrologi (ilmu nujum), karena itu tak akan merubah takdir Tuhan, Dia mengatakan bahwa mempelajari ilmu nujum (astrologi, ilmu meramal nasib) itu hukumnya haram, karena ia diibaratkan penyakit yang sangat membahayakan. Dan mempelajari ilmu nujum itu hanyalah sia-sia belaka, karena ia tidak bisa menyelamatkan seseorang dari taqdir Tuhan. Sementara itu mempelajari ilmu falak (astronomi) itu dibolehkan mempelajarinya, karena penting untuk mengetahui arah kiblat, dan waktu-waktu shalat, selain itu boleh pula mempelajari ilmu kedokteran, karena ia merupakan usaha penyembuhan yang tidak ada hubungannya dengan sihir, jimat, tenung dan lain-lainnya.Karena Nabi juga pernah berobat, bahkan Imam Syafi’I rahimahullah berkata, “ilmu itu ada dua, yaitu ilmu piqih untuk mengetahui hukum agama, dan ilmu kedokteran untuk memelihara badan”. Ini menunjukkan bahwa meskipun suatu ilmu tidak merupakan cabangvlangsung dari ilmu agama, namun tetap dianjurkan untuk dipelajari, juga diajarkan selama ilmu dapat memberikan kontribusi bagi pelaksanaan ajaran agama, serta kebaikan hidup manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Ilmu itu makanan Akal, mengajari dan mempelajarinya merupakan upaya mengembangkan dan memperkuat Al Quwwah an Nathiqoh (kekuatan akal fikir). Sama seperti jasad memerlukan Makanan untuk bertahan hidup,maka Akal memerlukan ilmu pengetahuan. Akal fikir jika tak diisi ilmu pengetahuan, laksana jasad tanpa makanan, tentu matilah dia. Makanan ada yg lejat menyehatkan badan, ada juga yg tidak, makanan ada yg tak lezat tapi menyehatkan, ada juga yg tidak. Demikian juga halnya dg ilmu ada yg bermanfaat dan membiru manfaat ada juga yg tidak. Dlm konteks tersebut ajaran agama jadi pertimbangan dlm menentukan kategori ilmu, dan tentu akan berkembang sesuai dg perkembangan ilmu serta perubahan sosial masyarakat. Jika WISATA JASMANI/JASADI/FISIKAL kita bisa foto SELFI dan jika foto tsb diupload ke medsos, maka Itu berarti kita telah mempublikasikannya dlm ruang sosial (masyarakat) untuk memberi tahu yang lain bahwa kita sudah ke tempat ini itu, dan AQAL FIKIR pun bisa BERWISATA, jika kita mencari ilmu dg membaca dan lainnya maka SELFI nya berbentuk tulisan sebagai ekspresi akal fikir, dan jika tulisan2 itu diterbitkan maka berarti kita telah mempublikasikan pada masyarakat hasil wIsata akal kita. Semua itu perlu ketertarikan dan mengalaminya dg riang hingga merasa menikmatinya atau merasakan lezatnya baik WISATA JASADI maupun WISATA AQAL.  Wisata jasadi cenderung lebih mudah disukai dan dijalani karena berbagai promosi yg menarik, tinggal hartanya, dananya ada atau tidak, sementara Wisata akal cenderung lebih berat dilakukan meskipun tak perlu harta, dana, bahkan tak harus pergi kemanapun, tapi jika kita telah merasa hobi tuk belajar maka wisata aqal tinggal dikembangkan saja apalagi klw merasa lezatnya memahami ilmu, akan mengurangi atau membatasi kesukaan dalam Wisata Jasadi Duniawi, inilah i’tibar yg bisa kita ambil esensinya dari yg dikemukakan oleh Az Zarnuji: “Siapa saja yg  telah merasakan kelezatan rasa ilmu dan amal, maka semakin kecillah kegemarannya akan harta benda dunia. Syaikhul Imamil Ajall Ustadz Qawamuddin Hammad bin Ibrahim bin ismail Ash-Shoffar Al-Anshoriy membacakan kami syair imla’ abu hanifah: Siapa saja gerangan, menuntut ilmu untuk hari kemudian untuknya dapat keutamaan, anugrah Allah penunjuk jalan. “Aduh, saja merugi, penuntut ilmu nan suci Hanya buat sesuap nasi, dari hamba ilahi”.

Dengan posisi ilmu yg tinggi, tentu dituntut suatu perlakuan adab etika dalam berinteraksi dengannya baik sebagai penuntut ilmu (murid) maupun pengajar, penyebar ilmu. Dalam konteks Murid, Zarnuji mengemukakan berbagai adab yg perlu dimiliki atau dilakukan oleh penuntut ilmu.  Pertama tama seorang murid harus menguatkan niat tuk belajar, karena semua amal perbuatan tergantung pd niatnya. Di waktu belajar hendaklah “berniat mencari Ridha Allah swt. Kebahagian akhirat, memerangi kebodohan sendiri dan segenap kaum bodoh, mengembangkan agama dan melanggengkan islam sebab kelanggengan islam itu harus diwujudkan dengan ilmu. Belajar juga hendaklah diniati untuk mensyukuri kenikmatan akal dan badan yang sehat. Belajar jangan diniatkan untuk mencari pengaruh, kenikmatan dunia ataupun kehormatan di depan sultan dan penguasai-penguasa lain. Penuntut ilmu (murid) hendaknya memperhatikan apa yang yg harus diniatkan, ditekadkan jangan sampai Ia (seorang murid) yg telah mengatasi kepayahan yang cukup banyak  dan berat dalam menuntut, memperoleh ilmu hanya digunakan sebagai sarana keduniawian yang sedikit nilainya dan segera hancur. Lebih jauh Az Zarnuji mengemukakan sifa-sifat yang seharusnya dimiliki oleh seorang murid/penuntut ilmu/santri atau peserta didik yang sedang menuntut ilmu : 1) Cinta kepada ilmu, 2) Hormat dan patuh kepada guru, 3) Sayang kepada kitab atau buku yang merupakan sumber belajar, 4) Saling menghormati kepada sesama peserta didik, 5) Memanfaatkan waktu untuk belajar dengan sebaik-baiknya, 6) Konsisten dan tekun, 7) Menjaga diri dari hal-hal yang haram dan subhat menurut agama, 8) Memiliki cita-cita yang mulia, dan 9) Bertawakkal kepada Allah swt. atas hasil jerih payahnya dalam menuntut ilmu.

Seorang murid hendaknya memilih ilmu yg terbaik yg dibutuhkan dlm kehidupan agama pada saat itu, dan juga mempertimbangkan kebaikannya untuk masa depan. Sebagai fobdasi murid sebaiknya lebih dahulu mempelajari ilmu tauhid, mengenali Allah lengkap dengan dalilnya. Karena orang yang imannya hanya taklid sekalipun boleh dan syah, namun tetap harus memahami dalil dalilnya (istidlal).  Disamping itu Hendaknya pula memilih ilmu-ilmu yang klasik yg sudah mapan (established) bukan ilmu yang baru lahir yg cenderung mendirong pd perbantahan, apalagi sesudah meninggalnya ulama2 besar, karena  hal itu akan pada menjauhkan pelajar/murid dari mengenali fiqh (kebenaran Agama), dan hanya menghabiskan usia dengan tanpa guna, menumbuhkan sikap anti-pati/buas dan gemar bermusuhan. Dan itulah termasuk tanda-tanda kiamat akan tiba serta lenyapnya fiqih dan pengetahuan-pengetahuan lain. Untuk menghadapi berbagai pengorbanan dan cobaan dlm menuntut ilmu, seirang murid hendaklah menguatkan Kesabaran dan taba, karena hal itu pangkal keutamaan dalam segala urusan termasuk belajar, meskipuni jarang yang bisa melakukan. “Keberanian ialah sabar sejenak.” Maka sebaiknya pelajar mempunyai hati tabah dan sabar dalam belajar kepada sang guru, dalam mempelajari suatu kitab jangan sampai ditinggalkan sebelum sempurna dipelajari, dalam satu bidang ilmu jangan sampai berpindah bidang lain sebelum memahaminya benar-benar, dan juga dalam tempat belajar jangan sampai berpindah kelain daerah kecuali karena terpaksa. Kalau hal ini di langgar, dapat membuat urusan jadi kacau balau, hati tidak tenang, waktupun terbuang dan melukai hati sang guru”.

Seorang penuntut ilmu (pelajar, murid, santri dan sebutan lainnya),disamping cermat dlm memilih ilmu yg akan dipelajarinya,  juga perlu hati2, cermat dan teliti dlm memilih Guru (analogi kelembagaan mungkin memilih Sekolah, pesantren). Dalam memilih guru, hendaklah mengambil yang lebih alim (mendalam penguasaan keilmuannya), waro’ (teguh menjaga diri dari keburukan) dan juga lebih tua usianya (ini mungkin aga unik dlm konteks sekarang, terutama dlm pendidikan kontemporer).  Hal ini tergambar dari pemilihan Guru yg dilakukan oleh  Abu Hanifah setelah lebih dahulu memikir dan mempertimbangkan lebih lanjut, dan menentukan pilihannya kepada tuan Hammad Bin Abu Sulaiman. Dia (Abu Hanifah) Berkata bahwa: “beliau (Hammad Sulaeman) saya kenal sebagai orang tua yang budi luhur, berdada lebar serta penyabar. Saya mengabdi di pangkuan tuan Hammad Bin Abu Sulaiman, dan ternyata sayapun makin berkembang”.  Seorang pelajar/murid tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu, dan menghormati keagungan gurunya, karena termasuk arti mengagungkan ilmu, bila menghormati pada sang guru. Ali ra berkata: “Saya menjadi hamba sahaya orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan ataupun tetap menjadi hambanya”.

Lebih lanjut, terkait dg adab murid, (peserta didik, santri), akan dikemukakan terjemahan kitab ta’lim bab empa: “Penting diketahui,    Seorang pelajar tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu, dan menghormati keagungan gurunya. Ada dikatakan : “Dapatnya orang mencapai sesuatu hanya karena mengagungkan sesuatu itu, dan gagalnya pula karena tidak mau mengagungkannya. “Tidaklah anda telah tahu, manusia tidak menjadi kafir karena maksiatnya, tapi jadi kafir lantaran tidak mengagungkan Allah.Guru kita Syaikhul Imam Sadiduddin Asy-Syairaziy berkata : Guru-guru kami berucap : “bagi orang yang ingin putranya alim, hendaklah suka memelihara, memulyakan, mengagungkan, dan menghaturkan hadiah kepada kaum ahli agama yang tengah dalam pengembaraan ilmiyahnya. Kalau toh ternyata bukan putranya yang alim, maka cucunyalah nanti.” Termasuk arti menghormati guru, yaitu jangan berjalan di depannya, duduk di tempatnya, memulai mengajak bicara kecuali atas perkenan darinya, berbicara macam-macam darinya, dan menanyakan hal-hal yang membosankannya, cukuplah dengan sabar menanti diluar hingga ia sendiri yang keluar dari rumah.Pada pokoknya, adalah melakukan hal-hal yang membuatnya rela, menjauhkan amarahnya dan menjungjung tinggi perintahnya yang tidak bertentangan dengan agama, sebab orang tidak boleh taat kepada makhluk dalam melakukan perbuatan durhak kepada Allah Maha Pencipta. Termasuk arti menghormati guru pula, yaitu menghormati putera dan semua oarang yang bersangkut paut dengannya.Guru kita Syaikhul Islam Burhanuiddin Shahibul Hidayah pernah bercerita bahwa ada seorang imam besar di Bochara, pada suatu ketika sedang asyiknya di tenmgah majlis belajar ia sering berdiri lalu duduk kembali. Setelah ditanyai kenapa demikian, lalu jawabnya : ada seorang putra guruku yang sedang main-main dihalaman rumah dengan teman-temannya, bila saya melihatnya sayapun berdiri demi menghormati guruku”.

Semua adab penuntut ilmu pada guru pada prinsipnya merupakan sukap dan prilaku guna menjamin keridhoan Guru dalam mendidik. Ilmu yg dipelajari memiliki dimensi spiritual sehingga tidak hanya bicara bertambah atau menguasainya tapi juga memiliki konsep keberkahan manfaat yg terkait dg penghormatan pd guru. “Barang siapa melukai hati sang gurunya, berkah ilmunya tertutup dan hanya sedikit kemamfaatannya. Bahkan kumpulantulisan yg menerangkan ttg ilmu yg dipelajari murid seperti kitab, buku2 juga tak boleh dipandang remeh tp juga dihormati dan dijaga dg baik. “Termasuk arti mengagungkan ilmu, yaitu memulyakan kitab, karena itu, sebaiknya pelajar jika mengambil kitabnya itu selalu dalam keadaan suci. Hikayat, bahwa Syaikhul islam Syamsul Aimmah Al-Khulwaniy pernah berkata : “Hanya saya dapati ilmu ilmuku ini adalah dengan mengagungkan. Sungguh, saya mengambil kertas belajarku selalu dalam keadaan suci. Syaikhul Imam Syamsul Aimmah As-sarkhasiy pada suatu malam mengulang kembali pelajaran-pelajarnnya yang terdahulu, kebetulan terkena sakit perut. Jadi sering kentut. Untuk itu ia melakukan 17 kali berwudlu dalam satu malam tersebut, karena mempertahankan supaya belajar dalam keadaan suci. Demikianlah sebab ilmu itu cahaya, wudlupun cahaya. Dan cahaya ilmu akan semakin cemerlang bila di barengi cahaya berwudlu”.

Dalam hal proses ikut pendidikan, pembelajaran diperlukan tekad yg kuat serta kesungguhan. “Semua, pelajar, murid, santri juga harus bersungguh hati dalam belajar serta kontinu (terus-terusan). Seperti itu pula di tunjukkan firman Allah: “Dan Orang-orang yang mencari keridhaan Kami, niscaya Kami tunjukkan mereka kepada jalan-jalan Kami” (Surat 29, Al-Ankabut 69). Ada dikatakan pula : “siapa sungguh-sungguh dalam mencari sesuatu pastilah ketemu” “Brangsiapa mengetuk pintu bertubi-tubi, pasti dapat memasuki”. “Sejauhmana usahamu, sekian pula tercapai cita-citamu”. “Dalam mencapai kesuksesan mempelajari ilmu dan fiqh itu diperlukan kesungguhan tiga fihak. Yaitu guru, pelajar dan wali murid jika masih ada”. Sya’ir gubahan Asy-Syafi’iy dikemukan kepadaku oleh Al Ustadz Sadiduddin Asy-Syairaziy: “Dengan kesungguhan, hal yg jauh jadi berada dekat,  pintu terkuncipun jadi terbuka.Titah Allah yang paling berhaq bilang sengsara, yang bercita tinggi namun hidupnya miskin papa. Disini bukti kelestarian taqdir dan hukumNya, bila sipandai hidup sengsara, sedang sibodoh cukup berharta. Tapi yang hidup akalnya, tidak di beri harta dan benda, keduanya pada berpisah, satu disini satu disana”. “Kau idamkan menjadi paqih penganlisa, padahal tidak mau sengsara, berkorban, macam-macam sajalah penyakit gila. Tidak bakal engkau memboyong harta, tanpa menanggung pengorbanan dan derita, ilmupun begitu pula”. Jadi bertekadlah bersungguh sungguhlah dan berkorbanlan tuk menuntut ilmu.

Pelajar, siswa, santri harus memiliki cita cita tinggi/besar dlm menuntut ilmu, karena manusia itu akan terbang dengan cita-citanya, sebagaimna halnya burung terbang dengan kedua sayapnya. Abu-Thoyyib berkata: “Seberapa kadar besar ahli cita, si cita-cita kan didapati. Seberapa kadar orang mulya, kemulyaan kan di temui. Barang kecil tampaknya besar, dimata orang bercita kecil. Barang besar dimata orang bercita besar, tampaknya kecil”. Cita2 yg tinggi akan memperkuat kesungguhan, tekad yg kuat serta mempermudah capai keberhasilan. Pangkal kesuksesan adalah kesungguhan dan himmah/cita2 yang luhur. Barang siapa berhimmah menghapalkan seluruh kitab Muhammad Ibnul Hasan, lagi pula disertai usaha yang sungguh-sungguh dan tak kenal berhenti, maka menurut ukuran lahir pasti akan bisa menghafal sebagian besar atau separohnya. Demikian pula sebaliknya, bila cita-citanya tinggi tapi tidak ada kesungguhan berusaha, atau sungguh-sungguh tetapi tidak bercita-cita tinggi, maka hanya sedikit pula ilmu yang berhasil didapatkanny. Syaikhul Imam Al-Ustadz Ridladdin mengemukakan, bahwa kaisar Dzul Qarnain dikala berkehendak menaklukan dunia timur dan barat bermusyawarah dengan para Hukama’ dan katanya : Bagaimana saya harus pergi untuk memperoleh kekuasaan dan kerajaan ini, padahal dunia ini hanya sedikit nilainya, fana dan hina, yang berarti ini bukan ita-cita luhur? Hukama menjawab : “Pergilah Tuan, demi mendapat dunia dan akherat.” Kaisar menyahut: “Inilah yang baik.” janganlah lemah/malas dalam upaya dan janganlah rendah dalam bercita. Imam Abu Hanifah berkata kepada Abu Yusuf : ” Hati dan akalmu tertutup. Tapi engkau bisa keluar dari belenggu itu dengan cara terus belajar dan jauhilah ber-malas-malasan. Syaikh Abu Nashr Ash-Shoffar Al-Anshariy berkata: “Diriku oh diriku, janganlah kau bermalas-malasan. Untuk berbakti, adil, berbuat bagus perlahan-lahan. Setiap yang beramal kebajikan, untung kan didapat. Tapi yang bermalasan, tertimpa bala dan kerugian. Ada sya’ir gubahanku (Az Zarnuji) yang semakna itu: Tinggalkanlah oh diriku, bermalasan dan menunda urusan. Kalau tidak, letakkan saja aku, dijurang kehinaan. Tak kulihat, orang pemalas mendapat imbalan hasil. Selain sesal, dan cita-cita menjadi gagal. Hendaklah pelajar bersungguh-sungguh sampai terasa letih guna mencapai kesuksesan, dan tak kenal berhenti, dengan cara menghayati keutamaan ilmu. Ilmu itu kekal, sedang harta adalah fana. Ilmu yang bermanfaat akan menjunjung tinggi nama seseorang, tetap harum namanya walaupun ia sudah mati. Dan karena itu, ia dikatakan selalu hidup abadi. Syaikhul Ajall Al-Hasan bin Ali Al-Marghibaniy membawakan syi’ir buat kami: “Kaum bodoh, telah mati sebelum mati. Orang alim, tetap hidup walaupun mati”.

Disamping persyaratan internal yg harus dimiliki seorang penuntut ilmu, juga dikemukakan ttg cara mengikatnya dalam interaksi antara murid dan ilmu yg dipelajarinya. Belajarlah dari yang mudah dg batasan yg memadai, jangan sampai overlearning karena akan mengganggu perkembangan akal fikir tuk berkembang optimal. Syaikh Qadli Imam Umar bin Abu Bakar Az-Zanji yg dinukil Imam Abu Hanifah berkata: guru-guru kami berkata: “sebaiknya bagi oarang yang mulai belajar, mengambil pelajaran baru sepanjang yang kira-kira mampu dihapalkan dengan faham, setelah diajarkannya dua kali berulang. Kemudian untuk setiap hari, ditambah sedikit demi sedikit sehingga setelah banyak dan panjang pun masih bisa menghapal dengan paham pula setelah diulanga dua kali. Demikianlah lambat laun setapak demi setapak”. Mulailah dengan pelajaran-pelajaran yang dengan mudah  bisa di fahami. Syaikhul Islam Ustadz Syarifuddin Al-Uqaili berkata; “Menurut saya, yang benar dalam masalah ini adalah seperti yang telah dikemukakan oleh para guru kita. Yaitu untuk murid yang baru, mereka pilihkan kitab-kitab yang ringkas/kecil. Sebab dengan begitu akan lebih mudah di fahami dan di hapal, serta tidak membosankan”. Juga dianjurkan murid membuat catatan sendiri mengenai pelajaran-pelajaran yang sudah di fahami hafalannya, untuk kemudian sering diulang-ulang kembali. Karena dengan cara begitu, akan bermanfaat sekali, dan hindari menulis apa saja yang ia sendiri (murid) tidak tahu maksudnya, karena hal ini akan menumpulkan otak dan waktupun akan hilang terbuang dengan sia-sia.

Seorang Murid, Pelajar, Santri,  hendaknya mencurahkan kemampuannya dalam memahami pelajaran dari sang guru dg memikurkannya dan sering diulang-ulang sendiri. Karena bila pelajaran yang baru itu hanya sedikit dan sering diulang-ulang, akhirnyapun dapat dimengerti. “Hafal dua huruf lebih bagus daripada mendengarkan saja dua bab pelajaran, dan memahami dua huruf lebih baik daripada menghapal dua bab pelajaran.  Disamping metode repetition (menghafal ulang), seorang pelajar seharusnya melakukan Mudzakarah (forum saling mengingatkan), munadharah (forum saling mengadu pandangan) dan mutharahah (diskusi). Hal ini dilakukan atas dasar keinsyafan, penghayatan serta menjauhi hal-hal yang negatif. Munadharah dan mudzakarah adalah cara dalam melakukan musyawarah, sedang permusyawaratan itu sendiri dimaksudkan guna mencari kebenaran. Karena itu, harus dilakukan dengan penghayatan, kepala dingin dan penuh keinsyafan. Jika tak demikian, tidak akan berhasil, apalagi jika dilaksanakan dengan cara kekerasan dan niat yg kurang baik (seperti menyombongkan ilmunya, merasa paling benar). Apabila di dalam pembahasan, diskusi, tukar pendapat dan pandangan itu dimaksudkan untuk sekedar mengobarkan perang lidah, maka tidak diperbolehkan menurut agama. Yang diperbolehkan adalah dalam rangka mencari kebenaran. Bicara berbelit-belit dan membuat alasan itu tidak diperkenankan, selama teman bicaranya tidak sekedar mencari kemenangan dan masih dalam mencari kebenaran. Bila ada hal yg sulit untuk dikemukakan pemikiran ttg nya maka catat dan dalami, cari aargumennya, jangan asal berpendapat, rendah hatilah dlm berdiskusi, berdebat, tukar pandangan, gak salah dan gak hina jika berkata “pertanyaan anda saya catat dahulu untuk kucari pemecahannya. Diatas orang berilmu, masih ada yang lebih banyak ilmunya.” (wa fauqo dii ilmin aliimm).

Dalam belajar, seorang siswa, murid, penuntut ilmu, jangan mencukupkan dg bersendirian dg mengulang dan menghafal, karena untuk memperkuat ikatan ilmu memerlukan interaksi dg yang lain, disinilah berdiskusi, bertukar pendapat menjadi penting, karena disamping didalamnya ada proses pengulangan, juga akan menambah pengetahuan baru. Az Zarnuji berkata bahwa “mutharahah dan mudzakarah (diskusi, tukar pendapat) itu jelas lebih besar/baik daripada sekedar mengulang pelajaran sendirian, sebab disamping berarti mengulang pelajaran, juga menambah pengetahuan yang baru”.“Sesaat mutharahah dilakukan, lebih bagus dari mengulang pelajaran sebulan. “Sudah tentu harus dilakukan dengan orang yang insaf dan bertabiat jujur, dan  jangan mudzakarah dengan orang yang sekedar mencari menang dalam pembicaraan semata, lagi pula bertabiat tidak jujur. Sebab itu akan meruaak suasana diakusi dan dapat mempengaruhi akhlak. Dlm berbicara, berdiskusi, tukar pendapat dan pandangan ilmiyah haruslah difikirkan secara cermat dan matang serta argumentatif, sebab perkataan, ucapan adalah laksana anak panah, dimana tepat pada sasaran bila dibidikan terlebih dahulu perlu menimbang dan memikirkannya serta jangan sampai terlupa jika berkata harus memahami apa sebabnya, kapan waktunya, bagaimana caranya, berapa panjangnya dan dimana tempatnya, sehingga pemikiran kita dapat menggambarkan suatu yg runut dan dapat difahami..

Pemanfaatan waktu yg efektif produktif juga harus menjadi perhatian peserta didik, baik itu secara mandiri maupun dikondisikan oleh pendidik (organisasi sekolah dlm konteks sekarang). Seluruh waktunya dan dalam situasi bagaimanapun, pelajar hendaknya mengambil pelajaran dari siapapun. Rasulullah saw bersabda: “Hikmah (ilmu) itu barang hilangnya orang mukmin, dimana saja  ditemui ambillah. Ambillah yang jernih tinggalkanlah yang keruh.”Ini bermakna bahwa belajar itu bisa dilaksanakan kapan saja dan dari siapa saja. Demikian juga dg diskusi dan tukar pendapat, seperti yg dilakukan oleh Abu Hanifah yg banyak mutharahah dan mudzakarah di kedainya, Abu Hanifah pedagang kain itu menjadi alim fiqh. Melihat kenyataan tersebut, kita juga bisa tahu bahwa menuntut ilmu dan fiqh itu bisa pula dilakukan bersama-sama dengan bekerja mencari uang. Abu Hafsh Al-Kabir sendiri bekerja sambil mengulang-ulang pelajarannya sendiri. Karena itu, apabila seorang pelajar harus juga mencarikan nafkah keluarga dan segenap tanggungannya, berusahalah di tengah-tengah keasyikan bekerjanya itu untuk mempelajari sendiri pelajarannya dengan semangat dan segiat mungkin. Belajar jangan malu pada siapapun dan dimanapun, dan yg tahu, juga jangan pelit berbagi ilmu yg diketahuinya. Suatu ketika Abu Yusuf ditanya: “Dengan apakah tuan memperoleh ilmu? beliau menjawab: “Saya tidak merasa malu belajar dan tidak kikir mengajar”. Juga pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas ra : “dengan apakah tuan mendapat ilmu?” beliau menjawab: “Dengan lisan banyak bertanya dan hati selalu berpikir.”. Mengulang (menghafal), Bertanya, dan berfikir nampak jadi cara yg baik, efektif dan produktif dalam memelihara dan menambah ilmu. 

Orang yang kebetulan sehat badan dan pikirannya, tiada lagi alasan baginya untuk tidak belajar dan tafaqquh sebab tidak ada lagi yang lebih melarat daripada Abu Yusuf, tapi toh tidak pernah melupakan pelajarannya. Sementara itu, apabila seseorang kebetulan kaya raya, alangkah bagusnya bila harta yang halal itu di miliki orang shaleh. Ada ditanyakan kepada seorang yang alim “dengan apa tuan mendapatkan ilmu?” lalu menjawabnya: “Dengan ayahku yang kaya. Dengan kekayaan itu, beliau berbakti kepada ahli ilmu dan ahli keutamaan”. Dengan harta yang dimiliki, hendaklah suka membeli kitab dan mengaji menulis jika diperlukan. Demikian itu akan lebih memudahkan belajar dan bertafaqquh. Perbuatan seperti ini, berarti mensyukuri nikmat akal dan ilmu, yang hal itu menyebabkan bertambahnya ilmu. Diriwayatkan bahwa Abu Hanifah berucap: “Hanya saja kudapatkan ilmu dengan Bersyukur dan Hamdallah. Tiap-tiap berhasil kufahami ilmu, fiqh dan hikmah selalu saja kuucapkan Hamdalah. Dengan cara itu, jadi berkembanglah ilmuku.” Seorang Pelajar, siswa, santri  harus menyatakan syukurnya dengan lisan, hati, badan dan juga hartanya (mengorbankan harta tuk belajar), serta harus mengetahui/menyadari bahwa kefahaman, ilmu dan taufik itu semuanya datang dari hadirat Allah Swt. Memohon hidayahnya dengan berdo’a, karena hanya Dialah yang memberikan hidayah kepada siapa saja yang memohon.

Seorang pelajar hendaklah hanyalah kepada Allah, takutpun hanya kepadaNya. Sikap tersebut bisa di ukur dengan melampaui batas-batas agama atau tidak. Barangsiapa takut kepada sesama makhluk lalu ia mendurhakai Allah, maka berarti telah takut kepada selain Allah. Tapi sebaliknya bila ia telah takut kepada makhluk namun telah taat kepada Allah dan berjalan pada batas-batas syareat, maka tidak bisa dianggap telah takut kepada selain Allah. Ia masih dinilai takut kepada Allah. Begitu pula dalam masalah harapan seseorang. Dlm hal menghafal, mengulang pelajaran sebaiknya diulang beberapa kali dg prioritas paling sering mulai yg sehari sebelumnya. misal yg hari kemarin diulang 5 kali, yg hari kemarinnya 4 kali, hari kemarinnya lagi 3 kali terus 2 kali dan 1 kali selang sehari kebelakang, sehingga tiap materi akan diulang sebanyak 16 kali. Hendaknya dalam mengulangi pelajarannya itu jangan pelan-pelan. Belajar lebih bagus bersuara kuat dengan penuh semangat. Namun jangan terlalu keras, dan jangan pula hingga menyusahkan dirinya yang menyebabkan tidak bisa belajar lagi. Segala sesuatu yang terbaik adalah yang cukupan. Suatu hikayat menceritakan, bahwa suatu saat Abu Yusuf sedang mengikuti mudzakarah fiqh dengan suara kuat dan penuh semangat. Lalu dengan rasa heran, iparnya berkata: “saya tahu Abu Yusuf telah lima hari kelaparan, tapi ia tetap munadharah dengan suara keras dan penuh semanat. Demikian juga seyogyanya pelajar tidak panik dan kebingungan, sebab itu semua adalah kelemahan yg dapat mengganggu belajar dan melemahkan kemampuan menghafal. “Kebodohan membunuh si bodoh sebelum matinya. Belum dikubur, badanya telah jadi pusara. Orang hidup tanpa berilmu, hukumnya mati.Bila bangkit kembali, tak kan bisa bangkit kembali”. Syakhul Islam Burhanuddin membawakan Syi’ir buat kita : “Kalau sang ilmu, tingkat tertinggi tuk tempat singgah. Kalau lainnya, meninggi bila banyak anak buah. Orang berilmu, namanya harum berlipat tinggi. Orang bodoh, begitu mati tertimbun duli. Mendaki tinggi, kepuncak ilmu, mustahil bisa. Bila maksudnya, bagai komandan pasukan kuda. Dengarkan dulu, sedikit saja dikte buatmu. Cuma ringkasan, kemulyaan ilmu yang aku tahu. Ia cahaya, penerang buta, terang benderang. Tapi si bodoh, sepanjang masa gelap menantang. Wahai kaum berakal, ilmu itu pangkat mulia. Bila telah didapat, pangkat lain lepas tak mengapa. Bila engkau meninggalkan dunia dengan segala nikmatnya. Pejamkan mata, cukuplah ilmu jadi anugrah berharga.

Masa belajar itu sejak manusia berada di buaian hingga masuk keliang kubur. “Hasan bin Ziyad waktu sudah berumur 80 tahun baru mulai belajar fiqh, 40 tahun berjalan tidak pernah tidur di ranjangnya, lalu 40 tahun berikutnya menjadi mufti. Masa yang paling cemerlang untuk belajar adalah permulaan masa-masa jadi pemuda, dg waktu terbaik waktu sahur berpuasa dan waktu di antara magrib dan isya.’ Tetapi sebaiknya menggunakan seluruh waktu yang ada untuk belajar, dan bila telah merasa bosan terhadap ilmu yang sedang dihadapi supaya berganti kepada ilmu lain. Apabila Ibnu Abbas telah bosan mempelajari Ilmu Kalam,, dia belajar sastra para pujangga penyair. Muhammad Ibnul Hasan semalam tanpa tidur selalu bersebelahan dengan buku-bukunya, dan bila telah merasa bosan suatu ilmu, berpindah ilmu yang lain. Iapun menyediakan air penolak tidur di sampingnya, dan ujarnya: “Tidur itu dari panas api, yang harus dihapuskan dengan air. Bila hasil jerih payah menuntut ilmu menjadikannta seorang alim, hendaknya memiliki rasa kasih sayang, mau memberi naseha (beebagi ilmunta)t serta jangan berbuat dengki. Dengki itu tidak akan bermanfaat, justru membahayakan diri sendiri. Guru kita Syaikhul Islam Burhanuddin ra. Berkata : Banyak ulama yang berkata : “Putra sang guru dapat menjadi alim, karena sang guru itu selalu berkehendak agar muridnya kelak menjadi ulama ahli Al-Quran. Kemudian atas berkah I’tikad bagus dan kasih sayangnya itulah putranya menjadi alim.”

Pelajar, Santri, Murid, peserta didik hendaknya menggunakan setiap kesempatan waktunya untuk belajar, terus-menerus sampai memperoleh keutamaan. dan berusaha untuk mencatatnya halvhal yg terkait dg ilmu pengetahuan yg didapatnya. Disamping itu sekuat apapun hapalan tentu perlu back up catatan yg dapat dengan mudah di deteksi, diretrieve (dilihat ulang). Hapalan dapat pergi dan akan lari, tapi tulisan tetap berdiri. Syaikhul Ustadz Zainul Islam yang terkenal dengan gelar Adibul Mukhtar menyatakan : Hilal bin Yasar berkata : “Kulihat Nabi saw. Mengemukakan sepatah ilmu dan hikmah kepada sahabat beliau, lalu usulku: “Ya Rasulullah, ulangilah untukku apa yang telah tuan sampaikan kepada mereka” beliau bertanya kepadaku : “apakah engkau bawa botol dawat Alat untuk menulis)?”,  jawabku : “tidak” beliaupun lagi bersabda : “Oh Hilal, janganlah engkau berpisah dari botol dawat, karena sampai hari kiamat kebagusan itu selalu disana dan pada yang membawanya”. Yang mulya Hasanudin berwasiat kepada Syamsuddin putra beliau, agar setiap hari menghafal sedikit ilmu dan sepatah hikmah. Hal itu mudah dilakukan, dan dalam waktu singkat menjadi semakin banyak. Isham bin Yusuf membeli pena seharga satu dinar guna mencatat apa yang ia didengar seketika itu. Umur cukup pendek, sedang pengetahuan cukup banyak. Pelajar jangan sampai membuang-buang waktu dan saatnya (untuk belajar), serta hendaknya mengambil kesempatan (untuk belajar)di malam hari dan di kala sepi. Dari Yahya bin Mu’adz Ar-Razi disebutkan : “malam itu panjang, jangan kau potong dengan (banyak) tidur; dan siang itu bersinar cemerlang, maka jangan kau kotori dengan perbuatan dosa (jadi belajarlah)”. Hendaknya pelajar bisa mengambil pelajaran dari para sesepuh dan mencerap ilmu mereka. Tidak setiap yang telah berlalu bisa didapatkan kembali. Seorang ilmuwan (Alim, Ulama) hendaknya tidak usah turut melibatkan diri dalam arena pertikaian dan peperangan pendapat dengan orang lain, karena hal itu hanya embuat waktu menjadi habis sia-sia.

Pelajar hendaknya selalu membawa buku untuk dipelajari.  “Barangsiapa tak ada buku di sakunya, maka tak ada hikmah di hatinya.” Lalu buku itu hendaknya berwarna putih. Juga hendaknya membawa botol dawat (alat tulis warna hitam), agar bisa mencatat segala pengetahuan yang di dengar.  Dalam menghafal ingatlah bahwa yang paling kuat menyebabkan mudah hafal adalah kesungguhan, kontinuitas, mengurangi makan (jangan terlalu banyak makan) dan shalat di malam hari. Juga membaca Al-Qur’an termasuk penyebab kuatnya hafalan seseorang pelajar, penuntut ilmu: “Tiada sesuatu yang lebih bisa menguatkan hafalan seseorang, kecuali membaca Al-Qur’an dengan menyimak. “Membaca Al-Qur’an yang dilakukan dengan menyimak itu lebih utama, sebagaimana sabda Nabi saw : “Amalan umatku yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an dengan menyimak tulisannya.” Demikian juga jangan lupa selalu berdoa untuk ditambahi terus ilmu. Pelajar hendaknya tidak mengabaikan perbuatan-perbuatan yang berstatus adab kesopanan, dan amal-amal kesunahan (kebaikan). Sebab siapa yang mengabaikan adab menjadi tertutup dari yang sunah (kebaikan). Jangan ngobrol berbicara hal2 yg tak berguna, “siapa yang tersibukkan oleh perbuatan yang tanpa guna bagi dirinya.” Maka yang semestinya akan berguna menjadi terlewat darinya. Ali ra  berkata : “Bila telah sempurna akal pikiran, maka menguranglah ucapan. Sebuah syair: “Jikalau orang berakal sempurna, sedikitkan bicara. Bila seorang banyak bicara Dialah yg tolol.”Bicara adalah hiasan, diam itu keselamatan.Bila kamu berbicara, makanya jangan berlebihan, lantaran jika diam, engkau menyesal, tapi sekali. Namun klw karena omong, kamupun kan menyesal berkali-kali..

| Meninggalkan komentar