ORIENTASI FILSAFAT BERBASIS TOKOH 2

ARISTOTELES

Lahir di Stageira Yunani Utara pd th 384 SM da meninggal th 322 SM. Dalam kehidupannya 62 th, pengalaman keilmuan merupakan yg terpenting dlm hidupnya, dia pernah menjadi guru Iskandar Zulkarnaen Raja Macedonia, berguru di AKADEMIA selama 20 th sampai meninggalnya PLATO, kemudian mendirikan sekolahnya sendiri LYCEUM untuk ajang megajar manusia berfikir dlm upaya mencari kebenaran. DIA sangat hormat pd PLATO meski banyak fikirannya tak sejalan dan dikritiknya..ini karena keyakinan yg dpt diungkapkan “AMICUS PLATO, MAGIS AMICA VERITAS” (Saya mencintai Plato, tapi KEBENARAN lebih aku cintai)…BERSAMBUNG.

Berbeda dg PLATO  dlm faham dualistiknya, ARISTOTELES melihat yg ada itu adalah benda benda konkrit  (empirik melalui panca indra)dimana makna umum diperoleh melalui abstraksi rasional bukan suatu dunia ide, tp ada dlm benda konkrit itu sendiri, yg ada memiliki potensi (dynamis) dan aktus (entelekheia,perwujudan), dan peralihan dari potensi ke actus disebut gerak. Air dingin menjadi panas karena air memiliki potensi dlm dirinya untuk jadi panas (aktus). DIA juga berpendapat bahwa yg ada selalu mengandung materi (hyle) dan bentuk (morphe), dari sini muncul istilah pemikiran ARISTOTELES hylemorphisme yg paralel dg potensi dan aktus yg menjadi dasar filosofinya … BERSAMBUNG.

Dengan menggunakan contoh air dingin menjadi panas, air itu adalah materi dan panas itu adalah bentuk baru dari dingin, dlm materi air sudah ada potensi/kemampuan menjadi panas dan ketika jadi panas itulah aktus sebagai bentuk baru dari dingin. Kayu gelondongan, kayu materi, gelondongan bentuk, materi kayu dapat juga menerima bentuk baru misalnya kursi. Yg jelas adalah materi dan bentuk tidak bisa dipisahkan, setiap materi selalu berada dalam bentuk tertentu. Semua itu untuk menunjukkan atau sebagai dasar menjelaskan adanya gerak/perubahan (kritik atas PERMENIDES)..BERSAMBUNG.

35. (ARISTOTELES). Gerak/perubahan dibagi dua yaitu gerak substansial (sesuatu menjadi sesuatu yg lain) ayam mati (tadinya hidup jadi bangkai); gerak/perubahan aksidental (sesuatu menjadi sesuatu yg lain dlm sebagian aspeknya): mis sesuatu di tempat A menjadi di tempaf B (perubahan lokal); kertas putih jadi kuning (gerak kualitatif); pohon kecil jadi besar (gerak kuantiratif). Dalam setiap gwrak/perubahan selalu ada tiga faktor yaitu 1. Keadaan sebelumnya, 2. Keadaan sesudahnya, dan 3. Suatu substratum yang tetap (dalam kontek penelitian ini model eksperimen dimana substratumnya diberi perlakuan sehingga terlihat before and after, atau with and witout)…BERSAMBUNG.

36. (ARISTOTELES). Pengetahuan diperoleh melalui dua cara pengenalan. 1)Indrawi hanya menerima bentuk tanpa materi, dan merupakan peralihan dari potensi ke aktus (mis. bunga merah berarti mata berpotensi mengenal merah, jadi aktus saat melihat bunga merah). 2)Rasio mengenal bentuk intelektual yg merupakan esensi suatu benda, memahami segitiga, lingkaran berarti menerima hakekatnya dlm rasio, sehingga dapat mengerti hubunga keduanya. Terdapat dua fungsi rasio yaitu fungsi pasif (rasio pasif) penerima esensi, dan fungsi aktif (rasio aktif) yg melepaskan esensi dari pengenalan indrawi yg menampilan esensi yg diterima rasio pasif, dan terpisah…BERSAMBUNG.

37. (ARISTOTELES). Pengenalan merupakan dasar pengetahuan, namun ilmu hanya merujuk pd pengenalan rasional dg bentuk intelektual terkait dg esensi sesuatu yg bersifat umum. Ini bermakna tidak ada ilmu tentang hal konkrit spesifik, ilmu hanya terkait dg hal umum, bukan ilmu segitiga ini atau itu namun segitiga secara umum yg didapat dg jalan abstraksi dari hal konkrit, meja bundar, meja segi empat, meja segitiga, ciri itu dilepaskan direduksi rinciannya, dilakukan abstraksi kemudian hanya hakekat meja yg ada yg bersumber dari atau terdapat dlm benda konkrit, bukan ide bawaan seperti kata PLATO..BERSAMBUNG..

38. (ARISTOTELES). Dengan sesuatu yang bersifat tetap, umu, maka ilmu pengetahuan memiliki pijakannya yg kuat, klw tidak maka yg ada hanya pengalaman yg tak bisa jadi dasar pengeritan, pemahaman (understanding) dalam memahami berbagai fenomena hidup dan kehidupan. Tugas ilmu pengetahuan adalah mencari pemahaman akan sebab sebab suatu kejadian (peralihan, perubahan potensi/materi ke aktus/bentuk), sehingga dapat dijelaskan dan difahami, dan dengan utulah manusia dapat menjalani kehidupannya secara harmoni dan berkesinambungan..BERSAMBUNG.

39. (ARISTOTELES)… Dalam pemikiranNYA, tiap-tiap kejadian (kehidupan alam dan manusia) memiliki empat penyebab: 1) efficient cause, penyebab yg menjalankan kejadian, membuat/menjadikan sesuatu terjadi; 2) final cause, tujuan sesuatu/kejadian terjadi; 3) material cause, bahan yg digunakan untuk jadinya sesuatu/kejadian; dan 4) formal cause, bentuk yang menjadikan, menyusun bahan. Misalnya benda kursi kayu, sebab 1, yg buat kursi, sebab 2, untuk duduk, sebab 3, kayu, dan sebab 4, bentuk kursinya. Dua sebab pertama bersifat eksternal dan dua lagi sebabai penyebab internal..BERSAMBUNG.

40. (ARISTOTELES). Dlm kehidupan dewasa ini setiap kejadian cenderung dilihat dari dua penyebab yaitu efisien dan final, siapa yg buat dan apa serta untuk apa dibuat terutama untuk benda artifisial (dibuat manusia), namun Aristoteles memandang dua sebab lain, materi dan bentuk harus diposisikan juga sebagai penyebab (final dan bentuk cenderung paralel, bentuk kursi tentu tujuan umumnya untuk tempat duduk). Sementara itu untuk kejadian alamiah penyebab/sumber geraknya ada dalam dirinya sendiri (physisnya/kodratnya). Biji jadi pohon dan membesar terjadi karena kodratnya yg melekat dlm dirinya, termasuk bertahan dlm identitasnya sebagai pohon..BERSAMBUNG.

41. (ARISTOTELES).. Segala sesuatu bergerak menuju perwujudannya, sebagai tujuan, peristiwa/kejadian dia alam bukan kebetulan, namun merupakan perwujudan tujuan (telos), sesuai kodrat yg dimilikinya, ini menunjukan bahwa dunia memiliki tujuannya (telos. dari sini berlembang argumentasi teleologis/kosmologis untuk membuktikan adanya tuhan), dan setiap gerak memerlukan sebab yang menggerakan begitu sebelumnya dan seterusnya, sehingga gerak itu tak berawal juga baka,namun keterus menerusan yg tak terbatas adalah tidak rasional/mungkin, sehingga diperlukan penggerak utama  (Prime mover) yg tidak digerakan oleh yg lain (bisa disebut DEWA,TUHAN)…BERSAMBUNG.

42. (ARISTOTELES)… Argumen TELEOLOGIS menyatakan bawa alam/dunia mempunyai suatu tujuan, dan perkembangannya tergantung pada tujuan itu serta kejadiannya bukanlah kebetulan, setiap komponen di alam bekerja/berjalan secara harmonis. Berikut beberapa pernyataa ARISTOTELES:1) Alam tidak membuat sesuatupun secara sia sia saja dan berlebihan. 2) Alam bertindak seakan mengetahui konsekwensinya. 3) Alam bertindak sebagai tuan rumah yg baik, tidak membuang apa apa yg dapat digunakan lagi. Peristiwa2 yg selalu terjadi dg cara yg sama, harus mempnyai penyebab final, tak mungkin kebetulan…BERSAMBUNG.

43. (ATISTOTELES)… Tentang Jiwa. Dia berfaham dualistik (Plato) ttg manusia yakni badan fisik dan  jiwa, juga memandang adanya pra-eksistensi jiwa dan kekekalannya. Dlm perkembangannya Dia berpendapat badan dan jiwa merupakan satu substansi, materi (badan,potensi), bentuk (jiwa,aktus), Jiwa merupakan aktus pertama yg membuat badan hidup, bisa menimbulkan aktus kedua. Tertawa adalah aktus kedua, manusia disebut manusia bukan karena tertawa tp karena jiwanya.  Materi dan bentuk  tak bisa berpisah, musnah materi musnah juga bentuk, Implikasinya adalah klw manusia mati maka jiwanya juga musnah…BERSAMBUNG.

44. (ARISTOTELES). Terdapat tiga tingkatan/jenis jiwa yg berurutan tingkat kesempurnaannya. Pertama yg paling tinggi, jiwa manusia yg bertumbuh, berperasaan, berkeinginan dan berakal, yaitu jiwa, kedua jiwa hewan yg bertumbuh, berperasaan dan berkeinginan, dan tiga jiwa tumbuhan yg hanya melaksanakan pertumbuhan. Dari penjenisan tersebut, esensi yg membedakan manusia dg yg lainnya adalah berakal. Tumbuh samama dg tumbuhan, berkeinginan dan berperasaan sama dengan hewan, berakal-lah, berfikir-lah yg membedakannya sekaligus menempatkan manusia pd posisi puncak, unggul dlm kepemilikan jiwa…BERSAMBUNG.

45. (ARISTOTELES)…Tentang berfikir. Kepemilikan akal menjadikan manusia mampu berfikir rasional. Aktivitas rasio tidak terbatas pd aspek tertentu saja seperti pengenalan indra (mis. Mata hanya melihat, telinga mendengar, tak bisa ditukar). Aristoteles menyebut rasio sebagai segala sesuatu (rasio dpt mengenal segala sesuatu secara intelektual). Dg rasio manusia bisa berpengetahuan melalui dua cara yaitu 1) induksi, bertitik tolak dari kasus2 khusus tuk peroleh pengetahuan yg umum, 2) deduksi, bertitik tolak dari dua kebenaran yg tak diragukan tuk dapat kesimpulan ketiga. Deduksi adalah jalan sempurna menuju pengetahuan baru (sylogisme)..BERSAMBUNG.

46. (ARISTOTELES)…induksi dapat mencapai keumuman melalui abstraksi, dan keumuman itu merupakan pengertian yg benar tentang sesuatu, dari sini dapat diperoleh pengertian baru dg jalan pembandingan, analogi, untuk itu diperlukan cara berfikir benar.Aristoteles mengemukakan cara berfikir benar dengan sylogisme (logika berfikir). Sylogisme merupakan argumentasi yg terdiri dari tiga proposisi (premis mayor/deduksi, premis minor/induksi,dan kesimpulan/verifikasi). 1) semua manusia akan mati (mayor); 2) presiden adalah seorang manusia (minor); 3) presiden akan mati (kesimpulan). Belakang ini merupakan kajian logika (tak terdapat pd Aristoteles), yg ada Analitika dan Dialektika..BERSAMBUNG.

47. (ARISTOTELES). Analitika merupakan penyelidikan, kajian ttg argumentasi2 yg bertitik tolak dari putusan/pernyataan yg benar, sedang Dialektika, penyelidikan, kajian argumentasi2 yg bertitik tolak dari hipotesa (putusan, pernyataan yg tidak/blm pasti kebenarannya). Istilah logika pertama ditemukan pd Cicero (100 SM) dg makna seni berdebat. Pengguna istilah logika dg makna seperti sekarang adalah Alexandder Aphrordias (awal abad 3 Masehi), namun analitika dan dialektika dipandang sebagai pembentuk Logika. Keduanya merupakan dua cabang dari ilmu yg sekarang disebut Logika (Bertens)…BERSAMBUNG.

48. (ARISTOTELES). Logika bukanlah suatu ilmu dan tak termasuk dlm kelompok ilmu, namun alat untuk persiapan berfikir ilmiah, jadi mendahului ilmu. Menurut DIAI ilmu dibagi 3 kelompok yaitu 1)  ilmu praktis meliputi etika (praktek prilaku individu) dan politika (prakrek prilaku dlm hidup bernegara),  2) ilmu produktif mencakup ketrampilan tuk menghasilkan suatu karya, dan 3) ilmu teoritis, mencakup fisika, matematika, dan metafisika (filsafat pertama). Malnanya, sebelum memantapkan kajian dlm bidang ilmu, perlu pemahaman logika dulu agar berfikirnya lurus dg konstruksi kausalitas yg mantap..BERSAMBUNG.

49. (ARISTOTELES). Tentang Etika. Terdapat tiga karya yg menjelaskan Etika ethica eudemia, magna moralia, dan ethica nichomachea yg ditulis belakangan,   lebih matang dlm pemikirannya. Sejalan dg Socrates dan Plato, etika diawali dg menjawab tujuan hidup manusia dan eudaimonia merupakan tujuan tertinggi dlm dirinya bukan tujuan antara. Hidup yg sesuai dg kodrat manusia adalah hidup yg bermakna, hidup yg baik (euzen) bukan sekedar bertahan hidup (zen). Uang, mis. dicari bukan demi uang itu sendiri tp tuk tujuan lainnya, gak bisa jadi tujuan hidup yg bikin HIDUP bernilai, bermakna, meski penting.. (BERSAMBUNG).

50. (ARISTOTELES). Bagi Aristoteles hidup yg baik harus dilihat dari realitas manusia sendiri, bukan dlm kontemplasi, penyatuan dg ide yg baik seperti pendapat Plato, sebab itu sama sekali tak membantu seorang tukang tuk tahu bagaimana bekerja dg baik. Karena itu, Etika perlu mengkaji bagaimana kehidupan individual manusia harus diwujudkan dlm keseharian yg baik, hidup yg dpt mewujudkan tujuannya yakni kebahagiaan (Eudaimonia) sebagai tujuan akhirnya, karna kebahagiaan itu baik pd dirinya sendiri. Masalahnya “cara hidup bagaimana yg buat manusia bahagia”??..(BERSAMBUNG).

51. (ARISTOTELES). Terdapat tiga pola hidup yg memuat kepuasandalam dirinya: 1) mencari nikmat/kesenangan, 2) politik, dan 3) kontemplatif. ARISTO menolak yg pertama karna mencari nikmat bukan khas manusia, hewan juga gitu, dan manusia bukan hewan jadi tak mungkin membahagiakan, namun perasaan nikmat tetap penting tuk nyempurnain kegiatan manusia sbgai penyerta pelaksanaan dorongan dan tindakan, sedang kebahagiaan mesti diperoleh melalui tindakan. Hidup yg baik, bermutu adalah hidup yg aktif tuk mengembangkan diri dalam kekhasan manusia sebagai makhluk yg berjiwa dan  berakal budi/rasional, dan itu dpt terlaksana dlm dua pola hidup lainnya…BERSAMBUNG.

52. (ARISTOTELES). Kegiatan yg melibatkan jiwa dan akal budi/rasio terlaksana melalui PRAXIS (Politik) dan THEORIA (Kontemplasi, Filosofis). Praxis merupakan kehidupan etis yg terwujud melalui partisipasi dg merealisasikan bagian jiwa dan rasio dalam kehidupan sosial masyarakat, Theoria merupakan kegiatan filosuf dlm kehidupan merenung, berfikir yg merupakan tindakan akal budi tuk mengangkat jiwa manusia pada realitas tetap, tak berubah, yg abadi (Tuhan, Penggerak utama yg tak bergerak) sebagai sumber dari seluruh gerak, perubahan dan kejadian yg ada di dunia dan kehidupannya….BERSAMBUNG.

53. (ARISTOTELES). Tuk bahagia, Manusia harus  bertindak, berfikir menurut keutamaan (arete) disertai rasa senang, keutamaan itu ada dua macam: 1) intelektual, 2) moral. Keutamaan intelektual, bila rasio digunakan tuk memahami kebenaran(teiritis) dan menjadikannya pedoman keputusan, prilaku yg dilaksanakan dlm hidup bermasyarakat (praktis). Disini manusia bertindak bijaksana secara teoritis (shopia) dan juga bijaksana secara praktis (phronesis) yg terkait dengan keutamaan moral, kemampuan bersikap pertengahan diantara dua ekstrim sikap/prilaku (antara berkelebihan dan berkekurangan)..BERSAMBUNG.

54. (ARISTOTELES). Dlm Nichomachean Ethics, Dia mengemukakan beberapa contoh sikap/prilaku tengah diantara dua ekstrim: Gegabah/nekad-Keberanian-Pengecut; Boros-Dermawan-Kikir; Kesenangan-Pengendalian diri-Kesusahan; Kesombongan-Kebesaran jiwa-Kerdil; cepat marah-Kelembutan (marah tepat)-Apatis. Menentukan jalan tengah tidaklah mudah karena tergantung pd situasi dan kepekaan moral, misal: Semua orang bisa marah, siapapun bisa menghabiskan uang, namun melakukannya pd orang yg tepat, pd derajat yg tepat, untuk alasan tepat dan dengan cara tepat tidaklah mudah tuk dilakukan…BERSAMBUNG.

55. (ARISTOTELES). Kesulitan itu menyebabkan sikap/prilaku tengah dlm semua bidang merupakan hal yg patut dipuji. Meski, kadang perlu berkecenderungan kelebihan, kadang kekurangan, dg cara ini, paling/lebih mudah mencapai jalan tengah. Penilaian pd sikap, prilaku harus didasarkan unsur kesengajaan, jika baik sengaja pujilah, jika buruk sengaja celalah, namun jika tak sengaja tentu tak layak untuk itu, bahkan jika prilaku buruk tak sengaja, layak dimaafkan bahkan perlu dibantu dan dikasihan. Kesengajaan dan ke tak sengajaan sikap prilaku menjadi dasar penting dalam melihat dan memperlakukan keutamaan, kebaikan…BERSAMBUNG.

56. (ARISTOTELES). Dia membahas berbagai keutamaan dg keluasan yg berbeda beda, tentang: Keberanian, Kemurahan hati, Pengendalian diri, Kebesaran hati, Berfikiran tinggi, Kesabaran, Lemah lembut, Keramahan, Kejujuran, Keadilan, Persahabatan. Dari sepuluh buku dlm Nichomachean Ethics, dua buku (8 dan 9) membahas tentang keutamaan Persahabatan. Untuk itu dlm beberapa paragraf ke depan akan dikemukakan tentang keutamaan Persahabatan/Pertemanan, diamping karena luasnya pembahsan ARISTO, juga karena Dia juga berpendapat bahwa manusia itu zoon politicon, alias homo socius, dan persahabatan merupakan manifestasinya yg penting dlm kehidupan mastarakat…BERSAMBUNG.

57. (ARISTOTELES). Persahabatan merupakan jenis keutamaan, kebajikan, atau menyangkut kebajikan. Tak ada orang memilih hidup tanpa teman, meski orang itu punya hal hal lain. ARISTO mengatakan “jika orang bersahabat, mereka tidak membutuhkan keadilan, tetapi jika mereka adil, mereka membutuhkan persahabatan sebagai tambahannya. Kenyataannya, adil dalam arti sesungguhnya dianggap sebagai membentuk suatu elmen persahabatan. Persahabatan itu mulia dan penting. Kita memuji mereka yg mencintai sahabat sahabatnya dan menganggap mempunyai sahabat banyak adalah hal yg mulia. Dan lebih jauh, kita mempercayai bahwa sahabat kita adalah orang yg baik”..BERSAMBUNG.

58. (ARISTOTELES).keutamamaan, kesetaraan, kebaikan, kehendak akan kebaikan, kepercayaan, tanpa pamrih dan sosiabilitas (kecerdasan sosial) merupakan faktor-faktor yg kondusif bagi persahabatan sejati, akan bertahan lama. ARISTO, mengemukakan tiga macam Persahabat (berdasar  pendorongnya): 1)kegunaan; 2) kesenangan; dan 3) kebajikan. Persahabatan berdasarkan kegunaan laksana berdagang, bersahabat karena masing masing  berguna bagi yg lainnya, bersahabat tuk dapat manfaat dari yg lainnya, selama bisa terpenuhi, persahabatan bertahan, mereka bertukar sesuatu hal untuk lainnya, misalnya kesenangan atau material. Persahabatan jenis ini adalah rendah dan tak (akan) bertahan lama, jika  tak bermanfaat/berguna, persahabatan berakhir…BERSAMBUNG..

59. (ARISTOTELES). Persahabatan berdasarkan kesenangan terjadi bila satu dan lainnya salingmenggembirakan, persahabatan ini mengandung persamaan, lebih dekat dg persahabatan sesungguhnya jika kedua orang tsb mempunyai hal yg sama untuk diberikan dan menemukan kegembiraan satu sama lain atau pd obyek yg sama (persahabatan anak muda umumnya dari jenis ini). Orang tidak jadi sahabat jika tidak menemukan kegembiraan. Dlm persahabatan ini telah menunjukan kehendak baik terdadap lainnya, karena seorang mungkin menginginkan kesenangan bagi yg lain dan siap tuk dapat keperluannya. Namun teman yg menyenangkan bertahan selama mereka saling memberi kesenangan,dan itu bukan persahabatan yg sesungguhnya..BERSAMBUNG.

60. (ARISTOTELES). Persahabatan berdasarkan kebaikan mengindikasikan seseorang dan lainnya adalah orang baik (berkehendak pd kebaikan). Orang baik akan menjadi teman atas dasar apa adanya seseorang, orang buruk bersahabat atas dasar kegunaan dan kesenangan, karna inilah batas mereka menyukai satu sama lain. Persahabatan berdasar kebaikan/kebajikan di dalamnya mencakup persahabatan yg memiliki kegunaan dan menyenangkan, lebih mencakup serta menunjukan kesetaraan karena diantara sahabat melihat satu sama lain sebagai apa adanya yg menjadikan persahabatan sebagai cara berbuat kebajikan dan saling menjaga untuk kebaikan bersama. Persahabatan berdasarkan kebajikan lebih tahan terhadap fitnah, sehingga bertahan lama, bahkan sampai maut memisahkannya …BERSAMBUNG.

61. (ARISTOTELES). Untuk bersahabat berdasar kebajikan dg banyak orang, adalah tak mungkin (sangat sulit), sama halnya dengan jatuh cinta pd banyak orang secara bersamaan. Tak mudah dapat banyak orang menyenangkan, juga  banyak orang baik pd waktu yg sama, karna seseorang perlu pengalaman dan mengenalnya. Namun adalah mungkin untuk menyenangkan banyak orang atas dasar kegunaan dan kesenangan, karna caranya tak perlu waktu lama tuk dikenali. Pertemanan yg baik berdasar kebajikan adalah persahabatan sesungguhnya tanpa syarat, sementara persahabatan jenis lainnya hanya kebetulan karna alasan kegunaan dan kesenangan yg sama belaka…BERSAMBUNG.

62. (ARISTOTELES). Kebaikan, adalah dasar, naungan persahabatan sesungguhnya, di dalamnya kasih sayang ditunjukan satu sama lain, mendorong teman makin baik dan membantunya untuk kembali dan tetap baik ketika sahabat mengalami kekeliruan fikir dan tindak dalam hidupnya, ini tentu sulit tanpa penguatan kasih sayang di dalamnya, namun keutamaannya adalah dalam memberi kasih sayang bukan dalam menerimanya, jika orang hanya berharap nerima kasih sayang dari sahabatnya, itu menimbulkan ketakseimbangan, kasih sayang dlm persahabatan adalah dalam memberi bukan menerima, kebajikan mesti ditunjukan dlm (tindak) menyayangi bukan sikap pasif menungu (disayangi)…BERSAMBUNG..

63. (ARISTOTELES). Dalam kehidupan sosial, kesetaraan persahabatan, keseimbangan kasih sayang bisa terwujud beragam. Dari sudut masing2 orang berbeda, namun persahabatan berdasar kebaikan tetap terjadi dan bisa berkembang jadi persahabatan sesungguhnya. Misal persahabatan yg tua dg yg muda, persahabatan penguasa dg yg dikuasai dsb, merupakan persahabatan yg berbeda. Dlm persahabatan model ini, kebajikan, keutamaan dan peran masing2 berbeda dan alasan kasih sayangnya pun berbeda, sehingga persahabatan dan kasih sayang yg mereka rasakan juga berbeda, setiap pihak tidak menerima hal yg sama satu sama lain dan tak harus mencari tuk menerimanya…BERSAMBUNG..

64. (ARISTOTELES). “Dalam semua persahabatan yg melibatkan kelebihan salah satunya, kasih sayang tetap harus proporsional (bukan sama/setara). Pasangan yg lebih baik dan lebih bermanfaat harus menerma kasih sayang lebih banyak dari yg diberikannya, demikian juga bagi pasangan yg lebih dlm setiap halnya, sebab jika kasih sayang proporsional untuk kebaikan pasangannya, dalam arti tertentu ada keseimbangan diantara mereka, dan kesetaraan merupakan bagian dari persahabatan”. Mereka yg tak setara dlm persahabatan harus memuat balasan yg proporsional pada yg lebih tinggi atau yg lebih rendah, sedangkan persahabatan yg setara harus menghormati prinsip kesetaraan dg memberi kasih sayang yg seimbang satu sama lain…BERSAMBUNG

65. (ARISTOTELES). Keluhan atau balasan hanya terjadi terutama pada persahabatan berdasarkan kegunaan, karena itu yg diharapkan. Pada pertemanan berdasar kebajikan atau keutamaan, mereka sangat ingin berbuat baik satu sama lain, karna itulah tanda keutamaan dan tanda persahabatan, dlm kondisi ini keluhan dan pertengkaran tidak terjadi, karna tak seorangpun dibuat marah terhadap orang atas pemberian dan kasih sayangnya. Sebaliknya orang berbudaya membalas dg berbuat baik kembali. Jika orang memberi lebih dari yg diterimanya, ia tak kan dapat keluhan sahabatnya, karna masing2 ingin memberi apa yg baik bg sahabatnya…BERSAMBUNG.

66. (ARISTOTELES). Orang yg mempunyai kekuasaan (pejabat) tampak (cenderung) menjaga berbagai sahabatnya dalam bagian bagian yg berbeda, satu kelompok teman berguna dan yg lainnya teman menyenangkan, karena jarang ada orang yg sama masuk dalam keduanya. Jika tujuannya bersahabat yg menyenanangkan, maka orang yg dapat menyenangkan dan mempunyai kesenangan yg sama yg dicarinya, sedang jika tujuannya kegunaan, kemanfaatan, maka orang yg mampu dalam menyelesaikan perintahnya, dan kualitas seperti itu jarang ada pada orang yg sama. Hal itu akan lebih sulit bila ingin bersahabat berdasar kebaikan, karena orang demikian tidak menjadi teman seorang yg tempatnya lebih tinggi bagi dirinya dlm hal kebajikan..BERSAMBUNG.

67. (ARISTOTELES). Persahabatan terjadi juga pd orang yg saling mencintai. Dlm persahabatan macam ini, pecinta kadang mengeluh bahwa kasih sayangnya yg terdalam tidak dibalas. Situasi demikian muncul jika kasih sayang pasangan untuk yg dicintai termotivasi oleh kesenangan. Sementara itu kasih sayang bagi yg mencintainya domotivasi oleh kegunaan, dan keduanya tidak memiliki kualitas dari yg diharapkkan didapatkan oleh yg lainnya.Jika ini jadi dasar percintaannya, maka perpecahan terjadi begitu mereka tidak memperoleh tujuan dari kasih sayangnya, karena masing2 mencintai bukan karena apa adanya tapi atas apa yg diberikan, dan itu bukanlah sesuatu yg dapat bertahan lama, kecuali berdasarkan sifat yg diimbangi dg bersahabat demi persahabatan itu sendiri (kebajikan)..BERSAMBUNG.

68. (ARISTOTELES). Dalam kehidupan keluarga persahabatan dengan kasih sayang/cinta menjadi bagian dalam interaksi di dalamnya. Persahabatan antara suami istri adalah melekat dlm diri kita, lelaki/wanita secara alamiah cenderung hidup berpasangan ketimbang hidup sebagai mahluk sosial atau politis,karena rumah tangga ada lebih dulu, dan lebih tak dapat dihindari dibanding negara, penciptaan keturunan adalah ikatan yg lebih universal pd semua mahluk hidup dibanding hidup dlm negara. Manusia hidup bersama/berkeluarga tidak hanya tuk keturunan, juga tuk menyelamatkan hidup manusia. Mereka saling memuaskan kebutuhan satu sama lain, sehingga persahabatan model ini dpt membawa kegunaan dan kesenangan…BERSAMBUNG.

69. (ARISTOTELES). Persahabatan orang tua dg anak memiliki perspektif cinta, kasih sayang yg berbeda. Orang tua (cenderung) mencintai anaknya sebagai sesuatu yg menjadi miliknya karena tahu bahwa asal usul keturunan mereka, sedang anak kemudian tahu mereka adalah keturunannya, dan ikatan ini sangatlah kuat. Orang tua mencintai anaknya begitu mereka lahir, dan anak mencintai, menyayangi orang tua setelah berjalannya waktu dan dapat pengertian tentangnya. Persahabatan anak dg orang tuanya adalah persahabatan pd apa yg baik dan unggul. Orang tua penyumbang besar pd yg dipuyai anak, karena bertanggung jawab atas kelangsungan hidup dan pendidikannya, sehingga persahabatan ini punya derajat tinggi ketimbang persahabatan dg yg lainnya…BERSAMBUNG.

70. (ARISTOTELES). Bagaimana Persahabatan bisa putus?. Ini tentunya jarang terbayangkan bila keakraban sedang berjalan, namun itu hal yg bisa, sering terjadi jika sahabat kita tidak seperti dulu lagi atau tidak berperan secara proporsional lagi. Tidak ada yg aneh putusnya persahabatan jika atas dasar kesenangan dan kegunaan, dan kasih sayang akan luntur seiring berkurangnya, atau hilangnya kualitas tersebut. Jika berteman dg anggapan baik dan kemudian menjadi jahat, padahal kejahatan bukan objek kasih sayang, apakah persahabatan harus segera diputuskan? Tentu tidak dlm setiap kasus, hanya dlm kasus dimana kejahatannya tak bisa diperbaiki lagi, itu dilakukan…BERSAMBUNG.

71. (ARISTOTELES). Meski putusnya persahabatan bukan hal aneh jika sahabatnya berlaku buruk, namun jika ada kesempatan untuk memperbaiki atau membantu perubahan kepada kebaikan awal atau melebihinya, maka itu layak dan harus dilakukan tanpa mengeluh dan putus asa, karena dia adalah sahabat kita, inilah sahabat yg persahabatannya berdasarkan kebajikan, teman yg jatuh pada kesalahan/keburukan lebih patut dapat lebih kasih sayang, dan membantunya kembali merupukan wujudnya. Kasih sayang sahabat akan lebih menguatkan untuk upaya perbaikan diri, sehingga persahabatan dapat tetap terjaga berdasar kebajikan serta apa adanya sebagai manusia yg bisa salah…BERSAMBUNG.

72. (ARISTOTELES). Keadaan sedih terpuruk, butuhkan sahabat tuk membantu, saat senang, gembira,  tetap butuh sahabat tuk membagi kebaikan. Kehadiran sahabat selalu menyenangkan baik dlm keadaan sedih ataupun senang, rasa sakit berkurang  jika sahabat mau berbagi kesedihan, namun tidak dg cara memamerkan kesedihan, disini kepekaan sahabat terhadap sahabatnya menjadi penting untuk terus dikuatkan bersama. Kebajikan dan kebijakan seorang sahabat dlm berkomunikasi merupakan sumber kenyamanan karena sahabat tahu apa yg menyebabkan sahabatnya sedih ataupun senang. Adalah menyakitkan melihat sahabat tersakiti dan dalam keadaan susah..BERSAMBUNG.

73. (ARISTOTELES). Untuk itu hindari  menganggap, bersikap bahwa sahabat yg sedang susah, tak berguna, tak menyenangkan, karena bagi sahabat berdasar kebaikan/kebajikan, berbuat baik pd sahabat jadi nilai pengikatnya serta selalu menghindari jadi penyebab penderitaan, kesusahan, kesedihan sahabatnya. Persahabatan merupakan sesuatu yg mulya, dan menunjukan empati, simpati serta berbagi kesenangan dan kesedihan merupakan penguatnya. Bersahabatlah dg manusia  apa adanya, saling menjaga dalam kebaikan, saling bantu menguatkan ketika kekhilafan, keburukan menimpa sahabat …BERSAMBUNG

74. (ARISTOTELES). Adalah sangat mudah difahami pentingnya persahabatan bagi seseorang yg dlm kesulitan, kekhilafan, kesedihan. Namun sahabat tetap perlu meski seseorang tidak dalam kondisi itu, bahkan pun jika sudah memiliki hal2 baik dlm kehidupannya. Jika nasib tersenyum, untuk apa sahabat, dan nampak aneh menentukan hal baik pd orang bahagia tanpa menambahkan sahabat kepadanya yg dianggap kebaikan eksternal.pada saat baik orang membutuhkan sahabat untuk berbuat baik padanya, dan pada saat tak baik perlu seseorang yg akan berbuat baik padanya. Tak ada seorangpun yg memilih tuk memiliki semua hal baik sendirian, karena manusia adalah makhluk sosial dan politik, yg secara alamiah hidup bersama orang lain..BERSAMBUNG.

75. (ARISTPTELES). Kebahagian tak kan sempurna tanpa sahabat, jika orang bahagia hidup dlm kesendirian, akan sulit, sebab tak mudah terus menerus aktif sendirian, kebersamaan tentu akan buat hidup lebih mudah selama persahabatan dlm dirinya menyenangkan dg kebajikan. Oleh karenanya bahwa untuk jadi bahagia, orang memerlukan sahabat sahabat yg baik, saling menjaga kebaikan dan secara bersama menuju pd kebaikan yg lebih tinggi..itulah PERSAHABATAN.. PERSAHABATAN YANG MEMBAHAGIAKAN….Selesai unruk ARISTOTELES, dilanjut dg Filosof lainnya dlm Wisata Akal ke-empat ….BERSAMBUNG.

| Meninggalkan komentar

BUKU BARU TERBIT APRIL 2016

image

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

ORIENTASI FILSAFAT BERBASIS TOKOH 1

SOCRATES DAN PLATO.

SOCRATES. Dia adalah filosof besar. Hidup di Athena Yunani antara tahun 470 sampai 399 SM. anak dari ayah seorang pemahat dan ibu seorang bidan. Dia pernah jadi tentara yg kuat dan berani. Integritasnya mengagumkan dan prilakunya yang tawadhu menjadikan dia sebagai inspirator kaum muda saat itu. filsafatnya fokus pada manusia  dalam memahami hidup dan kehidupan serta menjalaninya dengan logis, etis dan estetis dengan selalu mencari tahu dan kebenaran dengan cara dialog (critical dialectics).
Dialog (dialektika kritis) merupakan dialog dua atau lebih pendirian yang berbeda (bertentangan) menuju pertemuan antar ide, dengan cara ini SOCRATES bertindak seperti bidan yang menolong kelahiran bayi (hadiwoyono). Pendirian/ide tidak diterima begitu saja tapi dilakukan uji bukti dan SOCRATES serta yang diajak dialog tidak merasa dirinya yang paling benar karena perspektif memiliki variasi yg perlu dihormati
Dengan jalan dialog pemikiran terus meningkat dan ide ide akan makin terdalami teruraikan, oleh karena itu dalam perspektif ini metodenya sering juga disebut MAINEUTIKA/PENGURAIAN. Dengan metode seperti itu golongan SOFIS yang mencari kebenaran melalui RETORIKA menganggapnya sebagai perongrong namun kaum muda sangat menyukainya karena pencarian atau pemerolehan pengetahuan, kebenaran dilakukan secara egaliter dan bukan retoris yang lebih menekankan pembenaran bukan kebenaran.
Dia berjalan jalan untuk menemui berbagai kalangan dari para akhli dan masyarakat umum. Dia berdialog, bertanya tentang berbagai hal mengenai hidup dan kehidupan manusia secara spesifik kemudian jawabannya dikaji bersama sampai sering terbukti kekeliruan dan dari sini dialog terus dilakukan untuk mendapatkan kebenaran/pengetahuan yang benar secara umum. Karena inilah SOCRATES dipandang menerapkan berfikir INDUKTIF yg bergerak dari kasus khusus menuju ke kebenaran umum (Universal).
Dengan metode induksi dia mencari dan menggali tentang tujuan hidup dan tujuan hidup yang benar adalah EUDAIMONIA (kebahagiaan jiwa) dan itu bisa dicapi dengan ARETE (virtue, kebajikan, keutamaan), yang adalah pengetahuan yang benar yg menjadi dasar sikap dan tindak, sehingga muncul kebijakan (WISEDOM), untuk itu orang harus terus mencintai kebijakan (PHILOSOPHIA).”wisedom adalah sesuatu yang luhur dan hanya dimiliki Tuhan. Sebutan yang bersahaja adalah pecinta wisedom atau akhli filsafat” (Phaedrus, dalam H.C. Webb).
Dalam usia tua 70 TAHUN socrates harus menerima tuduhan  murtad pada Para dewa yunani dan telah menghasut para pemuda. Dan setelah disidangkan dia dihukum mati dengan jalan minum racun. Meslipun sahanatnya mengajak tuk melarilan diri namun dia tidak mau. Akhirnya dia meninggal setelah meminum racun dan ketika petugas pembawa racun dan menyerahkannya padanya  socrates menerima dan bertanya cara meminumnya..tidak menolak tidak berontak dan melakukannya dg sadar. Bukan karena menerima tuduhan yg telah ditolaknya dlm sidang tp leyakinan akan kebenaranlah yg ditunjukan dg berani meski harus mati karenanya..sungguh lematian yang estetis karena mempertahankan kebenaran logis dan leutamaan etis.
Dia mati secara fisik..ide pemikiran, serta model prilaku terus diabadikan para muridnya. PLATO adalah murid terbesar penerusnya dalam melanjutkan, memelihra, mengembangkan ajarannya. SOCRATES memang tidak menuliskan ide dan fikirannya karena alasan dia tak tahu apapun jadi apa yang dapat ditulis (kerendahan hati). PLATO lah yang utama mengenalkan ajaran SOCRATES, dan menulisnya dalam format dialog dg temannya yang berkunjung ke penjara menjelang hukuman matinya. Ini menjadi dasar dan latar tulisan PLATO tentang ajaran SOCRATES yang terlihat dari TETRALOGI nya PLATO  terdiri dari EUTHYPHRO, APOLOGY, CRITO, dan PHAEDO.
EUTHYPHRO menggambarkan kekhawatiran dalam menghadapi dengar pendapat awal atas tuntutan kemurtadannya serta konsekwensi untuk menemukan makna keshalehan hakiki. APOLOGY menggambarkan pembelaan di depan pengadilan serta ajuan hukuman yg mungkin setelah mendengar bahwa pengadilan sepakat menghukum mati. CRITO menggambarkan kehidupan di penjara ketika menanggapi teman temannya yg mengatur pelarian dari penjara. PHAEDO menggambarkan perbincangan di hari terakhir menjelang kematiannya tentang keabadian jiwa serta meyakinkan teman temannya akan nasibnya (Tredennick dan Tarrant, 2003).
Tetralogi Plato disusun dalam bentuk dialog kecuali Apology. Didalamnya berbicara tentang pengetahuan, kesalehan, keberanian, kebijakan kebajikan hidup dan kehidupan manusia. Namun semua itu sering dipandang bukan murni ajaran SOCRATES, karena polesan bisa terjadi mengingat Plato sendiri adalah seorang filosuf yg juga muridnya. Meskipun begitu dewasa ini Plato menjadi juru bicara hostoris yang diandalkan dalam memahami SOCRATES, dibanding tulisan murid-murid lainnya seperti Aristhopanes (penulis drama komedi), Xenophone (dipandang kurang bakat dalam Filsafat) yg menulis dialog kecil dlm Memorabilia. Aristhopanes menggambarkan SOCRATES sebagai seorang yang korup terhadap anak muda dan tidak mengakui dewa yang dipuja seluruh negeri/Yunani. Sementara Xenophone menggambarkan SOCRATES sebagai orang yg shaleh, mampu menjaga diri. Suatu penggambaran yg bertentangan dan patut difahami.
Kebohongan tuduhan.  yg coba digambarkan Aristbopanes mendapat dukungan massa dan nevara sampai akhirnya SOCRATES dihukum mati. Sementar penggambaran sebagai orang bijak (Xenophone, Plato) menjadi suara minor yg kalah/mengalah pada saat itu, namun sejarah menunjukan suara minor kalau kebenaran tetap jadi pemenang dan sekarang ini SOCRATES diposisika. Sebagai orang. Bijak filosuf yg mati demi mempertahankan kebenaran.
Kebebaran obyektif merupakan esensi ajarannya dalam melihat realitas hidup, kebenaran harus merupakan sesuatu yg benar dimanapun dan kapanpun.. Ini sebagai kritik dan koreksi atas dominasi pemikiran kaum sofis yg melihat kebenaran secara relatif tergantung kemampuan retorika yg disetujui masyarakat (umum), artinya yg benar disini tidak harus benar disana. Dengan metode dialektis SOCRATES berpandangan bahwa manusia harus mengutamakan kebahagiaan jiwa yg pencapaiannya melalui arete, dan ini berlaku dimana saja serta pada siapa saja, oleh karena itu pemerintah/penguasa harus tahu yg baik dan mengenalkan/mendidik masyarakat ttg yg baik dengan keutamaannya yaitu pengetahuan yg baik.
Untuk mengetahui yg baik dan menjalankan kebenaran perlu perjuangan, dan ujian akan dihadapinya, itulah hidup yg layak karena kehidupan dan hidup yg tak teruji tak layak dijalani (APOLOGIA, PLATO). Kebenaran pasti menang, kebenaran itu tak dapat kamu lawan. Yg bisa kamu lawan adalah SOCRATES (SYMPOSIUM, PLATO). Dia dihukum mati, dia mati, tapi kebenaran tetap berjalan terus menginspirasi dan menggerakan pemikiran dan kehidupan baru yg terus terbarukan.
KonsistensiNYA untuk berfikir benar dan bertindak baik sesuai kebenaran menjadi model existensial hidup dan kehidupanNYA. Berikut akandikemukakan kutipan panjang perkataan SOCRATES yang dituturkan Plato dalan PHAEDO: Tampaknya hanya ada satu jalan sempit yg bisa kita tempuh dg selamat untuk mencapai tujuan akhir perjalana kita, dengan akal sebagai penuntun. Selama kita masih mempunyai tubuh – ditambah kejahatan yg bisa merasuki jiwa kita, kita tak bakalan bisa sepenuhnya mencapai apa yg kita kehendaki, yakni kebenaran.
Tubuh selamanya menyia nyiakan waktu kita dg tuntutannya. Sampai kapanpun tubuh menghalangi upaya kita mengejar keberadaan kita yg sejati. Tubuh memenuhi kita dg nafsu, keinginan, ketakutan, dan segala macam hayalan dan kebodohan. Tubuh menghalangi kita berfikir lurus. Tubuh dibarengi mafsu-nafsunya telah menyebabkan percekcokan, perpecahan sosial, dan perang…karena mementingkan tubuh, kita tak punya waktu untuk berfilsafat.
Apabila kita mau memperoleh pengetahuan yg sejati, kita harus bebas dari tubuh, dan jiwa dapat melihat segala sesuatu apa adanya (pengetahuan sejati). Selama masih hidup, satu diantara dua hal ini pasti benar yaitu takkan peroleh pengetahuan sejati atau hanya bisa memperolehnya setelah mati karena jiwa berada pd dirinya sendiri. Namun ketika hidup kita bisa berada sedekat dekatnya dengan pengetahuan sejati jika tidak menyatukan diri dg tubuh melebihi keharusan.
Tibalah saatnya bagi kita tuk berpisah, aku akan menjalani kematian, kalian terus jalani hidup. Mana yg lebih baik adalah sesuatu yg tak diketahui siapapun, kecuali Tuhan (APOLOGI, Plato).Itulah SOCRATES..Yg hidup dalam ahir yg menyedihkan secara material fisikal, namun kebaikan pemikiran dan jiwanya mampu membungkusnya dengan indah dalam kerangka yg LOGIS, ETIS, ESTETIS..

PLATO…..salah seorang murid SOCRATES terpenting dalam melanjutkan dan mengembangkan pemikiran2 SOCRATES, Dia juga membangun pemikirannya sendiri sebagai filosuf. Lahir dari keluarga bagsawan Athena thn 427/428 SM dan meninggal thn 348 SM. HIdupnya cukup ironis pernah jadi penasehat raja, namun pernah juga dijual sebagai budak, tp dibebaskan temannya dan ketika mau mengganti uang pembebasannya temannya tak terima, kemudian uang itu digunakan untuk mendirikan Sekolah AKADEMIA, sebagai tempat mengasah fikiran para muridnya.
Dia menulis cukup banyak karya buku termasuk yg dalam bentuk surat-surat, 9 buku termasuk dalam kategori tetralogi 10 buku tentang Negara,namun ada 6 buku dianggap tidak otentik (kontroversial, diragukan dari PLATO). Meskipun demikian pemikiranNYA tetap dapat diketahui. Buku-bukuNYA banyak ditulis dalam bentuk dialog (percakapan, diskusi) dg menempatkan SOCRATES sebagai interlocutor (teman bercakap, teman diskusi) bijak sehingga mengalir ide pemikiran yg memberi keyakinan akan kebenarannya.
PandanganNYA: terdapat dua dunia pertama: dunia ide (eidos, bentuk), realitas objektif yg sesungguhnya, berdiri sendiri bebas dari subyek yg berfikir, tidak berubah, bersifat tunggal dan hanya bisa dikenali dg rasio. Kedua: dunia material/fisikal yang terus berubah, bersifat jamak dan pengenalannya melalui panca indra. Ini merupakan fikiran yg memadukan pendapat PERMENIDES, segala sesuatu bersifat tetap, dengan pendapat HERAKLEITOS, segala sesuatu terus berubah. Untuk dunia ide, PLATO menjelaskannya dengan analogi kisah Manusia dalam Goa.
Manusia ibarat tahanan  terkerangkeng dlm goa menghadap dinding, dibelakangnya ada nyala api, para budak berkegiatan ditengahnya. Para tawanan melihat bayangan yg dianganggap realitas, ketika ada yg lepas akan disadari bahwa itu bukan realitas terlebih setelah keluar gua melihat cahaya matahari. Ketika kembali ke goa dan cerita, tak ada yg percaya, tetap menganggap bayangan sebagai realitas. Nah dunia luar goa dg cahayanya merupakan realitas sebenarnya, ide yg benar, baik dan obyektif, hanya dpt dikenali rasio, bayangan hanya representasi tak sempurna dari realitas.
Masalah ide merupakan fondasi ajaran PLATO dg makna sesuatu realitas di luar fikiran dan bersifat obyektif (bukan gagasan yg ada dalam fikiran dan bersifat subyektif). Ide tidak diciptakan, tidak tergantung pd pemikiran kita, namun pemikiranlah yg tergantung pd ide. Berfikir, pemikiran adalah menaruh perhatian pada ide-ide. Segitiga dipapan tulis merupakan representasi ide segitiga obyektif dan bisa direpresentasikan juga oleh segitiga di kertas, di tembok dsb. Ide bagus bisa direpresentasikan dg kain bagus, mobil bagus dsb, itu terjadi karena ada realitas bagus yg obyektif. Dunia ide berhubungan dg dunia fisik/materi, namun ide tidak dipengaruhi olehnya. Terdapat tigacara hubungan antara keduanya: 1) ide hadir dalam benda konkrit, tp ide tak terkurangi olehnya, gambar segitiga bisa dihapus namun tak mengurangi ide segitig; 2) benda konkrit berpartisipasi dlm satu atau beberapa ide, orang jujur berpartisipasi dlm ide orang dan ide jujur; 3) ide sebagai model/ paradiegma bagi benda konkrit. Dan benda konkrit merupakan represen-tasi tak sempurna dari ide, hanya menyerupai model saja.
Terdapatnya dua dunia berimplikasi pada dua jenis pengenalan yg bisa diperoleh manusia yaitu: 1) Pengenalan ide-ide (yg bersifat jelas, tak berubah) melalui rasio (disebut episteme, pengetahuan), menghasilkan kepastian dan memungkinkan kebenaran mutlak; 2) Pengenalan benda-benda, fisik, materi (yg bersifat selalu berubah) melalui panca indra (disebut doxa, pendapat, opini), kebenaran relatif, tidak menghasilan kepastian.
Dunia ide dan dunia fisik tergambar dlm diri manusia (dualisme) dimana badan itu dunia fisik selalu berubah dan jiwa sebagai dunia ide yg telah mengenalinya sebelum bersatu dg badan. Badan adala belenggu jiwa dan untuk mengenali lagi dunia ide, manusia perlu melepaskan (mengurangi) ketergantungannya pada dunia fisik/materi/badan, sehingga dg fungsi rasionalnya, jiwa dpt mengarah pd dunia ide dan bersifat bijaksana yg mampu menjaga hidup manusia. Fungsi jiwa lainnya kehendak/keberanian, sifat kegagahan, serta fungsi ketiga yaitu keinginan/nafsu yg perlu pengendalian.
Melepaskan jiwa dari badan dicapai dg pengetahuan, fungsi rasional jiwa yg mengingat kembali ide-ide, ini perlu upaya keras sebab  kuatnya tarikan dunia fisik/badan/materi, hingga sulit naik ke dunia ide. Sedikit yg mampu menjalaninya dg kurangnya dukungan masyarakat akan pentingnya  pengetahuan kebenaran dan kebijakan. Ibaratnya delman dg kusirnya (fungsi rasional jiwa) yg ditarik oleh dua kuda yg satu kuda kebenaran yg ingin terbang ke dunia ide dan yg satu kuda napsu/kehendak yg ingin ke dan tetap dibawah, tarik menarik, dan nafsu yg menang sehinga dipenjarakanlah jiwa dalam badan.
Namun demikian keterpenjaraan jiwa dapat terus dringankan  dg pengenalan kembali pada dunia ide yg puncaknya adalah ide yg baik yg menyinari ide ide lainnya dlm hirarkinya. Dan kematian akan menjadi pembebas yg menghancurkan belenggu penjara (terbebas dari hidup di dalam goa), dimana jiwa akan tetap abadi dengan dunia ide yg telah dikenalnya pd pra hidup (pra exostensi) manusia. Dari sini PLATO percaya akan adanya hidup dan kehidupan sesudah mati dg jiwa yg kembali pd dunia ide dimana ide yg baik (Tuhan) sebagai realitas yg sebenarnya, tetap tidak berubah dan abadi.
Itu bermakna bahwa hidup manusia yg baik adalah hidup yang dikendalikan jiwa yg baik dg akal sebagai penjaga dan penuntun untuk mengenal ide-ide menuju ide yg baik yg menyinari seluruh ide-ide dlm dunia ide yg kekal. Orang baik dikuasai akal budi, mampu menguasai diri sendiri dalam kesatuan. Orang yg dikuasai keinginan dan nafsu akan terombang ambing oleh kekuasaan diluar diri, tidak teratur, kacau, karena menjadi obyek dorongan irasional diluar diri (Taylor, 1989). Hidup yg baik didasarkan  perhatian pd realitas yg sebenarnya, berhijrah dari yg badani ke jiwani, dari indrawi ke ruhani, dan dari materi ke ide yg abadi.
Bila hidup manusia terarah pada alam ide, manusia akan ikut dalam keterarahan alam ide, dan alam ide itu sendiri akan terarah pada ide tertinggi yaitu IDE YANG BAIK sebagai dasar segalanya. Segalanya menuju padanya dan tertarik olehnya (Suseno, F.M). Manusia yg baik yg mampu mencapai puncak eksistensinya adalah manusia yg terarah pada ide yang baik (Tuhan). Untuk sampai kesana CINTA menjadi kekuatan, karena YANG BAIK adalah yg paling dicintai dan dirindu oleh dunia ide, dan dalam kesanggupan memandang yang BAIK maka CINTA dan KEBAIKAN menyatu.
Tujuan hidup manusia  adalah kebahagiaan (eudaimonia) yakni hidup dengan mengenal dunia ide dan mengarah pada  yg baik, namun itu harus terjadi dalam polis/masarakat/negara bukan secara asketis. Oleh karena itu DIA juga mengemukakan fikirannya tentang negara. Manusia-manusia yg baik akan menjadikan Negara  baik, untuk itu setiap kelompok harus mengisi posisinya dlm negara sesuai dg ciri kemampuannya. Negara ideal terdiri dari tiga golongan yaitu Filosuf yg ngurus negara, Prajurit yg membantu negara, dan petani/tukang/Pegawai sbg penyokong negara.
Negara/Pemerintah yg baik dihuni oleh orang-orang yg baik. Negara harus memperhatikan, mengutamakan keselamat warganya bukan orang2 yg memerintah. Orang yg memerintah harus mempersembahkan hidupnya bagi pemerintahan dg mengorbankan kepentingan diri sendiri. Negara perlu mendidik warganya dengan baik ke arah yg baik dan bukan semata soal akal, tapi harus memberi bimbingan kepada perasaan2 yg dapat mengarahkan diri pada akal, mampu mengendalikan nafsu. Negara harus baik, mendidik warganya menjadi baik dan warga yg baik inilah yg dpt menjadikan Negara baik.
Dalam hal pelaksanaan pendidikan, PLATO berpendapat bahwa pendidikab  anak 10 tahun ke atas menjadi kewajiban/urusan Negara, pd masa ini olah raga dan musik menjadi materi utamanya ditambah membaca menulis dan berhitung, untuk membuat badan dan fikiran sehat, dan menumbuhkan keberanian untuk mampu menjadi penjaga negara. Usia 14-16 diajarkan musik, puisi/bersajak, dan mengarang, untuk menanamkan kehalusan perasaan, budi yg halus, harmoni dan irama, dan ini penting untuk menghidupkan rasa keadilan.
Usia 16-18 diberi pelajaran Matematika untuk mendidik, melatih cara berfikir, agama dan etika sopan santun untuk menumbuhkan persatuan. Pada usia 18-20 tahun mendapat didikan militer, kemudian seleksi 1 untuk dpt pendididikan keilmuan lebih mendalam. Setelah 10 tahun seleksi 2, yg gagal jadi pegawai negara, yg lulus meneruskan 5 th belajar tentang wujud, ide, dan dialektika, setelah lulus dpt menjabat lebih tinggi, sesudah 15 th bekerja (50 th) dpt diterima masuk dlm lingkungan pemerintahan atau filosuf, karena dipandang mampu menyelenggarakan pemerintahan yg adil dg dasar ide yg Baik.
Semua pemikiran Plato terdapat dalam bentuk tulisan, meskipun ada juga yg secara lisan disampaikan dlm kuliahnya di AKADEMIA, Sekolah/PT/Universiras yg didirikannya dg biaya pembebasan Budak (PLATO pd saat itu). ini berarti Universitas/PT pertama berdiri sebagai efek perbudakan. PLATO mengajar selama 40 th sejak usianya 40 th dan meninggal di usia 80 th, setengah kehidupannya diabdikan untuk mengajar murid-murid, mengembangkan fikirannya dan ide yg baik sebagai realitas mutlak (TUHAN) menjadi dasar pemikirannya dlm berbagai aspek kehidupan manusia baik individu yg baik,masyarakat yg baik maupun politik dan negara yg baik.
Setelah PLATO meninggal, AKADEMIA terus berjalan berganti ganti pemimpin selama hampir 800 tahun, baru pada 529 M kaisar Yustinianus menutup seluruh sekolah filsafat di Athena termasuk AKADEMIA. Dari Sekolah ini lahir Filosuf-filosuf besar, dan Aristoteles yg belajar dg Plato selama 20 tahun merupakan muridnya yg dipandang terbesar sebagai filosuf dengan pengaruh kuat pada perkembangan berfikir dan filsafat kemudian.

| Meninggalkan komentar

Tentang Sekolah

SEKOLAH, PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT

| Meninggalkan komentar

Pendidikan Karakter

PENDIDIKAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER

Pendahuluan

Pendidikan selalu diberi bobot nilai-nilai normatif, demikian juga dalam Undang-undang Sisdiknas dimana Pendidikan diberi makna yang syarat dengan nilai-nilai luhur yang harus terjadi dan menjadi bagian dari interaksi pendidikan. Namun apakah itu tercermin dalam praktek pendidikan ?, inilah masalahnya, selalu terdapat kesenjangan yang makin lama makin lebar antara apa yang diharapkan bangsa Indonesia dari Pendidikan dengan apa yang dilakukan dalam tataran praktis pendidikan/pembelajaran. Kondisi ini sudah tentu menuntut suatu penataan manajemen pendidikan baik dalam tataran makro, messo maupun mikro pendidikan sehingga kemenyeluruhan dan keterpaduan proses pendidikan/pembelajaran dapat terwujud.

Pendidikan harus mendorong terwujudnya manusia yang dewasa secara personal/emosional, moral, sosial, dan intelektual, sehingga terwujud manusia, menurut UUD 1945 maupun UU Sisdiknas 2003, yang meningkat keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia sebagai dasar untuk menjadikan mereka cerdas, serta secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara . Ini bermakna bahwa pendidikan di Indonesia syarat dengan nilai-nilai yang harus menjadi bagian di dalam prosesnya, sehingga istilah Pendidikan Karakter nampaknya hanya memperkuat fokus pada pendidikan yang memang sudah memasukan unsur nilai-nilai (karakter), sehingga pendidikan Karakter itu ya Pendidikan, dan Pendidikan itu ya Pendidikan Karakter.

Pentingnya fokus tersebut nampaknya tumbuh dari suatu kesadaran akan makna hakiki pendidikan, ketika aspek pragmatis kecerdasan intelektual kognitif menjadi konsern utama (seperti pengukuran melalui UN), maka banyak hal yang dikorbankan, dan pengorbanan itu justru lebih tinggi nilainya dari sekedar kecerdasan (seperti kejujuran, keadilan, kemandirian, percaya diri). Ketika praktek pendidikan di Sekolah bersibuk diri dengan upaya peningkatan kemampuan siswa untuk lulus Ujian Nasional, sebenarnya tidak ada yang salah dengan upaya tersebut selama sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan dan pembelajaran, namun ketika ada upaya lain yang memaksakan pencapaian target tertentu diluar kaidah pendidikan, seperti pengkondisian dan distribusi info, maka sebenarnya pendidikan kita telah memasuki jalan yang sesat dan menyesatkan, bukan jalan yang lurus sesuai amanat UUD seta UU Sisdiknas. Dalam kondisi yang demikian serta terjadinya kemunduran dalam moral dan karakter bangsa, maka fokus pada pendidikan karakter (pendidikan) menjadi amat penting, urgen dan bermakna bagi pembangunan bangsa yang berkarakter.

  1. Manajemen Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter secara sederhana dapat dimaknai sebagai pendidikan yang menjadikan karakter sebagai bagian yang mewarnai proses pendidikan. Karakter itu sendiri adalah nilai-nilai yang melandasi perilaku manusia berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum/konstitusi, adat istiadat, dan estetika (Kemendiknas, 2010). Pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil, dengan demikian Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai perilaku (karakter) kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil (Kemendiknas, 2010).

Selama manusia hidup, pendidikan (pendidikan karakter) akan dialami dan dirasakan dimanapun berada, apakah itu di jalur informal, nonformal maupun formal, baik itu sebagai kejadian ataupun proses yang terencana. Namun kontrol pemerintah yang sistematis terhadap pendidikan formal cenderung penekanan pendidikan (terencana) difokuskan kapada pendidikan formal termasuk dalam kaitannya dengan pendidikan karakter yang didorong untuk menjadi gerakan nasional baik dalam tataran kebijakan maupun dalam level mikro pendidikan (kelembagaan Pendidikan formal) dengan berbagai tingkatannya dari mulai tingkatan institusi, manajerial maupun operasional (pembelajaran di Kelas). Kondisi ini menuntut kelembagaan pendidikan formal mengintegrasikannya secara sistemik dalam penyelenggaran pendidikan di sekolah.

Dalam pendekatan pendidikan sebagai suatu industri, input diproses kemudian menghasilkan output dalam arti lulusan (IPO), maka lulusan yang berkarakter menjadi konsern utama, dan itu hanya mungkin terwujud bila proses/pelayanan pendidikan mengintegrasikan nilai-nilai sebagai bagian utama di dalamnya. Dalam proses pendidikan seluruh tingkatan manajemen harus mengacu pada upaya menginternalisasikan nilai-nilai, baik untuk tingkatan institusional yang terkait dengan hubungan eksternal sekolah, tingkatan manajerial terkait dengan pengelolaan seluruh sumber daya internal sekolah, maupun tingkatan operasional/teknikal yang terkait dengan proses pembelajaran. Namun demikian untuk tataran operasional manajemen pendidikan dalam hal ini pembelajaran di kelas, maka fokus utama untuk menginternalisasikan nilai-nilai menjadi hal yang amat penting dan urgen mengingat siswa itulah yang menjadi indikator utama keberhasilan pendidikan karakter.

Dalam perspektif demikian, proses utama pendidikan yaitu pembelajaran di kelas menjadi kondisi yang amat menentukan dan harus dapat menginternalisasikan nilai-nilai secara efektif di dalamnya, sehingga tidak cukup hanya menginformasikan nilai-nilai yang ingin ditanamkan tapi juga mengembangkan sikap positif terhadapnya serta mendorongnya untuk menjadi bagian dari prilaku peserta didik, sehingga pendidikan karakter benar-benar berdampak prilaku. Oleh karena itu keberhasilan dari pendidikan karakter bukan dari makin meningkatnya pengetahuan tentang nilai-nilai, tapi menguatnya sikap positif akan nilai-nilai dan yang utama adalah berprilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut, sehingga siswa dan juga lulusan lembaga pendidikan dapat menjadi tiang utama dalam membangun dan memperkuat karakter bangsa yang belakangan ini cukup memprihatinkan. Dengan demikian dalam tataran operasional/teknikal manajemen pendidikan yaitu pembelajaran, penciptaan proses pembelajaran yang kondusif bagi internalisasi nilai-nilai menjadi hal yang akan sangat menentukan, dalam konteks ini guru dituntut untuk dapat melakukannya, dan untuk itu Guru Berkarakter menjadi manajer pendidikan utama yang akan menentukan keterjaminan proses pembelajaran yang dapat mendidik karakter siswa, menginternalisasikan nilai-nilai yang dapat membentuk siswa berkarakter.

  1. Pendidikan Karakter dan Guru berkarakter

Mengapa mesti Guru Berkarakter?, mungkin jawaban untuknya akan bervariasi, tapi yang jelas karakter bukan masalah pengajaran dalam arti transfer of moral knowledge, namun lebih pada pemodelan atau percontohan melalui interaksi edukatif yang dapat mengkondisikan suasana pembelajaran yang menumbuhkan sikap positif serta prilaku dalam melaksanakan nilai-nilai, dan ini sudah barang tentu bukan soal administratif (seperti pendidikan karakter telah diterapkan bila RPP telah memasukan nilai-nilai), tapi soal sikap, prilaku dan karakter guru dalam melaksanakan peran dan tugasnya sebagai pendidik. Guru berkarakter menuntut belajar yang berkesinambungan , guru berkarakter bukan soal ada atau tidaknya, tapi guru berkarakter merupakan suatu proses menjadi, sehingga upaya untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi guru dari mulai kepribadian, sosial, pedagogik dan profesional menjadi suatu keharusan, dan hal itu hanya bisa apabila komitmen profesi guru diperkuat, menjadi guru merupakan panggilan, menjadi guru merupakan pengabdian, suka menjadi guru, maka bahagia menjadi guru dan terus mengembangkan kemampuan untuk memberi layanan pendidikan kepada siswa guna ikut merancang masa depan peradaban yang dihiasi nilai-nilai luhur dalam masyarakat. Dalam situasi yang demikian proses pemodelan dan pengkondisian dalam membentuk karakter siswa akan efektif karena dikelola oleh guru yang berkarakter yang mampu menanamkan nilai-nilai pada siswa sebagai pelanggan primer pendidikan di sekolah..

  1. Penutup

Secara komprehensis dan sistemik, pada akhirnya pendidikan karakter menuntut manajeman pendidikan pada tataran manajerial yang memberdayakan serta memfasilitasi tumbuh kembangnya nilai-nilai dikalangan SDM pendidikan, dan pengelolaan seluruh sumber daya yang dapat mendorong pada pembelajaran yang optimal dan efektif dalam keterbukaan dan partisipasi yang aktif dan signifikan dalam menata proses pendidikan di sekolah, dalam tingkatan institusional juga menuntut manajemen pendidikan yang kolaboratif dengan pemangku kepentingan eksternal seperti orang tua siswa, masyarakat serta pemerintah, sehingga semua komponen pemangku kepentingan pendidikan di sekolah menjadi barisan yang kuat dalam dalam membangun pendidikan karakter dengan menjadikan sekolah yang berkarakter dari mulai tingkatan institusi, manajerial maupun operasional. Oleh karena itu pendidikan karakter harus terintegrasi secara sistemik dalam organisasi sekolah yang mengembangkan budaya yang kondusif bagi tumbuh kembangnya karakter, dan internalisasi nilai-nilai luhur pada seluruh anggota organisasi sekolah. Tanpa itu pendidikan karakter hanya fatamorgana yang bertumpu dalam rentetan administrasi dan dokumen tentang pendidikan karakter tanpa ruh dan semangat di dalamnya. Dan untuk itu Guru berkarakter dapat menjadi pemicu bagi penguatan dan pengembangan pendidikan karakter dalam tataran manajen dan organisasi pendidikan sekolah menuju sekolah berkarakter. Dan diharapkan Pendidikan dapat kembali ke jalan yang lurus, bukan jalan sesat dan menyesatkan, karena dengan pendidikan karakter maka insan kamil dapat menjadi pengisi dan penerus pembangunan bangsa sekarang dan masa depan…..semoga….

Sumber Bacaan

  1. Undang-undang Dasar 1945
  2. Undang-Undang Sisdiknas No 20 tahun 2003
  3. Kemendiknas, 2010. Grand Design Pendidikan Karakter
  4. D. Kesuma, et al, 2011, Pendidikan Karakter, Remaja Rosdakarya, Bandung
  5. Uhar Suharsaputra.2011, Menjadi Guru Berkarakter, Paramitra Publishing,   Yogyakarta
  6. Uhar Suharsaputra, 2013, Administrasi Pendidikan, Refika Aditama, Bandung.
Sampingan | Posted on by | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Beberapa Buku yang ditulis Dr Uhar Suharsaputra

bagi yang berminat, dapat membeli di toko-toko buku..semoga bermanfaat bagi belajar bersama kita

| 2 Komentar

Informasi

Kepada teman-teman Guru di SMPN 1 Kadugede, SMPN 2 Kadugede, SMPN 1 Nusaherang, SMP Ainur Rafik Cilimus, dan SMP Al Multazam Jalaksana yang ingin belajar bareng dan berdiskusi tentang pendidikan keguruan, penelitian dipersilahkan untuk menyampaikannya pada  Blog saya dengan alaman “uharsputra.wordpress.com, sub folder masing masing SMP dengan mengklik Folder SMP lalu pilih smp nya dan tuliskan atau kopikan masalah yang ingin didiskusikan pada kolom TINGGALKAN BALASAN…

Dr. Uhar Suharsaputra

| Meninggalkan komentar