Pendidikan Islam (1)

Pendidikan merupakan khas manusia, dia ada dalam masyarakat maupun komunitas di manapun juga serta kapanpun juga, sehingga kontinyuitas peradaban manusua terus bertahan sampai sekarang, tentu dg fluktuasi yg jugaterjadi seiring dg kelahuran para rasul, para nabi yg berdampak pada tatanan sosial budaya masyarakat, kumunitas. Kehadiran Agama Islam tentu memberi warna masyarakat tidak hanya dalam prinsip keagamaan dan nubuwah, namun juga merekonstruksi susunan sosial budaya masyarakat sesuai dg ajaran Islam yag berbasis wahyu Allah. Nabi Muhammad saw, sebagai pembawa risalah melakukan dawah dlm mengajak masyarakat pada keyakinan dan ajaran Islam. Dlm konteks ini pendidikan terjadi, dimana nabi sendiri memantau ukuran keislaman masyarakat berdasar al qu’ran, ikrar sahadat, sikap tauhid dan melaksanakan ibadah menjadi indikator dari ketercapain tujuan da’wah yg tercakup dalam Iman dg komponen pengetahuan, sikap, dan prilaku keagamaan. Dlm konteks ini tujuan dawah, pendidikan bertumpu pada tujuan keagamaan. Dalam perkembangannya dari pelaksanaan person to person relation dlm pendidikan kemudian Nabi menggunakan tempat di Rumah Al Arqam di Mekkah untuk mendidik para pengikut Islam dlm upaya lebih memantapkan keyakinan keislamannya dg membacakan ayat Quran yg diwahyukan secara bertahap.

 Pada awal kelahiran Islam, Dakwah adalah Pendidikan pada masyarakat untuk mendirong pada perubahan dalam keyakinan melalui berkembangnya pengetahuan ke islaman sesuai al quran, sikap terhadap Tuhan, serta prilaku dalam beribadah pada Tuhan, dsn ini terkait dg  penciptaan Manusia tiada lain untuk Beribadah/mengabdi pada Allah. Dalam perspektif ini, secara dokrin keagamaan, maka pendidikan Islam memiliki fokus idealistik, spiritualistik, dimana perbaikan hidup manusia  dimulai dari tujuan agama serta mempersiapkan manusia hidup di masa yg sangat depan (keridhoan Allah. kehidupan bahagia di akherat, masuk surga, terhindar dari neraka), sebagai GRAND GOAL (Tujuan Utama), yg semua itu tentu dibangun dg tujuan instrumental yg menjadi tangga pencapaiannya. Oleh karena itu, Dawah  merupakan pendidikan dalam merekonstruksi masyarakat melalui perbaikan keagamaan individu, sehingga ketika individu telah kuat, mengikatnya dlm suatu komunitas akan lebih mudah dan mengokohkan bangunan keislaman dalam masyarakat. Secara perwujudan dokrin keagamaan dalam konteks sosial budaya masyarakat, pendidikan Islam adalah segala upaya dlm membimbing, mengajar, melatih manusia menuju keutamaan dlm keber-Islam-an yg berakhlaq mulya, bertakwa serta mampu mewujudkannya dalam berfikir, bersikap dan berprilaku sesuai ajaran islam yang dapat memeberi kontribusi signifikan bagi perkembangan sosial budaya masyarakat, dengan demikian maka tujuan praktis pendidikan Islam secara operasional empiris adalah Mewujudkan manusia yg beriman dan bertakwa dg berbagai karakter sesuai dan bersumber dari ajaran/Doktrin Islam.

Dalam perkembangannya, seiring dengan berkembangnya Islam ke berbagai daerah, tentu terjadi proses akulturasi dalam berbagai bidang kehidupan termasuk juga berkaitan dg format pendidikan masyarakat, yg awalnya di mesjid, atau rumah2 penduduk seperti “darul arqom”, berkembang ke arah madrasah2 dg pendidik yg khuus diberi tugas untuk itu oleh para Khalifah/Sulthan, meskipun pola2 informal tetap ada dalam bentuk Zawiyah2 (sudut2 mesjid) yg umumnya dilakukan para sufi yg biasanya di datangi murid2 dari berbagai daerah kekuasaan Islam. Dalam hal ini Islam menyikapi pertukaran budaya melalui pengkudusan (penyucian) atas budaya yang baru tuk kemufian diadopsi dan diadaptasi selama tidak dengan tegas bertentangan dg doktrin Islam (Quran dan sunnah Nabi). Terdapat perbedaan dlm materi pendifikan, ada yg fokus pada tarekat dan membimbing muridnya mencapai Tuhan dg Tarekat tertentu, ini yg dilakukan para sufi dg Zawiyah2 nya, ada yg gokus pada tata cara ibadah dg pendalaman fikih, ada yg mendalami ketuhsnan Theologi, ada yg mendalami filsafat serta menghubungkannya dg dokrin islam serta berbagai ketangkasan yg dipandang perlu dlm menegakkan dan mendawahkan Islam, yg jelas semua terpusat pd pendidikan agama dan keagamaan. Kondisi ini juga berimplikasi pada kecenderungan penggunaan istilah yg terkait dg Pendidikan yg terdapat dalam doktrin Islam. Terdapat beberapa istilah yg penting yg dpt juga jadi dasar pengklasifikasian model pendidikan Islam yaitu. TARBIYAH; TA’LIM; TADRIS; TAHDIB; dan TA’DIB. Meskipun dlm konteks Pendidikan di Indonesia Penggunaan Kata TARBIYAH lebih menonjol dalam dunia akademik, seperti Fakultas Tarbiyah, Sekolah Tinggi Tarbiyah Islamiyah, namun pemahaman istilah2 tsb tetap penting untuk jadi dasar frame of reference dalam melihat Pendidikan Islam dan Filosofinya di Indonesia.

Beberapa istilah di atas sering dikaitkan dg istilah Pendidikan/Education. Education itu sendiri berasal dari bhs Latin Educere yang artinya memasukan sesuatu, yg dimaknai maksudnya memasukan ilmu, nilsi, sikap dan prilaku pada fihak/orang lain. Dlm bahasa indonesia education umumnya diartikan Pendidikan sebagai belajar terbimbing yg tentu didalamnya ada upaya Pemasukan atau penanaman hal2 tertentu (nilai, pengetahuan, sikap, ketrampilan) pada peserta didik/orang lain. Dalam bahasa Arab dg konteks Doktrin Islam terdapat beberapa Kata, istilah yg bisa bermakna atau dimaknai paralel dg pendidikan/education yg tak jarang dg dasar argumen tertentu, meskipun keumuman yg bisa dipandang konvensi, lebih dominan dlm penggunaannya. Berikut ini akan dikemukakan makna masing2nya:

1. TARBIYAH. Berasal dari tiga kata kerja yg berbeda: raba; rabiya; rabba yg artinya berkembang; tumbuh, memperbaiki, mengurus, menjaga, memelihara. Dari segi istilah Tarbiyah diartikan sebagai proses pengembangan da. Bimbingan jasad, akal dan jiwa peserta didik (mutarabbi) untuk mencapai kedewasaan dan mandiri untuk hidup di mastarakat (Ath Thabari), sementara Athiyah Abrasi mengartikan Tarbiyah sebagai upaya menyiapkan individu dengan berbagai media agar memanfaatkan bakat dan minatnya, dan hidup dg sempurna dlm masyarakat tempat dia berada, serta meliputi aspek jasmani, akal, akhlak, sisial, emosional, dan estetika (ini bisa dipadankan dg mendidik).

2. TA’LIM. Berasal dari kata alima; allama yang artinya tahu, memberi tahu, dari kata ini juga lahir kata ilmu yg artinya mengetahui sesuatu dengan sebenarnya (idroku syai’a bi haqiqotihi). Secara istilah diartikan sebagai proses pemberitahuan sesuatu secara berulang2 sehingga muta’alimin (penerima informasi, siswa, nurid) dapat memgerti dan memahami maknanya (ini busa dipadankan dg mengajar).

3. TADRIS. Berasal dqri kata darosa yang artinya menghapus; menghilangkan; berubah. Dlm makna kiyasan (majazi) berarti membaca berulang ulang (darosa al kitaba). Secara istilah tadris dimaknai sebagai  kegiatan membaca (kitab, pengetahuan, ilmu) yg dilakukan berulang oleh mudarris (orang yg membaca, guru, Kyai, Ustadz) kepada yg mendengarkan bacaan (mutadarris, siswa, santri). Dari kata ini pula lahir kata madrasah (tempat pembacaan, sekolah, ponpes). Dlm konteks ini bisa dimaknai menghafal (membaca berulang, ngaderes istilah di sunda).

4. TAHDIB (TAHDZIB). Berasal dari kata hadaba, haddaba yg artinya memotong, membereskan, membersihkan, memurnikan. Secara istilah bermakna kegiatan yang bertujuan untuk membersihkan sesuatu yg tidak baik agar menjadi bersih, suci murni dalam itikad, hati, jiwa, dan prilaku.

5. TA’DIB. Berasal dari kata addaba, al adab yg berarti berakhlak baik, membuat orang lain berakhlak baik, secara istilah berarti proses penanaman untuk membuat akhlak seseorang menjadi baik (ber-akhlakul karimah). 

Istilah2 tersebut meskipun dlm tataran praktis lebih kuat menggunakan Tarbiyah untuk padanan Pendidikan, namun kajian2 akademis terus berlangsung, Naquib Alatas menganjurkan gunakan istilah ta’dib, yg lain menyarankan istilah ta’lim, tadris, dan juga tahdib, karena istilah Tarbiyah juga berlaku untuk hewan, tumbuhan dlm hal terkait pemeliharaan, sementara Pendidikan hanya untuk manusia, dan istilah yg lain fokus untuk manusia. Namun demikian makna Tarbiyah terus berkembang dg tetap memasukan aspek Tuhan sebagai “Rabbul Alamiin” (Tuhan pemelihara dan pengatur Alam Semesta) di dalamnya, sehingga menggambarkan betul Pendidikan (menurut) Islam, dimana dimensi ketuhanan dominan sebagai dasar dan sekaligus tujuan utama pendidikan. Istilah tarbiyah dalam arti pendidikan  memang tidak dikenal pada awal kehadiran Islam, namun dlm perkembanganntya, istilah “tarbiyah” mendapatkan pengertian konotatif dimana istilah lainnya (Ta’lim/mengajar; Tadrid/menghafal; Tahdib/mensucikan jiwa; dan Ta’dib/membangun akhlak) tercakup menjadi bagian yg terkandung di dalamnya, yg semua itu bersumber pada Doktrin Islam ttg Ketuhanan sebagai landasan dan tujuan pendidikan yaitu hidup sesuai dg perintah Tuhan untuk mendapat ridhontya dan kebaikan hidup dunia dan masa depan sekali yaitu kehidupan di akherat.

Istilah Tarbiyah dlm perkembangannya terutama di Indonesia cukup dominan terutama di dunia akademik untuk menunjukan suatu disiplin ilmu pendidikan dlm lingkungan studi keislaman, disamping istilah dirasah (darrosah, Tadris) islamiyah yg bermakna kajian keislaman. namun dlm pelaksanaan dg konteks sosial budaya, istilah Ta’lim juga populer dipergunakan terutama dlm pendidikan non formal, seperti penggunaan Istilah Majlis Ta’lim (kelompok pengajian berbasis mesjid, mushola) yg menunjukan trend meningkat dg maksud pokoknya adalah aktivitas pendalaman Ilmu/pengetahuan keislaman, meskipun secara evolutif sering dibarengi  aktivitas lainnya yg berunsur kesenangan, keriangan yg terkadang tak sejalan benar dg esensi ta’lim yg esensinya adalah pengajaran, pembelajaran, belajar hal2 terkait dg ajaran Islam.  Padahal bila mengacu pd kitab “Talimul Mutaalim wa Thiriqut taallum” yg biasa dipelajari di Pesantren2 Salafiyah, karya Syech Zarnuji, dg memdalam menjelaskan ta’lim dg berorientasi pd tazkiyatun nafsi (penyucian Jiwa) yg memiliki bobot tarbiyah dlm basis ke Tuhanan. Istilah Tarbiyah kemudian mendapat penguatan makna melalui kajian para Pakar, kata “rabba” yg menjadi asal kata tarbiyah juga terkait denga ketuhann, bahkan jika memakai “alim lam” (menunjukan bentuk marifah/tertentu) jadi Al Rabb maka itu khusus untuk Tuhan sebagai pemelihara Alam semesta, dan dari sini difahami bahwa Kata Tarbiyah untuk Pendidikan memiliki dimensi transenden, tidak sekedar pendidikan namun suatu pendidikan yg bersumber dan bertujuan pada keselarasan dengan perinrah Tuhan dalam Dokrin  Wahyunya (al Quran dan Sunnah). M Jamil Khayat (1986) dlm bukunya “al Nazariyah al Tarbiyah fi Al Islam” menggambarkan makna tabiyah secara komprehensif dan dinamis : “sesungguhnya Tarbiyah (pendidikan), dalam pemahaman yg islami, bukan merupakan sesuatu yg terpisah dari masyarakat (al mujtama’), bahkan pokok2 dan pelaksanaannya selamanya mempertimbangkan mastarakat.  Itumerupakan bagian dari proses take and give. Dengan begitu  esensi tarbiyah adalah pandangan menyeluruh dan saling terkait antara ajaran al quran dengan keterbukaan pd perkembangan iptek di masyarakat”..

| Meninggalkan komentar

ONTOLOGI PENDIDIKAN

Dinamika interaksi manusia, lingkungan, sejarah, budaya serta wahyu melahirkan berbagai pandangan tentang manusia dalam konteks kehidupan serta apa yang perlu dilakukan oleh pendidikan bagi berlangsungnya kehidupan masyarakat. Manusia seperti apakah yg perlu dibangun, dibentuk oleh pendidikan?.  Secara individual, manusia memiliki kekhasan masing2, tak kan ada yg sama, kondisi ini menjadikan setiap manusia harus mengoptimalkan dirinya dlm kapasitas alamiah yg telah dimilikinya secara kodrati, disini menjadi diri sendiri yg khas tiap orang sebagai bentuk perwujudan diri. Ini tentu perlu melihat esensi manusia dalam eksistensi kehidupannya. Secara ontologis, terdapat dua pandangan utama dalam hal ini yaitu:  1) pandangan monisme, dan 2) pandangan dualisme. Monisme memandang manusia sebagai substansi tunggal, disini ada yg memandang wujud fisiknya (material) dan ada yg memandang wujud jiwanya (mental) sedangkan pandangan dualistik memandang bahwa manusia gabungan dua wujud yakni fisik dan jiwa (material dan mental). Bagi Monisme materialistik perwujudan diri asalah diri material, dimana kebaikan hidup diukur oleh kesenangan jasadi, sehingga jika telah sampai ke sana berarti seseorang telah mekaktualisasikan dirinya. Bagi monisme spiritualistik/jiwa, perwujudan diri adalah menjadi mahluk ruhani, jiwa, dimana keluhuran budi dan jiwa sesuai ajaran2 Tuhan/ruhaniah menggambarkan tercapainya aktualisasi diri. Sementara pandangan dualistik memandang bahwa kebaikan ada dalam.keseimbangan keduanya. Ini berarti ketika pendidikan tuk menjadikan seseorang jadi dirinya sendir, diri yang mana yg dimaksudkan secara ontologis

 Pandangan2 dlm filsafat modern cenderung tak terlampau hirau dg masalah hakekat yg ada (ontologi), sebagai hal yg tak empiris dan tak bisa mutlak jadi dasar dalam pemikiran pendidikan. Disamping itu para penganut monistik juga sering mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada perubahan yg terjadi tanpa menilik aspek lainnya yg tak jadi perhatiannya. Yg berpandangan dualistik juga sering tetap berdebat tentang mana yg paling  menentukan kehidupan manusia, apakah esensi dan atau eksistensi manusia. Pemikir yg menolak metafisika (ontologi) berpandangan bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya, manusia lahir kosong dan wujudnya /eksistensinya dg pengalaman lah yg membangun esensinya sebagai manusia, tak perlu atau tak terkait dg nilai adikodrati yg dibawa dg kelahirannya ke dunia, jadi mau jadi apapun adalah lingkungan pengalaman yg membentuknya. Pemikiran seperti ini melihat nilai sebagai hal yang relatif, gak ada nilai yang perlu diwariskan karena semua dibentuk berdasarkan pengalaman eksistensial yg dijalaninya, hidup adalah keterlemparan dlm horizon waktu dan manusia memaknainya. Pendidikan dewasa ini kuat sekali dipengaruhi oleh pemikiran demikian, nilai global lah yg jadi acuan dengan sustem demokrasi, 6 literasi, 4 kompetensi, dan 6 karakter yg durumuskan dg jargon ketrampilan abad 21 yg juga jadi acuan pendidikan nasional dewasa ini. Tak satupun terkait langsung dg nilai agama araupun pancasila (kecuali kita mengkaitkannya), nah dg kondisi ini apakah tidak cukup alasan bagi bangsa untuk RISAU dg pembangunan pendidikan kita, tentu bukan tuk dihentikan tapi lebih pada bagaimana men-transformasikannya agar bermanfaat lebih signifikan bagi bangsa dan manusia Indonesia.

Pendidikan dlm efeknya yg sosial merupakan bangun bersama individu2 yg menjalani pendidikannya, namun kumpulan induvidu tak dapat serta merta jadi bangun sosial efek pendidikan, oleh karena itu pencermatan keduanya (individu dan sosial) perlu keseimbangan dalam suatu pertemuan nilai yg sejalan dlm substansinya bukan sekedar permukaan (bukan dise-suai2-kan). Perwujudan diri individu yg selalu bermuatan nilai dlm menyempurnakan potensi konstruktifnya, akan membentuk perwujudan sosial masyarakatnya jika terdapat kohesivitas sistem yg merangkumnya, disini prilaku dan kebijakan sosial masyarakat harus menjadi bagian utama dalam membangun kebaikan masyarakat. Para pemikir pendidikan, filosof moral umumnya melihat potensi manusia secara normatif positif, sementara lawannya dipandang sebagai ketiadaan perwujudan potensi. Kondisi ini tentu membingungkan manakala terdapat kejahatan, ketidak baikan yg terjadi, apakah itu potensi manusia atau ketiadaan potensi yg terwujud. Hal ini tentu akan terus membingungkan manakala nilai2 diserahkan pada pengalaman empiris tanpa mempertimbangkan nilai adikodrati yg dlm bentangan sejarah manusia telah menunjukan peran reformatif dan atau peran revolutif tatanan sosial yg dipicu oleh gerakan bangun individu yg meng-aktualisasi-kan dirinya dlm konteks perbaikan mutu hidup masyarakat.

Perwujudan diri, atau aktualusasi diri dlm jalan pendidikan seseorang merupakan sesuatu yg berdasarkan keyakinan dan nilai yg ada dalam kwasaan itu sendiri. Masalahnya makna apa yg berikan kepadanya sebagai sesuatu yg bernilai dutentukan oleh perspektif arau sudut pandang orang tsb. Paling tidak terdapat beberapa perspektif tentang perwujudan diri (atau menjadi diri sendiri) yg membantu memahami kondisi sesuatu yg dipandang bernilai, yaitu: 1) pandangangan/pendekatan psikologistik-individualistik; 2) pandangan/pendekatan sosiologis; 3) pandangan/pendekaran kooperatif; dan 4) pandangan/pendekatan Teistik. Basis pandangan pemikiran tsb merupakan pendekaran dalam melihat perwujudan diri yg dlm pilar pendidikan UNESCO dusebut “Learning to be” yg dimaknai sebagai belajar menjadi duri sendiri, atau belajar tuk mengaktualusasikan diri dalam hidup dan kehidupan masyarakat. Ketika seorang mengatakan “aktualusasikan diri sendiri,  jadilah diri sendiri”,  jelas ini tak memberi makna nilai apapun, diri sendiri yg gimana? “Yang individu; Yang sosial; Yang kooperatif, atau Yang Teistik/ketuhanan”, bila sydah jelas pilihannya, apakah sesuai dan relevan dengan nilai budaya masyarakat, komunitas?. Ternyata tidak sesederhana seperti yg sering kita katakan dan kita dengar…menyederganakannya bisa saja, tapi tak kan bisa buat itu sederhana karena implikasi praktisnya dalam berbagai aspek kehidupan termasuk pendidikan akan berdampak pd masyarakat yg ingin dibangun ke depan…BERSAMBUNG.

| Meninggalkan komentar

BUKU BARU TERBIT APRIL 2016

image

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

ORIENTASI FILSAFAT BERBASIS TOKOH 1

SOCRATES DAN PLATO.

SOCRATES. Dia adalah filosof besar. Hidup di Athena Yunani antara tahun 470 sampai 399 SM. anak dari ayah seorang pemahat dan ibu seorang bidan. Dia pernah jadi tentara yg kuat dan berani. Integritasnya mengagumkan dan prilakunya yang tawadhu menjadikan dia sebagai inspirator kaum muda saat itu. filsafatnya fokus pada manusia  dalam memahami hidup dan kehidupan serta menjalaninya dengan logis, etis dan estetis dengan selalu mencari tahu dan kebenaran dengan cara dialog (critical dialectics).
Dialog (dialektika kritis) merupakan dialog dua atau lebih pendirian yang berbeda (bertentangan) menuju pertemuan antar ide, dengan cara ini SOCRATES bertindak seperti bidan yang menolong kelahiran bayi (hadiwoyono). Pendirian/ide tidak diterima begitu saja tapi dilakukan uji bukti dan SOCRATES serta yang diajak dialog tidak merasa dirinya yang paling benar karena perspektif memiliki variasi yg perlu dihormati
Dengan jalan dialog pemikiran terus meningkat dan ide ide akan makin terdalami teruraikan, oleh karena itu dalam perspektif ini metodenya sering juga disebut MAINEUTIKA/PENGURAIAN. Dengan metode seperti itu golongan SOFIS yang mencari kebenaran melalui RETORIKA menganggapnya sebagai perongrong namun kaum muda sangat menyukainya karena pencarian atau pemerolehan pengetahuan, kebenaran dilakukan secara egaliter dan bukan retoris yang lebih menekankan pembenaran bukan kebenaran.
Dia berjalan jalan untuk menemui berbagai kalangan dari para akhli dan masyarakat umum. Dia berdialog, bertanya tentang berbagai hal mengenai hidup dan kehidupan manusia secara spesifik kemudian jawabannya dikaji bersama sampai sering terbukti kekeliruan dan dari sini dialog terus dilakukan untuk mendapatkan kebenaran/pengetahuan yang benar secara umum. Karena inilah SOCRATES dipandang menerapkan berfikir INDUKTIF yg bergerak dari kasus khusus menuju ke kebenaran umum (Universal).
Dengan metode induksi dia mencari dan menggali tentang tujuan hidup dan tujuan hidup yang benar adalah EUDAIMONIA (kebahagiaan jiwa) dan itu bisa dicapi dengan ARETE (virtue, kebajikan, keutamaan), yang adalah pengetahuan yang benar yg menjadi dasar sikap dan tindak, sehingga muncul kebijakan (WISEDOM), untuk itu orang harus terus mencintai kebijakan (PHILOSOPHIA).”wisedom adalah sesuatu yang luhur dan hanya dimiliki Tuhan. Sebutan yang bersahaja adalah pecinta wisedom atau akhli filsafat” (Phaedrus, dalam H.C. Webb).
Dalam usia tua 70 TAHUN socrates harus menerima tuduhan  murtad pada Para dewa yunani dan telah menghasut para pemuda. Dan setelah disidangkan dia dihukum mati dengan jalan minum racun. Meslipun sahanatnya mengajak tuk melarilan diri namun dia tidak mau. Akhirnya dia meninggal setelah meminum racun dan ketika petugas pembawa racun dan menyerahkannya padanya  socrates menerima dan bertanya cara meminumnya..tidak menolak tidak berontak dan melakukannya dg sadar. Bukan karena menerima tuduhan yg telah ditolaknya dlm sidang tp leyakinan akan kebenaranlah yg ditunjukan dg berani meski harus mati karenanya..sungguh lematian yang estetis karena mempertahankan kebenaran logis dan leutamaan etis.
Dia mati secara fisik..ide pemikiran, serta model prilaku terus diabadikan para muridnya. PLATO adalah murid terbesar penerusnya dalam melanjutkan, memelihra, mengembangkan ajarannya. SOCRATES memang tidak menuliskan ide dan fikirannya karena alasan dia tak tahu apapun jadi apa yang dapat ditulis (kerendahan hati). PLATO lah yang utama mengenalkan ajaran SOCRATES, dan menulisnya dalam format dialog dg temannya yang berkunjung ke penjara menjelang hukuman matinya. Ini menjadi dasar dan latar tulisan PLATO tentang ajaran SOCRATES yang terlihat dari TETRALOGI nya PLATO  terdiri dari EUTHYPHRO, APOLOGY, CRITO, dan PHAEDO.
EUTHYPHRO menggambarkan kekhawatiran dalam menghadapi dengar pendapat awal atas tuntutan kemurtadannya serta konsekwensi untuk menemukan makna keshalehan hakiki. APOLOGY menggambarkan pembelaan di depan pengadilan serta ajuan hukuman yg mungkin setelah mendengar bahwa pengadilan sepakat menghukum mati. CRITO menggambarkan kehidupan di penjara ketika menanggapi teman temannya yg mengatur pelarian dari penjara. PHAEDO menggambarkan perbincangan di hari terakhir menjelang kematiannya tentang keabadian jiwa serta meyakinkan teman temannya akan nasibnya (Tredennick dan Tarrant, 2003).
Tetralogi Plato disusun dalam bentuk dialog kecuali Apology. Didalamnya berbicara tentang pengetahuan, kesalehan, keberanian, kebijakan kebajikan hidup dan kehidupan manusia. Namun semua itu sering dipandang bukan murni ajaran SOCRATES, karena polesan bisa terjadi mengingat Plato sendiri adalah seorang filosuf yg juga muridnya. Meskipun begitu dewasa ini Plato menjadi juru bicara hostoris yang diandalkan dalam memahami SOCRATES, dibanding tulisan murid-murid lainnya seperti Aristhopanes (penulis drama komedi), Xenophone (dipandang kurang bakat dalam Filsafat) yg menulis dialog kecil dlm Memorabilia. Aristhopanes menggambarkan SOCRATES sebagai seorang yang korup terhadap anak muda dan tidak mengakui dewa yang dipuja seluruh negeri/Yunani. Sementara Xenophone menggambarkan SOCRATES sebagai orang yg shaleh, mampu menjaga diri. Suatu penggambaran yg bertentangan dan patut difahami.
Kebohongan tuduhan.  yg coba digambarkan Aristbopanes mendapat dukungan massa dan nevara sampai akhirnya SOCRATES dihukum mati. Sementar penggambaran sebagai orang bijak (Xenophone, Plato) menjadi suara minor yg kalah/mengalah pada saat itu, namun sejarah menunjukan suara minor kalau kebenaran tetap jadi pemenang dan sekarang ini SOCRATES diposisika. Sebagai orang. Bijak filosuf yg mati demi mempertahankan kebenaran.
Kebebaran obyektif merupakan esensi ajarannya dalam melihat realitas hidup, kebenaran harus merupakan sesuatu yg benar dimanapun dan kapanpun.. Ini sebagai kritik dan koreksi atas dominasi pemikiran kaum sofis yg melihat kebenaran secara relatif tergantung kemampuan retorika yg disetujui masyarakat (umum), artinya yg benar disini tidak harus benar disana. Dengan metode dialektis SOCRATES berpandangan bahwa manusia harus mengutamakan kebahagiaan jiwa yg pencapaiannya melalui arete, dan ini berlaku dimana saja serta pada siapa saja, oleh karena itu pemerintah/penguasa harus tahu yg baik dan mengenalkan/mendidik masyarakat ttg yg baik dengan keutamaannya yaitu pengetahuan yg baik.
Untuk mengetahui yg baik dan menjalankan kebenaran perlu perjuangan, dan ujian akan dihadapinya, itulah hidup yg layak karena kehidupan dan hidup yg tak teruji tak layak dijalani (APOLOGIA, PLATO). Kebenaran pasti menang, kebenaran itu tak dapat kamu lawan. Yg bisa kamu lawan adalah SOCRATES (SYMPOSIUM, PLATO). Dia dihukum mati, dia mati, tapi kebenaran tetap berjalan terus menginspirasi dan menggerakan pemikiran dan kehidupan baru yg terus terbarukan.
KonsistensiNYA untuk berfikir benar dan bertindak baik sesuai kebenaran menjadi model existensial hidup dan kehidupanNYA. Berikut akandikemukakan kutipan panjang perkataan SOCRATES yang dituturkan Plato dalan PHAEDO: Tampaknya hanya ada satu jalan sempit yg bisa kita tempuh dg selamat untuk mencapai tujuan akhir perjalana kita, dengan akal sebagai penuntun. Selama kita masih mempunyai tubuh – ditambah kejahatan yg bisa merasuki jiwa kita, kita tak bakalan bisa sepenuhnya mencapai apa yg kita kehendaki, yakni kebenaran.
Tubuh selamanya menyia nyiakan waktu kita dg tuntutannya. Sampai kapanpun tubuh menghalangi upaya kita mengejar keberadaan kita yg sejati. Tubuh memenuhi kita dg nafsu, keinginan, ketakutan, dan segala macam hayalan dan kebodohan. Tubuh menghalangi kita berfikir lurus. Tubuh dibarengi mafsu-nafsunya telah menyebabkan percekcokan, perpecahan sosial, dan perang…karena mementingkan tubuh, kita tak punya waktu untuk berfilsafat.
Apabila kita mau memperoleh pengetahuan yg sejati, kita harus bebas dari tubuh, dan jiwa dapat melihat segala sesuatu apa adanya (pengetahuan sejati). Selama masih hidup, satu diantara dua hal ini pasti benar yaitu takkan peroleh pengetahuan sejati atau hanya bisa memperolehnya setelah mati karena jiwa berada pd dirinya sendiri. Namun ketika hidup kita bisa berada sedekat dekatnya dengan pengetahuan sejati jika tidak menyatukan diri dg tubuh melebihi keharusan.
Tibalah saatnya bagi kita tuk berpisah, aku akan menjalani kematian, kalian terus jalani hidup. Mana yg lebih baik adalah sesuatu yg tak diketahui siapapun, kecuali Tuhan (APOLOGI, Plato).Itulah SOCRATES..Yg hidup dalam ahir yg menyedihkan secara material fisikal, namun kebaikan pemikiran dan jiwanya mampu membungkusnya dengan indah dalam kerangka yg LOGIS, ETIS, ESTETIS..

PLATO…..salah seorang murid SOCRATES terpenting dalam melanjutkan dan mengembangkan pemikiran2 SOCRATES, Dia juga membangun pemikirannya sendiri sebagai filosuf. Lahir dari keluarga bagsawan Athena thn 427/428 SM dan meninggal thn 348 SM. HIdupnya cukup ironis pernah jadi penasehat raja, namun pernah juga dijual sebagai budak, tp dibebaskan temannya dan ketika mau mengganti uang pembebasannya temannya tak terima, kemudian uang itu digunakan untuk mendirikan Sekolah AKADEMIA, sebagai tempat mengasah fikiran para muridnya.
Dia menulis cukup banyak karya buku termasuk yg dalam bentuk surat-surat, 9 buku termasuk dalam kategori tetralogi 10 buku tentang Negara,namun ada 6 buku dianggap tidak otentik (kontroversial, diragukan dari PLATO). Meskipun demikian pemikiranNYA tetap dapat diketahui. Buku-bukuNYA banyak ditulis dalam bentuk dialog (percakapan, diskusi) dg menempatkan SOCRATES sebagai interlocutor (teman bercakap, teman diskusi) bijak sehingga mengalir ide pemikiran yg memberi keyakinan akan kebenarannya.
PandanganNYA: terdapat dua dunia pertama: dunia ide (eidos, bentuk), realitas objektif yg sesungguhnya, berdiri sendiri bebas dari subyek yg berfikir, tidak berubah, bersifat tunggal dan hanya bisa dikenali dg rasio. Kedua: dunia material/fisikal yang terus berubah, bersifat jamak dan pengenalannya melalui panca indra. Ini merupakan fikiran yg memadukan pendapat PERMENIDES, segala sesuatu bersifat tetap, dengan pendapat HERAKLEITOS, segala sesuatu terus berubah. Untuk dunia ide, PLATO menjelaskannya dengan analogi kisah Manusia dalam Goa.
Manusia ibarat tahanan  terkerangkeng dlm goa menghadap dinding, dibelakangnya ada nyala api, para budak berkegiatan ditengahnya. Para tawanan melihat bayangan yg dianganggap realitas, ketika ada yg lepas akan disadari bahwa itu bukan realitas terlebih setelah keluar gua melihat cahaya matahari. Ketika kembali ke goa dan cerita, tak ada yg percaya, tetap menganggap bayangan sebagai realitas. Nah dunia luar goa dg cahayanya merupakan realitas sebenarnya, ide yg benar, baik dan obyektif, hanya dpt dikenali rasio, bayangan hanya representasi tak sempurna dari realitas.
Masalah ide merupakan fondasi ajaran PLATO dg makna sesuatu realitas di luar fikiran dan bersifat obyektif (bukan gagasan yg ada dalam fikiran dan bersifat subyektif). Ide tidak diciptakan, tidak tergantung pd pemikiran kita, namun pemikiranlah yg tergantung pd ide. Berfikir, pemikiran adalah menaruh perhatian pada ide-ide. Segitiga dipapan tulis merupakan representasi ide segitiga obyektif dan bisa direpresentasikan juga oleh segitiga di kertas, di tembok dsb. Ide bagus bisa direpresentasikan dg kain bagus, mobil bagus dsb, itu terjadi karena ada realitas bagus yg obyektif. Dunia ide berhubungan dg dunia fisik/materi, namun ide tidak dipengaruhi olehnya. Terdapat tigacara hubungan antara keduanya: 1) ide hadir dalam benda konkrit, tp ide tak terkurangi olehnya, gambar segitiga bisa dihapus namun tak mengurangi ide segitig; 2) benda konkrit berpartisipasi dlm satu atau beberapa ide, orang jujur berpartisipasi dlm ide orang dan ide jujur; 3) ide sebagai model/ paradiegma bagi benda konkrit. Dan benda konkrit merupakan represen-tasi tak sempurna dari ide, hanya menyerupai model saja.
Terdapatnya dua dunia berimplikasi pada dua jenis pengenalan yg bisa diperoleh manusia yaitu: 1) Pengenalan ide-ide (yg bersifat jelas, tak berubah) melalui rasio (disebut episteme, pengetahuan), menghasilkan kepastian dan memungkinkan kebenaran mutlak; 2) Pengenalan benda-benda, fisik, materi (yg bersifat selalu berubah) melalui panca indra (disebut doxa, pendapat, opini), kebenaran relatif, tidak menghasilan kepastian.
Dunia ide dan dunia fisik tergambar dlm diri manusia (dualisme) dimana badan itu dunia fisik selalu berubah dan jiwa sebagai dunia ide yg telah mengenalinya sebelum bersatu dg badan. Badan adala belenggu jiwa dan untuk mengenali lagi dunia ide, manusia perlu melepaskan (mengurangi) ketergantungannya pada dunia fisik/materi/badan, sehingga dg fungsi rasionalnya, jiwa dpt mengarah pd dunia ide dan bersifat bijaksana yg mampu menjaga hidup manusia. Fungsi jiwa lainnya kehendak/keberanian, sifat kegagahan, serta fungsi ketiga yaitu keinginan/nafsu yg perlu pengendalian.
Melepaskan jiwa dari badan dicapai dg pengetahuan, fungsi rasional jiwa yg mengingat kembali ide-ide, ini perlu upaya keras sebab  kuatnya tarikan dunia fisik/badan/materi, hingga sulit naik ke dunia ide. Sedikit yg mampu menjalaninya dg kurangnya dukungan masyarakat akan pentingnya  pengetahuan kebenaran dan kebijakan. Ibaratnya delman dg kusirnya (fungsi rasional jiwa) yg ditarik oleh dua kuda yg satu kuda kebenaran yg ingin terbang ke dunia ide dan yg satu kuda napsu/kehendak yg ingin ke dan tetap dibawah, tarik menarik, dan nafsu yg menang sehinga dipenjarakanlah jiwa dalam badan.
Namun demikian keterpenjaraan jiwa dapat terus dringankan  dg pengenalan kembali pada dunia ide yg puncaknya adalah ide yg baik yg menyinari ide ide lainnya dlm hirarkinya. Dan kematian akan menjadi pembebas yg menghancurkan belenggu penjara (terbebas dari hidup di dalam goa), dimana jiwa akan tetap abadi dengan dunia ide yg telah dikenalnya pd pra hidup (pra exostensi) manusia. Dari sini PLATO percaya akan adanya hidup dan kehidupan sesudah mati dg jiwa yg kembali pd dunia ide dimana ide yg baik (Tuhan) sebagai realitas yg sebenarnya, tetap tidak berubah dan abadi.
Itu bermakna bahwa hidup manusia yg baik adalah hidup yang dikendalikan jiwa yg baik dg akal sebagai penjaga dan penuntun untuk mengenal ide-ide menuju ide yg baik yg menyinari seluruh ide-ide dlm dunia ide yg kekal. Orang baik dikuasai akal budi, mampu menguasai diri sendiri dalam kesatuan. Orang yg dikuasai keinginan dan nafsu akan terombang ambing oleh kekuasaan diluar diri, tidak teratur, kacau, karena menjadi obyek dorongan irasional diluar diri (Taylor, 1989). Hidup yg baik didasarkan  perhatian pd realitas yg sebenarnya, berhijrah dari yg badani ke jiwani, dari indrawi ke ruhani, dan dari materi ke ide yg abadi.
Bila hidup manusia terarah pada alam ide, manusia akan ikut dalam keterarahan alam ide, dan alam ide itu sendiri akan terarah pada ide tertinggi yaitu IDE YANG BAIK sebagai dasar segalanya. Segalanya menuju padanya dan tertarik olehnya (Suseno, F.M). Manusia yg baik yg mampu mencapai puncak eksistensinya adalah manusia yg terarah pada ide yang baik (Tuhan). Untuk sampai kesana CINTA menjadi kekuatan, karena YANG BAIK adalah yg paling dicintai dan dirindu oleh dunia ide, dan dalam kesanggupan memandang yang BAIK maka CINTA dan KEBAIKAN menyatu.
Tujuan hidup manusia  adalah kebahagiaan (eudaimonia) yakni hidup dengan mengenal dunia ide dan mengarah pada  yg baik, namun itu harus terjadi dalam polis/masarakat/negara bukan secara asketis. Oleh karena itu DIA juga mengemukakan fikirannya tentang negara. Manusia-manusia yg baik akan menjadikan Negara  baik, untuk itu setiap kelompok harus mengisi posisinya dlm negara sesuai dg ciri kemampuannya. Negara ideal terdiri dari tiga golongan yaitu Filosuf yg ngurus negara, Prajurit yg membantu negara, dan petani/tukang/Pegawai sbg penyokong negara.
Negara/Pemerintah yg baik dihuni oleh orang-orang yg baik. Negara harus memperhatikan, mengutamakan keselamat warganya bukan orang2 yg memerintah. Orang yg memerintah harus mempersembahkan hidupnya bagi pemerintahan dg mengorbankan kepentingan diri sendiri. Negara perlu mendidik warganya dengan baik ke arah yg baik dan bukan semata soal akal, tapi harus memberi bimbingan kepada perasaan2 yg dapat mengarahkan diri pada akal, mampu mengendalikan nafsu. Negara harus baik, mendidik warganya menjadi baik dan warga yg baik inilah yg dpt menjadikan Negara baik.
Dalam hal pelaksanaan pendidikan, PLATO berpendapat bahwa pendidikab  anak 10 tahun ke atas menjadi kewajiban/urusan Negara, pd masa ini olah raga dan musik menjadi materi utamanya ditambah membaca menulis dan berhitung, untuk membuat badan dan fikiran sehat, dan menumbuhkan keberanian untuk mampu menjadi penjaga negara. Usia 14-16 diajarkan musik, puisi/bersajak, dan mengarang, untuk menanamkan kehalusan perasaan, budi yg halus, harmoni dan irama, dan ini penting untuk menghidupkan rasa keadilan.
Usia 16-18 diberi pelajaran Matematika untuk mendidik, melatih cara berfikir, agama dan etika sopan santun untuk menumbuhkan persatuan. Pada usia 18-20 tahun mendapat didikan militer, kemudian seleksi 1 untuk dpt pendididikan keilmuan lebih mendalam. Setelah 10 tahun seleksi 2, yg gagal jadi pegawai negara, yg lulus meneruskan 5 th belajar tentang wujud, ide, dan dialektika, setelah lulus dpt menjabat lebih tinggi, sesudah 15 th bekerja (50 th) dpt diterima masuk dlm lingkungan pemerintahan atau filosuf, karena dipandang mampu menyelenggarakan pemerintahan yg adil dg dasar ide yg Baik.
Semua pemikiran Plato terdapat dalam bentuk tulisan, meskipun ada juga yg secara lisan disampaikan dlm kuliahnya di AKADEMIA, Sekolah/PT/Universiras yg didirikannya dg biaya pembebasan Budak (PLATO pd saat itu). ini berarti Universitas/PT pertama berdiri sebagai efek perbudakan. PLATO mengajar selama 40 th sejak usianya 40 th dan meninggal di usia 80 th, setengah kehidupannya diabdikan untuk mengajar murid-murid, mengembangkan fikirannya dan ide yg baik sebagai realitas mutlak (TUHAN) menjadi dasar pemikirannya dlm berbagai aspek kehidupan manusia baik individu yg baik,masyarakat yg baik maupun politik dan negara yg baik.
Setelah PLATO meninggal, AKADEMIA terus berjalan berganti ganti pemimpin selama hampir 800 tahun, baru pada 529 M kaisar Yustinianus menutup seluruh sekolah filsafat di Athena termasuk AKADEMIA. Dari Sekolah ini lahir Filosuf-filosuf besar, dan Aristoteles yg belajar dg Plato selama 20 tahun merupakan muridnya yg dipandang terbesar sebagai filosuf dengan pengaruh kuat pada perkembangan berfikir dan filsafat kemudian.

| Meninggalkan komentar

Tentang Sekolah

SEKOLAH, PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT

| Meninggalkan komentar

Pendidikan Karakter

PENDIDIKAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER

Pendahuluan

Pendidikan selalu diberi bobot nilai-nilai normatif, demikian juga dalam Undang-undang Sisdiknas dimana Pendidikan diberi makna yang syarat dengan nilai-nilai luhur yang harus terjadi dan menjadi bagian dari interaksi pendidikan. Namun apakah itu tercermin dalam praktek pendidikan ?, inilah masalahnya, selalu terdapat kesenjangan yang makin lama makin lebar antara apa yang diharapkan bangsa Indonesia dari Pendidikan dengan apa yang dilakukan dalam tataran praktis pendidikan/pembelajaran. Kondisi ini sudah tentu menuntut suatu penataan manajemen pendidikan baik dalam tataran makro, messo maupun mikro pendidikan sehingga kemenyeluruhan dan keterpaduan proses pendidikan/pembelajaran dapat terwujud.

Pendidikan harus mendorong terwujudnya manusia yang dewasa secara personal/emosional, moral, sosial, dan intelektual, sehingga terwujud manusia, menurut UUD 1945 maupun UU Sisdiknas 2003, yang meningkat keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia sebagai dasar untuk menjadikan mereka cerdas, serta secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara . Ini bermakna bahwa pendidikan di Indonesia syarat dengan nilai-nilai yang harus menjadi bagian di dalam prosesnya, sehingga istilah Pendidikan Karakter nampaknya hanya memperkuat fokus pada pendidikan yang memang sudah memasukan unsur nilai-nilai (karakter), sehingga pendidikan Karakter itu ya Pendidikan, dan Pendidikan itu ya Pendidikan Karakter.

Pentingnya fokus tersebut nampaknya tumbuh dari suatu kesadaran akan makna hakiki pendidikan, ketika aspek pragmatis kecerdasan intelektual kognitif menjadi konsern utama (seperti pengukuran melalui UN), maka banyak hal yang dikorbankan, dan pengorbanan itu justru lebih tinggi nilainya dari sekedar kecerdasan (seperti kejujuran, keadilan, kemandirian, percaya diri). Ketika praktek pendidikan di Sekolah bersibuk diri dengan upaya peningkatan kemampuan siswa untuk lulus Ujian Nasional, sebenarnya tidak ada yang salah dengan upaya tersebut selama sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan dan pembelajaran, namun ketika ada upaya lain yang memaksakan pencapaian target tertentu diluar kaidah pendidikan, seperti pengkondisian dan distribusi info, maka sebenarnya pendidikan kita telah memasuki jalan yang sesat dan menyesatkan, bukan jalan yang lurus sesuai amanat UUD seta UU Sisdiknas. Dalam kondisi yang demikian serta terjadinya kemunduran dalam moral dan karakter bangsa, maka fokus pada pendidikan karakter (pendidikan) menjadi amat penting, urgen dan bermakna bagi pembangunan bangsa yang berkarakter.

  1. Manajemen Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter secara sederhana dapat dimaknai sebagai pendidikan yang menjadikan karakter sebagai bagian yang mewarnai proses pendidikan. Karakter itu sendiri adalah nilai-nilai yang melandasi perilaku manusia berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum/konstitusi, adat istiadat, dan estetika (Kemendiknas, 2010). Pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil, dengan demikian Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai perilaku (karakter) kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil (Kemendiknas, 2010).

Selama manusia hidup, pendidikan (pendidikan karakter) akan dialami dan dirasakan dimanapun berada, apakah itu di jalur informal, nonformal maupun formal, baik itu sebagai kejadian ataupun proses yang terencana. Namun kontrol pemerintah yang sistematis terhadap pendidikan formal cenderung penekanan pendidikan (terencana) difokuskan kapada pendidikan formal termasuk dalam kaitannya dengan pendidikan karakter yang didorong untuk menjadi gerakan nasional baik dalam tataran kebijakan maupun dalam level mikro pendidikan (kelembagaan Pendidikan formal) dengan berbagai tingkatannya dari mulai tingkatan institusi, manajerial maupun operasional (pembelajaran di Kelas). Kondisi ini menuntut kelembagaan pendidikan formal mengintegrasikannya secara sistemik dalam penyelenggaran pendidikan di sekolah.

Dalam pendekatan pendidikan sebagai suatu industri, input diproses kemudian menghasilkan output dalam arti lulusan (IPO), maka lulusan yang berkarakter menjadi konsern utama, dan itu hanya mungkin terwujud bila proses/pelayanan pendidikan mengintegrasikan nilai-nilai sebagai bagian utama di dalamnya. Dalam proses pendidikan seluruh tingkatan manajemen harus mengacu pada upaya menginternalisasikan nilai-nilai, baik untuk tingkatan institusional yang terkait dengan hubungan eksternal sekolah, tingkatan manajerial terkait dengan pengelolaan seluruh sumber daya internal sekolah, maupun tingkatan operasional/teknikal yang terkait dengan proses pembelajaran. Namun demikian untuk tataran operasional manajemen pendidikan dalam hal ini pembelajaran di kelas, maka fokus utama untuk menginternalisasikan nilai-nilai menjadi hal yang amat penting dan urgen mengingat siswa itulah yang menjadi indikator utama keberhasilan pendidikan karakter.

Dalam perspektif demikian, proses utama pendidikan yaitu pembelajaran di kelas menjadi kondisi yang amat menentukan dan harus dapat menginternalisasikan nilai-nilai secara efektif di dalamnya, sehingga tidak cukup hanya menginformasikan nilai-nilai yang ingin ditanamkan tapi juga mengembangkan sikap positif terhadapnya serta mendorongnya untuk menjadi bagian dari prilaku peserta didik, sehingga pendidikan karakter benar-benar berdampak prilaku. Oleh karena itu keberhasilan dari pendidikan karakter bukan dari makin meningkatnya pengetahuan tentang nilai-nilai, tapi menguatnya sikap positif akan nilai-nilai dan yang utama adalah berprilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut, sehingga siswa dan juga lulusan lembaga pendidikan dapat menjadi tiang utama dalam membangun dan memperkuat karakter bangsa yang belakangan ini cukup memprihatinkan. Dengan demikian dalam tataran operasional/teknikal manajemen pendidikan yaitu pembelajaran, penciptaan proses pembelajaran yang kondusif bagi internalisasi nilai-nilai menjadi hal yang akan sangat menentukan, dalam konteks ini guru dituntut untuk dapat melakukannya, dan untuk itu Guru Berkarakter menjadi manajer pendidikan utama yang akan menentukan keterjaminan proses pembelajaran yang dapat mendidik karakter siswa, menginternalisasikan nilai-nilai yang dapat membentuk siswa berkarakter.

  1. Pendidikan Karakter dan Guru berkarakter

Mengapa mesti Guru Berkarakter?, mungkin jawaban untuknya akan bervariasi, tapi yang jelas karakter bukan masalah pengajaran dalam arti transfer of moral knowledge, namun lebih pada pemodelan atau percontohan melalui interaksi edukatif yang dapat mengkondisikan suasana pembelajaran yang menumbuhkan sikap positif serta prilaku dalam melaksanakan nilai-nilai, dan ini sudah barang tentu bukan soal administratif (seperti pendidikan karakter telah diterapkan bila RPP telah memasukan nilai-nilai), tapi soal sikap, prilaku dan karakter guru dalam melaksanakan peran dan tugasnya sebagai pendidik. Guru berkarakter menuntut belajar yang berkesinambungan , guru berkarakter bukan soal ada atau tidaknya, tapi guru berkarakter merupakan suatu proses menjadi, sehingga upaya untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi guru dari mulai kepribadian, sosial, pedagogik dan profesional menjadi suatu keharusan, dan hal itu hanya bisa apabila komitmen profesi guru diperkuat, menjadi guru merupakan panggilan, menjadi guru merupakan pengabdian, suka menjadi guru, maka bahagia menjadi guru dan terus mengembangkan kemampuan untuk memberi layanan pendidikan kepada siswa guna ikut merancang masa depan peradaban yang dihiasi nilai-nilai luhur dalam masyarakat. Dalam situasi yang demikian proses pemodelan dan pengkondisian dalam membentuk karakter siswa akan efektif karena dikelola oleh guru yang berkarakter yang mampu menanamkan nilai-nilai pada siswa sebagai pelanggan primer pendidikan di sekolah..

  1. Penutup

Secara komprehensis dan sistemik, pada akhirnya pendidikan karakter menuntut manajeman pendidikan pada tataran manajerial yang memberdayakan serta memfasilitasi tumbuh kembangnya nilai-nilai dikalangan SDM pendidikan, dan pengelolaan seluruh sumber daya yang dapat mendorong pada pembelajaran yang optimal dan efektif dalam keterbukaan dan partisipasi yang aktif dan signifikan dalam menata proses pendidikan di sekolah, dalam tingkatan institusional juga menuntut manajemen pendidikan yang kolaboratif dengan pemangku kepentingan eksternal seperti orang tua siswa, masyarakat serta pemerintah, sehingga semua komponen pemangku kepentingan pendidikan di sekolah menjadi barisan yang kuat dalam dalam membangun pendidikan karakter dengan menjadikan sekolah yang berkarakter dari mulai tingkatan institusi, manajerial maupun operasional. Oleh karena itu pendidikan karakter harus terintegrasi secara sistemik dalam organisasi sekolah yang mengembangkan budaya yang kondusif bagi tumbuh kembangnya karakter, dan internalisasi nilai-nilai luhur pada seluruh anggota organisasi sekolah. Tanpa itu pendidikan karakter hanya fatamorgana yang bertumpu dalam rentetan administrasi dan dokumen tentang pendidikan karakter tanpa ruh dan semangat di dalamnya. Dan untuk itu Guru berkarakter dapat menjadi pemicu bagi penguatan dan pengembangan pendidikan karakter dalam tataran manajen dan organisasi pendidikan sekolah menuju sekolah berkarakter. Dan diharapkan Pendidikan dapat kembali ke jalan yang lurus, bukan jalan sesat dan menyesatkan, karena dengan pendidikan karakter maka insan kamil dapat menjadi pengisi dan penerus pembangunan bangsa sekarang dan masa depan…..semoga….

Sumber Bacaan

  1. Undang-undang Dasar 1945
  2. Undang-Undang Sisdiknas No 20 tahun 2003
  3. Kemendiknas, 2010. Grand Design Pendidikan Karakter
  4. D. Kesuma, et al, 2011, Pendidikan Karakter, Remaja Rosdakarya, Bandung
  5. Uhar Suharsaputra.2011, Menjadi Guru Berkarakter, Paramitra Publishing,   Yogyakarta
  6. Uhar Suharsaputra, 2013, Administrasi Pendidikan, Refika Aditama, Bandung.
Sampingan | Posted on by | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Beberapa Buku yang ditulis Dr Uhar Suharsaputra

bagi yang berminat, dapat membeli di toko-toko buku..semoga bermanfaat bagi belajar bersama kita

| 2 Komentar