Pendidikan dan Peran Perguruan Tinggi

16 Apr

PENDIDIKAN DAN PERAN PERGURUAN TINGGI

 

  1. 1.    PENGANTAR

            Dalam modul ini akan dibahas materi berkaitan dengan pengertian pendidikan dan peran perguruan tinggi guna membantu mendeskripsikan posisi pendidikan dalam kontek penyelenggaraan proses pendidikan di Perguruan tinggi termasuk kaitannya dengan dimensi eksternal kelembagaan

  1. 2.    TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM

Dengan mempelajari dan mendiskusikan modul ini, pembelajar akan terbantu dalam memahami pengertian dan makna Pendidikan seran Peran Perguruan Tinggi dalam dinamika kehidupan masyarakat.

  1. 3.    TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS

Sesudah mempelajari dan mendiskusikan isi modul ini, pembelajar diharapkan dapat :

v  Menjelaskan Pengertian pendidikan

v  Menganalisis tiap-tiap definisi pendidikan

v  Menjelaskan Peran Perguruan Tinggi ?

v  Menjelaskan pertimbangan-pertimbangan positioning Perguruan tinggi ?

v   Mensintesiskan peran Perguruan tinggi dengan memperhatikan perubahan eksternal

  1. 4.    MATERI DISKUSI

 

  1. 1.    PENDIDIKAN

Kata pendidikan merupakan istilah  yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat umum dengan  konteks pemahaman  yang bervariasi, dari yang abstrak sampai dengan yang kongkrit praktis. Hal ini terjadi karena operasionlisasi pendidikan sebagai suatu konsep yang kurang menyeluruh ditambah dengan praktek-praktek pendidikan yang terdefinisikan secara sempit misalnya mempadankan pendidikan dengan sekolah atau lembaga-lembaga lainnya yang dianggap sejenis.

Semua itu pada dasarnya menggambarkan proses evolusi perubahan pemaknaan tentang suatu  konsep seiring dengan perubahan sosial budaya yang terus berlangsung. Terdapat banyak pengertian pendidikan dengan titik tekan yang berbeda meski mengacu pada esensi yang sama, berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi :

  1. 1.     Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa (J.J. Rousseau)
  2. 2.     Pendidikan merupakan usaha manusia dewasa  membimbing manusia  yang belum dewasa  kearah  kedewasaan (M.J. Lengeveld)
  3. 3.     Pendidikan adalah usaha manusia untuk menyiapkan dirinya  untuk suatu kehidupan yang bermakna (Theodore M. Greene)
  4. 4.    Pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada  pada anak-anak iatu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Ki Hajar Dewantara)
  5. 5.     Pendidikan itu adalah  usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu  memikul tanggung jawab moril dari segala perbuatannya (Soegarda Poerbakawatja)
  6. 6.     Pendidikan ialah pemanusiaan manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf insani (Driyarkara)
  7. 7.     Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia (John Dewey)
  8. 8.     Pendidikan  sebagai the art and process of imparting or acquiring knowledge and habit through instructional as study (Joe Park)
  9. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang (UU No 2 tahun 1989)

Bila melihat pengertian pengertian pendidikan sebagaimana dikemukakan di atas nampak bahwa para akhli cenderung mengartikan pendidikan dalam maknanya yang abstrak, dan cenderung bersifat filosofis, sehingga sulit dilakukan pengukuran-pengukuran yang obyektif atas keberhasilannya, hal  ini berakibat pada timbulnya konteroversi dalam melihat tentang keberhasilan suatu pendidikan.

Namun demikian dalam aplikasinya pemaknaan pendidikan lebih berkecenderungan pada dimensi pengajaran atau pembelajaran yang secara pragmatis lebih dipersempit lagi pada lembaga seperti sekolah atau bentuk lain yang setara. Keadaan ini memang cukup memprihatinkan, tapi itulah fakta persepsi social tentang pendidikan.

Diakui atau tidak, memang dikalangan akademisi pun kecenderungan itu bukan tidak ada, tapi paling tidak hal tersebut  diharapkan dapat mendorong para akhli untuk mengkaji tentang masalah proses pembelajaran yang dilakukan dalam lembaga pendidikan baik pendidikan sekolah maupun luar sekolah. Perkebangan belakang ini dalam bidang pendidikan  nampaknya mengacu pada empat pilar pendidikan UNESCO yaitu  learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.

Oleh karena itu pengelolaan/manajemen pembelajaran juga perlu mengakomodasikan semua kecenderungan tersebut, megingat proses pembelajaran dengan seluruh aspek dan dimensinya merupakan inti dari proses pendidikan, dan keberhasilan dalam pengelolaannya merupakan salahsatu indicator penting pencapaian tujuan pendidikan. Namun demikian, kenyataan tersebut  (akibat pemahaman pendidikan yang cenderung menyempit) harus dipandang sebagai bagian dari suatu unsur penting dalam konstelasi dan proses pendidikan yang punya cakupan luas, baik dalam dimensi ataupun substansi, yang dapat terjadi dalam suatu lembaga pendidikan termasuk Perguruan Tinggi, karena dimasa datang nampaknya peran Perguruan Tinggi tidak bisa hanya bertumpu pada proses pembelajaran terstruktur.

  1. 2.    PERAN PERGURUAN TINGGI

Lingkungan Perguruan Tinggi dimanapun berada,  sedang mengalami perubahan yang sangat cepat, secara global perubahan terlihat dalam bentuk berkembangnya masyarakat informasi yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam situasi yang demikian penguasaan ilmu pengetahuan oleh individu dan atau organisasi akan menjadi prasyarat dan modal dasar bagi upaya pengembangan diri dan organisasi dalam situasi yang makin kompetitif.

Dalam masyarakat yang demikian setiap orang dan atau organisasi terpaksa dan dipaksa untuk selalu memperbaharui pengetahuan dan keterampilan jika ingin tetap hidup dan berkembang. Keadaan yang demikian menurut Prof. Sularso, Guru Besar ITB, disebabkan oleh cepatnya perubahan kebutuhan kompetensi perorangan maupun organisasi  dalam dunia yang penuh perubahan dan persaingan.

Kondisi yang demikian merlukan respon proaktif dari seluruh lapisan masyarakat, terlebih-lebih lagi Perguruan Tinggi sebagai center of excellence  jelas harus melakukan repositiong dalam konteks lingkungan eksternal melalui upaya restructuring internal yang terencana dengan baik (well-planned), dilaksanakan dengan baik (well-actuated), dan dievaluasi dengan baik secara berkesinambungan (well evaluated/controlled) dalam bingkai semangat continous updating.

Lebih jauh, perubahan-perubahan cepat yang terjadi di masyarakat perlu disikapi secara tepat dengan melakukan refleksi mendalam tentang apa peran Perguruan Tinggi yang telah dimainkan sekarang ini ?, serta bagaimana kemungkinan peran tersebut di masa datang ?, untuk menjawab hal ini nampaknya diperlukan suatu analisis mendalam tentang kondisi aktual serta analisis prediktif tentang kemungkinan-kemungkinan peran di masa datang dengan memahami trend yang sedang terjadi, dengan kata lain analisis situasi yang bisa menjelaskan sejarah masa depan, hal ini jelas sangat penting agar peran Perguruan Tinggi dapat tetap terjaga meski hal ini mungkin menuntut perubahan posisi keberadaannya dibanding sekarang.

Dari sudut pandang filosofis, Perkembangan Iptek yang sangat cepat, telah makin mengokohkan faham pemikiran Pragmatisme-utilitarianisme, dimana segala sesuatu cenderung dilihat daru sudut manfaat dan kegunaan praktis bagi kehidupan, keadaan ini telah mengakibatkan pemahaman dan orientasi pendidikan mengalami pragmatisasi, dimana sebelumnya pendidikan lebih dilihat secara ideal sebagai upaya untuk mendewasakan manusia melalui tranmission of culture, value, and Norm tanpa atau kurang memperhatikan dampak praktisnya atau lebih khusus dampak ekonomi bagi kehidupan masyarakat.

Keadaan yang demikian menjadikan tuntutan masyarakat terhadap pendidikan/lembaga pendidikan termasuk Perguruan Tinggi mengalami pergeseran dari tuntutan yang sifatnya idealis ke arah tuntutan yang lebih praktis-pragmatis. Namun demikian nampaknya akan sangat bijak apabila pergeseran tersebut dilihat sebagai gerak bandul dengan dua ujung, dimana yang satu sama sekali tidak menafikan yang lain, idealisme tidak dianggap sebagai pengekang pragmatisme, dan pragmatisme tidak dianggak akan menghapus pemahaman ideal tentang pendidikan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dimensi ekonomi dewasa ini telah mendominasi tuntutan masyarakat terhadap dunia pendidikan, lembaga pendidikan yang lulusannya mudah mendapat pekerjaan sangat diminati, hal ini bukan sesuatu yang salah bahkan sangat rasional, namun Lembaga pendidikan perlu mensikapinya dengan tepat, sebab pertimbangan masyarakat bertumpu pada dimensi sekarang dan kekinian dengan lingkup parsial, sedangkan Lembaga pendidikan mesti mempertimbangkan juga dimensi kenantian sehingga lebih bersifat holistik.

Untuk mengantisipasi dan merespon hal tersebut di atas, diperlukan upaya-upaya untuk memampukan Perguruan Tinggi menjadi pelopor dalam pembinaan dan pengembangan Sumberdaya manusia yang terintegrasi guna memenuhi (1) kebutuhan warga masyarakat yang berorientasi ideal atas pendidikan, melalui penciptaan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya spirit akademik yang dinamis, serta dapat menjadi wahana sosialisasi nilai-nilai, norma, dan sikap mandiri, dan (2) kebutuhan masayarakat yang berorientasi pragmatis melalui kesiapan mendidik manusia yang dapat terserap oleh dunia usaha sesuai spesifikasinya masing-masing.

Semua itu secra fundamental akan berpengaruh pada bagaimana proses pembelajaran di Perguruan Tinggi diselenggarakan, dan untuk ketepatan merespon maka pemahaman mengenai trend modus Pembelajaran perlu dicermati agar Pendidikan di Perguruan Tinggi dapat tetap berperan dan mampu menjangkau berbagai kelompok masyarakat yang membutuhkannya.

        Perkembangan Modus Pembelajaran

Belakangan ini modus atau cara pembelajaran nampak telah banyak mengalami pergeseran/perubahan sebagai akibat dari perkembangan teknologi yang memungkinkan penggunaan cara-cara baru dalam pembelajaran, terlebih lagi dengan makin intensnya Dunia Usaha menyelenggarakan pembinaan dan peningkatan kemampuan profesional Sumberdaya manusia yang dimilikinya. Adapun trend pembelajaran yang terjadi menurut Sularso dapat diidentifikasi dari fenomena berikut :

  1. Globalisasi Pembelajaran
  2. Desentralisasi fungsi pembelajaran
  3. Pembelajaran seumur hidup

Globalisasi pembelajaran terjadi akibat perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi yang sangat cepat, sumber-sumber belajar menjadi sangat terdistribusi, banyak orang dapat mengakses sumber-sumber pengetahuan secara interaktif melalui jaringan internet, disamping itu para pakar secara individu maupun organisasi dapat menjual kepakarannya dalam paket-paket pembelajaran tanpa perlu tatap muka secara langsung. Keadaan ini jelas berakibat makin terdesentralisasinya fungsi pembelajaran, lembaga pendidikan formal termasuk perguruan Tinggi tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, bahkan kalangan industri/dunia usaha pun banyak melakukan kegiatan pembelajaran dengan sangat profesional sesuai dengan berkembangnya keperluan menciptakan Learning organization

Keadaan tersebut menjadikan Lembaga Pendidikan (baca Perguruan Tinggi) menghadapi kompetitor yang tangguh, mengingat pesatnya kemajuan yang terjadi telah menumbuhkan kesadaran perlunya belajar secara terus menerus, sebab jika tidak maka keusangan akan menjadi konsekwensi nyata dan format-format pendidikan reguler yang diselenggarakan hanya secara konvensional akan mudah ketinggalan mengingat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

        Mendinamiskan Praktek pembelajaran

Trend pembelajaran sebagaimana diungkapkan di atas, nampaknya perlu direspon dengan tepat, meski perlu segera disadari bahwa ketepatan respon perlu juga memperhatikan local genius sebagai ibu dimana Perguruan Tinggi/lembaga pendidikan itu berada (ini sesuai dengan faham post-modernisme yang salah satu prinsipnya adalah deconstructionisme). Namun yang jelas upaya-upaya untuk terus mendinamiskan proses pembelajaran merupakan suatu keharusan meskipun banyak sekali variabel kendala yang mesti diatasi guna mencapai variabel tujuan yakni kemampuan lembaga pendidikan/Perguruan Tinggi untuk tetap berperan dan tetap dapat menjadi leading sector dalam kehidupan manusia.

Dalam hubungan ini apa yang telah dilakukan di Amerika (tidak harus diikuti tapi perlu difikirkan dan dianalisis kemungkinannya) yang menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran (The seven principles for good practice in undergraduate education) dimana Lembaga Pendidikan/Perguruan tinggi  dalam proses pembelajaran sebaiknya mempertimbangkan seven principles  yaitu :

  1. mendorong kontak antara mahasiswa dan dosen (di luar kelas)
  2. mendorong kerjasama antar mahasiswa
  3. mendorong belajar aktif
  4. memberikan umpan balik segera
  5. menekankan waktu dan tugas
  6. mengkomunikasikan ekspektasi tinggi
  7. menghormati bakat yang berbeda-beda

prinsip-prinsip tersebut memang tidak dapat dianggap formula jitu dalam mendinamisasikan proses pembelajaran dan pendidikan pada umumnya namun paling tidak sebagai bahan untuk dipertimbangkan nampaknya sangat perlu.

3. PENUTUP

Upaya mendinamisasikan proses pembelajaran di Perguruan Tinggi memang memang merupakan hal yang penting, tingkat kepentingannya dalam kontek peran perguruan tinggi sangat tergantung kepada unsur-unsur lain jang menjadi sub sistem Perguruan Tinggi, seperti kualitas Tenaga dosen, fasilitas fisik, iklim akademik yang dinamis serta jaringan komunikasi global/sisteminformasi berbasis teknologi, yang semua itu terbingkai dalam suatu budaya organisasi perguruan tinggi yang berorientasi masa depan.

RUJUKAN

Azis Wahab, Abdul (2007)  Metode dan model-model mengajar, Alfabeta, Bandung

Lang, Helmut R. Dan Evans, David N. (2006) Model, Strategies, and Methods for effective teaching, Boston, Pearson Education Inc

Riwajatna, Jajat (2003) Percepatan Pembelajaran Manajemen, Alfabeta, Bandung

Bruce Joyce, Models of Teaching,

Perguruan Tinggi dan Tantangannya

2 Mar

 394923_2468071462810_1283023304_32068049_1925792119_n.Sebagai Lembaga yang menyelenggarakan Pendidikan Tinggi, Perguruan Tinggi jelas harus menyadari dan menyikapi berbagai tantangan serta terus mengembangkan kemampuannya seiring dengan perubahan tuntutan masyarakat dan perkembangan Iptek. Tantangan yang dihadapi Perguruan Tinggi dewasa ini makin menunjukan intensitas yang cepat dan kompleks, hal ini jelas akan berpengaruh besar pada penyelenggaraan pendidikan di Perguruan Tinggi. Paling tidak terdapat beberapa tantangan bagi Perguruan Tinggi yang perlu dicermati dan disikapi dengan tepat yaitu :

  • Makin menguatnya kehidupan masyarakat berbasis pengetahuan (Knowledge based society)
  • Eskalasi perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat cepat dan variatif baik kedalamannya maupun keluasannya
  • Meningkatnya tuntutan akan penyelenggaraan pendidikan tinggi yang berbasis riset (Research university)
  • Meningkatnya tuntutan akan hasil pendidikan (output pendidikan) yang bermutu.
  • Meningkatnya tuntutan akan kiprah lulusan pendidikan (outcome pendidikan) yang relevan
  • Meningkatnya tuntutan proses penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dengan standar tertentu.

Kehidupan masyarakat dan bangsa-bangsa sekarang ini lebih mendasarkan pada pengetahuan atau masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society/knowledge society), masyarakat yang makin penuh persaingan yang berbasis keunggulan Sumberdaya manusia, semua ini jelas merukan tantangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan termasuk Perguruan Tinggi. Menurut Andy Hargreaves (2003 : xvi), “we live in a knowledge economy, a knowledge society. Knowledge sconomies are stimulated and driven by creativity and ingenuity. Knowledge society school have to  create these qualities, otherwise their people their nations will be left behind.“Adalah tidak mungkin menghadapi tantangan tersebut dengan menggunakan pola fikir masa lalu, tapi diperlukan pola baru yang kreatif inovatif dalam menghadapinya. Kondisi yang demikian sebagai dampak dari perkembangan Iptek yang cepat, sehingga respon biasa sesuai kebiasaan yang ada jelas tidak memadai dan hanya akan menjadikan Perguruan Tinggi tertinggal dalam persaingan tidak hanya secara global tapi juga secara nasional, regional, dan lokal sekaligus.

Pengetahuan telah menjadi sesuatu yang sangat menentukan, oleh karena itu perolehan dan pemanfaatannya perlu dikelola dengan baik dalam konteks peningkatan kinerja organisasi Perguruan Tinggi. Langkah ini dipandang sebagai sesuatu yang sangat strategis dalam menghadapi persaingan yang mengglobal, sehingga pengabaiannya akan merupakan suatu bencana bagi dunia Pendidikan, oleh karena itu diperlukan cara yang dapat mengintegrasikan pengetahuan itu dalam kerangka pengembangan SDM dalam organisasi. Dalam masyarakat pengetahuan, Perguruan Tinggi perlu mendesaian organisasinya menjadi organisasi yang mampu menumbuhkan kreativitas dan kecerdasan jika tidak ingin ketinggalan. Proses pembelajaran di Perguruan Tinggi harus mampu mendidik manusia menjadi orang-orang kreatif, Inovativ dan pembelajar, dan ini hanya mungkin dilaksanakan bila organisasi Perguruan Tinggi itu sendiri menjadi organisasi pembelajar dimana seluruh anggota organisasi mampu meningkatkan kemampuan belajarnya dalam rangka meningkatkan kemampuan organisasi PT dalam menghadapi berbagai perubahan, bahkan perlu terus diupayakan lebih jauh agar organisasi PT dapat melakukan langkah-langkah antisipasi terhadap perubahan yang mungkin terjadi, dan ini berarti pembelajaran adaptif  perlu terus dibarengi dengan pembelajaran generatif yang merupakan ciri dari organisasi pembelajar (Learning University).

Dalam hubungan ini belajar dan pembelajaran menjadi kata kunci dalam peningkatan kapasitas pengetahuan, oleh karenanya menjadikan individu sebagai pembelajar merupakan kondisi yang diperlukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kinerja organisasi Perguruan Tinggi melalui pengintegrasiannya dengan proses organisasi, manajemen, dan Kepemimpinan dan Penelitian apapun yang ingin menjadi bagian dari Lembaga Pendidikan Tinggi jelas sia-sia jika tidak menempatkan belajar sebagai inti kekuatan dalam suatu Perguruan Tinggi. Untuk itu Perguruan Tinggi perlu melakukan pengembangan dirinya menjadi Perguruan Tinggi pembelajar (Learning University), sebab hanya dalam kondisi yang demikian seluruh pemangku kepentingan Perguruan Tinggi baik Negeri maupun Swasta dapat benar-benar menjadi manusia pembelajar sebagai ciri penting kehidupan dalam masyarakat berbasis pengetahuan dan Perguruan Tinggi berbasis Riset/penelitian.

Pendidikan dan tantangan Global

27 Feb

394923_2468071462810_1283023304_32068049_1925792119_n  Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting bagi    kehidupan manusia, dengan  Pendidikan manusia menjadi berbudaya dan mampu terus mengembangkan budaya tersebut demi mencapai kehidupan yang lebih baik. Pendidikan berperan tidak hanya dalam pembentukan individu tapi juga dalam pembentukan budaya masyarakat menuju kualitas hidup yang lebih baik, hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Nanang Fattah (2004:7) bahwa pendidikan merupakan salah satu upaya dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia,  dengan makin berkualitasnya hidup manusia, manusia dapat mengaktualisasikan dirinya secara terus menerus dalam mempertahankan dan meningkatkan kualitasnya kearah yang lebih baik dalam berbagai bidang kehidupan kemasyarakatan.

Dalam konteks globalisasi dewasa ini, pentingnya pendidikan dalam rangka pengembangan potensi manusia/peningkatan kualitas sumber daya manusia makin mengemuka, mengingat globalisasi akan menjadikan kondisi kehidupan penuh dengan persaingan, dan dalam persaingan tersebut kualitas sumber daya Manusia akan menjadi penentu keberhasilan dalam menghadapi semua itu. Dalam era Global sekarang ini dengan perkembangan Ilmu dan teknologi yang sangat cepat, keunggulan suatu bangsa tidak dapat lagi mengandalkan pada sumberdaya alam, melainkan harus pada sumberdaya manusia, sikap kreatif inovatif, kemampuan membuat jejaring serta pemanfaatan teknologi menempati kedudukan lebih penting dibanding dengan sumberdaya alam. Memang dalam kehidupan ekonomi internasional/global, menurut pakar ekonomi klasik, seperti Adam Smith dan Ricardo, perbedaan keunggulan Sumber daya alam menjadi pendorong utama perkembangan ekonomi nasional melalui perolehan keuntungan mutlak (absolute advantage) atau keuntungan komparatif (comparative advantage), namun dewasa ini hal tersebut tidak dapat menjadi jaminan, karena kemajuan suatu bangsa lebih ditentukan oleh kualitas Sumberdaya manusia yang dimilikinya yang mampu bersaing dalam percaturan ekonomi global (Competitive advantage), hal ini seperti dikemukakan Kenichi Ohmae (1990:12)

“having abundance of resources has truly slowed down a country’s development, because bureaucrats there still think that economy could solve all problems. In a truly interlinked, global economy, the key success factor shifts from resources to the marketplace, in which you have to participate in order to prosper. It also means people are the only true means to create wealth”

pernyataan tersebut menunjukan betapa pentingnya kualitas Sumber Daya Manusia dalam kehidupan global dewasa ini, dengan kualitas SDM yang baik kinerjanya  juga akan  baik, baik dalam kehidupan masyarakat maupun kehidupan organisasi, sehingga kehidupan masyarakat secara keseluruhan akan meningkat dalam berbagai terpaan perubahan dan persaingan, menurut Robinson&Robinson (1995:5)”The competitive advantage, and perhaps the survival, of an organization demands that employee perform at a high level”. Ini berarti bahwa pendidikan baik dalam tataran sistem, kebijakan, khususnya dalam tataran organisasi kelembagaan perlu terus mecermati berbagai perubahan yang terjadi.

Undang-undang Sisdiknas No 20 tahun 2003, menyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dari pengertian tersebut dapatlah dimengerti bahwa pendidikan merupakan suatu usaha atau aktivitas untuk membentuk manusia-manusia yang cerdas dalam berbagai aspeknya baik intelektual, sosial, emosional maupun spiritual, trampil serta berkepribadian dan dapat berprilaku dengan dihiasi akhlak mulia. Oleh karena itu segala upaya  pendidikan harus merupakan suatu langkah bagi perwujudan  manusia yang baik dalam seluruh dimensinya yang nantinya mampu mengisi kehidupannya secara produktif bagi kepentingan dirinya dan masyarakat.

Pendidikan diharapkan mempunyai pengaruh yang signifikan pada pembentukan  Sumber Daya Manusia (human capital) bermutu dalam aspek kognitif, afektif maupun keterampilan, baik dalam aspek fisik, mental maupun spiritual, dan ini menuntut kualitas penyelenggaraan pendidikan yang baik agar kualitas proses dan hasil pendidikan dapat benar-benar berperan optimal dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan upaya berkesinambungan untuk membangun pendidikan secara terpadu baik pada tataran kebijakan sistem secara nasional, tataran institusi, tataran manajerial dan tataran teknis, sehingga terdapat sinkronisasi serta sinergitas diantara tataran-tataran tersebut.

Pentingnya pendidikan yang berkualitas dalam rangka pengembangan potensi manusia dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia makin mengemuka dalam era global dewasa ini, mengingat globalisasi akan menjadikan kondisi kehidupan penuh dengan persaingan, dan dalam persaingan tersebut kualitas Sumber Daya Manusia akan menjadi penentu keberhasilan dalam menghadapi semua itu. Dalam era Global sekarang ini, dengan perkembangan Ilmu dan teknologi yang sangat cepat, keunggulan suatu bangsa tidak dapat lagi mengandalkan pada Sumber Daya Alam, melainkan harus pada Sumber Daya Manusia, sikap kreatif, kinerja inovatif, kemampuan membuat jejaring serta pemanfaatan teknologi menempati kedudukan lebih penting dibanding dengan Sumber Daya Alam seperti dikemukakan Kenichi Ohmae (1990:12) bahwa manusia merupakan satu-satunya alat yang benar dalam menciptakan kekayaan. Ini berarti bahwa dengan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, kinerjanya  juga akan  makin berkualitas, baik dalam kehidupan masyarakat maupun kehidupan organisasi, sehingga kehidupan masyarakat secara keseluruhan akan meningkat dalam berbagai terpaan perubahan dan persaingan sebagaimana dikemukakan Robinson & Robinson (1995:5) bahwa keunggulan kompetitif suatu organisasi menuntuk pekerja berkinerja unggul, dan implikasinya adalah bahwa pendidikan baik dalam tataran sistem, kebijakan, khususnya dalam tataran organisasi kelembagaan perlu terus mecermati berbagai perubahan yang terjadi.

Pendulum Pendidikan

18 Jul

Kehidupan itu ibarat pendulum, dalam berfikir dan bersikap, posisi tengah selalu menjadi kondisi ideal yang perlu diperjuangkan. Ini berlaku dalam berbagai hal, dalam berfikir, dalam ilmu, dalam teknologi. Kalau berbicara kualitas, ada yang baik ada yang buruk, bentuk interaksinya selalu merupakan dialektika, upaya mendorong sesuatu agar lebih berkualitas, mengindikasikan adanya posisi yang kurang berkualitas, dan adalah sulit menggeser pendulum dari posisi kurang berkualitas. Dilihat dari jangkar pendulum normal posisi kurang berkualitas sebenarnya berada dalam posisi tidak seimbang, dia seimbang bila jangkar pendulumnya berkondisi tidak normal, dan hal ini juga berlaku bagi sesuatu yang lebih berkualitas, keadaan lebih berkualitas belum tentu berada dalam posisi keseimbangan, sehingga untuk mempertahankannya dalam posisi tersebut amat berat (posisi sebenarnya dilihat dari jangkar pendulum adalah ditengah)

Jadi akan sulit berbicara peningkatan kualitas apabila tidak ada perubahan yang mendasar. peningkatan sdm, dan fasilitas penunjang untuk mendongkrak kualitas sebenarnya akan sulit berdampak pada kualitas bila jangkar pendulum tidak mengalami perubahan, karena posisinya akan selalu tidak seimbang.  Jadi masalah sebenarnya ada dalam posisi jangkar pendulum, bagaimana bila hal tersebut diterapkan pada ORGANISASI PENDIDIKAN sebagai suatu system?

Sederhananya adalah pendulum organisasi pendidikan harus terus berubah ke posisi yang lebih baik, berkualitas, kompetitif  dan atribut lainnya yang menunjukan posisi ideal, dan itu berarti harus melakukan kerja besar merubah jangkar pendulum organisasi, yakni identitas, personalitas organisasi, dan ini bias terjadi bukan dengan hanya mendidik sdm, menambah fasilitas penunjang, tapi pada kepribadian organisasi yang mungkin merupakan visi dalam tataran muka yang terinternalisasi dengan bagian-bagian lain dalam organisasi, atau mungkin juga yang lain yang masih perlu dicermati, yang jelas perubahan dalam tataran muka sama sekali tidak akan mengganti posisi  jangkar pendulum.

Pendidikan Kita : Kembali ke jalan yang benar…..?

12 Nov

Pendidikan selalu diberi bobot nilai-nilai normatif, demikian juga dalam Undang-undang Sisdiknas dimana Pendidikan diberi makna yang syarat dengan nilai-nilai luhur yang harus terjadi. Namun apakah itu tercermin dalam praktek pendidikan ?, inilah masalahnya, selalu terdapat kesenjangan yang makin lama makin lebar antara apa yang diharapkan bangsa Indonesia dari Pendidikan dengan apa yang dilakukan dalam tataran praktis pendidikan/pembelajaran.

Pendidikan harus mendorong terwujudnya manusia yang dewasa secara personal, sosial dan moral, namun ketika aspek pragmatis kecerdasan intelektual kognitif menjadi konsern utama, maka banyak hal yang dikorbankan, dan pengorbanan itu justru lebih tinggi nilainya dari sekedar kecerdasan (seperti kejujuran, keadilan, kemandirian, percaya diri). Ketika praktek pendidikan di Sekolah bersibuk diri dengan upaya peningkatan kemampuan siswa untuk lulus Ujian Nasional, sebenarnya tidak ada yang salah dengan upaya tersebut selama sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan dan pembelajaran, namun ketika ada upaya lain yang memaksakan pencapaian target tertentu diluar kaidah pendidikan, seperti pengkondisian dan distribusi info, maka sebenarnya pendidikan kita telah memasuki jalan yang sesat dan menyesatkan.

Sesat karena berada diluar kaidah pendidikan, menyesatkan karena output atau lulusannya nanti akan menggantikan posisi-posisi pendidikan yang jelas sudah tertular dan terkontaminasi dengan apa yang dialaminya pada saat Ujian di Sekolah, sehingga mereka juga cenderung akan menyesatkan pendidikan dan pembelajaran seterusnya. Jadilah generasi pendidikan yang sesat dan menyesatkan. Dan bangsa ini akan dipenuhi dengan   warga sesat dan menyesatkan. Dan kita perlu khawatir dengan PENDIDIKAN SESAT DAN MENYESATKAN. Semoga masih ada nilai dan akal sehat. Nah dalam konteks ini pengembangan pendidikan karakter merupakan upaya koreksi agar pendidikan KEMBALI KE JALAN YANG BENAR…masalahnya tinggal bagaimana implementasinya serta eliminasi faktor pengganggu yang sistemik……

Penglamaan dan Pengalamaan

12 Feb

Pengalaman adalah guru terbaik, demikian kata pepatah yang sangat terkenal, orang cenderung memahaminya taken for granted tanpa mengkritisi makna dibaliknya yang bisa saja pepatah itu mengandung bahaya psikologis dan sosiologis yang dahsyat.

Pengalaman memang penting dan tak mungkin hilang dari ingatan kita, namun yang bisa jadi guru terbaik itu pengalaman siapa, adalah konyol jika kita hanya belajar dari pengalaman sendiri, sama konyolnya dengan melihat pengalaman sendiri hanya berupa kejadian dalam rangkaian waktu, sebab kalau demikian bukanlah pengalaman tapi penglamaan yang secara alami akan berjalan dengan sendirinya seiring waktu.

Jadi masalahnya adalah kita harus belajar dari semua pengalaman, melakukan refleksi atas semua pengalaman tersebut, dan ilmu merupakan akumulasi pengalaman manusia yang sistematis karena disitematiskan sebagai hasil refleksi kolektif manusia..

Jadi esesnsi dasar dari pepatah itu adalah bagaimana kita belajar terus, dan terus belajar menggali ilmu pengetahuan, dan dosen atau guru merupakan ujung tombak dalam upaya mendorong hal tersebut. Guru/dosen tidak hanya bercerita, menjelaskan, mendemontrasikan, tapi juga harus mampu memberi inspirasi untuk bertumbuh kembangnya manusia-manusia pembelajar yang secara efektif dapat belajar dari semua pengalaman manusia.

Guru/Dosen merupakan profesi yang mendesain masa depan, dan upaya untuk lebih baik dalam menjalankan peran kependidikan merupakan proses tiada henti, sehingga mampu bergerak dari bercerita ke memberi inspirasi, seperti kata Arthur Ward :

The mediocre teacher tells (Guru biasa berceritera)

The good teacher explains (Guru yang baik menjelaskan)

The superior teacher demonstrate (Guru superior mendemonstrasikan)

The great teacher inspire (Guru yang hebat memberi inspirasi)

Kita ingin menjadi yang mana, keputusan ada di tangan kita sendiri-sendiri, yang penting jangan sampai kita hanya belajar dari pengalaman mengajar kita sendiri, dijamin hal itu akan membuat kita tak akan dapat meningkatkan kemempuan kita dalam mengajar, dan jika demikian mana mungkin pembelajaran di kelas akan berkembang, selamat belajar…..

Persahabatan

5 Feb

Bila dua orang teman bertemu dalam keremangan, keremangan itu tidaklah menjemukan, demikian Ivan Illich menulis dalam bukunya yang terkenal Deschooling Society. Mungkin memang demikian seharusnya, kemampuan seorang untuk berteman mengindikasikan dimilikinya dua hal penting dalam emosi seseorang, memahami emosi orang lain dan membina hubungan menurut Goleman. Berteman telah banyak dielaborasi dalam konteks kehidupan, Erich From berbicara mendalam tentang cinta yang dapat dipandang sebagai pendalaman dari pertemanan, dalam The Art of Loving, From mendefinisikan cinta sebagai the active concern of the life and the growth of that which we love,  aku mencintaimu sebab dalam dirimu terdapat jutaan orang lain, mencintaimu membuat keinginan untuk berteman dengan semua orang, penyatuan kesadaran merupakan bagian darinya, dan menghormati semuanya merupakan wujud penghormatan ku pada manusia dan kemanusiaan universal.

Namun dewasa ini nampaknya yang berkembang adalah pertemanan individualistic yang diperluas, bila dikembangkan dalam keterbatasan ruang dan waktu, teman adalah yang dekat dengan kita yang membantu kita secara konkrit, akan menjadikan pertemanan menyebar secara terbatas (limited spread effect), hanya yang terjangkaulah, berada dalam radius yang terbatas, yang dianggap teman dan layak menjadi objek cinta.  Menjangkau radius yang luas memang memerlukan pelatihan dan pembelajaran terus menerus, teknologi komunikasi memang telah membantu memperluas radius pertemenan, namun boundary yang telah dibuat terbatas cenderung menjadikan hal tersebut kurang memperkuat keakraban dan penghormatan. In group saya adalah yang dekat, diluar saya adalah out group yang tidak perlu diperlakukan sama dengan yang in group, jika demikian maka bencana sosial menjadi ancaman karena kohesivitas sosial menjadi longggar dan sulit menyatu, bahkan mudah sekali pecah, dan dari situlah mungkin kita bisa memehami tawuran antar mahasiswa sebagai menifestasi ekstrim dari pertemanan yang terbatas dalam radius dan waktu.

Lantas apa yang diperlukan, mungkin “pengepungan” dari berbagai sudut diperlukan untuk mendorong terjadinya perluasan pertemanan universal, dan ini memerlukan upaya serius dan waktu yang cukup, namun yang penting adalah memulainya, bukankan kalau kita tidur diatas kasur, sebenarnya telah banyak melibatkan teman-teman kita semua, dari mulai pencangkul, petani kapuk, kain, pembuat kasur, pedagang dan kuli untuk bisa terwujudnya sebuah kasur yang kita nikmati, nah kesadarn sekali lagi kesadaran, dan itu perlu pembelajaran, sekali lagi pembelajaran sehingga keremangan ataupun kegelapan tidak akan menjemukan bila ketemu manusia apapun dan siapapun apalagi kalau …………

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 184 pengikut lainnya.