Tentang Sekolah

SEKOLAH, PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT

| Tinggalkan komentar

Pendidikan Karakter

PENDIDIKAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER

Pendahuluan

Pendidikan selalu diberi bobot nilai-nilai normatif, demikian juga dalam Undang-undang Sisdiknas dimana Pendidikan diberi makna yang syarat dengan nilai-nilai luhur yang harus terjadi dan menjadi bagian dari interaksi pendidikan. Namun apakah itu tercermin dalam praktek pendidikan ?, inilah masalahnya, selalu terdapat kesenjangan yang makin lama makin lebar antara apa yang diharapkan bangsa Indonesia dari Pendidikan dengan apa yang dilakukan dalam tataran praktis pendidikan/pembelajaran. Kondisi ini sudah tentu menuntut suatu penataan manajemen pendidikan baik dalam tataran makro, messo maupun mikro pendidikan sehingga kemenyeluruhan dan keterpaduan proses pendidikan/pembelajaran dapat terwujud.

Pendidikan harus mendorong terwujudnya manusia yang dewasa secara personal/emosional, moral, sosial, dan intelektual, sehingga terwujud manusia, menurut UUD 1945 maupun UU Sisdiknas 2003, yang meningkat keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia sebagai dasar untuk menjadikan mereka cerdas, serta secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara . Ini bermakna bahwa pendidikan di Indonesia syarat dengan nilai-nilai yang harus menjadi bagian di dalam prosesnya, sehingga istilah Pendidikan Karakter nampaknya hanya memperkuat fokus pada pendidikan yang memang sudah memasukan unsur nilai-nilai (karakter), sehingga pendidikan Karakter itu ya Pendidikan, dan Pendidikan itu ya Pendidikan Karakter.

Pentingnya fokus tersebut nampaknya tumbuh dari suatu kesadaran akan makna hakiki pendidikan, ketika aspek pragmatis kecerdasan intelektual kognitif menjadi konsern utama (seperti pengukuran melalui UN), maka banyak hal yang dikorbankan, dan pengorbanan itu justru lebih tinggi nilainya dari sekedar kecerdasan (seperti kejujuran, keadilan, kemandirian, percaya diri). Ketika praktek pendidikan di Sekolah bersibuk diri dengan upaya peningkatan kemampuan siswa untuk lulus Ujian Nasional, sebenarnya tidak ada yang salah dengan upaya tersebut selama sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan dan pembelajaran, namun ketika ada upaya lain yang memaksakan pencapaian target tertentu diluar kaidah pendidikan, seperti pengkondisian dan distribusi info, maka sebenarnya pendidikan kita telah memasuki jalan yang sesat dan menyesatkan, bukan jalan yang lurus sesuai amanat UUD seta UU Sisdiknas. Dalam kondisi yang demikian serta terjadinya kemunduran dalam moral dan karakter bangsa, maka fokus pada pendidikan karakter (pendidikan) menjadi amat penting, urgen dan bermakna bagi pembangunan bangsa yang berkarakter.

  1. Manajemen Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter secara sederhana dapat dimaknai sebagai pendidikan yang menjadikan karakter sebagai bagian yang mewarnai proses pendidikan. Karakter itu sendiri adalah nilai-nilai yang melandasi perilaku manusia berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum/konstitusi, adat istiadat, dan estetika (Kemendiknas, 2010). Pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil, dengan demikian Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai perilaku (karakter) kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil (Kemendiknas, 2010).

Selama manusia hidup, pendidikan (pendidikan karakter) akan dialami dan dirasakan dimanapun berada, apakah itu di jalur informal, nonformal maupun formal, baik itu sebagai kejadian ataupun proses yang terencana. Namun kontrol pemerintah yang sistematis terhadap pendidikan formal cenderung penekanan pendidikan (terencana) difokuskan kapada pendidikan formal termasuk dalam kaitannya dengan pendidikan karakter yang didorong untuk menjadi gerakan nasional baik dalam tataran kebijakan maupun dalam level mikro pendidikan (kelembagaan Pendidikan formal) dengan berbagai tingkatannya dari mulai tingkatan institusi, manajerial maupun operasional (pembelajaran di Kelas). Kondisi ini menuntut kelembagaan pendidikan formal mengintegrasikannya secara sistemik dalam penyelenggaran pendidikan di sekolah.

Dalam pendekatan pendidikan sebagai suatu industri, input diproses kemudian menghasilkan output dalam arti lulusan (IPO), maka lulusan yang berkarakter menjadi konsern utama, dan itu hanya mungkin terwujud bila proses/pelayanan pendidikan mengintegrasikan nilai-nilai sebagai bagian utama di dalamnya. Dalam proses pendidikan seluruh tingkatan manajemen harus mengacu pada upaya menginternalisasikan nilai-nilai, baik untuk tingkatan institusional yang terkait dengan hubungan eksternal sekolah, tingkatan manajerial terkait dengan pengelolaan seluruh sumber daya internal sekolah, maupun tingkatan operasional/teknikal yang terkait dengan proses pembelajaran. Namun demikian untuk tataran operasional manajemen pendidikan dalam hal ini pembelajaran di kelas, maka fokus utama untuk menginternalisasikan nilai-nilai menjadi hal yang amat penting dan urgen mengingat siswa itulah yang menjadi indikator utama keberhasilan pendidikan karakter.

Dalam perspektif demikian, proses utama pendidikan yaitu pembelajaran di kelas menjadi kondisi yang amat menentukan dan harus dapat menginternalisasikan nilai-nilai secara efektif di dalamnya, sehingga tidak cukup hanya menginformasikan nilai-nilai yang ingin ditanamkan tapi juga mengembangkan sikap positif terhadapnya serta mendorongnya untuk menjadi bagian dari prilaku peserta didik, sehingga pendidikan karakter benar-benar berdampak prilaku. Oleh karena itu keberhasilan dari pendidikan karakter bukan dari makin meningkatnya pengetahuan tentang nilai-nilai, tapi menguatnya sikap positif akan nilai-nilai dan yang utama adalah berprilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut, sehingga siswa dan juga lulusan lembaga pendidikan dapat menjadi tiang utama dalam membangun dan memperkuat karakter bangsa yang belakangan ini cukup memprihatinkan. Dengan demikian dalam tataran operasional/teknikal manajemen pendidikan yaitu pembelajaran, penciptaan proses pembelajaran yang kondusif bagi internalisasi nilai-nilai menjadi hal yang akan sangat menentukan, dalam konteks ini guru dituntut untuk dapat melakukannya, dan untuk itu Guru Berkarakter menjadi manajer pendidikan utama yang akan menentukan keterjaminan proses pembelajaran yang dapat mendidik karakter siswa, menginternalisasikan nilai-nilai yang dapat membentuk siswa berkarakter.

  1. Pendidikan Karakter dan Guru berkarakter

Mengapa mesti Guru Berkarakter?, mungkin jawaban untuknya akan bervariasi, tapi yang jelas karakter bukan masalah pengajaran dalam arti transfer of moral knowledge, namun lebih pada pemodelan atau percontohan melalui interaksi edukatif yang dapat mengkondisikan suasana pembelajaran yang menumbuhkan sikap positif serta prilaku dalam melaksanakan nilai-nilai, dan ini sudah barang tentu bukan soal administratif (seperti pendidikan karakter telah diterapkan bila RPP telah memasukan nilai-nilai), tapi soal sikap, prilaku dan karakter guru dalam melaksanakan peran dan tugasnya sebagai pendidik. Guru berkarakter menuntut belajar yang berkesinambungan , guru berkarakter bukan soal ada atau tidaknya, tapi guru berkarakter merupakan suatu proses menjadi, sehingga upaya untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi guru dari mulai kepribadian, sosial, pedagogik dan profesional menjadi suatu keharusan, dan hal itu hanya bisa apabila komitmen profesi guru diperkuat, menjadi guru merupakan panggilan, menjadi guru merupakan pengabdian, suka menjadi guru, maka bahagia menjadi guru dan terus mengembangkan kemampuan untuk memberi layanan pendidikan kepada siswa guna ikut merancang masa depan peradaban yang dihiasi nilai-nilai luhur dalam masyarakat. Dalam situasi yang demikian proses pemodelan dan pengkondisian dalam membentuk karakter siswa akan efektif karena dikelola oleh guru yang berkarakter yang mampu menanamkan nilai-nilai pada siswa sebagai pelanggan primer pendidikan di sekolah..

  1. Penutup

Secara komprehensis dan sistemik, pada akhirnya pendidikan karakter menuntut manajeman pendidikan pada tataran manajerial yang memberdayakan serta memfasilitasi tumbuh kembangnya nilai-nilai dikalangan SDM pendidikan, dan pengelolaan seluruh sumber daya yang dapat mendorong pada pembelajaran yang optimal dan efektif dalam keterbukaan dan partisipasi yang aktif dan signifikan dalam menata proses pendidikan di sekolah, dalam tingkatan institusional juga menuntut manajemen pendidikan yang kolaboratif dengan pemangku kepentingan eksternal seperti orang tua siswa, masyarakat serta pemerintah, sehingga semua komponen pemangku kepentingan pendidikan di sekolah menjadi barisan yang kuat dalam dalam membangun pendidikan karakter dengan menjadikan sekolah yang berkarakter dari mulai tingkatan institusi, manajerial maupun operasional. Oleh karena itu pendidikan karakter harus terintegrasi secara sistemik dalam organisasi sekolah yang mengembangkan budaya yang kondusif bagi tumbuh kembangnya karakter, dan internalisasi nilai-nilai luhur pada seluruh anggota organisasi sekolah. Tanpa itu pendidikan karakter hanya fatamorgana yang bertumpu dalam rentetan administrasi dan dokumen tentang pendidikan karakter tanpa ruh dan semangat di dalamnya. Dan untuk itu Guru berkarakter dapat menjadi pemicu bagi penguatan dan pengembangan pendidikan karakter dalam tataran manajen dan organisasi pendidikan sekolah menuju sekolah berkarakter. Dan diharapkan Pendidikan dapat kembali ke jalan yang lurus, bukan jalan sesat dan menyesatkan, karena dengan pendidikan karakter maka insan kamil dapat menjadi pengisi dan penerus pembangunan bangsa sekarang dan masa depan…..semoga….

Sumber Bacaan

  1. Undang-undang Dasar 1945
  2. Undang-Undang Sisdiknas No 20 tahun 2003
  3. Kemendiknas, 2010. Grand Design Pendidikan Karakter
  4. D. Kesuma, et al, 2011, Pendidikan Karakter, Remaja Rosdakarya, Bandung
  5. Uhar Suharsaputra.2011, Menjadi Guru Berkarakter, Paramitra Publishing,   Yogyakarta
  6. Uhar Suharsaputra, 2013, Administrasi Pendidikan, Refika Aditama, Bandung.
Sampingan | Posted on by | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Beberapa Buku yang ditulis Dr Uhar Suharsaputra

bagi yang berminat, dapat membeli di toko-toko buku..semoga bermanfaat bagi belajar bersama kita

| 2 Komentar

Informasi

Kepada teman-teman Guru di SMPN 1 Kadugede, SMPN 2 Kadugede, SMPN 1 Nusaherang, SMP Ainur Rafik Cilimus, dan SMP Al Multazam Jalaksana yang ingin belajar bareng dan berdiskusi tentang pendidikan keguruan, penelitian dipersilahkan untuk menyampaikannya pada  Blog saya dengan alaman “uharsputra.wordpress.com, sub folder masing masing SMP dengan mengklik Folder SMP lalu pilih smp nya dan tuliskan atau kopikan masalah yang ingin didiskusikan pada kolom TINGGALKAN BALASAN…

Dr. Uhar Suharsaputra

| Tinggalkan komentar

informasi bagi MGMP B.Inggeris dan MGMP Matematika

kepada para Guru Matematika dan B. Inggeris yang berkenan untuk berdiskusi tentang Penelitian dimohon unruk mengunduh proposal atau hasil penelitian ke dalam Blog saya dengan alamat “uharsputra.wordpress.com

| Tinggalkan komentar

Mikir Teliti

MENEELITI BERATI BERFIKIR PLUS AKSI. JADI KETIKA SESEORANG MELAKUKAN PENELITIAN DORONGAN DAN DASAR UNTUK MELAKUKANNYA HARUSLAH SEBENTUK FIKIRAN YANG DIPANTULKAN LEWAT KENYATAAN DAN FAKTA-FAKTA YANG MEMERLUKAN PEMAHAMAN LEBIH MENDALAM.

NAH..DALAM KONTEKS INI PERAN PERGURUAN TINGGI DENGAN TRIDHARMANYA MAKIN MENGEMUKA, PERGURUAN TINGGI BUKAN HANYA SEKEDAR TEMPAT MELAKSANAKAN PROSES PEMBELAJARAN DI RUANG-RUANG SEMPIT TAPI MERUPAKAN TEMPAT MENGEMBANGKAN PEMAHAMAN TENTANG BERBAGAI FENOMENA YANG TERJADI DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN, DAN PEMAHAMAN AKAN SESUATU BUKANLAH SUATU KONDISI TAPI SUATU PROSES EVOLUSI DAN DIALEKTIKA ANTARA SUBJEK DENGAN OBJEK, DALAM KONTEKS INI BERFIKIR MEMANTUL MENJADI SUATU KENISCAYAAN BAGI SIAPAPUN YANG BERGERAK DALAM DUNIA PENDIDIKAN TERMASUK PERGURUAN TINGGI.

LANTAS DIMANA POSISI KITA, INI PERTANYAAN REFLEKTIF YANG HARUS DIJAWAB OLEH KITA MASING-MASING, MESKIPUN ORANG LAIN DAN LEMBAGA TELAH MEMPOSISIKAN DALAM TEMPAT DAN KONDISI TERTENTU, NAMUN SEMUA ITU JELAS HANYALAH SEBAGAI PEMICU UNTUK TERUS MERUBAH DAN MENINGKATKAN POSISI KEILMUAN KITA DALAM KONTEKS PENGABDIAN DI DUNIA PENDIDIKAN..

DAN DALAM KAITANNYA DENGAN PENELITIAN PETA POSISI MUNGKIN DAPAT MEMBANTU MELETAKAN KITA BERADA DIMANA, PALING TIDAK TERDAPAT EMPAT POSISI YAITU 1) PUNYA KEMAMPUAN TAPI KURANG KEMAUAN (BOGA KABISA EUWEUH KAHAYANG), 2)  KURANG MAMPU TAPI PUNYA KEMAUAN (BOGA KAHAYANG EUWEUH KABISA), 3) KURANG MAMPU DAN TIDAK PUNYA KEMAUAN (EUWEUH KAHAYANG EUWEUH KABISA), DAN 4) PUNYA KEMAMPUAN DAN KEMAUAN (BOGA KABISA BOGA KAHAYANG). JADI BERPROSESLAH UNTUK MERUBAH POSISI DAN ITU HANYA BISA DENGAN KEKUATAN BERFIKIR BAHWA TIDAK BERFIKIR ITU MERUPAKAN MUSIBAH BAGI PERKEMBANGAN ILMU DAN PERWUJUDAN KEMANUSIAAN…..NAH… MARI BERPROSES….. UNTUK MEWUJUDKAN FIKIRAN KE DALAM TINDAKAN……TENTU YANG ILMIAH……DAN ITU JELAS BUKAN SESUATU HAL YANG MUSTAHIL………

| 3 Komentar

Pendidikan dan tantangan Global

394923_2468071462810_1283023304_32068049_1925792119_n  Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting bagi    kehidupan manusia, dengan  Pendidikan manusia menjadi berbudaya dan mampu terus mengembangkan budaya tersebut demi mencapai kehidupan yang lebih baik. Pendidikan berperan tidak hanya dalam pembentukan individu tapi juga dalam pembentukan budaya masyarakat menuju kualitas hidup yang lebih baik, hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Nanang Fattah (2004:7) bahwa pendidikan merupakan salah satu upaya dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia,  dengan makin berkualitasnya hidup manusia, manusia dapat mengaktualisasikan dirinya secara terus menerus dalam mempertahankan dan meningkatkan kualitasnya kearah yang lebih baik dalam berbagai bidang kehidupan kemasyarakatan.

Dalam konteks globalisasi dewasa ini, pentingnya pendidikan dalam rangka pengembangan potensi manusia/peningkatan kualitas sumber daya manusia makin mengemuka, mengingat globalisasi akan menjadikan kondisi kehidupan penuh dengan persaingan, dan dalam persaingan tersebut kualitas sumber daya Manusia akan menjadi penentu keberhasilan dalam menghadapi semua itu. Dalam era Global sekarang ini dengan perkembangan Ilmu dan teknologi yang sangat cepat, keunggulan suatu bangsa tidak dapat lagi mengandalkan pada sumberdaya alam, melainkan harus pada sumberdaya manusia, sikap kreatif inovatif, kemampuan membuat jejaring serta pemanfaatan teknologi menempati kedudukan lebih penting dibanding dengan sumberdaya alam. Memang dalam kehidupan ekonomi internasional/global, menurut pakar ekonomi klasik, seperti Adam Smith dan Ricardo, perbedaan keunggulan Sumber daya alam menjadi pendorong utama perkembangan ekonomi nasional melalui perolehan keuntungan mutlak (absolute advantage) atau keuntungan komparatif (comparative advantage), namun dewasa ini hal tersebut tidak dapat menjadi jaminan, karena kemajuan suatu bangsa lebih ditentukan oleh kualitas Sumberdaya manusia yang dimilikinya yang mampu bersaing dalam percaturan ekonomi global (Competitive advantage), hal ini seperti dikemukakan Kenichi Ohmae (1990:12)

“having abundance of resources has truly slowed down a country’s development, because bureaucrats there still think that economy could solve all problems. In a truly interlinked, global economy, the key success factor shifts from resources to the marketplace, in which you have to participate in order to prosper. It also means people are the only true means to create wealth”

pernyataan tersebut menunjukan betapa pentingnya kualitas Sumber Daya Manusia dalam kehidupan global dewasa ini, dengan kualitas SDM yang baik kinerjanya  juga akan  baik, baik dalam kehidupan masyarakat maupun kehidupan organisasi, sehingga kehidupan masyarakat secara keseluruhan akan meningkat dalam berbagai terpaan perubahan dan persaingan, menurut Robinson&Robinson (1995:5)”The competitive advantage, and perhaps the survival, of an organization demands that employee perform at a high level”. Ini berarti bahwa pendidikan baik dalam tataran sistem, kebijakan, khususnya dalam tataran organisasi kelembagaan perlu terus mecermati berbagai perubahan yang terjadi.

Undang-undang Sisdiknas No 20 tahun 2003, menyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dari pengertian tersebut dapatlah dimengerti bahwa pendidikan merupakan suatu usaha atau aktivitas untuk membentuk manusia-manusia yang cerdas dalam berbagai aspeknya baik intelektual, sosial, emosional maupun spiritual, trampil serta berkepribadian dan dapat berprilaku dengan dihiasi akhlak mulia. Oleh karena itu segala upaya  pendidikan harus merupakan suatu langkah bagi perwujudan  manusia yang baik dalam seluruh dimensinya yang nantinya mampu mengisi kehidupannya secara produktif bagi kepentingan dirinya dan masyarakat.

Pendidikan diharapkan mempunyai pengaruh yang signifikan pada pembentukan  Sumber Daya Manusia (human capital) bermutu dalam aspek kognitif, afektif maupun keterampilan, baik dalam aspek fisik, mental maupun spiritual, dan ini menuntut kualitas penyelenggaraan pendidikan yang baik agar kualitas proses dan hasil pendidikan dapat benar-benar berperan optimal dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan upaya berkesinambungan untuk membangun pendidikan secara terpadu baik pada tataran kebijakan sistem secara nasional, tataran institusi, tataran manajerial dan tataran teknis, sehingga terdapat sinkronisasi serta sinergitas diantara tataran-tataran tersebut.

Pentingnya pendidikan yang berkualitas dalam rangka pengembangan potensi manusia dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia makin mengemuka dalam era global dewasa ini, mengingat globalisasi akan menjadikan kondisi kehidupan penuh dengan persaingan, dan dalam persaingan tersebut kualitas Sumber Daya Manusia akan menjadi penentu keberhasilan dalam menghadapi semua itu. Dalam era Global sekarang ini, dengan perkembangan Ilmu dan teknologi yang sangat cepat, keunggulan suatu bangsa tidak dapat lagi mengandalkan pada Sumber Daya Alam, melainkan harus pada Sumber Daya Manusia, sikap kreatif, kinerja inovatif, kemampuan membuat jejaring serta pemanfaatan teknologi menempati kedudukan lebih penting dibanding dengan Sumber Daya Alam seperti dikemukakan Kenichi Ohmae (1990:12) bahwa manusia merupakan satu-satunya alat yang benar dalam menciptakan kekayaan. Ini berarti bahwa dengan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, kinerjanya  juga akan  makin berkualitas, baik dalam kehidupan masyarakat maupun kehidupan organisasi, sehingga kehidupan masyarakat secara keseluruhan akan meningkat dalam berbagai terpaan perubahan dan persaingan sebagaimana dikemukakan Robinson & Robinson (1995:5) bahwa keunggulan kompetitif suatu organisasi menuntuk pekerja berkinerja unggul, dan implikasinya adalah bahwa pendidikan baik dalam tataran sistem, kebijakan, khususnya dalam tataran organisasi kelembagaan perlu terus mecermati berbagai perubahan yang terjadi.

| 2 Komentar